MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXVI


__ADS_3

“Blaaaar”.


“Duaaar”.


“Jegleeer”.


“He…he…he. Hanya itu kemampuanmu”.


Pria tua itu hanya terkekeh geli menerima semua serangan pria bule


yang memakai baju serba hitam dari langit-langit gua.


Ciutan angin berbentuk bulan sabit pun menyusul menyerang tubuhnya


dari berbagai arah. Dia hanya bergeser sedikit ke kiri dan kanan. Kadangkala


sedikit menunduk, menghindari serangan ke kepalanya.


Tangannya bergerak ke depan dada membentuk bola api besar dan,


“Blaaap”. Clark pun terjatuh ke tanah.


“Bagaimana~masih ingin melanjutkan permainan ini?”


“Aku belum selesai denganmu, ki”.


“Baiklah…keluarkan semua kemampuanmu, bule gendeng”.


Ki nogo pun meladeni semua serangan yang datang bertubi-tubi.


Hingga teriakan Clark nyaring terdengar, saat dadanya terasa panas oleh pukulan


jarak jauh pria tua itu.


Kekehan kembali terdengar. Tiba-tiba ki Nogo membungkuk ke depan


menghindari serangan dari punggungnya.


“Hei jangan jadi pengecut, hanya menyerang dari belakang! Tunjukan


dirimu sebelum aku menyeretmu keluar!”


“Siut…cuit. Blaaar,” menghantam tembok kosong dalam gua.


“What the hell! Dia kuat sekali!” sosok yang menyerang ki Nogo pun


muncul.


“Heemms, semakin banyak bule berkekuatan pribumi rupanya. Siapa


kamu?”


“Apa pedulimu pria tua. Jangan banyak bacot,” tangannya bergerak


ke atas dan membuat gerakan membanting.


Dengan kibasan tangan, serangan wanita itu memental ke samping


mengenai sudut gua. Tak membuahkan hasil kembali dia menyerang ki Nogo. Hingga akhirnya


tubuhnya terjungkal ke tanah. Tak bergerak.


Clark yang perlahan tenaganya mulai pulih. Kembali melancarkan


serangan ke arah pria tua itu. Tapi lagi dan lagi semuanya di patahkan dengan


mudahnya.


Bahkan Sarah sampai muntah darah terkena aji paku bumi menghantam


langit level tiga dari ki Nogo. Perempuan tersebut tak sadarkan diri dekat


altar pertapaan.


Tinggalah Clark yang duduk bersila sambil merapal mantra. Tubuhnya


bergetar sesaat sebelum mengeluarkan asap putih dari ubun-ubunnya.


Kepulan itu membentuk sosok Peter Jansen ditemani wujud iblisnya.


“He…he…he. Akhirnya kamu muncul juga Lelono”.


“Ya…ki. Aku ingin kamu menyerahkan nyawamu”.


“Ambilah kalau kamu mampu, anak nakal”.

__ADS_1


“Duuuar. Jeglaar,” suara serangan beradu kembali terdengar.


Hingga, “Ampun-ampun ki. Aku menyerah. Bunuh aku”.


“He…he…he. Mengapa aku harus membunuhmu, Jansen?”


“Hidupku sudah tak ada artinya, ki. Perjalananku selama


berabad-abad ini sia-sia. Aku tetap tidak bisa menemui Darsi istriku. Hiks…”


“Apakah kau ingin menemuinya?”


“Sangat, ki. Bantu aku”.


“Panggil iblis pasanganmu kemari”.


“Tidaak! Aku tidak mau kau mencelakainya. Aku sangat menyayangi


Suti”.


“Jansen, gadis itu hanya wadahnya. Sukma yang merasuki adalah


kekuatan istrimu. Jika kamu bisa memanggilnya berarti Darsi juga akan muncul”.


“Ba-bagaimana bisa, ki?”


“Lihatlah,” telapak ki Nogo mengarah ke depan.


Munculah sebuah lingkaran seperti cermin yang memantulkan kilasan


kejadian yang ditanyakan Jansen.


Pria itu hanya menangis tergugu, saat kebenaran yang dicarinya


selama ini terpampang jelas di matanya. Kesedihannya…kerinduannya selama hidup


terjawab sudah.


“Bantu aku, ki” pasrahnya kembali.


“Baiklah. Panggil Suti”.


Kidungan pemanggil sukma pun terdengar dari mulut Jansen.


Perlahan-lahan angin mulai berhembus kencang. Kilatan petir disertai bunyi


Malam pun semakin mencekam dengan kehadiran wujud asli yang


menempati raga Suti. Wanita bertubuh setengah ular. Pupilnya lancip dan


berwarna hijau dengan taring panjang di sudut bibirnya.


Menjulurkan lidah kesana kemari, makhluk melata itu


menghampiri Jansen dan ki Nogo.


“Sssssssh, ada apa kalian memanggilku?”


“Duduk bocah nakal,” perintah ki Nogo.


“Kau mau apa Ki? Sssssssssssssssshhhhh”.


“Sudah saatnya kalian bertemu”.


“Maksudmu saudaraku, ki?”


“Ya…suruh Darsi keluar”.


“Hi….hi…hi. Dia tidak mau. Sssssssssssssssshhh, dia lagi


tertidur”.


“Jangan sampai aku memaksamu, Naga gini”.


“Dia tidak mau, ki. Selama yang dihadapannya ini bukan Jansen”.


“Bagaimana kamu tahu kalau itu bukan dia”.


“Hi~hi jangan tertipu dengan penampilannya. Kita adalah saudara


kembar, ingat? Dan satu lagi, ki. Kita sudah melewati masa yang berbeda


denganmu dulu. Jadi, hi…hi…hi. Tipuan kami lebih canggih”.


“Betulkah itu lelono?”

__ADS_1


Dalam sekejap Jansen mengulas senyum jahat ke arah pria tua


dihadapannya. Mengarahkan serangan langsung dalam jarak sedepa.


Dan, “Blasssh,” tepat mengenai jantung si petapa.


Dia pun terjungkal ke belakang. Memuntahkan seteguk darah segar.


“Ha…ha…ha. Bodoh kau, ki”.


“Heeem. Licik. Cuih!”


Sang guru pun melotot, merasa tertipu daya. Dan segera menempelkan


telapak tangan ke tanah. Memejamkan dan merapal mantra.


Dalam sekejap bumi bergetar. Hawa panas pun menyebar.


“Jlasssh,” Clark berjumpalitan di udara. Sebelum tubuhnya


menghantam bumi. Dengan suara patahan tulang nyaring terdengar.


Bukannya menjerit sakit, pria bule itu malah tertawa lebar. Bangkit


berdiri, kokoh dan melancarkan serangan balasan.


Kali ini, dia menggunakan ilmu silat yang dipadu dengan karate. Dan


detik berikutnya menjadi gerakan tae kwon do.


Ki Nogo merasa kebingungan dengan gerakan Clark yang berubah-ubah.


Dia pun mengubah strategi serangannya. Menutup kedua mata dengan udeng dan


mengandalkan indera pendengaran dan penciumannya.


Semua serangan yang dilancarkan Clark pun mental. Dan membalik


keadaan tiga ratus enam puluh derajat. Ki Nogo menang telak.


Kekehan sang pria bijaksana kembali terdengar.


“Bagaimana bocah nakal. Masih ingin melanjutkan?”


“Bedebah!” Clark melancarkan ilmu pamungkasnya. Kilat menyambar


bumi.


“Jeglaaaar”. Gua pun runtuh.


Sebuah sinar melesat keluar bersamaan dengan hancurnya tempat


petapaan. Meninggalkan remahan bebatuan.


Kembali hutan ringgit menjadi sunyi. Menyisakan suara jangkrik dan


binatang malam. Kegelapan pun melanda.


Suara lolongan serigala terdengar dari kejauhan. Samar-samar sang


purnama mulai muncul. Saat sinar sempurnanya membelai bumi. Terlihat gua yang


rata dengan tanah.


Diantara tumpukan, sesuatu bergerak menyembul keluar. Dimulai dari


telapak tangan hingga munculah sosoknya.


Dia mengibas-ngibaskan semua debu yang melekat di tubuh. Setelah itu


pandangannya menyorot ke depan. Dimana ketiga sosok makhluk yang bernyawa


tengah tergeletak. Tak bergerak hanya gerakan dadanya yang naik turun,


menandakan masih ada kehidupan disana.


“Heemmms, kalian masih hidup rupanya”. Sosok yang muncul dari


reruntuhan pun mengelus janggutnya.


Memasang kuda-kuda. Mengarahkan satu tangan ke atas. Kilat pun


berada dalam genggaman. Perlahan dia melangkah mendekati tiga sosok yang


tergeletak di hadapan. Matanya pun kembali menajam. Menelisik setiap jengkal

__ADS_1


raga yang tak sadarkan diri.


__ADS_2