
Hutan ringgit jaman dulu.
Hembusan angin kencang memporak porandakan pepohonan di dalam
hutan. Ciutan tenaga dalam menghantam semua orang yang ada dalam
lingkaran pohon yang tengah bergelimpangan. Mereka mengarahkan kedua telapak
tangannya ke depan, melancarkan tenaga dalam. Dimana sedang berdiri makhluk wanita
setengah ular yang tengah menangkis serangan dengan mengibaskan ekornya
berkali-kali ke udara.
Pertarungan yang tak seimbang telah berlangsung hampir
berhari-hari. Kelelahan mulai menghampiri empat manusia yang mengenakan ikat
kepala motif batik merah.
Tenaga mereka terkuras habis oleh siluman ular wanita
dihadapannya. Namun perlawanan yang dilakukan bagikan asap ditengah udara. Tak
berimbas apa pun terhadap makhluk itu.
“Hi…hi…hi. Kerahkan semua kemampuan kalian manusia bodoh”.
“Iblis laknat mampuslah kau!” sang ketua membentuk serangan bola
api besar dari tangannya.
“Blaaas. Kretek…kretek!”
Mahkluk itu tertutupi oleh nyala api panas yang membakar seluruh
tubuhnya. Kobarannya bahkan melahap pepohonan seluas seratus meter
dibelakangnya.
Tak ada pergerakan apa pun dari iblis itu. Ke empat tetua pun
tersenyum lega. Mereka melirik satu sama lain dan mengangguk pelan.
Sang ketua mengangkat tangan sebagai pertanda pertarungan telah
usai. Salah satu di antara mereka mendekati jasad wanita siluman. Mengoreknya
dengan tongkat yang dia bawa. Percikan abu kecil menyebar ke udara. Serta bau
daging gosong mulai menguar disekitarnya.
“Bagaimana Diro?” teriak sang ketua.
“Mati ki! Hanya tinggal ekornya saja semeter!”
“Pergilah dari situ!”
“Ya ki!”
Ki Jarwo, sang ketua duduk bersila. Merapal mantra serta
memukulkan tangannya tiga kali ke tanah.
“Duuaaar!”
Suara ledakan yang sangat nyaring terdengar disusul dengan gerakan
tanah menuju ke abu makhluk itu.
Angin mengitari jasad siluman Darsi. Berputar sebentar di tempat
__ADS_1
yang sama, kemudian pusaran tersebut terbang kembali menuju gua Nogo.
Tak beberapa lama kemudian, kembali Ki Jarwo berkomat-kamit dan
menempelkan telapak tangan ke bumi.
“Siuuut. Wut…wut”.
“Pletak…pletak” pepohonan yang tumbang pun mulai berdiri kembali.
Menempati posisi dimana mereka semula tertanam. Tempat itu pun kembali rindang.
Para tetua yang semula hanya melihat kegiatan Ki Jarwo pun, ikut
duduk bersila dan melakukan semedi. Memohon kepada yang Maha Pencipta untuk
memulihkannya.
Tak lama kemudian, terdengar kokok ayam hutan bersahutan.
Disambung dengan cicitan burung di atas dahan. Angin sepoi pun berhembus.
Ditimpali dengan sinar sang surya yang malu-malu menampakan diri.
Tak lama kemudian, kehangatan melingkupi hutan yang semula porak
poranda akibat pertarungan empat tetua desa dengan sang iblis ular.
Ketika jejak perkelahian sudah tak Nampak lagi. Ke empatnya
menjejakan kaki ke tanah. Dan, “Puuf”, merekapun menghilang.
***
Sementara itu di desa Prigen.
Para penduduk desa menyambut kedatangan para tetua dengan
sukacita. Sang lurah pun menerima mereka di pendopo.
“Baik Man. Meskipun kami kehabisan tenaga tapi pada akhirnya
makhluk itu mati”.
Mengusap janggutnya, “Jadi para ibu-ibu bisa tenang menjaga
bayinya, Ki?”
“Betul, mulai malam ini mereka tak perlu tidur dengan was-was
lagi”.
“Terima kasih, Ki”.
“Sama-sama”.
Kemudian tampak seorang pemuda menghampiri pak lurah dan
membisikan sesuatu. Dia pun mengangguk mengerti.
“Em…jadi begini Ki. Para penduduk desa ingin mengadakan selamatan
sebagai tanda ucapan terima kasih kami. Apakah anda semua bersedia datang?”
“Kapan itu Radjiman?”
“Dua hari dari sekarang Ki”.
Jarwo menghitung dengan jarinya. Kemudian, “malam jumat kliwon
ya?”
__ADS_1
“Betul, apakah ada yang tidak sesuai?”
“Hem tidak. Baiklah kami akan datang besok lusa. Jangan lupa untuk
menyiapkan sesajen lengkap dalam tampah”.
“Baik ki”.
Memandangi ketiga anak buahnya sebentar dan mengangguk.
“Kami pamit Radjiman”.
“Silahkan ki”.
“Pufff”.
Dua hari kemudian.
Kesibukan di pendopo kelurahan Prigen sangat luar biasa. Di atas
panggung tampak dalang sedang menata perlengkapan wayang kulit dengan
menancapkannya di batang daun pisang.
Sang cantrik ikut membantu dengan sesekali bertanya, ‘apakah
susunan tokohnya sudah benar?’ Hanya anggukan kepala yang diberikan oleh sang
dalang.
Dibelakang mereka terlihat para nayogo yang juga menyiapkan
gamelan. Dan beberapa pembantu Radjiman ikut menata ruangan tersebut dengan
menggelar tikar.
Di bagian dapur, para ibu-ibu menyiapkan makanan. Nasi kuning
beserta lauknya. Serta kue-kue yang terbungkus daun pisang. Kepulan asap dari
tungku masak dapur pun, mengepul di udara.
Anak kecil banyak yang berlarian di halaman pendopo yang luas itu.
Tak ada yang memarahi mereka, sehingga dengan bebasnya kegiatan tersebut
dilakukan.
Bahkan beberapa anak berusia dua tahun terjatuh. Sebentar kemudian
berdiri kembali dan mengejar temannya yang lebih tua. Jeritan dan tawa
kebahagiaan menguar dari sana.
Radjiman dan pengurus kelurahan, sedang duduk sambil menghisap
pilinan tembakau. Di atas meja terhidang ubi goreng juga beberapa ‘nogosari’, makanan
yang dibungkus daun pisang. Mereka bercengkerama serta sesekali tertawa, saat
pembahasannya mengarah ke hal-hal yang lucu.
Tak terasa, sang mentari pun tergelincir ke barat. Siang berganti dengan
malam. Para pelayan di pendopo mulai menghidupkan lampu yang terbuat dari
bambu. Menancapkannya disetiap sudut, sehingga merubah kegelapan menjadi
terang.
Tempat itu pun menjadi sunyi. Semua yang beraktifitas disana mulai
__ADS_1
pulang ke rumah masing-masing untuk berbenah diri. Karena sebentar lagi
pertunjukan akan dimulai.