MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LX


__ADS_3

Jodi tersentak masuk ke dalam lingkaran waktu dimana dia bertemu


dengan seseorang pasca kejadian di hotel Horizon.


Mobil roll Royce hitam, berhenti di sebuah café dekat kampus Bens.


Tempat pertama kali Jay bertemu dan mencetuskan ide konyol yang membuatnya


menyesal sampai sekarang.


Turun dari mobil dikawal dua orang bodyguard pribadi. Dan disambut


dengan penuh hormat  langsung oleh sang


manajer beserta jajaran manajemennya.


“Wah sangat berbeda situasinya dengan aku dulu kesini. Jangankan menyambut


di depan pintu masuk seperti tadi. Anggukan dengan sepenuh hati pun tak mereka


berikan. Betul-betul pesona kekayaan” pikir Jay.


Dengan hanya mengangguk singkat, ia kemudian melangkahkan kaki


menuju lantai dua, tempat ruang VIP berada.


Disana seseorang menunggunya duduk santai sambil menyilangkan


kaki. Begitu Jay datang beserta dua pengawal pribadi. Sontak dia mengubah


posisi duduknya, lebih sopan.


Menganggukan kepala kepada yang baru datang serta mempersilahkannya


duduk.


“Selamat malam Jodi” sapanya setelah si empunya nama duduk


dihadapan.


“Panggil aku Jay saja”.


“Hem baiklah Jay. Apa yang bisa kubantu?”


“Aku ingin membatalkan perjanjian konyol kita”.


“Konyol?” tatapnya intens.


“Ya…sangat konyol”.


“Ha…ha…ha. Tapi aku tidak merasa demikian?”


“Apa yang membuatmu sangat yakin?”


“Kamu tahu Jay…dia adalah Wanita yang kuinginkan. Pribadinya…kasih


sayangnya…kecantikannya bahkan prestasinya yang luar biasa. Membuatku menginginkan


dia seutuhnya”.


“Braaak!” kepalan tangan Jodi memukul meja.


“He…he…he” Hendri terkekeh pelan melihat responnya.


“Shit. Jangan terlalu percaya diri!”

__ADS_1


“Heemmms, baiklah. Bagaimana dengan peristiwa terakhir di Hotel


Horizon. Apa itu mengingatkanmu, Jay?”


“Brengsek” dia berdiri sambil mencengkeram baju Hendri.


“Wou…wou. Calm down man. Ingat ini tempat umum, Mr. Jay. Jangan sampai


merusak reputasimu”.


“Aku tidak peduli. Jika aku rusak maka kamu pun juga”.


“Lihatlah sekelilingmu, Jay” bisiknya pelan.


Melirik ke samping, netra Jay menangkap beberapa manajemen café yang


tadi menyambutnya. Dia pun melepaskan cengkeraman tangannya. Dan berpura-pura


sedang merapikan baju Hendri.


Membalas sapaan mereka serta mempersilahkan untuk menyajikan


pesanan. Setelah selesai dengan layanannya, para petugas pun meninggalkan


ruangan.


Kedua pria tampan yang sedang dalam mode bersaing pun duduk Kembali.


Jay menyesap café latte dari cangkir, sedangkan Hendri meminum


kopi hitam kental kegemarannya. Mereka melakukannya dengan masih saling menatap


lawan.


“Well?” tanya Jay sesudah meletakan cangkir Kembali.


“Jangan memancing emosiku, Hend. Apa kalian melakukan seperti yang


aku lihat?”


“Ha…ha…ha. Menurutmu? Apa yang bisa dilakukan dua manusia berbeda


jenis dalam kamar yang sama, Jay? Bukankah itu sudah jelas?”


“Ta-tapi itu bisa saja tidak seperti yang kulihat, kan?”


“He…he…he. Sesukamulah, yang jelas dia….” Jawabnya sambil


mengacungkan kedua jempol.


“Shit…brengsek…play boy bajingan kamu!” tinju Jay melayang ke muka


Hendri berkali-kali.


Darah mengucur dari pelipisnya. Sudut bibirnya pun mengeluarkan


darah. Namun dia tak berusaha membalas. Bahkan sikapnya pasrah dengan perlakuan


Jay.


Jodi semakin naik pitam dengan pemikiran-pemikiran yang dialami


oleh musuhnya dengan sang kekasih. Perasaannya penuh amarah dan dendam berkepanjangan.


Tanpa sadar dia telah melayangkan bogem mentahnya kepada lelaki

__ADS_1


itu. Dia yang menjadi korban pun, hanya terkekeh pelan seolah semakin


menantangnya melakukan lebih.


Kedua pengawal Jodi hanya melihat aksinya dalam diam. Saat melihat


jam tangan, Jeff mulai angkat bicara.


“Bos, hampir tiga puluh menit”.


“Haish, baiklah. Bawa dia pergi dari sini!”


Melepaskan tangan dari tubuh Hendri. Jay mengambil tisu di atas


meja dan membersihkan sisa darah yang ada disana.


Sedangkan Hendri yang didorong oleh Bondan, membersihkan wajahnya


dengan sapu tangan sambil terus mengeluarkan kekehan, puas.


Saat hendak mencapai pintu ruang VIP, dia menoleh Kembali ke arah


Jay. Kemudian mengacungkan jari tengahnya kebawah sambil berkata, “Fucking ashole”.


Bondan yang geregetan dengan tingkah laku Hendri pun mendorong


punggungnya lebih keras lagi. Pintu pun ditutup dengan debaman keras.


Menendang kursi di dekatnya. Melayangkan pukulan ke arah meja, itu


semua dilakukan Jodi sebagai pelampiasan rasa kesal.


Ketika emosinya mulai meredah, dia duduk di sofa sambil menutupi


wajah dengan kedua telapak tangan.


Lalu dia beranjak menuju kamar mandi. Menyalakan kran air dan


membasuh mukanya dengan air dingin. Rambutnya pun tak luput dari basuhan. Bahkan


tetesan sisa air dari sana berjatuhan membasahi jas mahal yang dia kenakan.


Menarik nafas Panjang. Sejenak melihat pantulan wajahnya di


cermin. Matanya pun memerah, menyorotkan isi dari batinnya.


Dia mengepalkan tangan di kedua sisi wastafel. Memukul pelan,


kemudian berjanji sesuatu dalam batin. “Mereka akan menerima balasan yang


setimpal!” smirknya pun muncul.


Jodi meraih handuk dari gantungan. Mengeringkan sisa air yang


menempel di wajah serta rambutnya. Kemudian berjalan keluar.


Mengayunkan tangan kanan ke udara, pertanda bagi Jeff untuk


mengikuti Langkah sang bos meninggalkan café.


Didepan pintu masuk utama, mobil berhenti tepat dekat dengan


posisi Jodi berdiri. Jeff membukakan pintu buat sang bos di kursi belakang. Membungkuk


sejenak sambil menutupnya pelan. Dia pun menuju ke kursi depan di sisi Bondan

__ADS_1


yang bertugas sebagai driver mereka. Lalu mobil pun melaju meninggalkan


pelataran café ‘Bens’ dengan deruman halus.


__ADS_2