MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LVII


__ADS_3

Mansion Cartwright tahun 2022.


Tiga tahun sudah, tubuh itu tertidur. Hanya napas yang menghembus


teratur pertanda yang empunya masih hidup.


Wajah serta kulitnya semakin memutih karena tak pernah terkena


sinar matahari. Bila dilihat sekilas, orang tidak pernah tahu jika dia seperti


mati suri.


Keanehan ini sudah menjadi kebiasaan Jodi belakangan ini. Dia yang


lebih suka tertidur bahkan menikmatinya, tanpa ingin bergerak kemana-mana lagi


tuk menghadapi dunia.


Di atas ranjang king size, mama Laura dan perawat tampak


mendandaninya dengan baju setelan yang ia kenakan pada saat ke kantor.


Hanya saja tidak dengan formasi yang lengkap, menyisakan dasi dan


jas. Setelah itu sang ibu tercinta, menyisir serta merapikan rambut. Dan menyemprotkan


parfum kesukaan Jodi.


Semuanya selesai, dia melirik jam di atas pintu kamar. Kemudian, “suster…sebentar


lagi mertua Jodi akan kemari. Tolong disambut dari ruang tamu. Wati sedang ke


supermarket, membeli keperluan mansion”.


“Baik nyonya”.


“Maaf merepotkanmu”.


“Jangan sungkan. Saya permisi nyonya” menundukan kepala sebentar.


“Silahkan”.


Semenjak anak semata wayangnya tak sadarkan diri, Laura mengurangi


beberapa pelayan. Dan hanya menyisakan tujuh orang.


Ketidak mampuannya dalam mengurus perusahaan merupakan salah satu


imbas dari semua peristiwa yang dialami.


Dia yang tidak ditakdirkan untuk mengelola perusahaan besar


menjadi boomerang bagi The Cartwright Company. Meskipun dilahirkan dari


keluarga pebisnis sukses. Laura tak pernah dan ingin untuk meneruskan warisan


keluarganya.


Laura muda, lebih suka menggeluti bidang kuliner kegemarannya. Menciptakan


resep-resep baru. Memadukan dengan masakan lokal, adalah keahlian dia.


Dengan sedikit trik, tidak ada cabang restoran The London’s dimana


pun dia tinggal. Termasuk yang di Indonesia.


‘Laura continental and Resto’ yang ada di Malang, terbesar dan


terkenal dengan menu-menu kreatif yang memanjakan lidah para pelanggan.


Menghembuskan napas sejenak sebagai pengalihan rasa pedih di dada.


Kembali ditatapnya tubuh Jodi yang tertidur. Mengusap pipi anak semata wayangnya


dengan sayang. Netranya pun mulai berkaca-kaca.


Kegiatannya terjeda saat terdengar ketokan di pintu.


“Permisi nyonya. Mertua tuan sudah datang”.


“Suruh dia masuk”.


“Baik nyonya”.


“Silahkan tuan” kata perawat itu kembali.


“Terima kasih, sus”.


Suster pun menutup pintu kamar dengan sopan, beranjak meninggalkan


mereka berdua.


Mendekat ke arah kasur, Parjo menajamkan mata pada tubuh Jodi. Mengarahkan


telapak tangannya pada kepala dan seluruh tubuh sang menantu.


Berdehem sebentar, “Bagaimana terjadinya?”


“Mereka bertengkar. Kamarnya porak poranda dan pecahan vas


mengenai kepala Suti. Mereka berdua pingsan saat aku dan Jeff menemukannya di

__ADS_1


kamar ini”.


“Apa pemicunya?”


“Waktu itu Suti pulang dengan Bondan dari perkebunan apel di Batu.


Pengawalnya bilang bahwa menantuku baru saja menemui mantan kekasihnya. Dia tampak


sedih sepanjang perjalanan pulang. Bahkan sampai menangis”.


“Lalu?”


“Jodi menunggunya di ruangan ini, hampir seharian. Dia sengaja


pulang siang, hanya untuk menunggu istrinya. Berkali-kali dia menelepon tapi


tak pernah di angkat”.


“Apa terjadi pertengkaran saat mereka berada disini”.


“Sepertinya itu yang terjadi. Ketika aku melihat keadaan kamar


yang berantakan”.


“Heemms…itu rupanya yang membuat dia bangkit lagi. Kemarahannya


muncul karena wadah dari jasadnya tersakiti”.


“Maksudmu makhluk itu?”


“Ya Laura. Saat ini kekuatannya semakin kuat karena ada


pasangannya”.


“Pa-pasangan?”


“Benar, mereka kembar. Seharusnya yang ditubuh Suti itu melemah. Karena


sisi manusianya sangat mencintai anakmu. Dan perempuan bukan wadah yang cocok


untuk makhluk itu”.


“Lalu apa yang harus kita lakukan, Parjo?”


“Semenjak kedatangan Suti ke kampung dulu. Aku sudah mencari


keberadaan ki Nogo, tapi sia-sia. Sampai saat ini batinku belum terhubung


dengannya”.


“Coba lah lagi”.


“Apa kamu bisa menyediakan ruang khusus untukku?”


ada beberapa perkamen peninggalan leluhur Cartwright. Barangkali bisa membantu”.


“Aaah…ya Laura kau benar. Bawa aku kesana”.


“Mari”.


“Heem”.


***


Rumah Clark Batu Malang.


Suti kegirangan dengan aktifitas di Mansion ini. Dia melakukan


semua kegiatan outdoor yang disukainya. Berenang, berkebun bahkan memetik buah


apel yang tumbuh di halaman belakang mansion yang luas.


Bahkan dia tak perlu mengkhawatirkan dengan perubahan wujud yang


tiba-tiba. Karena makhluk itu muncul dan pergi sesuka hatinya. Suti masih belum


bisa mengontrol kekuatan iblis yang bersarang di jasadnya.


Wajahnya berseri-seri. Tangannya tak berhenti bergerak, memotong


dedaunan kering yang muncul di setiap bunga anggrek dalam kebun itu.


Tiba-tiba guntingnya terjatuh, saat kakinya berubah bentuk menjadi


ekor.


“Ouch, brengsek. Mengapa tidak memberitahuku kalau kamu mau muncul”.


“Hi…hi…hi. Aku juga ingin ikut senang sepertimu”.


“Kamu suka menyiangi tanaman? Kayak manusia saja”.


“Tentu saja. Apa yang kamu suka aku juga suka. Bukankah kita satu”


seringainya muncul.


“Tidak bisa…itu semua adalah kegemaranku”.


“Itu juga kegemaranku manusia bodoh”.


“Bagaimana mungkin?” oloknya kembali.

__ADS_1


“Kan aku sudah bilang kita adalah satu jiwa dan badan. Hi…hi…hi”


membungkukan badan hendak mengambil gunting dari tanah.


“Hei tunggu dulu!”


“Apa lagi?” tanya makhluk itu.


“Pembicaraan kita belum selesai”.


“Maksudmu?”


“Ini tentang kegemaranmu berburu bayi di setiap malam Jum’at


Kliwon. Itu bukan aku, kan?”


“Tentu saja gadis bodoh! Mana ada manusia normal menyantap darah


anak manusia”.


“Kamu benar juga. Lalu bagaimana aku bisa mengontrolnya”.


“Tak pernah…selama kamu belum melahirkan keturunan yang kedua


belas. Hi…hi…hi”.


“Maksudmu aku harus melahirkan bayi kalian? Tidak…tidak akan


pernah terjadi!”


“Bukan bayi kami gadis bodoh. Tapi keturunan Jansen…hi…hi…hi”.


“Jan-Jansen…siapa lagi itu?”


“Carilah sendiri Suti. Sssssh….sudahlah jangan ganggu aku yang


hendak merawat tanaman ini”.


Suti pun membiarkan makhluk itu menguasai dirinya. Bahkan meneruskan


kegiatan yang tertunda tadi. Ekor berwarna hijau kecoklatan tersebut mulai


melenggak lenggok mengikuti langgam Jawa dari Handphone di meja kebun.


Sementara itu Clark dari lantai dua, melihat apa yang dilakukan


perempuan itu. Juga saat dia berubah menjadi makhluk yang sama dengan miliknya.


Matanya tak berkedip ketika tubuh wanita itu berubah wujud dan


tampak berbicara sendiri. Dia mengerti apa yang terjadi. Setelah tak ada lagi


kelanjutan peristiwa di kebun, dia pun melangkahkan kakinya menuju meja kerja.


Menghidupkan laptop dihadapannya dan mulai melakukan virtual


meeting dengan manajer perusahaan cabang yang ada di Amerika dan Inggris secara


bersamaan.


Pembicaraan serius pun mulai terdengar, kala sang Ceo meminta


mereka untuk melaporkan kinerja dalam beberapa bulan terakhir.


Pertemuan di akhiri dengan Clark yang memerintahkan semua pimpinan


perusahaan cabang, untuk mengirimkan soft copy laporan ke surelnya.


Ucapan selamat siang dari semua yang hadir, sebagai pertanda tuntasnya


pembahasan hari ini.


Clark pun mematikan laptop dan beranjak keluar menuju ruang makan


di lantai satu. Duduk di kursi posisi favoritnya. Menoleh sejenak dimana Suti


biasanya duduk, dia sedikit mengerenyitkan dahi.


“Jono, dimana perempuan itu?”


“Masih dikebun, tuan”.


“Panggil dia, ini waktunya makan siang”.


“Eh-anu tuan, saya kira dia tidak ingin makanan ini. Saat ini nona


sedang berubah wujud”.


“Heeems, dia masih dalam bentuk itu rupanya. Panggil dia nanti


juga sudah kembali menjadi manusia”.


“Baik tuan”.


“Sajikan makananku”.


Mengangguk sebentar, pelayan yang dipanggil Jono itu pun


memberikan perintah kepada bawahannya untuk melayani sang majikan.


Tak beberapa lama kemudian, Clark menikmati semua hidangan dengan

__ADS_1


santai.


__ADS_2