MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XXXII


__ADS_3

Batu, pagi hari.


Clark sedang mengamati pembangunan gedung perkantoran di depannya.


Memegang site plan yang diberikan oleh sang insinyur, dia mencocokan antara


gambar perencanaan dan realisasi bangunan.


Ada beberapa hal yang perlu dia diskusikan kembali dengan sang


perancang bangunan, terutama tentang ruang rahasia di kantor utama presiden


direktur nantinya.


Sesuai dengan kontrak kerjasama mereka diawal jika ada kekurangan


yang tidak merombak struktur gedung secara keseluruhan, maka sang developer


harus menyetujuinya.


Saat semuanya sudah sesuai, Clark beserta asisten pribadi menaiki


tangga menuju lantai dua. Hembusan angin dari utara menerpa keduanya. Karena


belum dibangunnya tembok dari ruangan-ruangan tersebut, Clark dan Andrew bisa


melihat pemandangan dengan bebas.


Tak beberapa lama sang bos memicingkan mata, menatap kearah hutan yang


ada dikejauhan dengan serius. Andrew yang mulai mengerti dengan kebiasaan aneh


si bos, dia pun meninggalkannya sendirian di lantai tersebut.


Bersedekap serta memandang ke utara, Clark mulai bergumam


menyanyikan lagu “Yen ing tawang ono lintang”.


Belum tuntas lagu yang ia nyanyikan, tiba-tiba sebuah sinar melaju


dengan kencang menyerangnya. Dia berkelit ke sisi kanan dan kiri berkali-kali


menghindari serangan tersebut.


Matanya memerah dan rahangnya mengetat. Kerutan di pelipisnya pun


mulai menampakan tonjolan-tonjolan berwarna hiaju. Sedetik kemudian, lidahnya


mulai bercabang dan dia pun mendesis.


“Ssssh….kurang ajar. Siapa kamu berani menyerangku dari belakang?


Tunjukan wajahmu jika kamu punya nyali!”


Tak ada sahutan. Hanya sinar yang seperti bulan sabit kecil itu


semakin bertambah banyak serta menyerang Clark bertubi-tubi.


Tak ingin mati konyol, dia pun duduk bersila dan merapal


mantra-mantra serta menggerakan kedua tangannya kedepan seolah menghalangi


serangan itu.


“Ssssssh…brengsek. Manusia laknat tunjukan wajahmu. Mari bertarung


secara jantan!”


“He….he…he” hanya tawa itu sebagai jawaban.


Dia yang semakin emosi, mempercepat rapalan mantranya. Angin pun


semakin kencang mengiringi dan hujan disertai petir mulai menyambar disekitar


bangunan tersebut.


Tangan Clark terangkat keudara, dia menangkap petir yang ada


dilangit kemudian melemparkannya ke arah hutan dimana serangan itu berasal.


Ledakan terlihat dari kejauhan.


“Rasakan mampus kau!”


Ciutan kilat putih yang menyerangnya pun berhenti. Merasakan hal


itu, Clark pun tertawa jumawa.


“Ha…ha…ha. Manusia bodoh, ilmu mu belum seujung kuku pun


berani-beraninya melawanku”.


Sementara itu Suti berjalan menyusuri perkebunan apel yang ada di


daerah Batu. Dia berjalan dengan santai dan sesekali badannya membungkuk saat


hampir mengenai dahan pohon yang menjuntai kebawah.


Tujuannya hanya satu saat ini, yaitu menemui Hendri di pondok


kebun itu. Dia ingin menuntaskan rasa penasarannya selama ini. Banyak


pertanyaan yang ia akan lontarkan terhadapnya.


Apa yang membuat Hendri menjadi seperti sekarang ini. “Yah,


semuanya harus tuntas saat ini juga”, tekadnya.


Dibelakangnya mengekori si Bondan, sang bodyguard pribadi.


“Hati-hati nyonya muda!” peringatnya ketika melihat sang majikan


tampak tak sabar agar segera sampai ke tempat tujuan.


“Ya”.


Dalam jarak lima puluh meter, netranya menangkap sebuah bangunan


yang terbuat dari papan. Gentingnya tampak agak miring ke salah satu sisi.


Disebelah pintu masuk yang terbuat dari kayu randu, ada bale bambu yang tampak


reyot dan berdebu.


Tergesa dia melangkah kesana. Tak dihiraukan lagi peringatan dari


sang bodyguard untuk berhati-hati dengan tanah becek di sepanjang jalan menuju

__ADS_1


rumah tersebut.


“Tok….tok”.


“Assalamualaikum”.


Tak ada sahutan.


“Kulo nuwun. Permisi” katanya kembali.


“Wallaikumsalam”.


Terdengar langkah kaki diseret sebelum pintu dibuka dari dalam


oleh seorang perempuan yang mengenakan daster.


“Em maaf mencari siapa ya?” sambil memandang Suti takjub.


“Hendri ada?”


“Tidak ada, dia sedang bekerja dikebun. Anda siapa?”


“Saya temannya. Kami satu kampus dulu”.


“Ada perlu apa ya?” nadanya sedikit curiga.


“Ada yang perlu saya bicarakan dengannya. Kami berteman baik dulu.


Boleh saya masuk?”


“Eemmm” jawabnya ragu-ragu sambil melirik ke bale bambu.


“Tak apa, saya bisa duduk dimana saja”.


“Tempat kami kotor, apakah anda tidak jijik dengan hal ini?”


“Hem tidak. Saya sudah terbiasa dengan semua ini”.


“Sungguh?” tanyanya heran.


“Tentu saja. Jadi saya boleh menunggunya disini?” sambil menunjuk


bale bambu itu.


“Si…silahkan. Anda mau teh”.


“Hem, tidak. Tak perlu repot-repot”.


“Baiklah saya tinggal kedalam. Tidak apa-apa kan menunggu


sendirian disini?”


Suti hanya mengangguk.


Tepat jam satu siang, Hendri pulang dengan memanggul karung berisi


apel panenannya. Meletakan karung tersebut disamping rumah, dia terkejut


melihat seseorang yang sedang duduk di bale bambu.


“Ss…Suti!”


“Hei Hendri”.


Dengan langkah ragu, Hendri mendekat. Saat Suti hendak berjabat


“Kenapa Hend?”


“Em tidak, tanganku kotor”.


“Ouh”.


“Aku kedalam sebentar membersihkan diri”.


“Silahkan”.


Tak lama kemudian Hendri menemuinya dengan badan yang lebih bersih


dan segar. Dia hanya mengenakan sarung dan kaos oblong putih. Sungguh


penampilan yang sangat bertolak belakang dengan dulu saat mereka masih


berkencan.


Membawa kursi kayu kecil dari dalam, dia memposisikannya dekat


dengan bale dan duduk diatasnya. Mengusap wajahnya sebentar sebelum angkat


bicara.


“Ada apa kau mencariku?”


“Aku mau bertanya banyak hal termasuk mengapa kamu sekarang


menjadi buruh perkebunan ini. Bukankah kamu dulu tinggal selangkah lagi sudah


duduk di jajaran manajemen kantor mu?”


“Panjang ceritanya”.


“Aku siap mendengarkan”.


“Apakah itu penting bagimu, Suti?”


“Sangat penting Hend, karena menyangkut masa depanku saat ini”.


“Sebelum aku mulai bercerita bolehkah aku bertanya satu hal


kepadamu?”


“Heem”.


“Kamu masih mencintaiku?”


“Eh…itu…itu” kebingungan hendak menjawab. Dia pun mengalihkannya.


“Apakah jawaban itu penting sekarang Hendri?”


“Ah tidak. He…..he…he. Aku mengerti posisiku sekarang. Kamu bagaikan


bidadari yang ada dikayangan sedangkan aku hanyalah seonggok sampah yang


terbuang” tawanya getir.


Suti terlarut dalam suasana sebentar sebelum mulai melanjutkan


rasa keingin tahuannya.

__ADS_1


“Apa yang terjadi Hend?”


“Aku menghamili anak gadis orang. Dia wanita yang kau temui


dirumah ini pertama kali”.


“Bagaimana bisa? Sedang pada saat kita berdua dulu kamu selalu


menghormatiku dan tidak pernah bersentuhan melebihi batas”.


“Fiuuuh, itulah yang aku tidak mengerti. Waktu itu kami berdua


seolah terbius oleh sesuatu. Membuat kami melakukannya dengan suka rela. Begitu


sadar hanya rasa penyesalan yang kudapat, dia pun demikian”.


“Apakah kalian minum sesuatu sebelum kejadian itu”.


“Minum” dia tampak berpikir keras.


“Ah iya kami minum jus jambu dari warung sebelah kontrakan. Tapi minuman


itu biasa kami pesan saat makan malam berdua. Tak ada yang istimewa, karena itu


tempat makan langganan kami”.


“Kalian saling mencintai”.


“Dia iya aku tidak”.


“Bagaimana bisa Hend?”


“Karena aku masih mencintaimu Suti bahkan sampai sekarang rasa


cintaku terlalu besar untukmu. Kalau waktu itu aku marah padamu karena rasa


cemburuku pada Jodi yang berusaha meraihmu kembali pada pelukannya” gusarnya.


Terkesiap.


“Ja…jadi karena Jodi. Tapi mengapa kau menghamili perempuan itu?”


“Heeems, dia sering datang ke kontrakan ku, membawakan makanan,


memperhatikan semua keperluanku. Dia datang disaat hubungan kita yang


merenggang. Aku yang tak kuasa menolak perhatiannya terjebak hubungan terlarang


saat kami berdua tidak sadar akan rasa yang ingin dituntaskan”.


“Apa mungkin kalian diberi obat perangsang?”


“O…obat!” seolah menyadari sesuatu.


“Yaah, kau ingat sekarang?”


“Ah ya, waktu itu yang mengantarkan makanan kami adalah pelayan


baru di warung itu. Tapi aku tak menaruh curiga padanya. Dia tampak normal


seperti yang lainnya. Tapi siapa tahu”.


“Kau sudah menikah Suti” lanjutnya lagi.


“Sudah”.


“Dengan Jodi”.


“Bagaimana kamu bisa tahu?”


“Beberapa tahun yang lalu sebelum aku memutuskan menikahi istriku


ada seseorang yang datang dengan memakai seragam hitam seperti laki-laki yang


bersamamu sekarang” sambil menunjuk dengan dagu ke arah Bondan yang berdiri


agak jauh dari mereka.


“Maksudmu para bodyguard?”


Dia mengangguk.


“Dua orang, mereka memberiku pilihan antara menikahi dia atau


meneruskan cintaku padamu”.


“Lantas?”


“Tentu saja aku memilihmu Suti. Apapun yang terjadi. Tapi jawaban


ku salah sehingga peristiwa itu terjadi. Dan disinilah kami sekarang”.


“Bagaimana dengan bayi hasil hubungan kalian?”


“Dia mati karena lahir prematur. Kami tak punya uang untuk


membiayai perawatannya. Dan istriku divonis mandul pasca peristiwa itu. Hiks…hiks”.


“Bagaimana bisa Hend?”


“Dia melahirkan disini Suti. Di gubug ini. Pendarahan yang terjadi


serta keterlambatan dalam penanganan, membuat rahimnya diangkat agar tidak


semakin parah. Hiks…..hiks”.


Suti ikut meneteskan air mata.


“Maafkan aku Hend”.


“Sudah lah tak ada yang perlu dimaafkan”.


“Apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantumu?”


“Emmm tidak! Jalanilah hidupmu seperti biasanya, berbahagialah


Suti. Aku ingin kamu selalu bahagia. Maafkan aku yang sempat menyakitimu dulu. Maafkan


kecuranganku. Pergilah hari sudah malam, jangan biarkan suamimu menunggu!”


“Ta…tapi”.


“Pulanglah Suti. Raihlah kebahagianmu. Aku hanya bisa mendoakanmu”


usirnya lagi.


Suti pun beranjak dari tempat itu dengan masih menyisakan beribu

__ADS_1


pertanyaan di benaknya.


__ADS_2