MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB IX


__ADS_3

“Gimana Jeff ada info?”, tanya Jay dari telepon.


“Tidak ada bos. Saya sudah mencarinya kemana-mana bahkan ke tempat


biasanya dia mangkal”.


“Tak kau tanyakan ke teman-temannya yang ada disekitar situ?”


“Sudah bos menurut informasi yang saya terima, sudah hampir


seminggu dia tidak jualan. Bahkan teman kosannya pun bilang kalau dia juga tak


pulang”.


“Apa, what the hell! Kamu sudah ketemu sama ibu kos nya?”


“Belum bos, katanya lagi menjenguk anaknya yang melahirkan di


kampung. Hari ini baru balik kesini. Saya lagi nunggu di sekitar rumahnya”.


“Apa mungkin dia ikut ibu kos nya?”


“Bisa jadi bos, karena orangku yang stand by di daerah asli nona


juga menginfokan dia tidak pulang ke rumah ibunya. Bahkan adiknya bercerita


kalau mbaknya tidak pulang berbulan-bulan. Katanya pindah kerja di anak cabang


perusahaan yang di Jakarta, belum sempat pulang”.


“Heeemm, begitu ya. Oke Jeff, lanjutkan tugasmu. Dan pastikan ada info


yang menyenangkan hari ini”.


“Siap bos”.


“Tut”.


Sepulang dari kantor, Jodi menyuruh mang Diman untuk mengarahkan


mobil ke arah alun-alun kota.


“Ciiiiiiit”, bunyi ban berdecit. Di kursi penumpang dia menajamkan


mata memandang ke arah lalu lalang kesibukan manusia yang tak pernah sepi walau


malam telah jatuh semakin kelam.


“Dimana kamu gadis bodoh. Mau lari dengan uang ku rupanya. Jangan


mimpi, tugasmu belum selesai. Lihat saja jika besok kamu tidak muncul aku


sendiri yang akan turun tangan”, ancamnya.


Sementara itu di tepian sungai sebuah desa terpencil daerah Prigen.


“Haaaah, tenang sekali disini. Tak ada polusi, keributan, jeritan


tak satu pun. Yang ada hanya hembusan angin disekitar. Gesekan dedaunan begitu


menyenangkan. Membelai jiwaku yang kosong. Heeem what a wonderful life”,


batinku berbicara.


Tampak serombongan perempuan yang akan menuju sungai, mereka


tersenyum-senyum melihat pemandangan yang mulai menjadi bagian rutinitas


disana. Yah, seorang gadis dewasa selalu duduk bersila di atas batu besar di


tengah sawah pak Parjo, salah seorang sesepuh di desa tersebut. Keponakan aneh


dari kota, itulah julukan yang diberikan.


Bagaimana tidak aneh? Karena gadis itu setiap pagi akan berada di


tengah sawah duduk diam berjam-jam tanpa melakukan apapun. Memejamkan mata


serta menikmati hembusan angin dari segala penjuru dengan rambut panjang


terurai.


Tak ia pedulikan tatanan rambutnya yang awut-awutan. Dan hal itu


sudah terjadi hampir satu tahun. Meskipun sering berjemur matahari dari jam


lima sampai sepuluh pagi, kulit gadis dewasa itu tak pernah menjadi legam malah


kelihatan eksotis seperti kebanyakan perempuan di daerah itu. Dia yang sedang


tersenyum dengan damainya tiba-tiba harus tersentak oleh teriakan seorang


pemuda tanggung dari pinggir sawah.


“Mbaaak, dipanggil bapak”.


“Haduh, ada apa? Tak biasanya aku dipanggil”.


“Disuruh pulang segera pentiiiing”.


“Apa? Paling disuruh sarapan”.


“Bukan, ada tamu dari kota nyariin”.


“Hah, siapa lagi itu?”, pikirku mulai cemas.


Bukannya aku sudah memutuskan segala kontak ke semua orang dari


masa laluku. Bahkan keluargaku pun tak kuhubungi. Nomer handphone sudah


kuganti. Aku bahkan menghapus semua media sosialku demi ketenangan hakiki.


“Siapa tamunya, de? Laki-laki perempuan?” teriak ku padanya.


“Iya”, jawab Ade ambigu.


Aku mengerenyitkan dahi sekilas, sebelum turun dari batu besar


yang menjadi singasanaku selama ini. Kutenteng sandal jepit di tangan kiriku


sebelum melangkahkan kaki ini hati-hati dipematang sawah.


“Ya, aku harus berjalan pelan karena meski aku sudah terbiasa


dengan aktifitas favoritku, masih saja sering terpeleset saat berjalan di


atasnya”.


Mencapai tepian sawah Ade menunggu dengan senyum lebar disana. Dia

__ADS_1


tampak sumringah kelihatan terpancar dari air mukanya yang bersih. Aku yang


terheran-heran mulai bertanya,


“Apa itu yang ada dikepalamu?” ku acak rambutnya yang mulai


menyentuh tengkuk.


“Tak ada”, jawabnya singkat.


“Lantas mengapa senyum-senyum sendiri. Tamunya cewek cantik ya?”


“Bukanlah mbak, lihat sendiri saja nanti. Malas aku menjelaskannya


sudah kayak guru saja. Panjaaaang dan lebar beserta definisinya ntar”.


“Kan bagus dek lebih kongkret begitu “.


“Haiiish, mbak Suti kepo ah”.


“Tuh rambut gak dipotong dek. Gak takut dimarahi sama guru-guru


disekolah?”


“Tidak lah mbak orang masih lama daringnya. Nanti aja dipotong pas


sudah luring”.


“Huh, dasar kamu. Ngeles terus kalau sudah membahas masalah


peraturan sekolah”.


“Udah ah mbak. Yuk cepetan sudah ditunggu sama tamunya tuh. Entar


nyusul kesini baru tau rasa”.


“Emangnya siapa sih dek tamunya?”


“Mbak lihat saja sendiri”, jawabnya singkat sambil memamerkan


deretan giginya yang putih bersih.


“Hadeew”.


Kami mencari jalan pintas menuju rumah dengan melewati rumah penduduk


di sebelah kiri persawahan. Sepanjang perjalanan tetangga kiri kanan banyak


yang tersenyum maupun mengangguk ramah yang merupakan ciri khas keramah tamahan


penduduk desa.


Ada kalanya aku dan Ade mengucapkan kata, “monggo”, sebagai


ungkapan kata permisi tatkala bertemu dengan orang-orang yang sedang duduk di


terasan, merekapun membalasnya dengan senyuman atau kata yang serupa. Inilah


yang membuat aku kerasan untuk tinggal disini.


Sesampai halaman rumah lek Parjo, kulihat ada beberapa mobil mewah


terparkir disana, perasaanku mulai tidak nyaman. Aku tahu siapa pemilik dari


mobil-mobil itu. Aku berhenti dan mulai berbalik arah hendak pergi menjauh


ketika beberapa langkah kemudian terhenti oleh sebuah teguran dibelakangku, “mau


Kuberbalik ketika punggungku menyentuh daging liat dari lengan dua


bodyguard berseragam hitam dan menjawab, “em….mau….ke..ke kamar mandi disitu”.


“Mana ada kamar mandi disitu nona. Bukannya kamar mandi ada


didalam rumah”.


“Maksudku kamar mandi desa”.


“Jangan banyak alasan. Ayo ikut kami. Bos sudah menunggu nona


didalam. Jangan sampai kehilangan kesabaran dan memporak porandakan desa ini”.


Aku terkesiap, “baiklah”. Ku ikuti kedua orang itu dengan patuh.


Dengan berbagai perasaan yang berkecamuk didada kususul Ade yang


terlebih dahulu memasuki rumah. Di ruang tamu lek Parjo nan luas banyak sekali


orang-orang yang berlalu lalang melakukan persiapan sebuah acara. Aku yang


bingung berusaha mencari tahu,


“Mau ada acara apa lek. Kok pada dandan semua”.


“Pernikahan Suti. Cepat masuk ke kamarmu sana, berhias!”


“Memangnya siapa yang mau menikah, lek. Mas Dimas ya?”


“Hus, ngawur kamu. Dimas masih kelas dua belas SMA belum lulus


lagi, mana ada yang mau mengambilnya sebagai mantu”.


“Lantas lek, yang menikah siapa?”


“Ya kamulah Suti”.


Aku tertawa sumbang mendengar jawaban lek Parjo, “jangan bercanda


lek. Memangnya siapa calon suamiku?”


“Aku…..aku calon suamimu”, sedetik kemudian suara berat itu


terdengar dari sisi kiriku. Dimana kamar tamu berada.


Membeliakan mata, kutoleh ke arah suara itu, “kamu?”


“Ada apa sayang merindukanku”, bisiknya ditelingaku.


“Jangan bercanda Jay. Pernikahan itu bukan permainan”, sahutku


pelan.


“Aku serius Suti, lihat persiapan yang aku buat. Semuanya matang


dan sempurna. Sebentar lagi mama datang untuk menyaksikan pernikahan kita.


Serta ibu dan adik tirimu juga ku hadirkan kesini, sebagai wali dari pihak


perempuan. Ha….ha bagaimana bagus bukan. Semuanya sudah sesuai dengan rencana”.

__ADS_1


“Tapi Jay bagaimana dengan penghulu dan pendaftaran di KUA. Apakah


kamu pikir gampang mendatangkan mereka secara dadakan. Orang-orang itu bukan


bawahanmu yang se enaknya bisa kamu atur”.


“Ouuh sayang tak usah risau akan hal itu. Lihat mobil yang baru


datang itu. Yang warna putih disana, itu adalah rombongan pegawai KUA yang siap


menikahkan kita hari ini”.


“Ba…bagaimana bisa Jay?”


“Tak usah heran Suti, aku Jay, bisa mendapatkan segalanya dengan


uangku. Termasuk kebebasanmu”, jawabnya geram.


Kuhendak menyangkal perkataannya ketika dari pintu netraku melihat


ibu, adik tiriku serta mama Jay yang memasuki ruangan. Mengulas senyum lebar


kuhampiri mereka dan memeluknya sebagai pelepas rasa rindu yang membuncah.


 Sedangkan mama Jay mengusap-usap punggungku lama sembari berkata, “jaga Jay ya Suti dan jadikan ia


imam mu dimana pun kau berada”. Terharu dengan sikap beliau aku mengangguk


terpaksa.


Setelah itu kugamit lengan Jay menuju kamar tamu. Melihat


kelakuanku, lek Parjo hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Pintu kamar tamu ku kunci dari dalam. Membalikan badan, tanganku


bersedekap dan menatap intens ke arah Jay.


“Kau sudah tidak sabar untuk melakukannya sayang?”


“Shit, Jay. Apa mau mu sebenarnya?”


“Tidak ada aku hanya ingin menjadikanmu istriku”.


“Jangan munafik, kamu hanya ingin membalaskan sakit hatimu, kan?”


“Sakit hati? Ha….ha pada siapa Suti?”


“Marcella tentu saja atau mungkin padaku?”


“Cih, jangan mimpi kamu”.


“Cella…masih mungkin karena dia menghianatiku dengan Dico. Tapi


kau tidak usah kuatir akan hal itu. Aku sudah membalasnya dengan menghancurkan


bisnis keluarganya”.


“Jadi Dico Travelling and Hotel, itu karena ulahmu?”


“Menurutmu?”


“Lantas apa motif mu, menikahiku? Jangan bilang kalau kau ingin


melampiaskan dendam masa lalumu?”


“Heeem, dendam yaah?” sambil memegang dagunya seolah berpikir.


“Apa Jay” tanyaku tak sabar.


“Tidak ada, aku hanya menuruti keinginan mama untuk menikahimu”.


“Jadi ini semua karena mama mu?”


“Yah, begitulah”.


“Jika aku menolak”.


“Aku akan memporak-porandakan desa ini, Suti. Dan kuhambat masa


depan adik kesayanganmu itu. Satu lagi, ibu mu tak akan bisa lagi berjualan di


tempat asalmu. Kalian sekeluarga tak akan bisa lagi mengais rejeki dimanapun


walau itu sebagai pemulung. Bukankah kau sudah mengalaminya, heum”.


Tersentak, “jadi kesulitanku mencari pekerjaan selama ini, karena


ulahmu?”


“Bisa dibilang begitu”.


“Mau mu apa Jay?”


“Turuti keinginan mama, menikahlah denganku”.


Dilema antara dua pilihan yang menyesakan dada, aku menemukan ide


brilian agar bisa bertahan dalam situasi ini.


“Baiklah, kuterima pernikahan ini dengan perjanjian nikah”.


“Okey”.


Sebentar kemudian dia memanggil Andrew sang asisten dengan telepon


genggamnya. Di depan pintu ruang kamar tamu, tampak Jay menjelaskan sesuatu


dengannya. Serius mendengarkan arahan dari sang bos sambil mengetikan sesuatu


dari tablet yang selalu dia bawa.


Ketika sudah selesai dengan kegiatannya, Andrew mengikuti sang bos


masuk ke kamar tamu menghampiriku.


“Silahkan dibaca nona!”


Dia memberiku tablet yang semula dipegangnya. Kuterima dan kubaca


isi file perjanjian nikah yang tertulis dengan rapi. Saat paham dan setuju


dengan isinya, kububuhkan tanda tangan dengan memakai pena android yang


diberikan oleh Andrew.


Setelah itu dia mengubah bentuk file ke dalam PDF serta


mengirimkannya ke emailku. Aku pun tersenyum puas dan gegas meninggalkan mereka

__ADS_1


tuk berhias dikamarku.


__ADS_2