MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXIII


__ADS_3

‘Darsi!’.


Bargo terkejut ketika membuka pintu gubug dan mendekati perempuan hamil


besar yang terikat di sudut ruang. Panggilan itu terlontar begitu saja dari


mulutnya saat dia mengenali sosok yang menjadi tawanan noni-nya.


Pekerjaanya menjadi centeng selalu berpindah-pindah sesuai aturan


perusahaan. Anne Van Den Berg adalah sekretaris dari pabrik gula dimana ia


bekerja selama ini.


Dua tahun yang lalu Bargo sempat dipindahkan ke Batavia. Niatannya yang


semula ingin menikahi Darsi menjadi berantakan. Dengan terpaksa dia mengikuti


aturan perusahaan. Ketika dipindahkan lagi ke Jawa, dia sudah naik pangkat menjadi


wakil dari kepala centeng.


Kepiawaiannya dalam berkelahi dan mengatur strategi keamanan menjadi


penilaian sendiri bagi presiden direktur perusahaan itu. Sehingga ia dipilih


menjadi centeng pribadi dari sang sekretaris, Anne Van Den Berg.


Kesetiaan Bargo terhadap majikan membuat si noni mempercayai untuk


menjalankan misi rahasianya saat ini. Menjaga tawanan orang penting yang telah


berkhianat padanya. Otak nya selalu diracuni, bahwa perempuan ini telah


menggelapkan uang perusahaan sebesar tujuh juta gulden.


‘Nilai yang banyak’, kekeh Bargo.


Sifat kejamnya pun muncul saat dia mendengarkan penjelasan gamblang dari


majikannya tersebut.


‘Apakah kita perlu menculiknya non?’


‘Tidak perlu Bargo, seseorang sudah melakukannya. Kamu tinggal menjaga dia


agar tidak kabur dari gubug itu dan memberinya makan setiap hari. Aku tidak mau


dia mati terlalu mudah.


‘Emm, mengapa noni tidak mau dia mati. Bukankah dia tidak layak hidup?’


geram Bargo marah.


‘Ouuh, itu?’ memikirkan jawaban yang masuk akal.


‘Dia harus melalui sidang dulu di Musapat Banten’, lanjutnya lagi.


Disinilah dia sekarang membeliakan matanya, tak percaya. Hampir saja


makanan yang ia bawa jatuh berantakan, saking terkejutnya.


‘Dik Darsi, ini kamu?’


‘Kang Bargo, tolong aku’, rintih perempuan itu.


Jongkok di sisinya dia melihat keadaan perempuan yang dicintainya dalam


keadaan mengenaskan. Hatinya sakit, jiwanya bergejolak. Meletakan makanan yang


dibawanya ke atas dipan. Dia pun melepaskan tali yang mengikat kedua tangan

__ADS_1


Darsi. Dielusnya dengan sayang wajah itu. Sejurus kemudian rambutnya dirapikan


dan digelung ke atas.


Dengan kedua mata yang memerah menahan tangis, Bargo mendudukan Darsi ke


atas dipan. Menyuapinya dengan makanan yang ia bawa.


‘Makanlah dik. Biar badanmu punya tenaga’.


Dia menggelengkan kepalanya lemah.


‘Ayolah makan, kasihan anak dalam perutmu itu’, bujuknya lagi.


‘Hiks....hiks. Tidak kang. Bisa kah kamu membantuku lari dari sini. Aku


lelah kang. Aku sudah tidak tahan dengan siksaan ini. Apa salahku kang?’


Tak mampu menjawab, Bargo hanya mengelus kepalanya sayang. Ditepuk-tepuknya


punggung Darsi pelan seolah memberikan kekuatan lebih.


‘Makanlah dik. Kamu pasti memerlukan tenaga untuk pelarianmu nanti’.


‘Sungguh. Kang Bargo akan membantuku?’ tanyanya penuh harapan.


‘Sssst, ini rahasia kita. Bertingkah lakulah seperti biasa agar tak ada


yang curiga’.


‘Baiklah kang’.


‘Sekarang makanlah. Aku akan suapi kamu’.


‘Te...terima kasih kang. Hiks...hiks’.


Darsi menelan suapan dengan tangisan tertahan. Tak mampu berbuat apa pun


‘Semoga kamu kuat dik menerima cobaan ini’, batinnya.


Di kawasan gunung Gede Jawa Barat.


Empat orang pemuda berusia sembilan belas tahun, baru saja turun dari


pendakian. Tak tampak kelelahan dari wajahnya. Keceriaan mereka bertambah


dengan gurauan yang terlontar dengan saling dorong ke arah semak-semak


sepanjang jalan setapak yang dilalui. Begitu salah satu diantaranya ada yang


terjatuh ke semak, maka meledaklah tawanya.


Sedangkan yang menjadi korban hanya cengengesan sembari mengusap tengkuk.


Saat hampir seratus meter menuju pos penjagaan, Bandi yang paling depan dari


rombongan itu berbisik.


‘Eh..eh. Lihat didepan sana tuh’.


‘Ada apa Ben?’, tanya temannya.


‘Lihat ada cewek berbaju merah. Lagi duduk memandang matahari’, tunjuknya lagi.


‘Mana’, serentak mereka menjawab dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh


Bandi.


Begitu tertangkap oleh netranya, ketiga pemuda tanggung itu pun membeliak


sempurna.

__ADS_1


‘Waduh, mau apa tuh perempuan sore-sore begini menggoda iman’, kata Yanto.


‘Lagi refreshing kali’, Bambang menimpali.


‘Tapi ya tidak berpakaian seksi kayak begitu, membuatku ngiler saja’, jawab


Handi yang paling mesum.


Serentak ketiganya tertawa.


‘Deketin yuk, ajak kenalan siapa tahu nanti kita dapat teman ngobrol selama


di angkot’, usul Ben.


‘Ayook’, ketiganya kompak menjawab.


Dari balik pohon tempat perempuan itu bersandar, Handi yang paling berani


diantaranya mencoba berbicara.


‘Mbak boleh kenalan?’


Hening tak ada jawaban. Pun ketiga kalinya dia mencoba berbicara.


‘Eh, cantik-cantik sombong. Pulang yuk mbak bareng kita-kita. Apa tidak


takut sendirian disini. Kalau malam gelap loh’, rayunya.


Tetap tak ada jawaban. Akhirnya dia menyerah dan minta pendapat


teman-temannya dengan memberi kode. Mereka yang tak tanggap hanya ikut


mengangguk saja. Bloon.


Gemas dengan reaksi ketiga temannya, Handi menghampiri sambil bertanya,


‘Gimana teman-teman?’


‘Gimana apanya?’, tanya mereka kompak.


‘Itu perempuan itu tidak mau menjawab. Bahkan dia hanya sibuk menatap ke


arah matahari tenggelam. Seolah melamunkan sesuatu’.


‘Sudah kamu coba berbicara dari depan belum?’, usul Yanto.


‘Wei tumben kamu punya ide bagus’.


‘Siapa dulu Yantoo’, Jawabnya sembari menepuk dada.


‘Whooo, sombong’, kedua temannya menimpali.


‘Bagaimana kalau kita berempat saja yang membujuknya’, usul Handi.


Ketiga temannya memegang dahu sebentar seolah sedang berpikir.


‘Heem baiklah’, jawab mereka kemudian.


Dengan mengendap-endap seolah tak ingin menganggu wanita itu. Mereka menghampiri


dan hendak membuka mulut. Saat akan mengeluarkan suaranya tiba-tiba Bens


berteriak,


‘Mayat ada mayat’.


‘Mayat, ma....mana?’, tanya Handi kebingungan.


‘I....ini. Perempuan ini’.


Terlonjak kaget serentak mereka lari tunggang langgang menuju pos jaga. Melaporkan

__ADS_1


temuan itu.


__ADS_2