MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XIV


__ADS_3

Jay memarkirkan mobilnya dihalaman, ia memanggil Agus sang sekuriti yang bertugas


tuk membawa mobilnya ke garasi. Terburu-buru langkahnya memasuki rumah, tak


dipedulikan ketika Wati mengucapkan salam padanya.


Dilonggarkan dasinya, menaiki tangga dua-dua bukan satu seperti yang biasa dia lakukan.


Kecemasan tampak tersirat dari wajah. Rahangnya mengetat dan tanggannya


mengepal. Dengusan kasar tersembur dari bibir. Tak sabar ia membuka pintu kamar


dengan kasar.


Makian siap ia lontarkan ketika netranya melihat rambut panjang istrinya yang tergerai


diatas bantal dan tangannya memeluk guling menghadap tembok. Emosinya langsung


lenyap seketika. Dengan sedikit berjingkat, seolah tak ingin membangunkan si


penghuni kamar, Jay meletakan tasnya di atas meja, menuju almari pakaian


mengambil piyama serta gegas ke kamar mandi.


Guyuran air hangat dari shower menghilangkan jejak emosi yang bercokol dalam jiwa Jay.


Dengan lembut mencuci rambut memakai shampoo beraroma lavender kesukaannya. Ia menikmati


ritual mandi hampir setengah jam. Setelah dirasa gejolak jiwanya mulai surut


dia mengeringkan tubuh dengan handuk.


Mengenakan piyama, menuju tempat tidur. Sesaat setelah merebahkan diri disamping Suti, ia


memandangi wajahnya yang terlelap damai. Nampak sedikit bengkak disekitar mata,


tapi senyuman terukir jelas di bibir mungil itu. Menghela napas Jay mulai


menyusul istrinya ke alam mimpi.


Ke esokan hari.


Jay terbangun jam setengah tujuh pagi, mengerjapkan mata sebagai tanda bahwa ia


siap menyambut hari yang padat dengan schedule-schedule perusahaan. Tangan


kanannya meraba sisi tempat tidur, dingin. Ia pun memfokuskan pendengaran pada


bunyi air yang ada dikamar mandi namun nihil.


Dengan cemas disingkapkan selimut yang menutupi tubuh, ia beranjak dengan terburu-buru tuk


keluar kamar. Gerakannya terhenti ketika dia mendengar tawa mamanya yang sedang


menggoda Suti dari arah taman belakang rumah. Itu adalah tempat favorit Laura


dengan menantunya menghabiskan waktu di pagi hari sebelum menikmati sarapan


pagi diruang makan sekitar jam setengah delapan.


Menuju jendela, Jay menyingkap korden kamar menengok kebawah, dimana mamanya dan Suti


sedang bercengkerama sembari kedua tangannya sibuk merawat bunga mawar dan


anggrek yang sedang bermekaran menunjukan keindahan kelopak mereka yang


berwarna warni.


‘Bagaimana dengan tulip yang aku pesan dari ‘Nanda florist’. Apakah sudah diantar’, batin


Jay.


Merasa ada yang menatap dari lantai dua, Suti mendongakan kepala dan memandang tajam ke


arahnya. Mata nan keji dan hijau menyorotkan rasa kebencian yang mendalam. Jay


tersentak,


‘Apakah itu Suti istriku?’, tanyanya dalam hati. Menggelengkan kepala, sedetik kemudian


ia melihat lagi kearah istrinya yang tampak normal dengan pupil hitam besar nan

__ADS_1


cantik.


Dia menghela napas, ‘ternyata aku salah lihat, perempuan itu tampak normal’.


Menutup korden, menuju kamar mandi. Sayup-sayup Jay mendengar cekikikan mamanya


kembali, entah apa yang mereka bicarakan.


‘Hayo lihat apa kamu?’


‘Eh mama bikin kaget saja’.


‘Mangkanya jangan melamun pagi-pagi ntar kesambet loh’.


Tersenyum terselubung Suti menjawab,’ kayaknya Jay sudah bangun deh ma’.


‘Ya sudah cepet sana, siapkan keperluan suamimu sebelum berangkat ke kantor’.


‘Oke ma. Kutinggal dulu ya, tak apa-apa kan’, jawabnya memastikan.


‘Tentu saja, kamu pikir apa yang akan terjadi denganku di pagi yang cerah ini. Cepat


bergegas, jangan kuatirkan mama’.


‘Emmm, baiklah’.


Gegas Suti melewati pintu samping, penghubung mansion dengan taman bunga. Menuju lantai


dua dengan melewati anak tangga melingkar yang ada disudut ruang keluarga.


Membuka pintu perlahan, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.


Ia pun menuju almari tuk mengambil setelan baju kerja Jay, celana abu mentah dipadukan


dengan kemeja warna biru navy serta dasi senada. Diambilnya jas dari sisi


almari yang berbeda dan segera meletakan semuanya di atas tempat tidur.


Teringat hal yang kurang kembali ia menuju kesana membuka laci dan memilih kaos


kaki berwarna abu gelap tuk dikenakan hari ini.


Mengenakan wardrobe Jay keluar dari kamar mandi. Netranya melihat istrinya yang tengah


mendekat, melepas wardrobenya dan mulai mengenakan kaos dalam berwarna putih


disusul dengan celana serta kemeja warna navy. Kemudian tangan kanannya


terjulur ke arah Suti sebagai pertanda meminta dipasangkan dasi.


Suti meraih benda tersebut dan menyimpulkannya ke leher Jay, tanpa kata dan hanya


fokus kepada potongan kain berwarna biru dongker yang berbentuk seperti lidah


katak, lancip diujung.


Jay memandangi wajah istrinya yang sibuk memasangkan dasi dan mencoba mencari-cari


jawaban atas kejadian kemarin. Tak menemukan apa pun karena Suti hanya diam tak


bersuara. Memecah kekakuan yang sedang berlangsung dia membuka suara,


‘Apakah kamu mengantarkan makan siangku hari’.


Suti hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


‘Kamu akan berbelanja dengan mama?’


Lagi-lagi hanya gelengan kepala yang dia dapatkan. Putus asa dengan usahanya untuk


mengajak berbicara ia memilih diam dan meraih jas dari atas kasur.


Menuju ruang makan. ‘Temani aku sarapan pagi’, pintanya sebelum menutup pintu.


Hanya helaan napas yang diberikan oleh Suti sebelum menyusul Jay ke lantai bawah.


Melbourne Australia, disebuah apartemen mewah.


‘Hi honey, what are you doing?’, tanya seorang gadis bule pada seorang pria gagah nan


menawan dari balik punggungnya.

__ADS_1


‘Nothing’, sahutnya pendek.


‘Lantas ada apa dengan kerutan di dahimu itu’, tanyanya lagi’


‘Kuatir padaku heemmm’.


‘Oh ayolah Clark, aku sudah menemanimu bertahun-tahun. Aku tahu semua isi kepalamu hanya


dari ekpresi wajahmu’.


‘Ha…ha…ha, kamu benar honey’.


‘Well’


‘Tidak ada hanya saja aku merasa senang karena dia sudah kembali’.


‘Maksudmu makhluk itu’.


‘Yeah, siapa lagi. Dan aku sudah siap menjadi majikannya lagi. ha….ha…ha’, tawa puas


membahana.


‘As you wish honey’, perempuan itu hanya mengedikan bahu.


Ruang makan mansion Cartwright.


‘Honey, mengapa porsi sarapanmu sedikit sekali hari ini?’, suara mama Laura memecah


keheningan di meja makan.


‘Tidak apa-apa ma’, jawab Suti kalem.


‘Apakah kamu sakit. Lihatlah wajahmu itu sangat pucat. Apa perlu ke rumah sakit?’.


‘Aku……ah tidak ma, mungkin hanya masuk angin saja’.


Jay meletakan sendok dan garpu yang dipegangnya, menelengkan kepala ke arah samping


dimana Suti duduk. Mengerenyitkan dahi sembari memandang intens istrinya.


Lantas bergumam dalam hati,


‘Dia tampak sehat-sehat saja hanya wajahnya sedikit pucat. Dan hei apa itu, sinar


matanya ada yang sedikit berbeda.


Sejenak menggelengkan kepala sebelum pikiran warasnya merajai.


‘Mungkin kamu harus mendengarkan kata mama untuk pergi ke dokter’.


‘Emmm, tidak. Aku rasa hanya perlu istirahat sedikit’, elaknya.


‘Atau kupanggilkan dokter keluarga’.


Tampak Laura ikut menggangguk tanda setuju.


‘Tidak perlu Jay aku baik-baik saja. Istirahat sebentar di kamar pasti memulihkan


tenagaku’.


‘Terserah kau saja. Nanti telepon aku bila ada yang tidak beres’.


Meletakan serbet di atas meja sebelum mencium ubun-ubun istrinya seraya berucap’, aku


pergi dulu istirahatlah yang cukup!’.


Suti sedikit tersentak dengan perlakuan manis itu. Jiwanya mulai berontak. Sisi


manusianya merasa hangat karenanya sedangkan sisi iblis direlung hati terdalam


tersenyum sinis. Seolah tak terpengaruh dengan segala perubahan sikap Jay yang


cenderung manis.


‘Mungkinkah ini tebusan atas perselingkuhannya dengan Selly beberapa hari yang lalu?’, Suti


tak habis pikir. Hanya senyuman yang dia berikan saat melepas Jay didepan pintu


utama mansion.


‘Brmmmm’,

__ADS_1


deruman mobil meninggalkan halaman.


Gegas Suti masuk kedalam rumah tuk beristirahat dikamar.


__ADS_2