MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXI


__ADS_3

Cartwright building.


Pagi yang cerah, hanya tampak awan tipis yang sedang beriringan


mengikuti hembusan angin ke barat. Warna biru yang mendominasi di atas sana,


menebarkan pesona bagi setiap orang yang sedang beraktifitas di bumi ini.


Kerumitan lalu Lalang kendaraan di jalan raya, tertangkap oleh


pandangan seorang pria dari ketinggian kantornya yang berada di lantai dua


puluh.


Memandang kebawah sana sejenak. Setelahnya dia mendongakan kepala ke


arah birunya langit yang semakin cerah oleh sinar matahari.


Seharusnya keindahan alam itu mempengaruhi jiwanya. Tapi nyatanya


tidak. Situasi berbanding terbalik dengan batin serta perasaannya.


Jodi menempelkan telapak tangan kanannya ke jendela di hadapan. Menuliskan


tanda love ke kaca dengan jari telunjuk. Kemudian memejamkan mata sambil


memikirkan seseorang yang akhir-akhir ini memenuhi batin serta pikirannya.


“Sutiii” gumamnya pelan. “Apa yang harus kulakukan?” dia pun


menggelengkan kepalanya pelan.


Membalikan badannya menuju ke meja kerja. Meraih gagang telepon


lantas memencet tombol dua.


“Andrew bisakah kamu kesini sebentar?”


“Baik bos” sahutan dari balik telepon terdengar.


Sang asisten pribadi pun bergegas memposisikan dirinya, duduk di


depan meja kerja, saat dia telah berada dalam kantor Jay.


“Apa kamu sudah membereskan Dico hotel and travelling, Ndrew?”


“Dalam proses, bos”.


“Bisa kah dipercepat?”


“Bisa bos, tapi kita butuh bantuan Marcellina”.


“Tunanganku?”


“Betul bos. Apa anda tidak apa-apa dengan itu?”


Berpikir sejenak sebelum membuat keputusan yang sulit. Jay pun


mengangguk pasti.


“Bagaimana dengan nyonya besar?”


“Kamu tak perlu menghawatirkan itu, Ndrew. Mama urusanku


selebihnya kerjakan tugasmu dengan baik. Mintalah bantuan Jeff dan Bondan”.


“Oke bos”.


“Hem”.


Setelah Andrew meninggalkan ruangan, dia mulai menjalankan misi


dari sang majikan dengan menghubungi para bodyguard yang ada di base.


Jeff selaku sang pimpinan misi, mendengarkan semua rencana yang


dilontarkan oleh Andrew dengan seksama. Bahkan dia menambahkan lagi ide-ide


spektakular, sehingga tugas itu berjalan tanpa cela.


Ketika kata ‘sepakat’ terlontar dari bibir kedua lelaki itu. Pembicaraan

__ADS_1


melalui telepon pun ditutup. Menyisakan senyuman puas sang asisten di wajah.


Jodi yang merasa galau, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Menempelkan


kepala pada bantalan kursi. Memejamkan netranya sejenak. Saat sesuatu melintas


di kepalanya, Jodi pun membuka matanya lebar-lebar. Dan meraih telepon genggam


yang ada di meja.


Menggulirkan layar ke tempat penyimpanan foto-foto Marcella, sang


tunangan. Tak ada kilatan apa pun dalam perasaan, saat netranya melihat


pose-pose mesra yang ditunjukan oleh calon istri.


Mengkerutkan dahinya dan tak habis pikir. “Bagaimana bisa kami


berkomitmen. Sedang aku tak merasa sesuatu pun di dalam sini” tunjuknya pada salah


satu foto.


Kembali jarinya men-scroll ke layar. Di sana terpampang foto-foto


Suti saat sedang beraktifitas. Tak ada pose seperti seorang model, yang sadar


akan keberadaan kamera.


Posisinya menyamping, dari belakang atau pun Gerakan-gerakan


ketidak sengajaan yang tertangkap oleh kamera.


Jodi terkekeh pelan, saat melihat pose kekasih hati di salah satu


halte bus dekat kantor. Hujan deras memenuhi tangkapan layar. Hanya ada dua orang


yang bernaung saat itu. Di depan mereka tampak mobil sedan pribadi melintas


kencang. Ban mobilnya mencipratkan banyak air berwarna coklat ke tubuh Suti dan


orang disebelahnya.


Wanita itu menghentakan kedua kaki ke tanah. Dan mengacungkan jari


kekesalan.


Yah, pose semua foto itu diambil oleh anak buah Jeff yang menyamar


menjadi seorang mahasiswa dari kampus ‘Bens’.


“Pasti dia marah besar dengan keadaan basah kuyup” kekeh Jodi Kembali.


“Heemms, sayang kita akan bersatu Kembali, seperti dulu merajut


hari-hari penuh cinta. Sabarlah aku akan mewujudkan keinginan kita berdua”


janji Jay dalam benak.


Meletakan handphone-nya ke dada, Jay pun tertidur pulas. Dengkuran


halus pun terdengar di ruangan itu. Andrew yang hendak melaporkan hasil


koordinasi dengan sang bodyguard, mengurungkan niatnya saat melihat sang bos


yang tertidur di kursi.


Dia pun kembali menutup pintu ruang dengan pelan sebelum beranjak kembali


ke meja kerjanya. “Selamat istirahat, bos. Semoga kebahagiaan menghampirimu


saat bangun nanti,” batinnya.


***


Clark’s Mansion.


Sebentar berjalan dengan kaki manusia tak lama kemudian melata


kembali. Yah…kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan Suti selama tinggal di Mansion.


Pasca hukuman yang diterimanya dari Nogo Sosro.

__ADS_1


Tubuhnya yang berubah-ubah merupakan refleksi ketidak mampuannya


dalam mengendalikan ilmu warisan leluhur yang bersarang di raganya.


Kalimat yang tidak bisa diganggu gugat dari sang guru, membuat dia


menerima kondisi tersebut dengan lapang dada. Meskipun batinnya menjerit memberontak.


Terkadang umpatan terlontar, saat sang makhluk dengan seenaknya


menampakan diri. Sehingga merusak moodnya.


Clark si pemilik rumah, hanya bisa memberikan petunjuk yang tak


berarti dalam mengontrol perwujudan itu. Dia sendiri merasa heran, “Bagaimana


bisa makhluk itu berbeda dengan punyaku?” pikirnya.


“Kendalikan dirimu, Suti”. Kata Clark suatu hari.


“Sudah tapi tak berhasil,” jawabnya berputus asa.


“Lebih keras lagi mengendalikannya”.


“Haaiiish, sudahlah biarkan dia berbuat semaunya. Asal tidak


membodohiku”.


Dia pun ngeloyor pergi ke kebun bunga di halaman belakang. Mengambil


semprotan air berisikan nutrisi tanaman. Kemudian menyemprotkannya ke bunga


anggrek yang ada disana.


Mulutnya menyanyikan lagu ‘A jar of heart’ mengikuti lantunan sang


idola dari MP3 player di telepon genggam.


Ekornya pun melenggok ke kanan dan kiri mengikuti irama lagu. Sangat


menghibur.


Tak sengaja salah satu anggrek terjatuh dari kaitan rak bunga. Dia


terhenyak, “Aih…sontoloyo!”


“Hei jaga bicaramu, nona” kata Suti.


“Hi…hi…hi. Aku bukan nona, ingat?”


“Aku tahu-tapi ini tubuhku, kan?”


“Iya…ya…ya. Tak ada orang lain juga”.


“Apa! Bukankah ada Mr. Clark dan para pembantu?”


“Bleh~mereka kan sudah terbiasa, gadis bodoh,” ejek makhluk itu.


“Awas saja kau nanti,” ancam Suti.


“Wuuiiih…takuut,” sambil memanjangkan tubuhnya ke atas.


“Awas bunga yang di atas!” teriak Suti.


“Cih, paling-paling jatuh”.


“Kamu…ya”.


“Ya…kamu. Hi…hi…hi”.


“Haah, sudah lah capek debat sama makhluk tak berakhlak sepertimu”.


“Ssssssssh…“ hanya desisan sebagai jawabannya.


Clark yang masih dalam posisi berdiri dibelakang Suti, hanya bisa


memandangi interaksi keduanya. Tersenyum dengan tingkah laku yang ditunjukan


dua jiwa dalam satu badan tersebut.


Tak lama kemudian deringan telepon terdengar. Sang pemilik mansion

__ADS_1


menjawabnya sambil melangkah menuju ruang kerja di lantai dua. Meninggalkan mereka


yang saat ini tengah melangsungkan perdebatan.


__ADS_2