
POV SELLY 2.
Apalagi saat kutahu Jodi ternyata masih mencintai Suti. Dan malah
menikah meskipun even itu penuh dengan drama yang tak berujung.
Yang jelas saingan abadiku itu telah menjadi Nyonya muda Bimantara
Cartwright. Aku menjadi semakin benci kepadanya.
Betul-betul rasa muak yang mendarah daging. Yang pertama saat dia
dicintai oleh Hendri. Dan yang kedua ketika aku menginginkan Jodi, justru
perempuan itu yang mendapatkannya.
Apa sih kelebihannya? Padahal aku lebih baik dari dia. Tapi para
lelaki, sangat memujanya. Mencintainya. Dan satu lagi mereka adalah pria
baik-baik. Bukan seperti yang sering dekat denganku. Mereka biasanya hanya
ingin memanfaatkan atau sekedar melepas nafsu binatangnya.
Bahkan yang terakhir, aku sangat ingin menjadikan Mr. Clark
sebagai pedamping hidup. Aku suka dengan sikap dan kharismanya. Orangnya
dermawan, baik, tampan dan satu lagi dia pengusaha sukses dengan bisnis di tiga
Negara.
Yang jadi permasalahan rasa cinta ini hanyalah ketidak pedulian
Mr. Clark padaku. Dia selalu acuh serta tidak menginginkan diriku. Mungkin aku
bukan tipe dia atau ada sesuatu yang lain.
Kalau dilihat lebih intens lagi. Dia seperti orang dari jaman
dahulu. Yang dilahirkan ribuan tahun yang lalu. Apa mungkin ada orang seperti
itu di abad yang semodern ini?
Seharusnya jika dia berusia segitu, fisiknya mengalami perubahan,
kan? Seperti rambutnya memutih. Kulitnya mengeriput. Dan bahkan tubuhnya tidak
akan segagah serta setegap itu?
“He…he…he. Kadangkala pemikiranku sungguh tidak masuk akal”.
Haiish, sudah lah. Yang penting semuanya sudah kuraih. Keinginan
utamaku, bergelimang harta dan kemewahan.
Walau untuk meraihnya aku harus terjang sana terjang sini. Tak
kupedulikan asal pundi-pundi keuanganku tidak pernah kering.
Sampai Mr. Clark merubah strategi dengan memunculkan Dona. Meski
itu juga salah satu kesalahan yang aku buat. Ide brilianku yang sekaligus
menjadi boomerang atas eksistensiku di dunia ini.
Dona…yah Dona. Perempuan cantik tapi penuh ambisi. Aku
menemukannya secara tidak sengaja. Saat mencari saudara jauh Suti yang punya
kemiripan fisik dengannya.
Tak satupun dari kerabat dia yang punya kemiripan secara
penampakan luar. Aku yang saat itu tengah kebingungan sedang melamun dibangku
taman ‘Kakek Bodoh’, wana wisata Prigen. Serta ditengah keputus asaanku,
__ADS_1
dia menawariku minuman kemasan.
Semula aku hanya menerima tawarannya dengan pikiran kosong. Jadi
kutenggak saja air itu tanpa berpikir. Sampai kesadaranku ditarik oleh
percakapan ramah dari dia.
Aku menoleh dan ‘Buuum’. Itulah dia kemiripan yang hakiki. Seolah
kembar identik. Hanya satu hal yang membuat mereka beda. Dona perempuan
materialistis juga ambisius. Sedangkan Suti tidak.
Jadilah kerja sama saling menguntungkan terjalin diantara kami.
Dengan niatan mengumpulkan sebanyak mungkin harta. Uang dan uang adalah obsesi
terbesar Dona juga aku.
Kukenalkan dia ke Mr. Clark. Sisanya diurus oleh David, sang
asisten. Aku tetap menjalankan bagian kecil dari rencana sang big bos, dengan
membantunya di perusahaan.
Itu pun dengan peranan yang tak kelihatan. Karena aku ditugasi memantau
pengerjaan bangunan kantor di Batu. Hampir mirip dengan mandor bangunan. Sama
sekali tidak sesuai dengan ijasah S2 ku.
Tak mengapa yang penting ‘money’. Sampai tugas yang baru dibuat
khusus untuk ku. Menjadi baby sisternya Dona. Mengawalnya kemana-mana.
Ataukah mengawasi? Tapi itulah tugasku. Termasuk menutupi kekacauan yang dia buat.
Karena sifat pemberontaknya.
itu pula yang ia lakukan. Termasuk dalam hubungan ‘one night stand’ dengan
laki-laki yang berbeda.
Kombinasi yang sempurna antara gila harta dan nafsu kebinatangan.
“Puffft, he…he…he. Ternyata dia lebih gila dari pada aku”.
Tak habis pikir, tetap saja semua kujalani demi sang big bos.
Sampai kelakuannya menuai karma. Dia dibunuh oleh laki-laki
misterius yang dijadikan target nafsu berikutnya. Sangat ironi, bukan?
Kenikmatan duniawi yang ia inginkan tak tercapai hanya kematian
yang dia dapatkan.
Mana matinya seperti seonggok daging tak berguna lagi. Dibuang
dipinggir hutan dengan posisi yang mengenaskan. Nasibmu jelek amat Dona.
Masalah baru pun timbul. Aku yang kena imbas perbuatan wanita liar
itu. Melarikan diri dari satu Negara ke Negara lain. Demi menghindari kejaran
polisi.
Untung saja aku bertemu dengan James Robinson, salah satu keluarga
Mr. Clark di Amerika. Dia menolongku tanpa pamrih, setelah kubeberkan
permasalahanku.
Memberiku perlindungan dan tempat tinggal. Serta menyembunyikan
keberadaanku dari orang suruhan Mr. Clark.
__ADS_1
Sampai keuanganku mulai menipis. Akhirnya aku berjudi untuk
menambah jumlahnya. Tapi tak berhasil. Kekalahan demi kekalahan kuperoleh
sehingga betul-betul membuatku bangkrut.
Malam itu adalah usaha terakhirku, sampai Mr. Smith membantu
meraih kembali uang yang telah kuhabiskan dimeja judi.
Dan, “Yaaaai, aku menang. Beserta bunganya. Bravo…bravo”. Aku yang
mabuk kemenangan tak sadar mengucapkan memenuhi segala prasyarat dari dia.
Saat kuturuti keinginannya, aku menjadi skeptis. Karena hampir dua
minggu kami menghabiskan liburan dikawasan Harbourside and Marina.
Suasana yang romantis. Hawa dingin pegunungan dan laut sangat
mendukung. Tapi tak sekalipun Smith, nan tampan ini mengajak ku tidur bersama.
Kupikir dia salah satu orang yang mengalami disorientasi seksual.
Atau penyuka sesama jenis mungkin? Tapi aku salah. Ketidak tertarikannya padaku
karena dia adalah orang yang sama.
Clark adalah Smith. Beda figur tapi satu orang. Dengan kepribadian
iblis didalamnya. Kecurigaan yang dulu terjawab sudah.
Keanehan dan aura yang ditunjukan oleh bos ku itu karena dia
mempunyai siluman ular dalam raganya. Dia mampu berganti kulit sehingga raganya
tak pernah tua.
Kekuatannya pun bertambah besar seiring dengan perubahan wujudnya.
Aku heran, bagaimana bisa Mr. Clark yang asli orang Eropa itu bisa menguasai
ilmu Jawa.
Yang hanya ada di perkamen kuno. Serta tak terdeteksi
keberadaannya sampai sekarang. Entahlah?
Hanya sesal yang aku alami saat ini. Karena aku yang terlalu gila
harta, akhirnya bisa menatap jasadku dari ruang waktu yang berbeda.
Banyak darah yang mengucur dari sana. Mataku melotot. Mulutku terganga.
Dan dari leherku masih menetes darah dengan derasnya.
Kasur hotel, jangan ditanya. Sudah basah dengan warna merah serta
menyebarkan bau anyir dimana-mana.
Kulihat ada beberapa petugas medis dan kepolisian Negara bagian
Amerika Serikat. Mereka semuanya menutup hidung. Bahkan ada yang langsung
muntah-muntah, saat melihat jasadku yang mulai membiru dan membusuk.
Aku tak habis pikir, padahal baru beberapa jam yang lalu aku mati.
Disinilah aku sekarang. Melayang-layang menunggu malaikat
menjemput arwahku. Mungkin aku langsung ditarik ke neraka. Karena aku Selly
Santoso, tak pernah sekalipun berbuat kebajikan.
Selamat tinggal dunia. Good bye kemewahan. Bapak…ibu aku pamit. Rindukan
anakmu ini, walaupun aku tak pernah mengingat kalian. Hiks…hiks…hiks.
__ADS_1