MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LIII


__ADS_3

Kembali Jodi ditarik ke lintasan waktu yang berbeda.


Jay yang kalap pergi begitu saja dari hotel. Meninggalkan teman


satu band-nya.


Dengan kekecewaan yang sangat, dia menyusuri jalanan yang lenggang


dengan berjalan kaki. Berkali-kali kakinya menendang kerikil yang mengganggu


langkahnya.


Tanpa terasa dia sudah sampai di jembatan sungai ‘Bengkok’, yang


alirannya terkenal sangat deras.


Mengusap netranya yang mulai mengembun, dia mengaitkan kakinya


yang panjang ke atas pagar pembatas sungai.


Duduk dengan nyaman di atasnya sambil menikmati kerlap-kerlip


lampu kota yang semakin redup dalam pandangannya.


Menghembuskan napas ke udara dan berteriak, “Breeengseek!”


Hampir saja dia tercebur, saat sebuah klakson mobil mewah berbunyi


di belakangnya. Untung dengan sigap penumpang yang ada, meraih tubuh dan


menariknya ke atas trotoar jembatan.


Pria yang membantu Jay, memandanginya sejenak seolah memastikan


sesuatu. Sebelum dia memulai panggilan telepon.


“Truut…truut”.


“Halo”.


“Malam bos”.


“Malam, ada apa?”


“Saya sudah menemukannya”.


“Kamu yakin itu orangnya”.


“Apa kamu yang bernama Jodi Bimantara?” jedanya sebentar.


Jay pun mengangguk. Pria itu pun melanjutkan pembicaraanya dengan


orang diseberang telepon.


“Yakin bos…dia mengangguk”.


“Bawa dia kerumah”.


“Baik”.


“Kamu ikut saya”.


“Siapa kamu, mengapa aku harus ikut?”


“Ada orang yang ingin bertemu”.


“Maksudmu perempuan yang ada di


telepon itu? Tidak aku bukan gigolo!”


“Ap-apa…gigolo? Ha…ha…ha. Siapa yang


bilang?”


“Perempuan yang kamu panggil bos itu, kan…?”


“Jangan ngacau kamu. Dia adalah nyonya


besar keluarga terpandang untuk apa mencari pria kucel tak bersemangat seperti


kamu sebagai penghangat ranjangnya. Asal kamu tahu ya, beliau punya banyak


pegawai yang berkelas dan tampan, jauh dari penampilanmu yang sekarang ini”.


“Mak-maksudmu dia tidak memerlukan


itu?” selidiknya kembali.

__ADS_1


“Haissh…sudahlah jangan banyak tanya. Ikut


kami dan hapus air mata cengengmu itu”.


“Baiklah”.


Pria itu membukakan pintu penumpang. Setelahnya


dia sendiri berjalan ke tempat duduk di sisi sopir. Dan memerintahkannya untuk


berjalan.


Dengan kecepatan sedang kendaraan itu


melaju ke perumahan elit di pinggiran kota.


Setengah jam kemudian sampailah mereka


di sebuah mansion mewah. Klakson dibunyikan oleh sang pengemudi ke arah security


yang bertugas.


Menekan tombol remot, pintu gerbang


pun terbuka. Sedikit membungkuk kan badan dia mengucapkan salam kepada orang


yang berada dalam mobil yang melaju pelan menuju ke depan pintu utama.


Tampak empat orang pengurus rumah


tangga berjajar rapi dekat pintu masuk.


“Selamat malam tuan muda” katanya


serempak.


Jay yang tak mengerti hanya tersenyum


canggung sambil mengikuti langkah pria didepannya.


Sedangkan pria tersebut hanya


mengangguk samar. Kemudian melambaikan tangan kanan ke atas, menyuruh mereka


untuk kembali menjalankan tugas masing-masing.


sekitar lima puluh lima tahun duduk dengan anggun menunggu.


Saat pandangannya jatuh ke arah Jay,


netranya membeliak sempurna. Terpancar kebahagiaan di wajahnya yang cantik,


khas orang Eropa.


Dia berdiri dengan tidak sabar, sampai


kedua orang itu dekat dengannya. Menghambur ke arah Jay seraya berkata, “Anak


ku”.


“An-anak ku. Hei anda siapa?” sambil


mengurai pelukannya.


“Kamu”.


“Bagaimana mungkin? Aku anak dari ibu


Hanifah istri dari ayah Sartono”.


“Aku tahu, tapi mereka bukan orang tua


kandungmu”.


“Anda jangan bohong kepada saya”.


“Toni…ambilkan buktinya!”


“Baik bos”.


Pria yang bersama Jay tadi,


meninggalkan mereka berdua menuju ke lantai dua.


Sangat gugup karena luapan


kegembiraan, wanita itu pun menyuruh Jay untuk duduk. Memerintahkan pada para

__ADS_1


pelayan membawakan cemilan dan minuman hangat dari dapur.


Saat pelayan tersebut meletakannya di


meja bersamaan dengan kemunculan pria yang dipanggil Toni dengan setumpuk


berkas di tangan kanannya. Menyerahkan kepada sang nyonya besar, dan kembali ke


posisi semula.


“Sini lihatlah” kata wanita itu.


 Mengambil semua berkas dari tangan


sang wanita. Dia pun mulai membaca dengan teliti setiap file yang ada.


Ketika berkas yang terakhir telah selesai,


Jay menghela napas.


“Apakah ini semua benar?”


“Itu benar sayang. Aku mama kandungmu”.


“Lantas mengapa aku tinggal dengan


mereka?”


“Untuk melindungimu Jay. Dari musuh


papamu dan aku terpaksa melakukannya. Hiks…hiks…hiks”.


Mata Jodi pun mulai memerah, sebagai


pertanda emosi yang mulai merebak.


“Apa yang terjadi?”


“Papamu dibunuh oleh saingan


bisnisnya. Waktu itu mama sedang mengandung delapan bulan. Kamu lahir sebulan


kemudian saat dia sudah meninggal”.


“Apakah itu sangat sulit?”


“Hiks…hiks…hiks. Sulit sekali Jay. Aku


harus menyembunyikan identitasmu dan membuatmu seolah meninggal pada saat


dilahirkan. Untung aku punya bu Saodah, pembantu mama yang paling setia. Dia mengirimu


kepada saudaranya di kampung. Sepasang suami istri yang menjadi ayah dan ibumu


sekarang”.


“Jadi-jadi aku anak orang kaya?”


“Ya, Jay kamu adalah putra tunggal


dari Bobby Bimantara Cartwright dan Laura London, pemilik empat perusahaan


raksasa di tiga Negara”.


“Tapiiii…”


“Apa yang kamu ragukan?”


“Mama dan papa orang bule. Mengapa wajahku


sangat Indonesia sekali”.


Disentilnya jidat Jay, “Itu karena


nenek buyutmu orang Indonesia bodoh”.


“Begitukah?”


“Sangat jelas. Hanya perawakanmu


sangat mirip dengan kami Jay meskipun wajahmu sangat pribumi”.


“Heem”.


Kembali Jodi menatap berkas yang ada


di pangkuan. Netranya menajam, smirk liciknya pun mulai muncul. “Akhirnya aku

__ADS_1


bisa membalasmu Hendri” batinnya.


__ADS_2