
Cartwright building.
Pagi yang cerah, hanya tampak awan tipis yang sedang beriringan
mengikuti hembusan angin ke barat. Warna biru yang mendominasi di atas sana,
menebarkan pesona bagi setiap orang yang sedang beraktifitas di bumi ini.
Kerumitan lalu Lalang kendaraan di jalan raya, tertangkap oleh
pandangan seorang pria dari ketinggian kantornya yang berada di lantai dua
puluh.
Memandang kebawah sana sejenak. Setelahnya dia mendongakan kepala ke
arah birunya langit yang semakin cerah oleh sinar matahari.
Seharusnya keindahan alam itu mempengaruhi jiwanya. Tapi nyatanya
tidak. Situasi berbanding terbalik dengan batin serta perasaannya.
Jodi menempelkan telapak tangan kanannya ke jendela di hadapan. Menuliskan
tanda love ke kaca dengan jari telunjuk. Kemudian memejamkan mata sambil
memikirkan seseorang yang akhir-akhir ini memenuhi batin serta pikirannya.
“Sutiii” gumamnya pelan. “Apa yang harus kulakukan?” dia pun
menggelengkan kepalanya pelan.
Membalikan badannya menuju ke meja kerja. Meraih gagang telepon
lantas memencet tombol dua.
“Andrew bisakah kamu kesini sebentar?”
“Baik bos” sahutan dari balik telepon terdengar.
Sang asisten pribadi pun bergegas memposisikan dirinya, duduk di
depan meja kerja, saat dia telah berada dalam kantor Jay.
“Apa kamu sudah membereskan Dico hotel and travelling, Ndrew?”
“Dalam proses, bos”.
“Bisa kah dipercepat?”
“Bisa bos, tapi kita butuh bantuan Marcellina”.
“Tunanganku?”
“Betul bos. Apa anda tidak apa-apa dengan itu?”
Berpikir sejenak sebelum membuat keputusan yang sulit. Jay pun
mengangguk pasti.
“Bagaimana dengan nyonya besar?”
“Kamu tak perlu menghawatirkan itu, Ndrew. Mama urusanku
selebihnya kerjakan tugasmu dengan baik. Mintalah bantuan Jeff dan Bondan”.
“Oke bos”.
“Hem”.
Setelah Andrew meninggalkan ruangan, dia mulai menjalankan misi
dari sang majikan dengan menghubungi para bodyguard yang ada di base.
Jeff selaku sang pimpinan misi, mendengarkan semua rencana yang
dilontarkan oleh Andrew dengan seksama. Bahkan dia menambahkan lagi ide-ide
spektakular, sehingga tugas itu berjalan tanpa cela.
Ketika kata ‘sepakat’ terlontar dari bibir kedua lelaki itu. Pembicaraan
__ADS_1
melalui telepon pun ditutup. Menyisakan senyuman puas sang asisten di wajah.
Jodi yang merasa galau, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Menempelkan
kepala pada bantalan kursi. Memejamkan netranya sejenak. Saat sesuatu melintas
di kepalanya, Jodi pun membuka matanya lebar-lebar. Dan meraih telepon genggam
yang ada di meja.
Menggulirkan layar ke tempat penyimpanan foto-foto Marcella, sang
tunangan. Tak ada kilatan apa pun dalam perasaan, saat netranya melihat
pose-pose mesra yang ditunjukan oleh calon istri.
Mengkerutkan dahinya dan tak habis pikir. “Bagaimana bisa kami
berkomitmen. Sedang aku tak merasa sesuatu pun di dalam sini” tunjuknya pada salah
satu foto.
Kembali jarinya men-scroll ke layar. Di sana terpampang foto-foto
Suti saat sedang beraktifitas. Tak ada pose seperti seorang model, yang sadar
akan keberadaan kamera.
Posisinya menyamping, dari belakang atau pun Gerakan-gerakan
ketidak sengajaan yang tertangkap oleh kamera.
Jodi terkekeh pelan, saat melihat pose kekasih hati di salah satu
halte bus dekat kantor. Hujan deras memenuhi tangkapan layar. Hanya ada dua orang
yang bernaung saat itu. Di depan mereka tampak mobil sedan pribadi melintas
kencang. Ban mobilnya mencipratkan banyak air berwarna coklat ke tubuh Suti dan
orang disebelahnya.
Wanita itu menghentakan kedua kaki ke tanah. Dan mengacungkan jari
kekesalan.
Yah, pose semua foto itu diambil oleh anak buah Jeff yang menyamar
menjadi seorang mahasiswa dari kampus ‘Bens’.
“Pasti dia marah besar dengan keadaan basah kuyup” kekeh Jodi Kembali.
“Heemms, sayang kita akan bersatu Kembali, seperti dulu merajut
hari-hari penuh cinta. Sabarlah aku akan mewujudkan keinginan kita berdua”
janji Jay dalam benak.
Meletakan handphone-nya ke dada, Jay pun tertidur pulas. Dengkuran
halus pun terdengar di ruangan itu. Andrew yang hendak melaporkan hasil
koordinasi dengan sang bodyguard, mengurungkan niatnya saat melihat sang bos
yang tertidur di kursi.
Dia pun kembali menutup pintu ruang dengan pelan sebelum beranjak kembali
ke meja kerjanya. “Selamat istirahat, bos. Semoga kebahagiaan menghampirimu
saat bangun nanti,” batinnya.
***
Clark’s Mansion.
Sebentar berjalan dengan kaki manusia tak lama kemudian melata
kembali. Yah…kegiatan itu sudah menjadi kebiasaan Suti selama tinggal di Mansion.
Pasca hukuman yang diterimanya dari Nogo Sosro.
__ADS_1
Tubuhnya yang berubah-ubah merupakan refleksi ketidak mampuannya
dalam mengendalikan ilmu warisan leluhur yang bersarang di raganya.
Kalimat yang tidak bisa diganggu gugat dari sang guru, membuat dia
menerima kondisi tersebut dengan lapang dada. Meskipun batinnya menjerit memberontak.
Terkadang umpatan terlontar, saat sang makhluk dengan seenaknya
menampakan diri. Sehingga merusak moodnya.
Clark si pemilik rumah, hanya bisa memberikan petunjuk yang tak
berarti dalam mengontrol perwujudan itu. Dia sendiri merasa heran, “Bagaimana
bisa makhluk itu berbeda dengan punyaku?” pikirnya.
“Kendalikan dirimu, Suti”. Kata Clark suatu hari.
“Sudah tapi tak berhasil,” jawabnya berputus asa.
“Lebih keras lagi mengendalikannya”.
“Haaiiish, sudahlah biarkan dia berbuat semaunya. Asal tidak
membodohiku”.
Dia pun ngeloyor pergi ke kebun bunga di halaman belakang. Mengambil
semprotan air berisikan nutrisi tanaman. Kemudian menyemprotkannya ke bunga
anggrek yang ada disana.
Mulutnya menyanyikan lagu ‘A jar of heart’ mengikuti lantunan sang
idola dari MP3 player di telepon genggam.
Ekornya pun melenggok ke kanan dan kiri mengikuti irama lagu. Sangat
menghibur.
Tak sengaja salah satu anggrek terjatuh dari kaitan rak bunga. Dia
terhenyak, “Aih…sontoloyo!”
“Hei jaga bicaramu, nona” kata Suti.
“Hi…hi…hi. Aku bukan nona, ingat?”
“Aku tahu-tapi ini tubuhku, kan?”
“Iya…ya…ya. Tak ada orang lain juga”.
“Apa! Bukankah ada Mr. Clark dan para pembantu?”
“Bleh~mereka kan sudah terbiasa, gadis bodoh,” ejek makhluk itu.
“Awas saja kau nanti,” ancam Suti.
“Wuuiiih…takuut,” sambil memanjangkan tubuhnya ke atas.
“Awas bunga yang di atas!” teriak Suti.
“Cih, paling-paling jatuh”.
“Kamu…ya”.
“Ya…kamu. Hi…hi…hi”.
“Haah, sudah lah capek debat sama makhluk tak berakhlak sepertimu”.
“Ssssssssh…“ hanya desisan sebagai jawabannya.
Clark yang masih dalam posisi berdiri dibelakang Suti, hanya bisa
memandangi interaksi keduanya. Tersenyum dengan tingkah laku yang ditunjukan
dua jiwa dalam satu badan tersebut.
Tak lama kemudian deringan telepon terdengar. Sang pemilik mansion
__ADS_1
menjawabnya sambil melangkah menuju ruang kerja di lantai dua. Meninggalkan mereka
yang saat ini tengah melangsungkan perdebatan.