
POV DAVID
Aku David Robinson sang asisten pribadi Mr. Clark Robinson.
“Kalian pasti berpikir jika aku adalah keluarga dari majikanku, kan? Kalian
salah”.
Namaku kuperoleh ketika tanpa sengaja Mr. Clark memergokiku mencuri
roti di kawasan Melbourne. Pemilik toko yang tak terima dengan kelakuanku,
hendak melaporkan ke polisi.
Tapi dicegah oleh beliau, yang mau membayar semua kerugiannya.
Termasuk membelikanku banyak makanan untuk dibawa ke jembatan tempatku tinggal.
Semuanya kubagi kepada orang-orang yang bernasib sama denganku.
Dan Mr. Clark mengajak jalan-jalan di sekitar jembatan sesudahnya.
Aku yang masih berusia sepuluh tahun, diajak diskusi oleh bosku
tentang pandangan hidup. Target-target masa depan yang harus kugapai nantinya.
Sehingga saat itu juga, mataku terbuka bahwa hidup tak hanya
berurusan dengan makan, minum dan berpakaian yang layak. Tapi jauh di atas
semuanya, masih ada yang harus kita capai.
Sehingga aku menurut saja saat beliau mengajak tinggal dirumahnya
dan memberiku pendidikan yang tinggi. Tentu saja berimbas dengan kehidupanku
yang jauh dari kata miskin.
Makan makanan yang bergizi menu mewah pula. Yang tak pernah
terpikirkan olehku saat hidup di kolong jembatan.
Bahkan dikuliahkan ke Amerika tentang bisnis dan manajemen
perusahaan. Dan beliau memberiku nama keluarganya. “Bisa dibayangkan betapa
beruntungnya aku, kan?”
Walaupun aku juga harus mengerti akan keanehan sifat papa
angkatku, yang belakangan ini kuketahui dampak dari ilmu kanoragan Naga Lelono-nya.
Tapi dibalik kekejaman yang dipunyainya, aku tahu jika bosku
adalah orang yang baik hati dan penyayang.
Dan disinilah aku sekarang membantu sang pewaris meneruskan bisnis
__ADS_1
keluarga The Robinson atau Peter Jansen.
Permusuhanku dengan tuan Jay dulu sangat kentara. Kalau ditanya,
“Apa penyebabnya? Tentu saja aku tidak bisa menjawab. Karena secara pribadi aku
tak punya dendam apa pun. Kecuali mengikuti perasaan bos sekaligus ayah
angkatku. He…he…he. Lucu ya”.
“But all are fine, now. Karena nyonya Suti sudah bersatu lagi
dengan suaminya. Dan mereka baik-baik saja. Jadi tak ada alasan bagiku untuk
menyimpan dendam, kan?”
“Permasalahannya sekarang, aku sedang dalam mode persaingan dengan
Andrew untuk memperebutkan cinta dua bersaudara ‘Santi dan Sinta’, nanny dari
si kembar The Cartwright”.
“Kalau boleh jujur sih, aku lebih menyukai kakaknya yang bernama Santi.
Dia lebih lembut dan kalem, meskipun saat berkelahi dalam latihan sangat garang
dan lincah. Dua kali aku terbanting dalam ‘Trial fighting’ itu. But it’s okay,
aku suka gadis ganas. Ha…ha…ha”.
“Papa Clark Robinson, restui kami ya”.
***
POV ANDREW.
“Gedeg aku dengan David. Bagaimana bisa dia juga menyukai Santi. Gadis
manis pengasuh Arsen. Mengapa dia tidak menyukai adiknya saja? Padahal Sinta
tak kalah cantik dengan kakaknya?”.
“Aku bisa mengalahkan Santi dalam trial fighting. Kedudukan kami
dua-satu. Poinku dua dan dia satu. He…he…he”.
“Kalau dipikir, mengapa kita berebut? Bukankah ada dua gadis manis
dengan kemampuan sama. Bedanya yang satu cerewetnya minta ampun. Sampai sering
kututup telingaku mendengar bicaranya. Apalagi kita sering ketemu di Mansion,
saat aku mengikuti Mr, Jay”.
“Ada saja yang menjadi bahan pembicaraan, ketika aku ingin diam. Itu
yang membuatku sedikit jengah”.
__ADS_1
“Tapi dibalik itu semua, aku bersyukur dengan bersatunya bos
dengan istrinya. Karena kusadari ternyata sifat jahat Mr. Jay adalah kamuflase
dari rasa cintanya yang begitu besar terhadap nyonya Suti”.
“Baiklah”.
“Aku adalah Andrew Hariyanto. Kalau ada yang bertanya mengapa
namaku seperti orang asing? Apakah aku seorang expratriat? Jawabannya tidak. Aku
asli pribumi dengan tubuh tinggi, berotot dan hidung pesek. Wajahku manis khas
orang Jawa”.
“Mengapa namaku Andrew? Itu karena ibuku pengemar dari bintang
film yang bernama ‘Andrew white’. Ha…ha…ha. But it’s okay nama ini membawa
keberuntungan bagiku”.
Dua jenjang dibawah Mr. Jay, saat kuliah, aku sering berkegiatan
di pecinta alam dan bermusik dengan kakak tingkatku ini.
Orangnya baik dan tidak sombong meskipun dia terkenal dan dapat
orderan manggung dimana-mana.
Dengan kegemaran kami yang sama, jadilah kita bestie meskipun tak
terlalu dekat. Apalagi saat dia lulus kuliah terlebih dahulu, jarak kami
semakin jauh.
Sampai suatu ketika aku bertemu dengan kak Jay lagi di acara
seminar kampus. Temanya ‘Kiat sukses pengusaha lokal’, dia adalah salah satu
pembicaranya.
Aku yang sedang butuh pekerjaan, mendekat padanya. Mengingatkan pertemanan
kami dan akhirnya jadilah aku asisten pribadinya.
Mengikuti semua jalan pikiran dan sepak terjangnya, meskipun
terkadang bertentangan dengan sifat-sifatku. “Tapi apa mau dikata? He’s the big
bos, okay”.
“Ternyata feelingku benar jika Mr. Jay adalah orang baik”.
Dan disinilah aku sekarang dengan kesuksesanku. Yang tengah
memperebutkan cinta seorang gadis dengan asisten nyonya Suti. “Bapak ibuk
__ADS_1
restui anakmu agar dapat bersanding dengan Santi, ya?”