
Jodi tersentak masuk ke dalam lingkaran waktu dimana dia bertemu
dengan seseorang pasca kejadian di hotel Horizon.
Mobil roll Royce hitam, berhenti di sebuah café dekat kampus Bens.
Tempat pertama kali Jay bertemu dan mencetuskan ide konyol yang membuatnya
menyesal sampai sekarang.
Turun dari mobil dikawal dua orang bodyguard pribadi. Dan disambut
dengan penuh hormat langsung oleh sang
manajer beserta jajaran manajemennya.
“Wah sangat berbeda situasinya dengan aku dulu kesini. Jangankan menyambut
di depan pintu masuk seperti tadi. Anggukan dengan sepenuh hati pun tak mereka
berikan. Betul-betul pesona kekayaan” pikir Jay.
Dengan hanya mengangguk singkat, ia kemudian melangkahkan kaki
menuju lantai dua, tempat ruang VIP berada.
Disana seseorang menunggunya duduk santai sambil menyilangkan
kaki. Begitu Jay datang beserta dua pengawal pribadi. Sontak dia mengubah
posisi duduknya, lebih sopan.
Menganggukan kepala kepada yang baru datang serta mempersilahkannya
duduk.
“Selamat malam Jodi” sapanya setelah si empunya nama duduk
dihadapan.
“Panggil aku Jay saja”.
“Hem baiklah Jay. Apa yang bisa kubantu?”
“Aku ingin membatalkan perjanjian konyol kita”.
“Konyol?” tatapnya intens.
“Ya…sangat konyol”.
“Ha…ha…ha. Tapi aku tidak merasa demikian?”
“Apa yang membuatmu sangat yakin?”
“Kamu tahu Jay…dia adalah Wanita yang kuinginkan. Pribadinya…kasih
sayangnya…kecantikannya bahkan prestasinya yang luar biasa. Membuatku menginginkan
dia seutuhnya”.
“Braaak!” kepalan tangan Jodi memukul meja.
“He…he…he” Hendri terkekeh pelan melihat responnya.
“Shit. Jangan terlalu percaya diri!”
__ADS_1
“Heemmms, baiklah. Bagaimana dengan peristiwa terakhir di Hotel
Horizon. Apa itu mengingatkanmu, Jay?”
“Brengsek” dia berdiri sambil mencengkeram baju Hendri.
“Wou…wou. Calm down man. Ingat ini tempat umum, Mr. Jay. Jangan sampai
merusak reputasimu”.
“Aku tidak peduli. Jika aku rusak maka kamu pun juga”.
“Lihatlah sekelilingmu, Jay” bisiknya pelan.
Melirik ke samping, netra Jay menangkap beberapa manajemen café yang
tadi menyambutnya. Dia pun melepaskan cengkeraman tangannya. Dan berpura-pura
sedang merapikan baju Hendri.
Membalas sapaan mereka serta mempersilahkan untuk menyajikan
pesanan. Setelah selesai dengan layanannya, para petugas pun meninggalkan
ruangan.
Kedua pria tampan yang sedang dalam mode bersaing pun duduk Kembali.
Jay menyesap café latte dari cangkir, sedangkan Hendri meminum
kopi hitam kental kegemarannya. Mereka melakukannya dengan masih saling menatap
lawan.
“Well?” tanya Jay sesudah meletakan cangkir Kembali.
“Jangan memancing emosiku, Hend. Apa kalian melakukan seperti yang
aku lihat?”
“Ha…ha…ha. Menurutmu? Apa yang bisa dilakukan dua manusia berbeda
jenis dalam kamar yang sama, Jay? Bukankah itu sudah jelas?”
“Ta-tapi itu bisa saja tidak seperti yang kulihat, kan?”
“He…he…he. Sesukamulah, yang jelas dia….” Jawabnya sambil
mengacungkan kedua jempol.
“Shit…brengsek…play boy bajingan kamu!” tinju Jay melayang ke muka
Hendri berkali-kali.
Darah mengucur dari pelipisnya. Sudut bibirnya pun mengeluarkan
darah. Namun dia tak berusaha membalas. Bahkan sikapnya pasrah dengan perlakuan
Jay.
Jodi semakin naik pitam dengan pemikiran-pemikiran yang dialami
oleh musuhnya dengan sang kekasih. Perasaannya penuh amarah dan dendam berkepanjangan.
Tanpa sadar dia telah melayangkan bogem mentahnya kepada lelaki
__ADS_1
itu. Dia yang menjadi korban pun, hanya terkekeh pelan seolah semakin
menantangnya melakukan lebih.
Kedua pengawal Jodi hanya melihat aksinya dalam diam. Saat melihat
jam tangan, Jeff mulai angkat bicara.
“Bos, hampir tiga puluh menit”.
“Haish, baiklah. Bawa dia pergi dari sini!”
Melepaskan tangan dari tubuh Hendri. Jay mengambil tisu di atas
meja dan membersihkan sisa darah yang ada disana.
Sedangkan Hendri yang didorong oleh Bondan, membersihkan wajahnya
dengan sapu tangan sambil terus mengeluarkan kekehan, puas.
Saat hendak mencapai pintu ruang VIP, dia menoleh Kembali ke arah
Jay. Kemudian mengacungkan jari tengahnya kebawah sambil berkata, “Fucking ashole”.
Bondan yang geregetan dengan tingkah laku Hendri pun mendorong
punggungnya lebih keras lagi. Pintu pun ditutup dengan debaman keras.
Menendang kursi di dekatnya. Melayangkan pukulan ke arah meja, itu
semua dilakukan Jodi sebagai pelampiasan rasa kesal.
Ketika emosinya mulai meredah, dia duduk di sofa sambil menutupi
wajah dengan kedua telapak tangan.
Lalu dia beranjak menuju kamar mandi. Menyalakan kran air dan
membasuh mukanya dengan air dingin. Rambutnya pun tak luput dari basuhan. Bahkan
tetesan sisa air dari sana berjatuhan membasahi jas mahal yang dia kenakan.
Menarik nafas Panjang. Sejenak melihat pantulan wajahnya di
cermin. Matanya pun memerah, menyorotkan isi dari batinnya.
Dia mengepalkan tangan di kedua sisi wastafel. Memukul pelan,
kemudian berjanji sesuatu dalam batin. “Mereka akan menerima balasan yang
setimpal!” smirknya pun muncul.
Jodi meraih handuk dari gantungan. Mengeringkan sisa air yang
menempel di wajah serta rambutnya. Kemudian berjalan keluar.
Mengayunkan tangan kanan ke udara, pertanda bagi Jeff untuk
mengikuti Langkah sang bos meninggalkan café.
Didepan pintu masuk utama, mobil berhenti tepat dekat dengan
posisi Jodi berdiri. Jeff membukakan pintu buat sang bos di kursi belakang. Membungkuk
sejenak sambil menutupnya pelan. Dia pun menuju ke kursi depan di sisi Bondan
__ADS_1
yang bertugas sebagai driver mereka. Lalu mobil pun melaju meninggalkan
pelataran café ‘Bens’ dengan deruman halus.