MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXXIII


__ADS_3

Bondan mengemudikan kendaraan dalam kecepatan normal. Dibangku


penumpang sang nyonya muda duduk terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu


dengan seriusnya.


Dari kaca spion mobil, Bondan melihat majikannya yang sedang


melamun. Dia segera mengalihkan pandangannya ketika sang nyonya tiba-tiba


menatap kembali melalui spion itu.


Saat hendak membuka mulut dengan pertanyaan yang sudah tersusun


dibenak, tiba-tiba telepon disakunya bergetar. Memasang headset dengan tangan


kiri ke telinganya, Bondan mulai menjawab.


“Selamat malam bos”.


“Malam. Bondan kamu dimana?”


“Dalam perjalanan pulang bos”.


“Nyonya muda sedang bersamamu?”


“Iya bos beliau sedang duduk di bangku belakang”.


“Hem”.


“Tut”.


Satu jam kemudian mobil yang dikendarai Suti dan Bondan memasuki


halaman mansion. Membukakan pintu buat sang majikan dan mengucapkan selamat


malam.


Hanya anggukan singkat dari Suti sebagai jawaban. Di pintu utama pun


Wati menyambut majikannya.


“Malam nyonya”.


“Malam Wati”.


“Apakah anda ingin makan malam?”


“Em tidak. Aku sudah makan dalam perjalanan pulang tadi. Apakah


Jay sudah pulang?”


“Sudah nyonya beliau menunggu anda di kamar”.


“Baiklah”.


Menuju lantai dua.


“Cekleek”.


Baru dua langkah Suti memasuki kamar ketika tiba-tiba Jay


menegurnya dengan kasar.


“Untuk apa kamu mengunjungi Hendri?”


Tertegun sejenak, “ada yang ingin kutanyakan padanya. Apa itu


masalah?”


“Buat apa, masih mengingat masa lalu? Atau kamu masih


mencintainya?”


“Ouh ayolah Jay, kau tahu sendiri jawabannya tanpa perlu aku


membuka mulut, kan?”


“Tidak Suti jawab pertanyaanku dengan jujur” desaknya sambil


menatap dengan intens.


“Aku hanya ingin tahu kebenarannya, Jay”


“Untuk apa, kamu masih ingin kembali padanya?”


“Pertanyaan bodoh macam apa itu”


“Cih, itu bukan pertanyaan bodoh. Aku yakin kamu merindukan


belaian dia, kan? Sekali sampah tetap sampah. Masih untung aku mau mengambil


barang bekas sepertimu. Itu pun karena mama”


Merasa terhina Suti pun meradang.


“Apa maksudmu dengan barang bekas?”


“Kamu tahu apa yang aku maksudkan?”


“Tuduhan yang tidak beralasan”.


“Apa perlu kubuktikan, heum?”


“Haaah, sesukamu lah. Aku bosan mendengar tuduhanmu yang tak


mendasar itu”.


“Akhirnya kamu mengakuinya Suti?”

__ADS_1


“Tidaaak Jay. Kamu salah”.


“Sekali brengsek tetap saja brengsek. Dan kalian berdua adalah


makhluk menjijikan”.


“Maksudmu?”


“Kamu dan Hendri adalah pasangan menjijikan. Dan aku yang


memungutmu. Barang bekas pakai dari dia”.


Suti semakin tersulut emosinya dengan semua kalimat-kalimat


memojokan yang dilontarkan oleh Jodi.


“Cukuuup. Ceraikan aku Jay, sekarang”.


“Tidak akan Suti. Aku tidak mau mengecewakan mama”.


Menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun, Suti pun tertawa


terbahak-bahak.


“Bodoh sangat bodoh. Bukankah kamu tidak mau barang bekas orang


lain Jay? Apakah kamu merasa suci? Bagaimana dengan mantan kekasihmu,


Marcella?”


“Jangan bawa-bawa dia dalam perdebatan kita, Suti atau….”


“Atau apa Jay, kau akan memukulku atau menghancurkan hidupku


seperti yang terjadi pada Hendri?”


Dia terkesiap sebentar sebelum menata ekspresinya kembali menjadi


amarah.


“Jangan memancingku Suti”.


“Ha…ha…ha. Lakukanlah sesukamu Jay. Aku sudah tidak perduli. Dan


kamu perlu ketahui tekadku sudah bulat untuk mempercepat perceraian kita. Apa


pun konsekuensinya nanti”.


Mengetatkan rahang serta mengepalkan tangan, Jay meninju meja yang


ada disebelahnya menjadi hancur berkeping-keping. Amarahnya telah mencapai


puncak, sebagai akumulasi dari cemburu yang menjadi satu.


Suti hanya melihat hal itu dengan tatapan datar. Tak tampak


sedikit pun ketakutan dari wajahnya. Sedangkan Jodi menjadi semakin marah,


di sisi kasur.


Salah satu pecahan vas terlempar mengenai kepala Suti sehingga


berdarah. Lelehan darah segar itu mulai merayap menuju bibir. Dia menjilati


dengan ujung lidahnya. Kemudian seringai licik muncul disudut bibir mungil itu.


“Heeem manis. Ha….ha…ha” tawanya menggema dengan nada yang tak


biasa.


Sebentar kemudian matanya meruncing dan berubah hijau. Lidahnya


bercabang dan menjulur ke segala arah.


“Manusia tak tahu diuntung” bentaknya, mengalahkan suara kemarahan


Jodi.


Tak menyadari apa yang terjadi, tubuh Jodi tiba-tiba terlempar ke


udara dan membentur tembok dengan keras. Dia pun tak sadarkan diri dengan darah


menetes dari kepalanya.


“Ssssh….rasakan itu desisnya”.


Dalam sekejap kamar itu menjadi sunyi. Suti pun kembali tak


sadarkan diri, tubuhnya luruh ke lantai dekat Jodi. Suami istri itu pun


sama-sama pingsan.


Cartwright Mansion, di pagi hari.


Kehebohan terjadi di rumah itu ketika Laura membangunkan anak dan


menantunya dikamar. Matanya membeliak saat melihat Jodi dan Suti tergeletak


dilantai dengan kepala berdarah. Ia pun berteriak ke para bodyguard agar


membawa mereka ke rumah sakit.


Begitu tiba dirumah sakit, mereka langsung dibawa ke UGD untuk


ditangani. Laura yang mengkuatirkan keselamatan orang-orang kesayangannya,


meminta dokter keluarga yang bekerja disana untuk ikut menangani.


Suti yang mengalami cedera ringan dikepala segera dibawa ke kamar

__ADS_1


pasien VIP untuk pemulihan. Sedangkan Jodi, meskipun tidak terlalu parah dia


mendapatkan perawatan di ruang ICU, karena belum sadarkan diri.


Laura menyuruh Bondan untuk menjaga menantu kesayangannya di kamar


inap. Sedangkan dia saat ini mengawasi para dokter yang memasangkan infus dan


alat bantu pernafasan ke tubuh Jodi.


Menghembuskan nafas keras-keras saat salah satu dokter keluar dari


ruangan ICU.


“Bagaimana keadaan anak saya dok?”


Melepas masker di mulutnya sebelum menjawab, “anak ibu baik-baik


saja”.


“Apa ada yang patah dok? Sepertinya dia habis membentur benda yang


keras?”


“Ibu tidak usah kuatir, dia hanya mengalami luka luar. Perawatan dalam


beberapa hari akan segera memulihkannya”.


“Oh ayolah dokter bagaimana dengan CT scan?”


“Baiklah bu saya akan menyuruh perawat untuk membawanya ke ruang


scan. Jika tidak ada yang terluka di bagian internal organ nya. Pasien bisa


dibawa ke ruang inap”.


“Terima kasih dok”.


“Ya”.


Dokter itu kembali ke ruang ICU tuk memerintah pada suster membawa


Jodi ke ruang scan. Sedangkan Laura hanya bisa melihat dari balik kaca saat


anaknya didorong ke ruang lain melewati pintu kaca yang ada didalam ruangan itu.


Dengan cemas dia menunggu.


Tiga puluh menit kemudian brankar Jodi melewati Laura yang sedang


menunggu diluar ICU. Dia terhenyak kala melihat anaknya masih belum sadarkan


diri. Mensejajarkan langkahnya dengan laju brankar.


“Bagaimana suster keadaaan anak saya?”


“Pasien dalam keadaan baik-baik saja nyonya. Kami akan membawanya


ke kamar inap. Silahkan ikuti kami”.


“Baiklah”.


“Nyonya” Bondan mengangguk ramah pada Laura, saat brankar yang


membawa sang tuan memasuki ruang yang sedang dijaganya.


“Hem”.


“Apakah Suti sudah sadar?”


“Sepertinya sudah nyonya dan sedang diperiksa oleh suster jaga”.


“Baiklah”.


Netranya melihat perawat yang sedang memposisikan brankar Jodi


dengan bed yang ada di ruang itu. Sedangkan disisinya tampak Suti dengan posisi


duduk bersandar di bed, sedang dipasang infus ditangan kirinya.


Dia sedikit menoleh ke arah Jodi saat suster mensejajarkan bed


dengannya. Begitu Laura ikut mengikuti dibelakang brankar, dia pun tersenyum. Ketika


kedua suster sudah meninggalkan ruangan, kamar itu kembali sunyi.


Tak beberapa lama kemudian sebuah suara memecah keheningan.


“Apakah kamu baik-baik saja sweety?”


Suti yang tengah menatap Jodi pun sedikit terkejut.


“A…aku baik-baik saja mam”.


“Ouh, apakah kamu mau makan sesuatu?”


“Eh tidak. Suster sudah menyuapiku tadi”.


“Hem baiklah”.


“Adakah yang ingin kamu ceritakan kepada mama?”


“Em itu….itu”.


“Baiklah tidak usah memaksakan diri. Mama akan menunggu sampai


kamu siap menceritakannya”.


“Apa Jodi baik-baik saja mam?”

__ADS_1


“Ya dia hanya luka luar. Beberapa hari ini dia akan sembuh”.


“Hem”.


__ADS_2