
Bondan mengemudikan kendaraan dalam kecepatan normal. Dibangku
penumpang sang nyonya muda duduk terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu
dengan seriusnya.
Dari kaca spion mobil, Bondan melihat majikannya yang sedang
melamun. Dia segera mengalihkan pandangannya ketika sang nyonya tiba-tiba
menatap kembali melalui spion itu.
Saat hendak membuka mulut dengan pertanyaan yang sudah tersusun
dibenak, tiba-tiba telepon disakunya bergetar. Memasang headset dengan tangan
kiri ke telinganya, Bondan mulai menjawab.
“Selamat malam bos”.
“Malam. Bondan kamu dimana?”
“Dalam perjalanan pulang bos”.
“Nyonya muda sedang bersamamu?”
“Iya bos beliau sedang duduk di bangku belakang”.
“Hem”.
“Tut”.
Satu jam kemudian mobil yang dikendarai Suti dan Bondan memasuki
halaman mansion. Membukakan pintu buat sang majikan dan mengucapkan selamat
malam.
Hanya anggukan singkat dari Suti sebagai jawaban. Di pintu utama pun
Wati menyambut majikannya.
“Malam nyonya”.
“Malam Wati”.
“Apakah anda ingin makan malam?”
“Em tidak. Aku sudah makan dalam perjalanan pulang tadi. Apakah
Jay sudah pulang?”
“Sudah nyonya beliau menunggu anda di kamar”.
“Baiklah”.
Menuju lantai dua.
“Cekleek”.
Baru dua langkah Suti memasuki kamar ketika tiba-tiba Jay
menegurnya dengan kasar.
“Untuk apa kamu mengunjungi Hendri?”
Tertegun sejenak, “ada yang ingin kutanyakan padanya. Apa itu
masalah?”
“Buat apa, masih mengingat masa lalu? Atau kamu masih
mencintainya?”
“Ouh ayolah Jay, kau tahu sendiri jawabannya tanpa perlu aku
membuka mulut, kan?”
“Tidak Suti jawab pertanyaanku dengan jujur” desaknya sambil
menatap dengan intens.
“Aku hanya ingin tahu kebenarannya, Jay”
“Untuk apa, kamu masih ingin kembali padanya?”
“Pertanyaan bodoh macam apa itu”
“Cih, itu bukan pertanyaan bodoh. Aku yakin kamu merindukan
belaian dia, kan? Sekali sampah tetap sampah. Masih untung aku mau mengambil
barang bekas sepertimu. Itu pun karena mama”
Merasa terhina Suti pun meradang.
“Apa maksudmu dengan barang bekas?”
“Kamu tahu apa yang aku maksudkan?”
“Tuduhan yang tidak beralasan”.
“Apa perlu kubuktikan, heum?”
“Haaah, sesukamu lah. Aku bosan mendengar tuduhanmu yang tak
mendasar itu”.
“Akhirnya kamu mengakuinya Suti?”
__ADS_1
“Tidaaak Jay. Kamu salah”.
“Sekali brengsek tetap saja brengsek. Dan kalian berdua adalah
makhluk menjijikan”.
“Maksudmu?”
“Kamu dan Hendri adalah pasangan menjijikan. Dan aku yang
memungutmu. Barang bekas pakai dari dia”.
Suti semakin tersulut emosinya dengan semua kalimat-kalimat
memojokan yang dilontarkan oleh Jodi.
“Cukuuup. Ceraikan aku Jay, sekarang”.
“Tidak akan Suti. Aku tidak mau mengecewakan mama”.
Menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun, Suti pun tertawa
terbahak-bahak.
“Bodoh sangat bodoh. Bukankah kamu tidak mau barang bekas orang
lain Jay? Apakah kamu merasa suci? Bagaimana dengan mantan kekasihmu,
Marcella?”
“Jangan bawa-bawa dia dalam perdebatan kita, Suti atau….”
“Atau apa Jay, kau akan memukulku atau menghancurkan hidupku
seperti yang terjadi pada Hendri?”
Dia terkesiap sebentar sebelum menata ekspresinya kembali menjadi
amarah.
“Jangan memancingku Suti”.
“Ha…ha…ha. Lakukanlah sesukamu Jay. Aku sudah tidak perduli. Dan
kamu perlu ketahui tekadku sudah bulat untuk mempercepat perceraian kita. Apa
pun konsekuensinya nanti”.
Mengetatkan rahang serta mengepalkan tangan, Jay meninju meja yang
ada disebelahnya menjadi hancur berkeping-keping. Amarahnya telah mencapai
puncak, sebagai akumulasi dari cemburu yang menjadi satu.
Suti hanya melihat hal itu dengan tatapan datar. Tak tampak
sedikit pun ketakutan dari wajahnya. Sedangkan Jodi menjadi semakin marah,
di sisi kasur.
Salah satu pecahan vas terlempar mengenai kepala Suti sehingga
berdarah. Lelehan darah segar itu mulai merayap menuju bibir. Dia menjilati
dengan ujung lidahnya. Kemudian seringai licik muncul disudut bibir mungil itu.
“Heeem manis. Ha….ha…ha” tawanya menggema dengan nada yang tak
biasa.
Sebentar kemudian matanya meruncing dan berubah hijau. Lidahnya
bercabang dan menjulur ke segala arah.
“Manusia tak tahu diuntung” bentaknya, mengalahkan suara kemarahan
Jodi.
Tak menyadari apa yang terjadi, tubuh Jodi tiba-tiba terlempar ke
udara dan membentur tembok dengan keras. Dia pun tak sadarkan diri dengan darah
menetes dari kepalanya.
“Ssssh….rasakan itu desisnya”.
Dalam sekejap kamar itu menjadi sunyi. Suti pun kembali tak
sadarkan diri, tubuhnya luruh ke lantai dekat Jodi. Suami istri itu pun
sama-sama pingsan.
Cartwright Mansion, di pagi hari.
Kehebohan terjadi di rumah itu ketika Laura membangunkan anak dan
menantunya dikamar. Matanya membeliak saat melihat Jodi dan Suti tergeletak
dilantai dengan kepala berdarah. Ia pun berteriak ke para bodyguard agar
membawa mereka ke rumah sakit.
Begitu tiba dirumah sakit, mereka langsung dibawa ke UGD untuk
ditangani. Laura yang mengkuatirkan keselamatan orang-orang kesayangannya,
meminta dokter keluarga yang bekerja disana untuk ikut menangani.
Suti yang mengalami cedera ringan dikepala segera dibawa ke kamar
__ADS_1
pasien VIP untuk pemulihan. Sedangkan Jodi, meskipun tidak terlalu parah dia
mendapatkan perawatan di ruang ICU, karena belum sadarkan diri.
Laura menyuruh Bondan untuk menjaga menantu kesayangannya di kamar
inap. Sedangkan dia saat ini mengawasi para dokter yang memasangkan infus dan
alat bantu pernafasan ke tubuh Jodi.
Menghembuskan nafas keras-keras saat salah satu dokter keluar dari
ruangan ICU.
“Bagaimana keadaan anak saya dok?”
Melepas masker di mulutnya sebelum menjawab, “anak ibu baik-baik
saja”.
“Apa ada yang patah dok? Sepertinya dia habis membentur benda yang
keras?”
“Ibu tidak usah kuatir, dia hanya mengalami luka luar. Perawatan dalam
beberapa hari akan segera memulihkannya”.
“Oh ayolah dokter bagaimana dengan CT scan?”
“Baiklah bu saya akan menyuruh perawat untuk membawanya ke ruang
scan. Jika tidak ada yang terluka di bagian internal organ nya. Pasien bisa
dibawa ke ruang inap”.
“Terima kasih dok”.
“Ya”.
Dokter itu kembali ke ruang ICU tuk memerintah pada suster membawa
Jodi ke ruang scan. Sedangkan Laura hanya bisa melihat dari balik kaca saat
anaknya didorong ke ruang lain melewati pintu kaca yang ada didalam ruangan itu.
Dengan cemas dia menunggu.
Tiga puluh menit kemudian brankar Jodi melewati Laura yang sedang
menunggu diluar ICU. Dia terhenyak kala melihat anaknya masih belum sadarkan
diri. Mensejajarkan langkahnya dengan laju brankar.
“Bagaimana suster keadaaan anak saya?”
“Pasien dalam keadaan baik-baik saja nyonya. Kami akan membawanya
ke kamar inap. Silahkan ikuti kami”.
“Baiklah”.
“Nyonya” Bondan mengangguk ramah pada Laura, saat brankar yang
membawa sang tuan memasuki ruang yang sedang dijaganya.
“Hem”.
“Apakah Suti sudah sadar?”
“Sepertinya sudah nyonya dan sedang diperiksa oleh suster jaga”.
“Baiklah”.
Netranya melihat perawat yang sedang memposisikan brankar Jodi
dengan bed yang ada di ruang itu. Sedangkan disisinya tampak Suti dengan posisi
duduk bersandar di bed, sedang dipasang infus ditangan kirinya.
Dia sedikit menoleh ke arah Jodi saat suster mensejajarkan bed
dengannya. Begitu Laura ikut mengikuti dibelakang brankar, dia pun tersenyum. Ketika
kedua suster sudah meninggalkan ruangan, kamar itu kembali sunyi.
Tak beberapa lama kemudian sebuah suara memecah keheningan.
“Apakah kamu baik-baik saja sweety?”
Suti yang tengah menatap Jodi pun sedikit terkejut.
“A…aku baik-baik saja mam”.
“Ouh, apakah kamu mau makan sesuatu?”
“Eh tidak. Suster sudah menyuapiku tadi”.
“Hem baiklah”.
“Adakah yang ingin kamu ceritakan kepada mama?”
“Em itu….itu”.
“Baiklah tidak usah memaksakan diri. Mama akan menunggu sampai
kamu siap menceritakannya”.
“Apa Jodi baik-baik saja mam?”
__ADS_1
“Ya dia hanya luka luar. Beberapa hari ini dia akan sembuh”.
“Hem”.