MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB LXIV


__ADS_3

Melangkah malu-malu, Jay mendekati Lek Parjo yang tengah bersemedi


di museum keluarga. Pria paruh baya itu mengenakan pakaian hitam dan udeng


batik merah, ciri khas dari baju padepokan ilmu kanoragan jaman dahulu.


Diraihnya orang tua itu dengan kedua tangannya, tapi tak berhasil.


Berkali-kali dia memanggil namanya, tak juga dia menoleh. Jay pun berputus asa.


Lantas mendudukan dirinya di balik punggung mertuanya. Menunggu dengan sabar


sampai dia menyelesaikan ritual.


Saat kepulan asap putih menghilang dari hadapan sang pria paruh


baya. Dia pun membalikan badannya ke arah Jay.


“Ada apa Jay, sudah puas jalan-jalannya?”


“Sudah lek. Aku ingin pulang”.


“Kamu sudah menemukan jawaban dari semua ini?”


“Belum. Masih ada sedikit hal yang membebaniku, lek”.


“Lalu?”


“A~aku menyesalinya. Seharusnya aku tidak sejahat itu pada


mereka”.


“Ingat Jay. Selama kamu belum bisa menerima istrimu apa adanya.


Kalian tidak akan pernah bisa bersatu. Kamu akan terjebak dalam dimensi ini.


Dan Suti tidak akan pernah bisa menghilangkan wujud iblisnya”.


“Aku tahu, lek. Hiks…bisakah aku kembali ke dalam tubuhku. Kasihan


mama, dia sangat sedih atas kejadian ini. Dan aku juga merindukan istriku”.


“Bagaimana dengan sesuatu yang mengganjal di antara kalian?”


“Ak-aku akan berusaha menerimanya, lek”.


“Ingat Jodi…jika masih ada keraguan di hatimu maka iblis itu akan


selalu muncul untuk melampiaskan dendamnya. Kutukan ini berasal dari


keluargamu. Takdir yang tidak bisa diubah. Kecuali dengan cinta tulus kalian


berdua”.


“Aku akan berusaha, lek. Bantu aku kembali ke tubuhku”.


‘Baiklah…bersiaplah. Tengah malam nanti tepat bulan purnama


bersinar penuh. Saat kekuatan langit dan bumi bertemu. Kamu akan bisa bersatu


dengan ragamu”.


“Terima kasih, lek”.


“Heem”.


***


Mansion Cartwright pagi hari.

__ADS_1


Laura menggeser korden kamar ke samping. Begitu terbuka,


pemandangan halaman belakang nan asri terpampang dengan jelas.


Netranya melihat begitu banyak warna dari anggrek kesayangan dalam


rumah bunga yang dia bangun. “Heemms, bagaimana kabar mereka? Mungkin jika Suti


disini, setidaknya ada yang memberikan nutrisi dan memotong daun yang kering,”


hembusnya kasar.


Binar matanya muncul tatkala mengingat kedua hal menyenangkan yang


melintas dikepala. “Yah, Suti dan taman anggrek kesayangan”.


“Oh dear Bobby, tak inginkah kau muncul sekedar menghiburku dengan


kata-kata, walaupun itu dalam mimpi,” keluhnya.


Membalikan tubuh ke belakang, kembali tubuh Jodi yang terbujur di


kasur tertangkap netranya. Dia terkesiap kala melihat gerakan samar dari tangan


anaknya.


Mengucek matanya berkali-kali. “Be~benarkah itu?”


Kembali dia mendekati kasur tanpa melepaskan tatapan pada tubuh


itu.


Duduk dengan pelan ke sisi Jodi. Dan rasa kecewa kembali


menghampiri tatkala sang anak tak menunjukan reaksi.


“Ap-apa aku tadi bermimpi? Mungkin itu reaksi kerinduanku kepada


Menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah, Laura kembali


berkubang dalam kesedihan yang dalam. “Betapa mengerikannya andai semua ini tak


berakhir. Apa aku akan selamanya hidup dalam kesendirian dan kesepian?”


batinnya.


“Ta-tapi ini bukan dosaku, kan? Mengapa aku yang harus menanggung


karma? Seharusnya cukup sampai di Anne Van Den Berg? Dan kenapa juga aku yang


menjadi keturunannya? Aku tak minta semua ini…hiks” sedu sedannya lirih.


“Oooh, my God. Tunjukan jalan pada hambamu yang penuh dosa ini.


Ampuni aku yang telah menyalahkan jalanmu. Seharusnya aku bersyukur atas garis


keturunan yang kau anugrahkan kepadaku. Maafkan aku granny Anne,” doanya dalam


hati.


Kembali Laura menyeka air matanya yang tak berhenti mengalir


dengan sapu tangan. Meletakan benda itu dekat dengan tangan Jodi. Dia meraih


tangan anaknya dan mengelusnya sayang.


Gerakannya terhenti kala mendengar erangan lirih.


“Jo-Jodi kamu sudah sadar? Suster tolong periksa dia!”

__ADS_1


Terkejut, “Ba-baik nyonya”.


Segera wanita berbaju putih itu, meraih stetoskop di nakas dan


memeriksa denyut jantung sang pasien. Lalu menyesuaikan ritme nadi dengan jam


di pergelangan tangan. Dia pun mengangguk kepada sang nyonya, sebagai tanda


bahwa Jay baik-baik saja.


Laura yang gembira berkali-kali mengucapkan syukur kepada Yang


Maha Kuasa. Menciumi rambut serta pipi Jodi berulang kali.


“Welcome back, my lovely son,” syukurnya lagi.


“Ah ya kita harus memberitahu mertuamu di ruang museum,” lanjutnya


kembali.


“Errr, tak perlu ma. Sebentar lagi lek Parjo pasti kemari”.


“Bagaimana kamu tahu, Jay?”


“Beliau yang membantuku kembali ke tubuh ini”.


“Begitukah? Baiklah…Apa kamu merasa lapar? Atau haus, mungkin?”


tawar Laura kepada anaknya yang baru sadar setelah sekian tahun koma.


“Mom,” kata Jodi sambil mengangkat tangan. “Ambilkan aku air putih


saja”.


“Hem, oke” dia pun memencet tombol intercom di dinding ruang. Meminta


Wati mengantarkan pesanan Jay.


Sambil menunggu, Laura berbincang dengan suster yang merawat anak


semata wayangnya. Tentang asupan makanan yang boleh dan tidak untuk dikonsumsi


selama pemulihan. Dia tampak mengangguk mengerti dengan semua penjelasan yang


dijabarkan.


Kemudian ketukan di pintu terdengar. Dan masuklah sang pembantu


dengan nampan ditangan. Seteko air putih juga gelas berukuran tak terlalu besar


bertengger disana.


Mendekati sang majikan, dia menuangkan air putih ke dalam gelas


dan mengangsurkannya ke mulut Jodi.


“Aaah, segar sekali,” batin Jay sambil mentandaskannya.


Kembali dia menyandarkan badan yang masih lemah ke tumpukan bantal


di punggungnya. Jay melihat sang mama sedang berbicara serius dengan seseorang


dibalik telepon.


Dan mengucapkan, “Ya, kalian bisa kesini besok pagi. Bawa berkas-berkas


itu, juga salah satu pimpinan pemegang saham perusahaan….betul aku ingin mereka


tahu jika sang CEO telah kembali. Terima kasih, Andrew”.

__ADS_1


“Tut”. Laura pun tersenyum.


__ADS_2