MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LV


__ADS_3

Hutan ringgit jaman dulu.


Hembusan angin kencang memporak porandakan pepohonan di dalam


hutan. Ciutan tenaga dalam menghantam semua orang yang ada dalam


lingkaran pohon yang tengah bergelimpangan. Mereka mengarahkan kedua telapak


tangannya ke depan, melancarkan tenaga dalam. Dimana sedang berdiri makhluk wanita


setengah ular yang tengah menangkis serangan dengan mengibaskan ekornya


berkali-kali ke udara.


Pertarungan yang tak seimbang telah berlangsung hampir


berhari-hari. Kelelahan mulai menghampiri empat manusia yang mengenakan ikat


kepala motif batik merah.


Tenaga mereka terkuras habis oleh siluman ular wanita


dihadapannya. Namun perlawanan yang dilakukan bagikan asap ditengah udara. Tak


berimbas apa pun terhadap makhluk itu.


“Hi…hi…hi. Kerahkan semua kemampuan kalian manusia bodoh”.


“Iblis laknat mampuslah kau!” sang ketua membentuk serangan bola


api besar dari tangannya.


“Blaaas. Kretek…kretek!”


Mahkluk itu tertutupi oleh nyala api panas yang membakar seluruh


tubuhnya. Kobarannya bahkan melahap pepohonan seluas seratus meter


dibelakangnya.


Tak ada pergerakan apa pun dari iblis itu. Ke empat tetua pun


tersenyum lega. Mereka melirik satu sama lain dan mengangguk pelan.


Sang ketua mengangkat tangan sebagai pertanda pertarungan telah


usai. Salah satu di antara mereka mendekati jasad wanita siluman. Mengoreknya


dengan tongkat yang dia bawa. Percikan abu kecil menyebar ke udara. Serta bau


daging gosong mulai menguar disekitarnya.


“Bagaimana Diro?” teriak sang ketua.


“Mati ki! Hanya tinggal ekornya saja semeter!”


“Pergilah dari situ!”


“Ya ki!”


Ki Jarwo, sang ketua duduk bersila. Merapal mantra serta


memukulkan tangannya tiga kali ke tanah.


“Duuaaar!”


Suara ledakan yang sangat nyaring terdengar disusul dengan gerakan


tanah menuju ke abu makhluk itu.


Angin mengitari jasad siluman Darsi. Berputar sebentar di tempat

__ADS_1


yang sama, kemudian pusaran tersebut terbang kembali menuju gua Nogo.


Tak beberapa lama kemudian, kembali Ki Jarwo berkomat-kamit dan


menempelkan telapak tangan ke bumi.


“Siuuut. Wut…wut”.


“Pletak…pletak” pepohonan yang tumbang pun mulai berdiri kembali.


Menempati posisi dimana mereka semula tertanam. Tempat itu pun kembali rindang.


Para tetua yang semula hanya melihat kegiatan Ki Jarwo pun, ikut


duduk bersila dan melakukan semedi. Memohon kepada yang Maha Pencipta untuk


memulihkannya.


Tak lama kemudian, terdengar kokok ayam hutan bersahutan.


Disambung dengan cicitan burung di atas dahan. Angin sepoi pun berhembus.


Ditimpali dengan sinar sang surya yang malu-malu menampakan diri.


Tak lama kemudian, kehangatan melingkupi hutan yang semula porak


poranda akibat pertarungan empat tetua desa dengan sang iblis ular.


Ketika jejak perkelahian sudah tak Nampak lagi. Ke empatnya


menjejakan kaki ke tanah. Dan, “Puuf”, merekapun menghilang.


***


Sementara itu di desa Prigen.


Para penduduk desa menyambut kedatangan para tetua dengan


sukacita. Sang lurah pun menerima mereka di pendopo.


“Baik Man. Meskipun kami kehabisan tenaga tapi pada akhirnya


makhluk itu mati”.


Mengusap janggutnya, “Jadi para ibu-ibu bisa tenang menjaga


bayinya, Ki?”


“Betul, mulai malam ini mereka tak perlu tidur dengan was-was


lagi”.


“Terima kasih, Ki”.


“Sama-sama”.


Kemudian tampak seorang pemuda menghampiri pak lurah dan


membisikan sesuatu. Dia pun mengangguk mengerti.


“Em…jadi begini Ki. Para penduduk desa ingin mengadakan selamatan


sebagai tanda ucapan terima kasih kami. Apakah anda semua bersedia datang?”


“Kapan itu Radjiman?”


“Dua hari dari sekarang Ki”.


Jarwo menghitung dengan jarinya. Kemudian, “malam jumat kliwon


ya?”

__ADS_1


“Betul, apakah ada yang tidak sesuai?”


“Hem tidak. Baiklah kami akan datang besok lusa. Jangan lupa untuk


menyiapkan sesajen lengkap dalam tampah”.


“Baik ki”.


Memandangi ketiga anak buahnya sebentar dan mengangguk.


“Kami pamit Radjiman”.


“Silahkan ki”.


“Pufff”.


Dua hari kemudian.


Kesibukan di pendopo kelurahan Prigen sangat luar biasa. Di atas


panggung tampak dalang sedang menata perlengkapan wayang kulit dengan


menancapkannya di batang daun pisang.


Sang cantrik ikut membantu dengan sesekali bertanya, ‘apakah


susunan tokohnya sudah benar?’ Hanya anggukan kepala yang diberikan oleh sang


dalang.


Dibelakang mereka terlihat para nayogo yang juga menyiapkan


gamelan. Dan beberapa pembantu Radjiman ikut menata ruangan tersebut dengan


menggelar tikar.


Di bagian dapur, para ibu-ibu menyiapkan makanan. Nasi kuning


beserta lauknya. Serta kue-kue yang terbungkus daun pisang. Kepulan asap dari


tungku masak dapur pun, mengepul di udara.


Anak kecil banyak yang berlarian di halaman pendopo yang luas itu.


Tak ada yang memarahi mereka, sehingga dengan bebasnya kegiatan tersebut


dilakukan.


Bahkan beberapa anak berusia dua tahun terjatuh. Sebentar kemudian


berdiri kembali dan mengejar temannya yang lebih tua. Jeritan dan tawa


kebahagiaan menguar dari sana.


Radjiman dan pengurus kelurahan, sedang duduk sambil menghisap


pilinan tembakau. Di atas meja terhidang ubi goreng juga beberapa ‘nogosari’, makanan


yang dibungkus daun pisang. Mereka bercengkerama serta sesekali tertawa, saat


pembahasannya mengarah ke hal-hal yang lucu.


Tak terasa, sang mentari pun tergelincir ke barat. Siang berganti dengan


malam. Para pelayan di pendopo mulai menghidupkan lampu yang terbuat dari


bambu. Menancapkannya disetiap sudut, sehingga merubah kegelapan menjadi


terang.


Tempat itu pun menjadi sunyi. Semua yang beraktifitas disana mulai

__ADS_1


pulang ke rumah masing-masing untuk berbenah diri. Karena sebentar lagi


pertunjukan akan dimulai.


__ADS_2