
‘Darsi!’.
Bargo terkejut ketika membuka pintu gubug dan mendekati perempuan hamil
besar yang terikat di sudut ruang. Panggilan itu terlontar begitu saja dari
mulutnya saat dia mengenali sosok yang menjadi tawanan noni-nya.
Pekerjaanya menjadi centeng selalu berpindah-pindah sesuai aturan
perusahaan. Anne Van Den Berg adalah sekretaris dari pabrik gula dimana ia
bekerja selama ini.
Dua tahun yang lalu Bargo sempat dipindahkan ke Batavia. Niatannya yang
semula ingin menikahi Darsi menjadi berantakan. Dengan terpaksa dia mengikuti
aturan perusahaan. Ketika dipindahkan lagi ke Jawa, dia sudah naik pangkat menjadi
wakil dari kepala centeng.
Kepiawaiannya dalam berkelahi dan mengatur strategi keamanan menjadi
penilaian sendiri bagi presiden direktur perusahaan itu. Sehingga ia dipilih
menjadi centeng pribadi dari sang sekretaris, Anne Van Den Berg.
Kesetiaan Bargo terhadap majikan membuat si noni mempercayai untuk
menjalankan misi rahasianya saat ini. Menjaga tawanan orang penting yang telah
berkhianat padanya. Otak nya selalu diracuni, bahwa perempuan ini telah
menggelapkan uang perusahaan sebesar tujuh juta gulden.
‘Nilai yang banyak’, kekeh Bargo.
Sifat kejamnya pun muncul saat dia mendengarkan penjelasan gamblang dari
majikannya tersebut.
‘Apakah kita perlu menculiknya non?’
‘Tidak perlu Bargo, seseorang sudah melakukannya. Kamu tinggal menjaga dia
agar tidak kabur dari gubug itu dan memberinya makan setiap hari. Aku tidak mau
dia mati terlalu mudah.
‘Emm, mengapa noni tidak mau dia mati. Bukankah dia tidak layak hidup?’
geram Bargo marah.
‘Ouuh, itu?’ memikirkan jawaban yang masuk akal.
‘Dia harus melalui sidang dulu di Musapat Banten’, lanjutnya lagi.
Disinilah dia sekarang membeliakan matanya, tak percaya. Hampir saja
makanan yang ia bawa jatuh berantakan, saking terkejutnya.
‘Dik Darsi, ini kamu?’
‘Kang Bargo, tolong aku’, rintih perempuan itu.
Jongkok di sisinya dia melihat keadaan perempuan yang dicintainya dalam
keadaan mengenaskan. Hatinya sakit, jiwanya bergejolak. Meletakan makanan yang
dibawanya ke atas dipan. Dia pun melepaskan tali yang mengikat kedua tangan
__ADS_1
Darsi. Dielusnya dengan sayang wajah itu. Sejurus kemudian rambutnya dirapikan
dan digelung ke atas.
Dengan kedua mata yang memerah menahan tangis, Bargo mendudukan Darsi ke
atas dipan. Menyuapinya dengan makanan yang ia bawa.
‘Makanlah dik. Biar badanmu punya tenaga’.
Dia menggelengkan kepalanya lemah.
‘Ayolah makan, kasihan anak dalam perutmu itu’, bujuknya lagi.
‘Hiks....hiks. Tidak kang. Bisa kah kamu membantuku lari dari sini. Aku
lelah kang. Aku sudah tidak tahan dengan siksaan ini. Apa salahku kang?’
Tak mampu menjawab, Bargo hanya mengelus kepalanya sayang. Ditepuk-tepuknya
punggung Darsi pelan seolah memberikan kekuatan lebih.
‘Makanlah dik. Kamu pasti memerlukan tenaga untuk pelarianmu nanti’.
‘Sungguh. Kang Bargo akan membantuku?’ tanyanya penuh harapan.
‘Sssst, ini rahasia kita. Bertingkah lakulah seperti biasa agar tak ada
yang curiga’.
‘Baiklah kang’.
‘Sekarang makanlah. Aku akan suapi kamu’.
‘Te...terima kasih kang. Hiks...hiks’.
Darsi menelan suapan dengan tangisan tertahan. Tak mampu berbuat apa pun
‘Semoga kamu kuat dik menerima cobaan ini’, batinnya.
Di kawasan gunung Gede Jawa Barat.
Empat orang pemuda berusia sembilan belas tahun, baru saja turun dari
pendakian. Tak tampak kelelahan dari wajahnya. Keceriaan mereka bertambah
dengan gurauan yang terlontar dengan saling dorong ke arah semak-semak
sepanjang jalan setapak yang dilalui. Begitu salah satu diantaranya ada yang
terjatuh ke semak, maka meledaklah tawanya.
Sedangkan yang menjadi korban hanya cengengesan sembari mengusap tengkuk.
Saat hampir seratus meter menuju pos penjagaan, Bandi yang paling depan dari
rombongan itu berbisik.
‘Eh..eh. Lihat didepan sana tuh’.
‘Ada apa Ben?’, tanya temannya.
‘Lihat ada cewek berbaju merah. Lagi duduk memandang matahari’, tunjuknya lagi.
‘Mana’, serentak mereka menjawab dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh
Bandi.
Begitu tertangkap oleh netranya, ketiga pemuda tanggung itu pun membeliak
sempurna.
__ADS_1
‘Waduh, mau apa tuh perempuan sore-sore begini menggoda iman’, kata Yanto.
‘Lagi refreshing kali’, Bambang menimpali.
‘Tapi ya tidak berpakaian seksi kayak begitu, membuatku ngiler saja’, jawab
Handi yang paling mesum.
Serentak ketiganya tertawa.
‘Deketin yuk, ajak kenalan siapa tahu nanti kita dapat teman ngobrol selama
di angkot’, usul Ben.
‘Ayook’, ketiganya kompak menjawab.
Dari balik pohon tempat perempuan itu bersandar, Handi yang paling berani
diantaranya mencoba berbicara.
‘Mbak boleh kenalan?’
Hening tak ada jawaban. Pun ketiga kalinya dia mencoba berbicara.
‘Eh, cantik-cantik sombong. Pulang yuk mbak bareng kita-kita. Apa tidak
takut sendirian disini. Kalau malam gelap loh’, rayunya.
Tetap tak ada jawaban. Akhirnya dia menyerah dan minta pendapat
teman-temannya dengan memberi kode. Mereka yang tak tanggap hanya ikut
mengangguk saja. Bloon.
Gemas dengan reaksi ketiga temannya, Handi menghampiri sambil bertanya,
‘Gimana teman-teman?’
‘Gimana apanya?’, tanya mereka kompak.
‘Itu perempuan itu tidak mau menjawab. Bahkan dia hanya sibuk menatap ke
arah matahari tenggelam. Seolah melamunkan sesuatu’.
‘Sudah kamu coba berbicara dari depan belum?’, usul Yanto.
‘Wei tumben kamu punya ide bagus’.
‘Siapa dulu Yantoo’, Jawabnya sembari menepuk dada.
‘Whooo, sombong’, kedua temannya menimpali.
‘Bagaimana kalau kita berempat saja yang membujuknya’, usul Handi.
Ketiga temannya memegang dahu sebentar seolah sedang berpikir.
‘Heem baiklah’, jawab mereka kemudian.
Dengan mengendap-endap seolah tak ingin menganggu wanita itu. Mereka menghampiri
dan hendak membuka mulut. Saat akan mengeluarkan suaranya tiba-tiba Bens
berteriak,
‘Mayat ada mayat’.
‘Mayat, ma....mana?’, tanya Handi kebingungan.
‘I....ini. Perempuan ini’.
Terlonjak kaget serentak mereka lari tunggang langgang menuju pos jaga. Melaporkan
__ADS_1
temuan itu.