MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XIX


__ADS_3

Seorang perempuan berambut panjang dan dalam keadaan


hamil besar berlari ke dalam hutan. Dia tersenggal, terseok dan


sebentar-sebentar berhenti menoleh kebelakang untuk memastikan


tidak ada seorang pun yang mengikutinya. Keadaannya sangat mengenaskan.


Pakaiannya compang camping penuh luka disekujur tubuhnya.


Lebam kebiruan, bibir nya bengkak dan berdarah. Sesekali dia mengelus perutnya


sebelum melanjutkan pelariannya semakin masuk kedalam hutan lebat di lereng


gunung ringgit.


Enam centeng berangasan serta berbadan besar


tampak menyebar disekitar hutan. Mereka


berteriak penuh kemarahan dan menyalahkan satu sama lain.


‘Hei Bargo seharusnya tak kau buka pintu gubug itu


saat memberi dia makan!’, teriak salah


satu centeng yang merupakan pimpinan mereka.


‘Maaf mas, dia tadi ingin buang air. Masa kubiarkan,


kasihan apalagi dalam keadaan hamil


besar. Ia juga mengeluh perutnya mules. Mungkin mau melahirkan’.


‘Bodoh apa tolol kamu itu Bargo, buktinya dia sekarang kabur kan.


Apa yang akan kita laporkan ke noni Anne’.


‘Ma…maaf mas. Sekarang bagaimana. Kita tidak mungkin masuk kedalam sana.


Disana angker dan banyak binatang buas. Meskipun perempuan itu selamat


dari kita aku yakin dia akan tetap menemui ajalnya dengan


makhluk yang ada dalam hutan itu’.


‘Heeem, benar juga kamu. Kita balik saja ke gubug. Aku akan menemui noni Anne


dan bilang kalau dia sudah mati beserta anaknya.


Mayatnya kita buang dijurang dekat markas.


Baju perempuan itu yang penuh dengan darah kita jadikan bukti’.


‘Baiklah. Ayo teman-teman kita balik ke markas’, teriaknya kemudian kepada yang lain.


Mereka pun meninggalkan hutan gunung ringgit yang terkenal angker.


Horizon hotel, kamar 302.


Duduk bersandar di sofa tunggal sambil menyesap wine.


Clark tampak berpikir keras. Dahinya berkerut matanya menatap tajam ke depan.


Pelipisnya berkedut. Dengan tangan kiri yang bebas dia menyugar rambutnya ke belakang.


‘Heemmssh, nyai bagaimana bisa aku salah mengendus keberadaan mu?’, batinnya.


‘Selama ini aku tak pernah salah, bahkan ketika kamu menempel


pada pepohonan yang ada di hutan.


Apa karena kamu sekarang mulai mencintai orang lain?’, lanjutnya lagi.


‘Daveee, cari keberadaan Selly sekarang!’, perintahnya gusar.


‘Oke bos’.


Kemudian David menelepon seseorang diseberang sana untuk


membawa perempuan itu ke markas para pemburu bayaran.


‘Beri kami waktu dua puluh empat jam’, sahut suara lelaki dari ujung telepon.


‘Deal’, jawab David tegas.


Butterfly night club.


Pengunjung club itu penuh sesak, dengan arahan seorang DJ mereka berjingkrak-jingkrak


mengikuti alunan nada dari music box yang dia mainkan. Tak ada raut kesedihan


dari wajah-wajah para pengunjung. Wanita yang berpakaian seksi mengumbar tubuh


mereka seolah mengundang para lelaki disana untuk menjamah. Betul-betul


memanjakan mata bagi orang yang mementingkan kesenangan sesaat.


Sementara itu di ruang VIP bertolak belakang dengan keadaan club di luar sana.

__ADS_1


Begitu tenang dan santai, suara hingar bingar yang merupakan ciri khas dari night


club. Yang ada hanya tiga pria dewasa sedang menikmati minuman beralkohol


sembari berbincang santai.


‘Bagaimana Mr. Clark, apakah anda sudah menjelajah seluruh kota beberapa hari ini?’,


tanyanya.


‘Heem, belum Mr. Jay. Aku berniat mengunjungi sebuah tempat di luar kota. Tapi setelah


semua pekerjaan ku disini selesai’.


‘Jadi ada hanya berdiam diri di hotel?’


‘Tidak juga, saya sempat ke C and C mall kemarin’.


‘Apa ada yang membuat anda tertarik disana?’


Smirk nya terulas sebelum pada akhirnya menjawab,’ ada Mr. Jay…..ada’, jawabnya santai


seolah tanpa beban.


‘Baguslah’.


‘Well, Mr. Jay. Aku minta seorang pelayan club untuk


membawakan kita minuman beralkohol tinggi, bagaimana?’


‘Eh, tidak sir, kadar toleransi ku pada minuman tidak terlalu bagus.


Aku tidak mau pulang dalam keadaan mabuk.


Anda tahu istriku seorang muslim meskipun tidak terlalu


taat tapi dia tidak akan mentolerir apa pun yang dia tidak suka’.


‘Oke, jadi kita akan memesan wine dengan kadar rendah saja, bagaimana?’


‘Boleh’.


‘Dave panggilkan waitress club, suruh dia bawa pesanan kita


dan jangan lupakan makanan ringan. Kau mengerti’, perintahnya sambil memberi kode.


Dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang bos, ia pun mengangguk.


Meninggalkan mereka sebentar dan beranjak menuju meja bartender diluar.


Tak lama kemudian.


‘Masuk’, jawab Dave.


Perempuan muda berpakaian seragam club datang


sambil membawa nampan yang berisi cemilan


dan tiga buah gelas berisi wine putih. Gayanya yang malu-malu saat


menyajikannya di hadapan tiga pria dewasa itu, membuat Jay terpesona dan


menatap lekat ke arahnya.


‘Ss….Suti’, bisiknya.


‘Em maaf tuan saya Dina pelayan baru disini’.


‘Apakah kamu punya saudara kembar?’, tanyanya lagi.


‘Tidak tuan, saya anak pertama dari dua bersaudara’.


‘Oh’,


jawab Jay sembari memijat pelipis. Berulang kali dia mencoba fokus dengan


pandangan matanya tapi tak bisa. Pening mulai menguasai kewarasan tubuhnya.


Melihat hal itu Clark tersenyum culas sambil memberikan kode terhadap perempuan itu.


‘Layani dia dengan baik!’, perintahnya.


‘Baik tuan’, jawab waitress itu mengerti.


Dalam sekejap perempuan itu menyingkap rok.


Membuka kancing baju seragamnya dan


memperlihatkan bagian tubuh yang putih mulus.


Dia duduk di pangkuan Jay serta menciuminya dengan ganas.


Jay yang teler hanya mampu pasrah dengan yang dilakukan wanita itu,


meskipun kesadarannya menolak. Apa yang bisa dia lakukan


karena tubuhnya lunglai seperti tak bertenaga.


Jadilah pemandangan panas itu terpampang dengan jelas dimata Clark dan David.

__ADS_1


David yang mendapat lirikan dari bos nya langsung merekam kejadian itu tanpa jeda,


durasinya tiga puluh menit. Dirasa cukup ia pun mematikan telepon genggamnya.


‘Bagaimana tuan, apa ini cukup’, tanya perempuan itu lagi sembari merapikan bajunya


kembali.


‘Cukup, kau bisa ambil uang mu di asistenku’.


‘Terima kasih tuan’.


Gegas perempuan itu mengikuti David keluar ruangan. Menuju ke halaman parkir night


club. Ketika sampai di taksi online yang menjemputnya, Dave menuliskan nominal


di cek yang menjadi kesepakatan mereka.


‘Kau bisa mencairkannya besok. Di bank yang menjadi rekanan dari cek ini. Ingat


setelahnya kamu jangan pernah muncul lagi dihadapan kami. Terutama dengan pria


yang baru kau ajak bercumbu itu. Dan jangan kembali ke desa tempat kamu


tinggal. Paham’.


‘Paham bos, aku juga tidak bodoh untuk tetap disana’.


‘Bagus, pergilah’, Dave menutup pintu taksi begitu perempuan itu duduk. Mobil itu pun


melaju meninggalkan halaman parkir club.


Saat sudah tak terlihat lagi dalam pandangan dia masuk kembali ke dalam club


menemui Clark yang tampak santai memeloti Jay yang tidak sadar.


‘Bos semua sudah beres’.


‘Bagus’.


‘Apa yang kita lakukan padanya’.


‘Bawa dia ke hotel club. Pesan satu kamar atas nama dia dan perempuan itu’.


‘Oke bos, sesuai perintah’, mengangguk dan menuju keluar ruangan.


‘Heem’.


Tersenyum puas dengan hasil hari ini, dia pun menyenderkan badannya ke kursi.


Butterfly club hotel, pagi hari.


‘Whoof, kepalaku pusing sekali’, mengerjapkan matanya dan berusaha meraih kesadaran.


‘Dimana aku?’, netranya nyalang menghadap ke atas.


Ketika kesadarannya mulai terkumpul dia duduk dan terkejut saat melihat dirinya yang


telanjang dan hanya mengenakan boxer.


‘Ouuh tidak….ini gila’, mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.


‘Apa aku tidur dengannya. Bodoh betul-betul bodoh’, memukul-mukul kepalanya.


Menoleh kesamping, pakaiannya teronggok di atas sofa. Dia tak melihat seorang pun di


ruangan itu kecuali kasur yang berantakan. Lantas mencoba mendengarkan suara


gemericik air kamar mandi. Pun tetap sama sepi. Gegas ia menuju kesana tuk


membersihkan diri.


‘Blaam’, ditutupnya pintu dengan kasar.


Menatap dirinya lama di cermin, refleksi kemarahan jelas terpapar disana. Matanya


memerah rahangnya mengeras. Berkali-kali ia memukulkan bogemnya ke tembok


hingga buku-buku jarinya mengeluarkan tetesan darah. Kemarahan kali ini melebihi


saat dia memergoki perselingkuhan Cella dan Jodi.


Memutar shower dengan air dingin, ia mulai mengguyur badannya. Tak dipedulikan hawa


dingin yang mulai menusuk kulit melalui pori-pori. Dia menyabuni seluruh


tubuhnya berkali-kali seolah ingin menghilangkan jejak perempuan itu sembari


mengumpat kata-kata kotor dalam hatinya.


‘Aku akan mencarimu perempuan brengsek. Ke lubang semut pun aku akan memburumu’,


sumpahnya.


Dia keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang. Meraih handle


telepon di atas nakas dan meminta layanan kamar mengantarkan obat untuk


tangannya. Setelahnya memencet nomer Andrew dengan telepon genggam tuk

__ADS_1


membawakan baju ganti.


__ADS_2