MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXVII


__ADS_3

Ki Nogo hendak mengayunkan kilat yang ada di genggamannya ketika


tiba-tiba, “Tahan Ki!”


Petapa tua pun menghentikan gerakannya saat netranya melihat sosok


Darsi diantara raga yang tergeletak.


“Cah ayu. Kamu muncul?”


“Jangan bunuh mereka, ki!”


“Mereka penuh tipu daya. Aku harus melenyapkannya. Agar tidak


menimbulkan keonaran di masa mendatang”.


“Tapi dia Jansen, suamiku yang kucintai. Juga keturunanku, Suti.


Jika kamu memusnahkannya maka keduanya akan lenyap dari muka bumi ini. Aku


tidak mau penerusku hilang, ki”.


“Lalu apa maumu, nduk?” ki Nogo menyimpan senjatanya kembali.


“Aku akan ajak raga suamiku untuk pergi bersamaku. Biar sukma ilmu


kembarmu bisa menyatu di satu wadah. Aku yakin kekuatan cinta Suti pada


keturunan Anne, dapat menetralisir keganasannya”.


“Kamu yakin, bocah ayu?”


“Yakin, ki. Biar aku sendiri yang melakukannya disini. Dibawah


pengawasanmu”.


“Baiklah”.


Sukma Darsi pun menggerakan kedua tangannya. Mendudukan raga


Jansen dan Suti berjajar. Kemudian dia mulai merapal doa diarahkan ke pria bule


itu.


Tubuh Jansen bergetar hebat, kala Darsi mengarahkan telapak tangan


kekepala. Dalam sekejap asap putih mencuat dari sana.

__ADS_1


Semakin banyak dan membentuk sosok Jansen. Pria belanda yang


tinggi kurus, bermata hazel serta berkulit putih bak porselen.


Lelaki itu tersenyum pada Darsi. Berjalan mendekat dan memeluknya


penuh rindu. Gayung bersambut. Kedua suami istri yang terpisah oleh dua alam


yang berbeda selama berabad-abad pun bersatu kembali.


Setelahnya wanita itu mengangguk kepada Jansen. Mengerti dengan


yang dimaksud sang kekasih hati. Pasangan itu menyatukan kekuatan. Mengarahkan


ke raga kasar Clark yang masih bersimpuh di tanah.


Tubuh itu pun musnah menjadi butiran debu. Menyebar di udara


sebentar. Dan akhirnya masuk ke raga Suti yang masih berwujud siluman ular.


Bergoyang kekiri dan kekanan sebentar dan akhirnya raga siluman


pun merosot ke tanah. Lalu membeliakan mata dan mendesis. Lidahnya mulai


terjulur keluar. Dan, “Blaaarr,” mengibaskan ekornya ke arah pepohonan.


Tatapan kejinya mulai mengarah ke tubuh Sarah, yang tergeletak di


sampingnya. Air liurnya mulai menetes deras. Mulutnya bergerak keatas dan kebawah,


melihat sang mangsa di hadapan.


Melihat hal itu Ki Nogo mulai bersiap dengan senjatanya. Dan


hendak mengayunkan ke tubuh Suti, ketika sentuhan ringan dari Darsi menyentuh


lengannya. Dia pun mengurungkan niat. Tetap berdiri di posisi semula dengan tatapan


mata yang tak teralihkan kepada mahkluk haus darah didepan.


“Lihat aku Naga Gini dan Lelono!” suara Darsi nyaring terdengar.


Bak terkena hipnotis, perwujudan iblis haus darah pun menghentikan


gerakan. Dan menoleh ke belakang.


“Kemarilah kalian!”

__ADS_1


Dengan melata serta mengeluarkan desisan, iblis tersebut


menghampiri sang nyai.


Sehingga Darsi dapat menempelkan kedua telapaknya kedada siluman


ular yang mendesis marah. Saat sentuhan mengenai dada sang makhluk, dia pun


terdiam seolah pasrah.


Kebuasannya musnah tak bersisa. Si empunya ilmu pun bisa menekan


kekuatan iblisnya. Perlahan tapi pasti wujud siluman ular berganti menjadi


wanita muda nan cantik.


Berambut lebat dan hitam sepunggung. Kulitnya kuning langsat.


Bermata lebar dan berbibir tipis. Hidungnya mancung sekali, bukan ciri khas


orang pribumi. Garis wajah, juga tinggi badannya menunjukan darah keturunan kaukasoid.


Dia pun tersenyum menunduk malu, saat Darsi mengenggam tangannya.


Mengangguk mengerti saat sang Nyai mentransfer informasi melalui kepala. Mereka


pun melepas genggaman saat semuanya telah selesai.


Tak lama kemudian, sukma Jansen dan Darsi berpamitan. Wujud mereka


pun lenyap menuju ke angkasa, ketika anggukan diterima dari sang guru dan


penerus keturunan.


Ki Nogo pun membuka pintu dimensi lain serta memerintahkan Suti


memasukinya. Setelah wanita muda tersebut lenyap dari pandangan. Kembali si


petapa tua menggerakan tangan, membawa raga Sarah meninggalkan tempat itu.


Kembali…hutan ringgit yang porak poranda, mulai menata dirinya.


Pepohonan yang tumbang berdiri tegak dimana mereka tumbuh. Asap menghitam di


atas tanah bekas pertempuran pun menghijau.


Derikan jangkrik dan binatang malam mulai menggema. Alam pun

__ADS_1


kembali pulih dalam penjagaan sang petapa bijaksana. Sang pelindung.


__ADS_2