
‘Gimana Jeff ada info?’, tanya Jay dari telepon.
‘Tidak ada bos. Saya sudah mencarinya kemana-mana bahkan ke tempat biasanya dia mangkal’.
‘Tak kau tanyakan ke teman-temannya yang ada disekitar situ?’
‘Sudah bos menurut informasi yang saya terima, sudah hampir seminggu dia tidak jualan.
Bahkan teman kosannya pun bilang kalau dia juga tak pulang’.
‘Apa, what the hell! Kamu sudah ketemu sama ibu kos nya?’
‘Belum bos, katanya lagi menjenguk anaknya yang melahirkan di kampung. Hari ini baru
balik kesini. Saya lagi nunggu di sekitar rumahnya’.
‘Apa mungkin dia ikut ibu kos nya?’
‘Bisa jadi bos, karena orangku yang stand by di daerah asli nona juga menginfokan dia
tidak pulang ke rumah ibunya. Bahkan adiknya bercerita kalau mbaknya tidak pulang
berbulan-bulan. Katanya pindah kerja di anak cabang perusahaan yang di Jakarta,
belum sempat pulang’.
‘Heeemm, begitu ya. Oke Jeff, lanjutkan tugasmu. Dan pastikan ada info yang menyenangkan
hari ini’.
‘Siap bos’.
‘Tut’.
Sepulang dari kantor Jodi menyuruh mang Diman untuk mengarahkan mobil ke arah alun-alun
kota.
‘Ciiiiiiit’, bunyi ban berdecit.
Di kursi penumpang dia menajamkan mata memandang ke arah lalu lalang kesibukan manusia
yang tak pernah sepi walau malam telah jatuh semakin kelam.
‘Dimana kamu gadis bodoh. Mau lari dengan uang ku rupanya. Jangan mimpi, tugasmu belum
selesai. Lihat saja jika besok kamu tidak muncul aku sendiri yang akan turun
tangan’, ancamnya.
Sementara itu di tepian sungai sebuah desa terpencil daerah Prigen.
‘Haaaah, tenang sekali disini. Tak ada polusi,
keributan, jeritan tak satu pun. Yang ada hanya hembusan angin disekitar.
Gesekan dedaunan begitu menyenangkan. Membelai jiwaku yang kosong. Heeem what a
wonderful life’, batinku berbicara.
Tampak serombongan perempuan yang akan menuju
sungai, mereka tersenyum-senyum melihat pemandangan yang mulai menjadi bagian
rutinitas disana. Yah, seorang gadis dewasa selalu duduk bersila di atas batu
besar di tengah sawah pak Parjo, salah seorang sesepuh di desa tersebut.
Keponakan aneh dari kota, itulah julukan yang diberikan.
Bagaimana tidak aneh? Karena gadis itu setiap
pagi akan berada di tengah sawah duduk diam berjam-jam tanpa melakukan apapun.
Memejamkan mata serta menikmati hembusan angin dari segala penjuru dengan
rambut panjang terurai.
Tak ia pedulikan tatanan rambutnya yang
awut-awutan. Dan hal itu sudah terjadi hampir satu tahun. Meskipun sering berjemur
matahari dari jam lima sampai sepuluh pagi, kulit gadis dewasa itu tak pernah
menjadi legam malah kelihatan eksotis seperti kebanyakan perempuan di daerah
itu. Dia yang sedang tersenyum dengan damainya tiba-tiba harus tersentak oleh
teriakan seorang pemuda tanggung dari pinggir sawah.
‘Mbaaak, dipanggil bapak’.
‘Haduh, ada apa. Tak biasanya aku dipanggil’.
‘Disuruh pulang segera pentiiiing’.
‘Apa? Paling disuruh sarapan’.
‘Bukan, ada tamu dari kota nyariin’.
__ADS_1
‘Hah, siapa lagi itu?’,pikirku mulai cemas.
Bukannya aku sudah memutuskan segala kontak ke
semua orang dari masa laluku. Bahkan keluargaku pun tak kuhubungi. Nomer
handphone sudah kuganti. Aku bahkan menghapus semua media sosialku demi
ketenangan hakiki.
‘Siapa tamunya, de? Laki-laki perempuan?’,
teriak ku padanya.
‘Iya’, jawab Ade ambigu.
Aku mengerenyitkan dahi sekilas, sebelum turun
dari batu besar yang menjadi singasanaku selama ini. Kutenteng sandal jepit di
tangan kiriku sebelum melangkahkan kaki ini hati-hati dipematang sawah.
‘Ya, aku harus berjalan pelan karena meski aku
sudah terbiasa dengan aktifitas favoritku, masih saja sering terpeleset saat
berjalan di atasnya’.
Mencapai tepian sawah Ade menunggu dengan
senyum lebar disana. Dia tampak sumringah kelihatan terpancar dari air mukanya
yang bersih. Aku yang terheran-heran mulai bertanya,
‘Apa itu yang ada dikepalamu?’, ku acak
rambutnya yang mulai menyentuh tengkuk.
‘Tak ada’, jawabnya singkat.
‘Lantas mengapa senyum-senyum sendiri. Tamunya
cewek cantik ya?’.
‘Bukanlah mbak, lihat sendiri saja nanti.
Malas aku menjelaskannya sudah kayak guru saja. Panjaaaang dan lebar beserta
definisinya ntar’.
‘Kan bagus dek lebih kongkret begitu’.
‘Tuh rambut gak dipotong dek. Gak takut dimarahi sama guru-guru disekolah?’.
‘Tidak lah mbak orang masih lama daringnya. Nanti aja dipotong pas sudah luring’.
‘Huh, dasar kamu. Ngeles terus kalau sudah membahas masalah peraturan sekolah’.
‘Udah ah mbak. Yuk cepetan sudah ditunggu sama tamunya tuh.
Entar nyusul kesini baru tau rasa’.
‘Emangnya siapa sih dek tamunya?’
‘Mbak lihat saja sendiri’, jawabnya singkat
sambil memamerkan deretan giginya yang putih bersih.
‘Hadeew’.
Kami mencari jalan pintas menuju rumah dengan
melewati rumah penduduk di sebelah kiri persawahan. Sepanjang perjalanan
tetangga kiri kanan banyak yang tersenyum maupun mengangguk ramah yang
merupakan ciri khas keramah tamahan penduduk desa.
Ada kalanya aku dan Ade mengucapkan kata, ’monggo’,
sebagai ungkapan kata permisi tatkala bertemu dengan orang-orang yang sedang
duduk di terasan, merekapun membalasnya dengan senyuman atau kata yang serupa.
Inilah yang membuat aku kerasan untuk tinggal disini.
Sesampai halaman rumah lek Parjo, kulihat ada
beberapa mobil mewah terparkir disana, perasaanku mulai tidak nyaman. Aku tahu
siapa pemilik dari mobil-mobil itu. Aku berhenti dan mulai berbalik arah hendak
pergi menjauh ketika beberapa langkah kemudian terhenti oleh sebuah teguran
dibelakangku, ’mau kemana nona?’.
Kuberbalik ketika punggungku menyentuh daging
liat dari lengan dua bodyguard berseragam hitam dan menjawab, ’em….mau….ke..ke
__ADS_1
kamar mandi disitu’.
‘Mana ada kamar mandi disitu nona. Bukannya
kamar mandi ada didalam rumah’.
‘Maksudku kamar mandi desa’.
‘Jangan banyak alasan. Ayo ikut kami. Bos
sudah menunggu nona didalam. Jangan sampai kehilangan kesabaran dan memporak
porandakan desa ini’.
Aku terkesiap, ’baiklah’. Ku ikuti kedua orang itu dengan patuh.
Dengan berbagai perasaan yang berkecamuk
didada kususul Ade yang terlebih dahulu memasuki rumah. Di ruang tamu lek Parjo
nan luas banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang melakukan persiapan
sebuah acara. Aku yang bingung berusaha mencari tahu,
’Mau ada acara apa lek. Kok pada dandan semua’.
‘Pernikahan Suti. Cepat masuk ke kamarmu sana, berhias’.
‘Memangnya siapa yang mau menikah, lek. Mas Dimas ya?’
‘Hus, ngawur kamu. Dimas masih kelas dua belas SMA belum lulus lagi,
mana ada yang mau mengambilnya sebagai mantu’.
‘Lantas lek, yang menikah siapa?’
‘Ya kamulah Suti’.
Aku tertawa sumbang mendengar jawaban lek
Parjo, ’jangan bercanda lek. Memangnya siapa calon suamiku?’
‘Aku…..aku calon suamimu’, sedetik kemudian
suara berat itu terdengar dari sisi kiriku. Dimana kamar tamu berada.
Membeliakan mata, kutoleh ke arah suara itu, ’kamu?’
‘Ada apa sayang merindukanku’, bisiknya
ditelingaku.
‘Jangan bercanda Jay. Pernikahan itu bukan
permainan’, sahutku pelan.
‘Aku serius Suti, lihat persiapan yang aku
buat. Semuanya matang dan sempurna. Sebentar lagi mama datang untuk menyaksikan
pernikahan kita. Serta ibu dan adik tirimu juga ku hadirkan kesini, sebagai
wali dari pihak perempuan’. ‘
Ha….ha bagaimana bagus bukan. Semuanya sudah
sesuai dengan rencana’.
‘Tapi Jay bagaimana dengan penghulu dan
pendaftaran di KUA. Apakah kamu pikir gampang mendatangkan mereka secara
dadakan. Orang-orang itu bukan bawahanmu yang se enaknya bisa kamu atur’.
‘Ouuh sayang tak usah risau akan hal itu.
Lihat mobil yang baru datang itu. Yang warna putih disana, itu adalah rombongan
pegawai KUA yang siap menikahkan kita hari ini’.
‘Ba…bagaimana bisa Jay?’.
‘Tak usah heran Suti, aku Jay, bisa
mendapatkan segalanya dengan uangku. Termasuk kebebasanmu’, jawabnya geram.
Kuhendak menyangkal perkataannya ketika dari
pintu netraku melihat ibu, adik tiriku serta mama Jay yang memasuki ruangan.
Mengulas senyum lebar kuhampiri mereka dan memeluknya sebagai pelepas rasa
rindu yang membuncah.
Sedangkan mama Jay mengusap-usap punggungku
lama sembari berkata, ’jaga Jay ya Suti dan jadikan ia imam mu dimana pun kau
berada’. Terharu dengan sikap beliau aku mengangguk terpaksa.
__ADS_1