
Ki Nogo hendak mengayunkan kilat yang ada di genggamannya ketika
tiba-tiba, “Tahan Ki!”
Petapa tua pun menghentikan gerakannya saat netranya melihat sosok
Darsi diantara raga yang tergeletak.
“Cah ayu. Kamu muncul?”
“Jangan bunuh mereka, ki!”
“Mereka penuh tipu daya. Aku harus melenyapkannya. Agar tidak
menimbulkan keonaran di masa mendatang”.
“Tapi dia Jansen, suamiku yang kucintai. Juga keturunanku, Suti.
Jika kamu memusnahkannya maka keduanya akan lenyap dari muka bumi ini. Aku
tidak mau penerusku hilang, ki”.
“Lalu apa maumu, nduk?” ki Nogo menyimpan senjatanya kembali.
“Aku akan ajak raga suamiku untuk pergi bersamaku. Biar sukma ilmu
kembarmu bisa menyatu di satu wadah. Aku yakin kekuatan cinta Suti pada
keturunan Anne, dapat menetralisir keganasannya”.
“Kamu yakin, bocah ayu?”
“Yakin, ki. Biar aku sendiri yang melakukannya disini. Dibawah
pengawasanmu”.
“Baiklah”.
Sukma Darsi pun menggerakan kedua tangannya. Mendudukan raga
Jansen dan Suti berjajar. Kemudian dia mulai merapal doa diarahkan ke pria bule
itu.
Tubuh Jansen bergetar hebat, kala Darsi mengarahkan telapak tangan
kekepala. Dalam sekejap asap putih mencuat dari sana.
__ADS_1
Semakin banyak dan membentuk sosok Jansen. Pria belanda yang
tinggi kurus, bermata hazel serta berkulit putih bak porselen.
Lelaki itu tersenyum pada Darsi. Berjalan mendekat dan memeluknya
penuh rindu. Gayung bersambut. Kedua suami istri yang terpisah oleh dua alam
yang berbeda selama berabad-abad pun bersatu kembali.
Setelahnya wanita itu mengangguk kepada Jansen. Mengerti dengan
yang dimaksud sang kekasih hati. Pasangan itu menyatukan kekuatan. Mengarahkan
ke raga kasar Clark yang masih bersimpuh di tanah.
Tubuh itu pun musnah menjadi butiran debu. Menyebar di udara
sebentar. Dan akhirnya masuk ke raga Suti yang masih berwujud siluman ular.
Bergoyang kekiri dan kekanan sebentar dan akhirnya raga siluman
pun merosot ke tanah. Lalu membeliakan mata dan mendesis. Lidahnya mulai
terjulur keluar. Dan, “Blaaarr,” mengibaskan ekornya ke arah pepohonan.
Tatapan kejinya mulai mengarah ke tubuh Sarah, yang tergeletak di
sampingnya. Air liurnya mulai menetes deras. Mulutnya bergerak keatas dan kebawah,
melihat sang mangsa di hadapan.
Melihat hal itu Ki Nogo mulai bersiap dengan senjatanya. Dan
hendak mengayunkan ke tubuh Suti, ketika sentuhan ringan dari Darsi menyentuh
lengannya. Dia pun mengurungkan niat. Tetap berdiri di posisi semula dengan tatapan
mata yang tak teralihkan kepada mahkluk haus darah didepan.
“Lihat aku Naga Gini dan Lelono!” suara Darsi nyaring terdengar.
Bak terkena hipnotis, perwujudan iblis haus darah pun menghentikan
gerakan. Dan menoleh ke belakang.
“Kemarilah kalian!”
__ADS_1
Dengan melata serta mengeluarkan desisan, iblis tersebut
menghampiri sang nyai.
Sehingga Darsi dapat menempelkan kedua telapaknya kedada siluman
ular yang mendesis marah. Saat sentuhan mengenai dada sang makhluk, dia pun
terdiam seolah pasrah.
Kebuasannya musnah tak bersisa. Si empunya ilmu pun bisa menekan
kekuatan iblisnya. Perlahan tapi pasti wujud siluman ular berganti menjadi
wanita muda nan cantik.
Berambut lebat dan hitam sepunggung. Kulitnya kuning langsat.
Bermata lebar dan berbibir tipis. Hidungnya mancung sekali, bukan ciri khas
orang pribumi. Garis wajah, juga tinggi badannya menunjukan darah keturunan kaukasoid.
Dia pun tersenyum menunduk malu, saat Darsi mengenggam tangannya.
Mengangguk mengerti saat sang Nyai mentransfer informasi melalui kepala. Mereka
pun melepas genggaman saat semuanya telah selesai.
Tak lama kemudian, sukma Jansen dan Darsi berpamitan. Wujud mereka
pun lenyap menuju ke angkasa, ketika anggukan diterima dari sang guru dan
penerus keturunan.
Ki Nogo pun membuka pintu dimensi lain serta memerintahkan Suti
memasukinya. Setelah wanita muda tersebut lenyap dari pandangan. Kembali si
petapa tua menggerakan tangan, membawa raga Sarah meninggalkan tempat itu.
Kembali…hutan ringgit yang porak poranda, mulai menata dirinya.
Pepohonan yang tumbang berdiri tegak dimana mereka tumbuh. Asap menghitam di
atas tanah bekas pertempuran pun menghijau.
Derikan jangkrik dan binatang malam mulai menggema. Alam pun
__ADS_1
kembali pulih dalam penjagaan sang petapa bijaksana. Sang pelindung.