
Melangkah malu-malu, Jay mendekati Lek Parjo yang tengah bersemedi
di museum keluarga. Pria paruh baya itu mengenakan pakaian hitam dan udeng
batik merah, ciri khas dari baju padepokan ilmu kanoragan jaman dahulu.
Diraihnya orang tua itu dengan kedua tangannya, tapi tak berhasil.
Berkali-kali dia memanggil namanya, tak juga dia menoleh. Jay pun berputus asa.
Lantas mendudukan dirinya di balik punggung mertuanya. Menunggu dengan sabar
sampai dia menyelesaikan ritual.
Saat kepulan asap putih menghilang dari hadapan sang pria paruh
baya. Dia pun membalikan badannya ke arah Jay.
“Ada apa Jay, sudah puas jalan-jalannya?”
“Sudah lek. Aku ingin pulang”.
“Kamu sudah menemukan jawaban dari semua ini?”
“Belum. Masih ada sedikit hal yang membebaniku, lek”.
“Lalu?”
“A~aku menyesalinya. Seharusnya aku tidak sejahat itu pada
mereka”.
“Ingat Jay. Selama kamu belum bisa menerima istrimu apa adanya.
Kalian tidak akan pernah bisa bersatu. Kamu akan terjebak dalam dimensi ini.
Dan Suti tidak akan pernah bisa menghilangkan wujud iblisnya”.
“Aku tahu, lek. Hiks…bisakah aku kembali ke dalam tubuhku. Kasihan
mama, dia sangat sedih atas kejadian ini. Dan aku juga merindukan istriku”.
“Bagaimana dengan sesuatu yang mengganjal di antara kalian?”
“Ak-aku akan berusaha menerimanya, lek”.
“Ingat Jodi…jika masih ada keraguan di hatimu maka iblis itu akan
selalu muncul untuk melampiaskan dendamnya. Kutukan ini berasal dari
keluargamu. Takdir yang tidak bisa diubah. Kecuali dengan cinta tulus kalian
berdua”.
“Aku akan berusaha, lek. Bantu aku kembali ke tubuhku”.
‘Baiklah…bersiaplah. Tengah malam nanti tepat bulan purnama
bersinar penuh. Saat kekuatan langit dan bumi bertemu. Kamu akan bisa bersatu
dengan ragamu”.
“Terima kasih, lek”.
“Heem”.
***
Mansion Cartwright pagi hari.
__ADS_1
Laura menggeser korden kamar ke samping. Begitu terbuka,
pemandangan halaman belakang nan asri terpampang dengan jelas.
Netranya melihat begitu banyak warna dari anggrek kesayangan dalam
rumah bunga yang dia bangun. “Heemms, bagaimana kabar mereka? Mungkin jika Suti
disini, setidaknya ada yang memberikan nutrisi dan memotong daun yang kering,”
hembusnya kasar.
Binar matanya muncul tatkala mengingat kedua hal menyenangkan yang
melintas dikepala. “Yah, Suti dan taman anggrek kesayangan”.
“Oh dear Bobby, tak inginkah kau muncul sekedar menghiburku dengan
kata-kata, walaupun itu dalam mimpi,” keluhnya.
Membalikan tubuh ke belakang, kembali tubuh Jodi yang terbujur di
kasur tertangkap netranya. Dia terkesiap kala melihat gerakan samar dari tangan
anaknya.
Mengucek matanya berkali-kali. “Be~benarkah itu?”
Kembali dia mendekati kasur tanpa melepaskan tatapan pada tubuh
itu.
Duduk dengan pelan ke sisi Jodi. Dan rasa kecewa kembali
menghampiri tatkala sang anak tak menunjukan reaksi.
“Ap-apa aku tadi bermimpi? Mungkin itu reaksi kerinduanku kepada
Menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah, Laura kembali
berkubang dalam kesedihan yang dalam. “Betapa mengerikannya andai semua ini tak
berakhir. Apa aku akan selamanya hidup dalam kesendirian dan kesepian?”
batinnya.
“Ta-tapi ini bukan dosaku, kan? Mengapa aku yang harus menanggung
karma? Seharusnya cukup sampai di Anne Van Den Berg? Dan kenapa juga aku yang
menjadi keturunannya? Aku tak minta semua ini…hiks” sedu sedannya lirih.
“Oooh, my God. Tunjukan jalan pada hambamu yang penuh dosa ini.
Ampuni aku yang telah menyalahkan jalanmu. Seharusnya aku bersyukur atas garis
keturunan yang kau anugrahkan kepadaku. Maafkan aku granny Anne,” doanya dalam
hati.
Kembali Laura menyeka air matanya yang tak berhenti mengalir
dengan sapu tangan. Meletakan benda itu dekat dengan tangan Jodi. Dia meraih
tangan anaknya dan mengelusnya sayang.
Gerakannya terhenti kala mendengar erangan lirih.
“Jo-Jodi kamu sudah sadar? Suster tolong periksa dia!”
__ADS_1
Terkejut, “Ba-baik nyonya”.
Segera wanita berbaju putih itu, meraih stetoskop di nakas dan
memeriksa denyut jantung sang pasien. Lalu menyesuaikan ritme nadi dengan jam
di pergelangan tangan. Dia pun mengangguk kepada sang nyonya, sebagai tanda
bahwa Jay baik-baik saja.
Laura yang gembira berkali-kali mengucapkan syukur kepada Yang
Maha Kuasa. Menciumi rambut serta pipi Jodi berulang kali.
“Welcome back, my lovely son,” syukurnya lagi.
“Ah ya kita harus memberitahu mertuamu di ruang museum,” lanjutnya
kembali.
“Errr, tak perlu ma. Sebentar lagi lek Parjo pasti kemari”.
“Bagaimana kamu tahu, Jay?”
“Beliau yang membantuku kembali ke tubuh ini”.
“Begitukah? Baiklah…Apa kamu merasa lapar? Atau haus, mungkin?”
tawar Laura kepada anaknya yang baru sadar setelah sekian tahun koma.
“Mom,” kata Jodi sambil mengangkat tangan. “Ambilkan aku air putih
saja”.
“Hem, oke” dia pun memencet tombol intercom di dinding ruang. Meminta
Wati mengantarkan pesanan Jay.
Sambil menunggu, Laura berbincang dengan suster yang merawat anak
semata wayangnya. Tentang asupan makanan yang boleh dan tidak untuk dikonsumsi
selama pemulihan. Dia tampak mengangguk mengerti dengan semua penjelasan yang
dijabarkan.
Kemudian ketukan di pintu terdengar. Dan masuklah sang pembantu
dengan nampan ditangan. Seteko air putih juga gelas berukuran tak terlalu besar
bertengger disana.
Mendekati sang majikan, dia menuangkan air putih ke dalam gelas
dan mengangsurkannya ke mulut Jodi.
“Aaah, segar sekali,” batin Jay sambil mentandaskannya.
Kembali dia menyandarkan badan yang masih lemah ke tumpukan bantal
di punggungnya. Jay melihat sang mama sedang berbicara serius dengan seseorang
dibalik telepon.
Dan mengucapkan, “Ya, kalian bisa kesini besok pagi. Bawa berkas-berkas
itu, juga salah satu pimpinan pemegang saham perusahaan….betul aku ingin mereka
tahu jika sang CEO telah kembali. Terima kasih, Andrew”.
__ADS_1
“Tut”. Laura pun tersenyum.