
Hari ketiga di mansion Cartwright.
Malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Rutinitas wajib dari setiap penghuni rumah
menjadi pemandangan yang akrab dalam keseharian. Tidur tepat pukul 22.00
setelah menunaikan segala kewajiban. Seolah mampu mengusir penat setelah
seharian menjalankan aktifitas. Aku tak mengerti ketika tiba-tiba suara seorang
perempuan memanggilku.
‘Suti kemarilah……kemarilah’.
Kutajamkan telinga sekali lagi mendengar suara asing itu.
‘Kemarilah Suti….bangunlah menuju bunda ratu’.
Pintu kamar terbuka oleh hembusan angin, tanpa sadar aku berjalan mengikuti bayangan
seorang perempuan memakai mahkota kerajaan jaman dulu menuju ruangan di lantai
satu. Seolah melayang karena kakiku tak merasakan anak tangga yang berjejer
seperti biasanya. Kewarasanku masih menolak tapi tubuhku tidak. Ketika mencapai
pintu kayu jati berukiran jepara itu terdengar suara panggilan yang lain,
‘Hei apa yang akan kamu lakukan di ruangan itu. Bukankah aku sudah melarangmu untuk
memasuki museum keluarga’, teriak Jay dari anak tangga.
Tubuhku luruh ke lantai. Tak menjawab aku pingsan.
‘Haish menyusahkan saja. Bangun Suti’, ucap Jay sembari menepuk-nepuk pipiku pelan.
Tak kunjung sadar ia menggendongku menuju sofa diruang tamu, diletakan bantal
dibawah kepala. Lantas ia menuju kotak P3K disudut ruang makan tuk mengambil
minyak kayu putih. Ketika olesan itu menyentuh indra penciuman, aku mulai
mengerjap-ngerjapkan mata.
‘Apa yang terjadi, mengapa aku tidur disini?’, tanyaku bingung.
‘Kamu tidur sambil berjalan Suti’.
‘Sungguh. Aah terjadi lagi’, kesalku.
‘Sering seperti itu?’.
‘Heem’.
Di pagi yang cerah setelah tiga bulan pernikahan.
‘Jay bisakah aku kembali bekerja’, rayuku sambil memasang dasi di lehernya.
Dia tampak mengetatkan rahangnya sebelum menjawab, ’tidak’.
‘Oh ayolah, aku mulai bosan dengan kegiatanku yang itu-itu saja’.
‘Apa maksudmu dengan itu?’
‘Hanya menyiapkan keperluanmu, ngobrol sama mama, keliling rumah, tak menarik lagi
bagiku Jay. Aku ingin seperti dulu beraktifitas di luar, berdagang atau kerja
di kantor mungkin?’, jawabku.
‘Aku bilang sekali lagi tidak’, tegasnya.
‘Mengapa?’, nadaku meninggi.
‘Dengar kamu adalah istri dari Jodi Bimantara cartwright, pebisnis sukses dengan harta
dimana-mana untuk apa kamu bekerja, memalukan. Mau apa pun tinggal menjentikan
jari. Lantas buat apa uang recehmu nanti’.
Mengerucutkan bibir, ’tapi Jay itu semua kan uang mu bukan punyaku. Aku mau punya tabungan
yang banyak sebelum perjanjian kita berakhir. Dan setidaknya nanti aku juga
punya sandaran hidup’.
‘Hei perempuan jangan mengajaku adu urat di pagi hari, bikin mood ku hancur saja’,
dia mulai melangkahkan kaki keluar kamar sebelum berbalik dan menyambung
kalimatnya.
’Masalah harta dan uang, aku akan memberikan
kompensasi yang besar untuk itu. Asal selama masa kontrak kita, kamu harus
membuat mamaku senang’.
‘Jadi aku hanya sebatas alat untuk menyenangkan mama mu Jay’, nelangsaku dalam hati.
‘Kemana dirimu yang ku puja dulu?’, kuhempaskan tubuh ini ke kasur saat dia sudah menutup
pintu dari luar dengan kuat.
‘Blaammm’.
Kuhembuskan napas dengan kasar berbarengan dengan titik-titik air mata yang mulai menganak
sungai ke pipi. Bagaimana tidak, menangis adalah satu-satunya kegiatan yang
menyenangkan selain rutinitas membosankan di rumah ini. Bahuku naik turun
seirama dengan senguk kan tangisku yang semakin keras.
‘Nyonya muda, apakah anda mau sarapan dikamar atau diruang makan?’, terdengar panggilan
__ADS_1
Wati dari luar.
Ku usap air mataku dengan ujung bantal dan menjawab,
‘Di ruang makan saja, nanti sesudah mandi’, jawabku sedikit parau. Mudah-mudahan dia
tidak merasakannya. Aku tak ingin semua orang di rumah ini melihat kesedihanku.
‘Baiklah nyonya, saya permisi’.
‘Heemm’.
Tepat jam 08.00 pagi.
Kutapaki anak tangga satu persatu. Berbelok ke kiri setelahnya. Disana mama Laura sedang
menikmati sarapan pagi favoritnya. Sandwich dengan segelas jus lemon hangat.
Saat netranya menoleh ke arahku dia tersenyum lebar dan menghentikan kegiatan.
Berdiri menyambut kedatanganku di ruang makan, memeluk ku sembari berujar,
‘Sayang kau sudah bangun?’
‘Sudah ma, selamat pagi. Bagaimana dengan tidur mama semalam, nyenyak?’ tanyaku.
‘Yah, tentu saja. Sini-sini duduk dekat mama’, mempersilahkan sembari menarik kursi
disebelahnya.
Kuturuti keinginannya.
‘Mau sarapan apa biar Wati yang menyiapkan?’.
‘Nasi goreng sosis saja ma’.
‘Wati siapkan sarapan nyonya muda mu, jangan lupa susu persiapan ibu hamilnya’.
Aku terkesiap.
‘Baik nyonya besar’, angguk Wati sopan sebelum melangkah ke dapur
mengambil menu yang aku minta.
Tak beberapa lama kemudian.
‘Silahkan nyonya muda’
‘Trima kasih’, sahutku ogah-ogahan.
‘Kenapa sayang’, tanya mami sambil menangkup wajahku. ‘Kamu habis menangis’,
selidiknya.
‘Emm tidak mam, mataku sedikit alergi terlalu lama membaca novel’, elak ku.
‘Jangan bohong sama mama. Kamu merasa bosan terkurung di istana ini, hem?’
‘Sa…saya tidak’, jawabku lekas.
mall?’
‘Tidak usah mam’, gelengku lekas.
‘Kamu takut pada Jay?’
‘Eh…tidak sama sekali’, tukasku cepat.
‘Oh ayolah Suti, tidak usah kuatir akan dia ada mama disini. Hari ini kita harus
bersenang-senang. Mari kita habiskan uang di kartu unlimitednya. Masalah
lainnya kita pikirkan nanti, okey’.
Tersenyum kecil dengan idenya, aku mengangguk antusias.
‘Begitu dong, penuh semangat. Kamu harus bahagia agar bisa lekas mengandung keturunan
Cartwright, disini’, jawabnya lagi sambil mengelus perutku.
‘Tarnoo, siapkan mobil. Mama sama nyonya muda mau nge-mall’, teriaknya ke arah pintu
dapur.
Pak tarno yang lagi menyeruput kokinya tersedak sebelum menjawab’, baik nyonya besar’.
‘Ayo sweety, bersiaplah dan dandan yang cantik’.
‘Baiklah mam’, gegas menuju kamar.
Di mall C & C, mall terbesar ditengah kota.
Laura mengajak menantunya belanja gila-gilaan, hal pertama yang dilakukan adalah
memasuki toko tas branded dan memilih berbagai macam produk di display.
‘Ayo honey pilih yang kamu suka, tak usah dipikirkan harganya’, katanya penuh semangat. ‘Aku
sebelah sana ya’, tunjuknya ke arah rak clutch di sebelah kiri kasir.
‘Oke mam’, sahutku ceria.
Kalap mata dengan pilihan yang begitu banyak membuatku bingung membeli yang mana hingga
hatiku mantap dengan sebuat tas genggam wanita merk ‘Lana Marks Cleopatra Bag seharga $250,000’
yang terbuat dari kulit buaya perak
metalik dan gesper dengan 1.500 berlian hitam dan putih di 18-karat emas putih.
Desainnya sederhana dan elegan aku menyukainya. Meminta petugas toko
untuk mengambilnya dan gegas menuju kasir. Disana mama Laura pun tampak antri menunggu giliran.
Dia tersenyum lebar tatkala melihatku.
__ADS_1
‘Bagaimana sayang sudah menentukan pilihan’, tanyanya sembari mengeluarkan kartu unlimitednya.
‘Em sudah ma, itu dibawa kemari oleh petugasnya’.
‘Baguslah, apa yang kamu pilih?’, tanya nya lagi.
‘Mama lihat sendiri saja’, jawabku malu-malu.
‘Woow, pilihan menarik sayang. Perfecto’, pujinya sesaat setelah mengetahui tas tersebut.
Menyerahkan tas belanja ke salah satu bodyguardnya, mama Laura dan aku melangkahkan kaki menuju
butik wanita di lantai empat mall. Disini pun banyak baju dan gaun yang kami
beli. Bahkan mertuaku ikut-ikutan memilih serta mengambilkan model yang
sebenarnya tak perlu aku beli. Tapi beliau memaksakan kehendaknya dengan dalih
koleksi bajuku perlu di upgrade.
Padahal di almari kamar masih banyak yang
belum atau tidak pernah ku kenakan dikarenakan aktifitasku yang terbatas
‘ataukah memang dibatasi’, pikirku.
Lelah menyusuri mall kami menuju resto di lantai lima. Kulirik ke papan namanya ‘Cullinary
restoran’, aku tersenyum. ‘Bukannya restoran memang untuk kuliner ya’,
monologku dalam benak.
Reservasi di dekat jendela aku bisa melihat pemandangan kesibukan kota di bawah sana.
Senang sekali rasanya dengan semua yang tampak didepan mataku saat ini. Orang yang
lalu lalang, mobil yang bergerak lambat karena memasuki jam makan siang, bunyi
klakson yang bersahutan menandakan ketidak sabaran si empunya kendaraan,
’Oh amazing’, binarku bahagia.
Ketika makanan telah dibawa oleh pramusaji ke meja, kami melahapnya tanpa banyak kata.
Ya asupan energy sebagai pengganti yang hilang setelah seharian berbelanja.
‘Bagaimana sudah kenyang Suti, siap untuk melanjutkan perburuan kita?’ tanya mama Laura.
‘Siap ma’, jawabku penuh semangat.
‘Allright, kita akan berbelanja sepatu dan perhiasan sebentar lagi. Nanti tepat jam tiga sore mama
akan mengajakmu ke kantor Jay’.
‘Untuk apa ma, dia pasti tidak akan mengijinkan ku kesana’.
‘Oh tidak sayang kamu harus. Ingat besok beri kejutan padanya dengan mengunjungi kantornya dengan
membawa kue ulang tahun’.
‘Besok Jay berulang tahun?’, tanyaku sedikit terkejut.
Lekas kulihat hari dan tanggal di handphone, ’lho ulang tahunnya kan masih dua hari lagi mam?’
‘Itulah sayang, aku ingin kamu memberikan kejutan sebelum hari ulang tahunnya tiba. Kamu mengerti’,
jawabnya sambil mencubit pipiku gemas.
Rasa hangat menjalar menembus perasaanku dengan perlakuan mama laura.
Seolah menemukan ibu yang lama kurindukan.
‘Aah, apa kabar beliau sekarang. Dan bagaimana dengan candra adik ku?’ membatin.
Sekitar pukul dua tiga puluh kami meninggalkan mall, kutoleh kebelakang tampak Tito dan bambang,
bodyguard mama kerepotan dengan barang belanjaan yang begitu banyak.
Aku terkikik geli, ’pasti susah’, pikirku.
Mereka menuju tempat parkir sedangkan aku dan mama menunggu di
depan pintu masuk mall, ketika mobil yang dikemudikan Tarno berhenti didepan
serta membukakan pintu. Setelahnya mobil melaju di jalan raya yang mulai
lenggang menuju kantor Jay.
Resepsionis Cartwright building.
‘Sore Santi’, sapa Laura pada resepsionis di depan pintu masuk kantor.
‘Selamat sore nyonya Laura’, jawab Santi sopan sambil menangkup tangannya didepan dada.
‘Bos besar ada?’
‘Maksud nyonya tuan Jay?’
‘Iya itu dia, apakah dia ada?’
‘Maaf nyonya tuan Jay sedang ada meeting internal perusahaan dengan anak cabang yang ada di Jakarta’.
‘Ouh, baiklah aku tidak akan menganggu. Tapi Santi lihat nyonya muda yang bersamaku sekarang ini.
Jika dia datang sendiri lain kali kesini persilahkan dia menuju kantor Jay.
Suruh si Kirman untuk mengantarnya’.
Tanpa banyak tanya Santi menjawab,’baik nyonya’.
‘Bagus, kami pergi dulu ya. Tak usah kasih tahu Jay kalau kita bermain kesini’.
‘Baik nyonya, selamat sore’.
‘Ehmm’.
__ADS_1