MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XV


__ADS_3

Setengah jam kemudian.


‘Tok…tok’.


‘Suti sayang, boleh mama masuk’.


‘Silahkan mam, pintu tidak terkunci’.


‘Ceklek…..krieeek’.


‘Bagaimana keadaanmu. Lihat mama bawakan air jahe hangat. Minumlah!’.


Mengambil gelas yang diulurkan mama Laura, Suti meminumnya dengan rakus tak tersisa.


‘Glek……glek’.


‘Honey, pelan-pelan minumnya’.


‘Heem’.


Suti mengelap sudut bibirnya yang terkena air minum dengan punggung tangan


sebelum mengucapkan terima kasih.


‘Mama mau pergi ke restoran, untuk mengecek laporan bulanan. Apa kamu mau ikut’.


Dia hanya menggelengkan kepala.


‘Atau kamu pesan sesuatu untuk dimakan?’


Sekali lagi menggelengkan kepala dan hanya menatap kosong ke arah si pembicara.


‘Em baiklah, aku mungkin pulang saat makan malam tiba. Kamu tidak apa-apa sendirian


dirumah. Para asisten rumah tangga akan siap membantumu jika kamu butuhkan’.


‘Ya mam, pergilah lakukan tugasmu’.


‘Ouh sayang kau mengusirku’.


‘He….he…he’, hanya kekehan kecil sebagai balasan.


‘Oke mama pergi dulu ya. Baik-baiklah dirumah’.


‘Siap bos’, kelakar Suti.


Laura Asian and continental resto.


Tampak si empunya restoran duduk bersandar dikursi kerja sambil mengetuk-ngetuk kan


pulpen kemeja. Sedetik kemudian dia meraih handphone dihadapannya dan memasang


headset. Menekan  nomor yang dia hapal


serta melakukan panggilan.


‘Halo Jay, ini mama’.


‘Ya ma ada apa meneleponku pagi-pagi’.


‘Apa kamu tidak kuatir dengan Suti’.


‘Maksud mama apa?’.


‘Dia sedikit melamun tadi ketika mama berpamitan mau ke resto’.


‘Mungkin kesehatannya sedikit menurun sehingga dia berbuat seperti itu’.


‘Tidak Jay bukan itu saja, saat mama kasih air minum hangat. Dia menenggaknya langsung

__ADS_1


tanpa jeda. Seolah kehausan selama seribu tahun’.


‘Ha…ha mama ada-ada saja’.


‘Serius Jay. Perhatikan lagi istrimu itu. Siapa tahu dia sedang mengandung anakmu’.


‘Mengandung….eh iya ma’. ‘Bagaimana


mungkin, aku dan dia kaaan’, pikir Jay.


‘Nanti kita mengunjungi dokter Wiwik di poli kandungan ma’, jawabnya lagi lugas.


‘Heem’.


‘Tut’


Sambungan pun terputus.


Mansion Cartwright, siang hari.


‘Sutiiii, bangun datanglah ke bunda ratu’.


Suara itu datang bersamaan dengan angin sepoi yang menerpa wajahnya.


‘Ehmmm’, gumaman tidak jelas terdengar dari mulutnya berkali-kali.


Pikiran warasnya menolak terhadap panggilan itu.


‘Datanglah……datanglah’.


Suara itu semakin santer terdengar. Tak lama kemudian angin kencang berhembus dan,


‘Braaak’


Pintu kamar terbuka dengan lebar, Suti pun membuka mata. Tatapan bengisnya menyorot


ke segala arah. Mulutnya menyeringai licik. Perlahan-lahan tubuhnya terangkat,


Tepat didepan pintu kayu berukiran jepara, ia berhenti mulutnya komat-kamit seolah


merapal sesuatu. Sedetik kemudian pintu yang terkunci rapat itu pun terbuka


lebar. Kabut tipis menyeruak dari dalam. Tak ia pedulikan, tubuh Suti melayang


menuju sofa besar ditengah ruangan.


Ditatapnya lukisan seorang perempuan berwajah khas Jawa yang didampingi oleh pria berwajah


Eropa, sedang duduk disebuah kursi mirip dengan singasana dengan tatapan


tajamnya, ia memindainya sejenak sebelum tatapan matanya berubah menjadi hijau


dengan pupil meruncing seperti ular. Kedua tangannya diangkat seolah mendorong


sesuatu dan,


‘Sssssshhhh, bangkitlah saudaraku. Sudah lama kau tertidur dalam lukisan itu’, sambil


menjulurkan lidahnya yang bercabang ke segala arah.


‘Bangkit….bangkitlah. Keturunan kita tersakiti, ini saatnya untuk membalas, sssssshhhhh’, desisnya


lagi.


Sinar merah menyilaukan muncul dari lukisan perempuan itu. Bayangan putih diselimuti


kabut melesat merasuki tubuh Suti. Dia bergetar hebat, kepalanya mengeluarkan


asap tipis dan perlahan-lahan menghilang seolah terhisap kedalamnya.

__ADS_1


Seringai puas menyembul, tubuhnya kembali melayang keluar ruangan. Pada saat yang


bersamaan pintu ruang museum keluarga Cartwright pun tertutup sendirinya dengan


keras. Sedangkan Suti kembali tertidur dikamarnya seolah tak terjadi sesuatu


pun.


Rumah itu kembali sunyi senyap menyisakan suara gareng, sang serangga musim yang biasa


terdengar apabila panas akan menjelang. Kerikan sayapnya yang nyaring dan


berirama terdengar di seantero mansion. Wati mengerenyitkan dahinya ia merasa


berada di daerah pegunungan dengan ciri khas suara itu. Sejenak ia terbuai, tapi


pada saat tersadar bergumam sendiri,


‘Sejak kapan ada gareng di mansion ya, biasanya hanya kupu-kupu. Bukankah binatang itu


sudah punah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Semenjak kawasan perumahan ini


didirikan. Rasa ini seperti di prigen saja’, ia tersenyum kecil mengingat


nyonya mudanya berasal.


Di Australia, gedung perkantoran Clark brothers.


Lelaki itu tersenyum memandang ke arah awan yang berarak menuju barat.


Cerahnya warna biru dilangit perlahan-lahan tergeser oleh jingga diufuk barat. Dia semakin


menyeringai lebar saat malam mulai menyelimuti kota Melbourne. Tangan kanannya


meraih handphone disaku celana dan memencet sebuah nomor.


‘Trut….trut…..trut’.


‘Halo, sir’, suara perempuan dari seberang sana menjawab.


‘Ya, apakah kamu sudah menjalankan tugas yang ku-emailkan?’.


‘Sudah, all set sesuai planning, tapi dia tidak pernah meninggalkan mansion semenjak


peristiwa itu’.


‘Daamn, mungkin pemicu mu kurang kuat’.


‘Maksudnya, sir?’.


‘Bodoh, apa aku harus memeragakannya didepanmu sekarang agar kau mengerti’, hardiknya


kasar.


‘Aku mengerti yang anda maksud, tapi bagaimana dia bisa melihat jika orangnya saja


tak pernah keluar mansion’.


‘Sangat-sangat tolol. Apa kamu tahu benda yang sedang kamu pegang saat ini?’.


‘Maksud anda telepon genggam?’.


‘Bingo kau bisa menggunakannya untuk menjalankan misimu’.


‘Ouuuh, baiklah aku paham’.


‘Heem’.


‘Tut’.

__ADS_1


Seringai culas muncul dari bibir perempuan itu sesaat setelah mereka mengakhiri


panggilan.


__ADS_2