
Kembali Jodi ditarik ke lintasan waktu yang berbeda.
Jay yang kalap pergi begitu saja dari hotel. Meninggalkan teman
satu band-nya.
Dengan kekecewaan yang sangat, dia menyusuri jalanan yang lenggang
dengan berjalan kaki. Berkali-kali kakinya menendang kerikil yang mengganggu
langkahnya.
Tanpa terasa dia sudah sampai di jembatan sungai ‘Bengkok’, yang
alirannya terkenal sangat deras.
Mengusap netranya yang mulai mengembun, dia mengaitkan kakinya
yang panjang ke atas pagar pembatas sungai.
Duduk dengan nyaman di atasnya sambil menikmati kerlap-kerlip
lampu kota yang semakin redup dalam pandangannya.
Menghembuskan napas ke udara dan berteriak, “Breeengseek!”
Hampir saja dia tercebur, saat sebuah klakson mobil mewah berbunyi
di belakangnya. Untung dengan sigap penumpang yang ada, meraih tubuh dan
menariknya ke atas trotoar jembatan.
Pria yang membantu Jay, memandanginya sejenak seolah memastikan
sesuatu. Sebelum dia memulai panggilan telepon.
“Truut…truut”.
“Halo”.
“Malam bos”.
“Malam, ada apa?”
“Saya sudah menemukannya”.
“Kamu yakin itu orangnya”.
“Apa kamu yang bernama Jodi Bimantara?” jedanya sebentar.
Jay pun mengangguk. Pria itu pun melanjutkan pembicaraanya dengan
orang diseberang telepon.
“Yakin bos…dia mengangguk”.
“Bawa dia kerumah”.
“Baik”.
“Kamu ikut saya”.
“Siapa kamu, mengapa aku harus ikut?”
“Ada orang yang ingin bertemu”.
“Maksudmu perempuan yang ada di
telepon itu? Tidak aku bukan gigolo!”
“Ap-apa…gigolo? Ha…ha…ha. Siapa yang
bilang?”
“Perempuan yang kamu panggil bos itu, kan…?”
“Jangan ngacau kamu. Dia adalah nyonya
besar keluarga terpandang untuk apa mencari pria kucel tak bersemangat seperti
kamu sebagai penghangat ranjangnya. Asal kamu tahu ya, beliau punya banyak
pegawai yang berkelas dan tampan, jauh dari penampilanmu yang sekarang ini”.
“Mak-maksudmu dia tidak memerlukan
itu?” selidiknya kembali.
__ADS_1
“Haissh…sudahlah jangan banyak tanya. Ikut
kami dan hapus air mata cengengmu itu”.
“Baiklah”.
Pria itu membukakan pintu penumpang. Setelahnya
dia sendiri berjalan ke tempat duduk di sisi sopir. Dan memerintahkannya untuk
berjalan.
Dengan kecepatan sedang kendaraan itu
melaju ke perumahan elit di pinggiran kota.
Setengah jam kemudian sampailah mereka
di sebuah mansion mewah. Klakson dibunyikan oleh sang pengemudi ke arah security
yang bertugas.
Menekan tombol remot, pintu gerbang
pun terbuka. Sedikit membungkuk kan badan dia mengucapkan salam kepada orang
yang berada dalam mobil yang melaju pelan menuju ke depan pintu utama.
Tampak empat orang pengurus rumah
tangga berjajar rapi dekat pintu masuk.
“Selamat malam tuan muda” katanya
serempak.
Jay yang tak mengerti hanya tersenyum
canggung sambil mengikuti langkah pria didepannya.
Sedangkan pria tersebut hanya
mengangguk samar. Kemudian melambaikan tangan kanan ke atas, menyuruh mereka
untuk kembali menjalankan tugas masing-masing.
sekitar lima puluh lima tahun duduk dengan anggun menunggu.
Saat pandangannya jatuh ke arah Jay,
netranya membeliak sempurna. Terpancar kebahagiaan di wajahnya yang cantik,
khas orang Eropa.
Dia berdiri dengan tidak sabar, sampai
kedua orang itu dekat dengannya. Menghambur ke arah Jay seraya berkata, “Anak
ku”.
“An-anak ku. Hei anda siapa?” sambil
mengurai pelukannya.
“Kamu”.
“Bagaimana mungkin? Aku anak dari ibu
Hanifah istri dari ayah Sartono”.
“Aku tahu, tapi mereka bukan orang tua
kandungmu”.
“Anda jangan bohong kepada saya”.
“Toni…ambilkan buktinya!”
“Baik bos”.
Pria yang bersama Jay tadi,
meninggalkan mereka berdua menuju ke lantai dua.
Sangat gugup karena luapan
kegembiraan, wanita itu pun menyuruh Jay untuk duduk. Memerintahkan pada para
__ADS_1
pelayan membawakan cemilan dan minuman hangat dari dapur.
Saat pelayan tersebut meletakannya di
meja bersamaan dengan kemunculan pria yang dipanggil Toni dengan setumpuk
berkas di tangan kanannya. Menyerahkan kepada sang nyonya besar, dan kembali ke
posisi semula.
“Sini lihatlah” kata wanita itu.
Mengambil semua berkas dari tangan
sang wanita. Dia pun mulai membaca dengan teliti setiap file yang ada.
Ketika berkas yang terakhir telah selesai,
Jay menghela napas.
“Apakah ini semua benar?”
“Itu benar sayang. Aku mama kandungmu”.
“Lantas mengapa aku tinggal dengan
mereka?”
“Untuk melindungimu Jay. Dari musuh
papamu dan aku terpaksa melakukannya. Hiks…hiks…hiks”.
Mata Jodi pun mulai memerah, sebagai
pertanda emosi yang mulai merebak.
“Apa yang terjadi?”
“Papamu dibunuh oleh saingan
bisnisnya. Waktu itu mama sedang mengandung delapan bulan. Kamu lahir sebulan
kemudian saat dia sudah meninggal”.
“Apakah itu sangat sulit?”
“Hiks…hiks…hiks. Sulit sekali Jay. Aku
harus menyembunyikan identitasmu dan membuatmu seolah meninggal pada saat
dilahirkan. Untung aku punya bu Saodah, pembantu mama yang paling setia. Dia mengirimu
kepada saudaranya di kampung. Sepasang suami istri yang menjadi ayah dan ibumu
sekarang”.
“Jadi-jadi aku anak orang kaya?”
“Ya, Jay kamu adalah putra tunggal
dari Bobby Bimantara Cartwright dan Laura London, pemilik empat perusahaan
raksasa di tiga Negara”.
“Tapiiii…”
“Apa yang kamu ragukan?”
“Mama dan papa orang bule. Mengapa wajahku
sangat Indonesia sekali”.
Disentilnya jidat Jay, “Itu karena
nenek buyutmu orang Indonesia bodoh”.
“Begitukah?”
“Sangat jelas. Hanya perawakanmu
sangat mirip dengan kami Jay meskipun wajahmu sangat pribumi”.
“Heem”.
Kembali Jodi menatap berkas yang ada
di pangkuan. Netranya menajam, smirk liciknya pun mulai muncul. “Akhirnya aku
__ADS_1
bisa membalasmu Hendri” batinnya.