
‘Kriuuuuk’, bunyi perut memanggil-manggil minta di isi.
Tak menghiraukan, kuteruskan tidur lelapku yang belum tuntas. Ketika suara adzan subuh
dari masjid perumahan membangunkan diri ini. Sontak aku duduk dan mengucapkan
alhamdulilah berkali-kali karena masih diberi kesempatan untuk menikmati hari
selanjutnya dari roda kehidupan yang terus bergulir.
Tak lantas menuju kamar mandi aku malah menyeret langkahku ke meja makan kecil di sudut
ruang. Masih terbungkus dengan rapi dalam box makanan yang dibelikan oleh Jay.
Aku tersenyum, ’woooh hidangan mewah’, sambil mencomot salah satu menu favoritku
dari sana. Kugunakan kedua ujung jari kananku saat memasukan ke dalam mulut.
Sampai kurasakan kenyang merajai perut ini. Tanpa menutup kembali box tersebut
aku menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Di atas sajadah yang terbentang, banyak kulantunkan doa buat keluargaku.
Diakhir tak terasa bayangan wajah Jay melintas,’ ada apa dengannya?’, batinku. ‘Apa
sesuatu yang buruk terjadi padanya? Ah mudah-mudahan tidak’.
Lantas aku pun mendoakan semua kebaikan kepada
dia dan mamanya yang sempat bertemu kemarin. Kembali pikiranku melayang ke
kejadian dirumah mewah Jay,’ Wajah wanita anggun kemarin sangat mirip dengan
dia, lantas apa hubungannya dengan perempuan yang sering kutemui dulu dirumah
Jay yang sempit ditengah kota.
‘Yaaah, dia dulu tinggal di gang sempit dekat kampus. Kalau mau masuk ke tempat
tinggalnya saja harus beriringan satu-satu tak bisa berjajar, karena gangnya
sangat sempit dan hanya cukup dilewati satu orang saja.
Apalagi pada saat sepeda anak-anak kos yang tinggal di lokasi tersebut lewat, kita
pejalan kaki harus memiringkan badan memberikan kesempatan pada mereka melintas
terlebih dahulu.
Jay hanya tinggal dengan ibunya, perempuan bermuka sinis yang selalu memandang curiga ke
yang lain. Apalagi saat pertama kali Jay mengajakku ke rumahnya, banyak
pertanyaan yang ia lontarkan seolah tak rela anaknya berteman dengan seusianya.
Aku merasa berada di ruang interogasi kepolisian atas tindakan kriminal yang kulakukan.
Senyumku mengembang mengingatnya. Walau ibu Jay tak menyukaiku, hubungan kami
tetap berlanjut. Karena aku sangat mencintainya pun demikian dengan dia.
Jadilah gaya berpacaran kami yang jauh dari kata traktir mentraktir makan, nonton film
maupun beli barang-barang yang menjadi favorit perempuan. Aku bahagia meskipun
kemana-mana jalan kaki. Bagiku berdua saja dengan Jay kemanapun kaki kami
melangkah, hanya kebahagiaan meliputi kami. Walaupun jarak tempuhnya sampai dua
kilometer lebih. Keromantisan tak menuntut materi membuat kita merasa nyaman
satu sama lain.
Pernah satu kali Jay memberiku hadiah kalung dan liontin yang terbuat dari perak seharga
seratus ribu, aku sangat senang sekali.
‘Darimana kamu dapat uang untuk membeli ini Jay’, tanyaku saat dia mengalungkannya di
leherku.
‘Aku dapat job menyanyi di Hilton kemarin. Dua hari, sabtu dan minggu, dibayar banyak.
Kubagi pada semua crew dan aku dapat dua ratus ribu. Yang seratus kukasih ibu
dan sisanya kubelikan kalung ini, untukmu Suti sebagai tanda sayang kepadamu,’
ujarnya lagi sambil menciumi leherku.
__ADS_1
‘Jay geli’.
‘Apa?’.
‘Sudah kan memasang kalungnya?’.
‘Belum selesai. Eeeemmmm’. Jay terus menciumi leherku dari samping dan memeluk ku dari
belakang posesif.
‘Sudah Jay nanti kita keterusan’.
‘Kalau itu terjadi Suti, aku akan menikahimu saat ini juga’.
‘Jangan gila kamu. Apa kata ibumu. Kuliah saja belum kelar, mau menafkahi anak orang.
Belum lagi nanti kalau aku hamil, mau kamu kasih makan apa anak kita Jay’,
kupencet hidungnya.
‘Auuuch, lepaskan aku tidak bisa bernafas’.
Aku tergelak dan melepaskan kedua ujung jariku dari sana berbarengan dengan Jay
yang turut mengurai pelukannya. Kupandangi sekali lagi bayangan ku dari cermin
sembari bergumam, ’cantik’.
‘Tentu saja kalung itu kupilihkan sesuai dengan seleramu, Suti. Sederhana tapi
elegan’.
‘Terima kasih Jay kamu memang the best’, sahutku sembari mencium pipi kiri dan
kanannya.
‘Bibirku tidak?’, sembari memonyongkan ke arahku.
‘Tiiidaak’, ku berlari kecil menuju keluar kamar kosanku. Sebelum penghuni kamar sebelah
pulang dari kampus dan memergoki kami berdua.
Lantas aku pun duduk di bangku yang tersedia di luar kamar kos menunggu Jay.
Hingga dia menyusulku sambil berkata,’ kamu kejam Suti, mengapa aku kau biarkan menunggu
dalam kamar?’.
adalah biang gosip di kosan ini. Aku tidak mau diterpa pembicaraan miring yang
ujungnya jadi bahan bisikan berbulan-bulan. Tidak nyaman Jay’.
‘Baiklah, kita akan berpacaran dengan sehat, okay’.
‘Deal’, kataku bersemangat.
Di kediaman keluarga Cartwright.
Pagi ini
Jay bersiap akan pergi ke kantor, ia sedang mematut diri di depan cermin sambil
memasangkan dasi ke leher, ketika mamanya berdiri di depan pintu kamar sembari
berkata, ‘ Jay sarapan dulu bareng mama di ruang makan’.
‘Iya ma,’ sahutnya sedikit jutek.
‘Ada apa boy, mengapa wajahmu ditekuk begitu?’, jawabnya lembut sembari melangkah
memasuki kamar dan mengambil dasi dari tangan Jay yang tak terpasang dengan
sempurna.
‘Tumben tidak bisa memasang ini dengan rapi, apa yang kamu pikirkan?’.
‘Tidak ada ma’, elaknya.
‘Jangan bohong sama mama, katakan saja apa yang membebanimu?. Apa gadis yang kau bawa
kemarin?’.
‘Huft, percuma bohong sama mama, dia punya intuisi yang tajam. Bahkan dalam perasaan
anaknya ini’, batin Jay.
‘Oh ayolah boy, dia sepertinya gadis yang baik. Mama suka kalau dia jadi menantuku’.
‘Baik apanya ma. Dia itu hampir sama dengan Marcella. Suka uang dan kemewahan’,
__ADS_1
bantahnya.
‘No, Jay kamu salah. Yang satu karena kebutuhan sedang lainnya karena tuntutan gaya
hidup. Ingat Jay dua kata itu mempunyai arti yang berbeda. Karena kebutuhan
tidak sama dengan gaya hidup. Kebutuhan tidak bisa ditunda sedang gaya hidup
masih bisa ditekan atau tidak perlu dituruti, karena hanya untuk menaikan
gengsi di mata orang lain, jelas Jay?’.
‘Mama yakin kamu mengerti itu karena aku mendengar kata hampir sama dari mulutmu’.
‘Haah, terserahlah apa kata mama’.
‘Heeem, siapa sebenarnya gadis itu Jay, mama jadi penasaran?’.
‘Bukan siapa-siapa’.
‘Lantas?’.
‘Lantas apa mom, aku tidak mengerti. Ayo kita menuju ke ruang makan. Sebentar lagi ada
meeting dengan klien’, alih Jay menghindari interogasi dari mamanya.
‘Sceek’,
mama Jay menggelengkan kepala. Tapi tetap berjalan mengekorinya ke ruang makan
Di lantai sepuluh gedung perkantoran.
‘Apa jadwalku hari ini Andrew?’.
‘Sebentar bos saya temui Selly’.
‘Hem, kutunggu di ruanganku’.
‘Siap bos’.
Jodi langsung melangkah ke ruangannya sedangkan Andrew menuju ke meja sang
sekretaris untuk mengambil jadwal harian si bos besar. Setelah itu dia mengetuk
pintu ruang kerja sang bos. Sampai ia mendengar suara,’ masuklah Andrew!’.
‘Ini bos. Nanti jam sepuluh tepat ada pertemuan dengan perusahaan blue adventure dari
Amerika. Sore sekitar pukul empat anda harus pergi ke hotel Horizon untuk
menanda tangani kesepakatan kerja dengan investor yang akan menanam modal di
perusahaan Dico hotel and travelling’.
‘Ada lagi?’.
‘Tidak ada bos. Setelah itu anda free sampai jam pulang kantor’.
‘Oke bilang pada Jeff untuk menemaniku nanti malam, tepat pukul Sembilan, suruh dia
membawa baju gantiku yang casual dari rumah. Jika mama tanya katakan aku ada
acara bertemu dengan teman-teman kuliahku dulu, paham?’.
‘Paham bos’.
‘Bagus, tinggalkan aku sendiri. Dan siapkan keperluan untuk pertemuan dengan blue
adventure serta investor itu’.
‘Baik bos’.
Sepeninggal Andrew, Jodi kembali menyibukan dirinya dengan memeriksa berkas-berkas yang ada
di meja dan menanda tanganinya. Mencapai berkas ke sepuluh dia tertegun, dengan
hal yang mengganggu pikiran. Yah wajah gadis itu kembali merusak moodnya hari
ini. Dia berdecak kesal sambil mengetuk-ngetuk kan pena ke atas meja.
‘Apa yang kamu lakukan Suti, apa kamu meracuni sukmaku dengan rapalan-rapalan doa dari
asap dupa yang menyengat? Huh dasar gadis bodoh’, umpat Jay kesal.
Kehilangan konsentrasi Jay menyandarkan punggungnya ke bantalan kursi, menyilangkan kaki
dia mulai memikirkan sebuah ide brilian yang melintas di otaknya beberapa menit
yang lalu.
__ADS_1
Mengangguk samar,’ baiklah aku akan melaksanakannya malam ini’, smirk nya lebar.