
Clark’s building.
“Bos ada undangan dari The Cartwright Company, “kata sang asisten
begitu kepalanya menyembul dari balik pintu.
“Masuklah, jangan hanya kepalamu saja Dave. Dan bawa undangannya
kemari”.
Membuka lebar pintu ruangan dia pun melangkah mendekati sang bos
yang tak mengalihkan pandangan dari laptopnya.
“Besok malam bos”.
“Heem?”
“Merayakan kesuksesannya dalam meraih keuntungan. Dan keberhasilan
mengambil alih perusahaan cabang di Inggris dan Amerika”.
“Ah, akhirnya mereka bisa direbut kembali. Sangat luar biasa, “menyanggah
dagu dan menatap intens ke sang asisten. “Tell me more about it?”
“Suami anda~maksud saya mantan suami anda adalah pekerja keras
yang pantang menyerah meskipun dalam kondisi terpuruk. Bahkan perusahaan yang
ada di kota sudah pulih seratus persen”.
“So?”
“Kita pun dapat imbas keuntungannya, bos”.
“Tentu saja Dave. Hal ini membuatku bersemangat”.
“Jadi anda akan datang bos?”
“Absolutely. Bacakan venue dan waktunya’.
“Hotel horizon pukul delapan malam”.
“Fine aku akan menghadirinya. Konfirmasikan ke mereka jika kita
berdua yang akan datang”.
“Oke bos. Aku akan konfirmasi ke Andrew”.
“Good”.
“Saya permisi bos”.
“Baiklah”.
Suti berjalan menuju kulkas kecil tempat minuman berada. Mengambil
jus buah dalam botol. Menenggaknya saat tutupnya telah dibuka. Tenggorokannya
yang kering pun terasa basah kembali.
Minuman yang masih tersisa seperempatnya dia kembalikan lagi ke posisi
semula. Setelahnya beranjak kembali ke meja kerja untuk melanjutkan kegiatan yang
__ADS_1
tertunda. Dan gerakan tangan lincah di atas tuts keyboard pun kembali terlihat.
***
Sabtu malam saat perayaan The Cartwright.
Dalam aula hotel dihiasi dengan berbagai macam pernak-pernik
perayaan. Bahkan di atas panggung terpasang slide raksasa yang tengah
menampilkan progress perusahaan.
Karpet merah tergelar dari pintu masuk menuju panggung. Sebagai
jalan para undangan menuju kursi masing-masing.
Lalu lalang para penerima tamu menambah kesibukan dalam ruangan. Berganti
petugas saat para undangan menunjukan kertas tebal bertinta emas kepada mereka.
Dan salah satu pria berpakaian setelan lengkap mengecek catatannya di layar
monitor PC, untuk mengetahui nama dan posisi yang telah disiapkan oleh
perusahaan bagi para tamu.
Lelaki yang bertugas itu pun memerintahkan para pengantar tamu
yang siap sedia dibelakangnya untuk mengantar mereka ke meja yang ditentukan.
Kilatan kamera para pemburu berita, berkilau saat para tamu turun
dari kendaraan di depan pintu utama. Mengajukan beberapa pertanyaan kepada para
tamu undangan sebelum mereka memasuki gedung pesta.
Ukiran naga yang terbuat dari buah-buahan berada tepat di tengah meja. Dengan
ucapan selamat kepada kemajuan The Cartwright Company yang diukir diatasnya.
Sedangkan di kursi kehormatan telah duduk Laura, sang nyonya besar
dari perusahaan. Auranya memancarkan kebahagiaan yang sangat. Berkali-kali
mengangguk serta tersenyum kepada para undangan yang mengucapkan selamat
kepadanya.
Netranya mulai mencari anak semata wayangnya, saat para tamu sudah
hampir memenuhi kursi undangan. Dia menenangkan diri dengan ketidak hadiran
sang putra yang seharusnya menyambut para tamu.
Menjentikan jarinya ke arah bodyguard yang siap siaga disisi aula.
Lelaki berpakain serba hitam pun mendekat. Membisikan sesuatu ditelinganya,
mama Laura pun memerintahkan pengawal pribadi untuk meninggalkan ruangan.
Sang MC mulai mengumumkan bahwa acara akan segera dimulai. Lampu
disetiap sisi aula pun dipadamkan. Menyisakan sinar lampu-lampu Kristal di
tengah aula yang menyala dengan terang.
__ADS_1
Kesibukan para koki dan demi chef pun tersamarkan oleh keremangan.
Dan semua undangan yang hadir akhirnya bisa terfokuskan dengan kegiatan di atas
panggung.
Tiba saatnya acara utama, pidato Jodi selaku tuan rumah. Tapi dia
belum tampak berada di atas sana, meskipun sudah tiga kali sang pengatur acara
memanggilnya.
Kembali Laura memanggil bodyguardnya, meminta agar MC menampilkan
acara dibawah lists sesudah pidato Jodi.
Pertunjukan pun kembali bergulir dengan tampilan pelawak dan stand
comedian dari ibu kota. Para tamu kembali menatap panggung yang penuh dengan
candaan dari sang entertainer.
Sementara itu, Bondan mengelilingi lantai tiga dimana kamar yang
dibooking oleh sang majikan berada. Mengetuk kamar nomor 302 berkali-kali.
Namun tak ada jawaban disana.
Sang pengawal pun menelepon layanan kamar untuk membawakannya
kunci cadangan. Tak beberapa lama petugasnya datang dan membukakan pintu.
Bondan mengecek keberadaan sang bos di balkon dan kamar mandi,
tapi tak ada jejak apapun disana. Dia pun turun ke lantai dasar dengan diikuti
petugas hotel.
Mencapai resepsionis dekat pintu utama, netra Bondan melihat sang
bos yang tengah duduk di lounge menghisap rokok. Menyilangkan kaki dengan
santainya tanpa melepaskan pandangan dari jalan masuk para tamu undangan.
Si bodyguard berjalan mendekati Jodi dan angkat bicara.
“Bos ditunggu nyonya besar. Ini sudah waktunya anda berpidato”.
Menjentikan abu rokok ke dalam asbak dimeja sebelum mengalihkan
pandangan ke lelaki didepannya.
“Biar Andrew yang melakukannya”.
“Tapi bos”.
“Aku sedang menunggu tamu istimewa Bondan. Bilang pada mama dia
lebih penting dari pidatoku”.
Mengangguk pasrah saat netranya bersirobok dengan sang bos yang
penuh harap akan sesuatu.
“Oke bos akan saya sampaikan”.
__ADS_1
“Heem”.