
Batu, pagi hari.
Clark sedang mengamati pembangunan gedung perkantoran di depannya.
Memegang site plan yang diberikan oleh sang insinyur, dia mencocokan antara
gambar perencanaan dan realisasi bangunan.
Ada beberapa hal yang perlu dia diskusikan kembali dengan sang
perancang bangunan, terutama tentang ruang rahasia di kantor utama presiden
direktur nantinya.
Sesuai dengan kontrak kerjasama mereka diawal jika ada kekurangan
yang tidak merombak struktur gedung secara keseluruhan, maka sang developer
harus menyetujuinya.
Saat semuanya sudah sesuai, Clark beserta asisten pribadi menaiki
tangga menuju lantai dua. Hembusan angin dari utara menerpa keduanya. Karena
belum dibangunnya tembok dari ruangan-ruangan tersebut, Clark dan Andrew bisa
melihat pemandangan dengan bebas.
Tak beberapa lama sang bos memicingkan mata, menatap kearah hutan yang
ada dikejauhan dengan serius. Andrew yang mulai mengerti dengan kebiasaan aneh
si bos, dia pun meninggalkannya sendirian di lantai tersebut.
Bersedekap serta memandang ke utara, Clark mulai bergumam
menyanyikan lagu “Yen ing tawang ono lintang”.
Belum tuntas lagu yang ia nyanyikan, tiba-tiba sebuah sinar melaju
dengan kencang menyerangnya. Dia berkelit ke sisi kanan dan kiri berkali-kali
menghindari serangan tersebut.
Matanya memerah dan rahangnya mengetat. Kerutan di pelipisnya pun
mulai menampakan tonjolan-tonjolan berwarna hiaju. Sedetik kemudian, lidahnya
mulai bercabang dan dia pun mendesis.
“Ssssh….kurang ajar. Siapa kamu berani menyerangku dari belakang?
Tunjukan wajahmu jika kamu punya nyali!”
Tak ada sahutan. Hanya sinar yang seperti bulan sabit kecil itu
semakin bertambah banyak serta menyerang Clark bertubi-tubi.
Tak ingin mati konyol, dia pun duduk bersila dan merapal
mantra-mantra serta menggerakan kedua tangannya kedepan seolah menghalangi
serangan itu.
“Ssssssh…brengsek. Manusia laknat tunjukan wajahmu. Mari bertarung
secara jantan!”
“He….he…he” hanya tawa itu sebagai jawaban.
Dia yang semakin emosi, mempercepat rapalan mantranya. Angin pun
semakin kencang mengiringi dan hujan disertai petir mulai menyambar disekitar
bangunan tersebut.
Tangan Clark terangkat keudara, dia menangkap petir yang ada
dilangit kemudian melemparkannya ke arah hutan dimana serangan itu berasal.
Ledakan terlihat dari kejauhan.
“Rasakan mampus kau!”
Ciutan kilat putih yang menyerangnya pun berhenti. Merasakan hal
itu, Clark pun tertawa jumawa.
“Ha…ha…ha. Manusia bodoh, ilmu mu belum seujung kuku pun
berani-beraninya melawanku”.
Sementara itu Suti berjalan menyusuri perkebunan apel yang ada di
daerah Batu. Dia berjalan dengan santai dan sesekali badannya membungkuk saat
hampir mengenai dahan pohon yang menjuntai kebawah.
Tujuannya hanya satu saat ini, yaitu menemui Hendri di pondok
kebun itu. Dia ingin menuntaskan rasa penasarannya selama ini. Banyak
pertanyaan yang ia akan lontarkan terhadapnya.
Apa yang membuat Hendri menjadi seperti sekarang ini. “Yah,
semuanya harus tuntas saat ini juga”, tekadnya.
Dibelakangnya mengekori si Bondan, sang bodyguard pribadi.
“Hati-hati nyonya muda!” peringatnya ketika melihat sang majikan
tampak tak sabar agar segera sampai ke tempat tujuan.
“Ya”.
Dalam jarak lima puluh meter, netranya menangkap sebuah bangunan
yang terbuat dari papan. Gentingnya tampak agak miring ke salah satu sisi.
Disebelah pintu masuk yang terbuat dari kayu randu, ada bale bambu yang tampak
reyot dan berdebu.
Tergesa dia melangkah kesana. Tak dihiraukan lagi peringatan dari
sang bodyguard untuk berhati-hati dengan tanah becek di sepanjang jalan menuju
__ADS_1
rumah tersebut.
“Tok….tok”.
“Assalamualaikum”.
Tak ada sahutan.
“Kulo nuwun. Permisi” katanya kembali.
“Wallaikumsalam”.
Terdengar langkah kaki diseret sebelum pintu dibuka dari dalam
oleh seorang perempuan yang mengenakan daster.
“Em maaf mencari siapa ya?” sambil memandang Suti takjub.
“Hendri ada?”
“Tidak ada, dia sedang bekerja dikebun. Anda siapa?”
“Saya temannya. Kami satu kampus dulu”.
“Ada perlu apa ya?” nadanya sedikit curiga.
“Ada yang perlu saya bicarakan dengannya. Kami berteman baik dulu.
Boleh saya masuk?”
“Eemmm” jawabnya ragu-ragu sambil melirik ke bale bambu.
“Tak apa, saya bisa duduk dimana saja”.
“Tempat kami kotor, apakah anda tidak jijik dengan hal ini?”
“Hem tidak. Saya sudah terbiasa dengan semua ini”.
“Sungguh?” tanyanya heran.
“Tentu saja. Jadi saya boleh menunggunya disini?” sambil menunjuk
bale bambu itu.
“Si…silahkan. Anda mau teh”.
“Hem, tidak. Tak perlu repot-repot”.
“Baiklah saya tinggal kedalam. Tidak apa-apa kan menunggu
sendirian disini?”
Suti hanya mengangguk.
Tepat jam satu siang, Hendri pulang dengan memanggul karung berisi
apel panenannya. Meletakan karung tersebut disamping rumah, dia terkejut
melihat seseorang yang sedang duduk di bale bambu.
“Ss…Suti!”
“Hei Hendri”.
Dengan langkah ragu, Hendri mendekat. Saat Suti hendak berjabat
“Kenapa Hend?”
“Em tidak, tanganku kotor”.
“Ouh”.
“Aku kedalam sebentar membersihkan diri”.
“Silahkan”.
Tak lama kemudian Hendri menemuinya dengan badan yang lebih bersih
dan segar. Dia hanya mengenakan sarung dan kaos oblong putih. Sungguh
penampilan yang sangat bertolak belakang dengan dulu saat mereka masih
berkencan.
Membawa kursi kayu kecil dari dalam, dia memposisikannya dekat
dengan bale dan duduk diatasnya. Mengusap wajahnya sebentar sebelum angkat
bicara.
“Ada apa kau mencariku?”
“Aku mau bertanya banyak hal termasuk mengapa kamu sekarang
menjadi buruh perkebunan ini. Bukankah kamu dulu tinggal selangkah lagi sudah
duduk di jajaran manajemen kantor mu?”
“Panjang ceritanya”.
“Aku siap mendengarkan”.
“Apakah itu penting bagimu, Suti?”
“Sangat penting Hend, karena menyangkut masa depanku saat ini”.
“Sebelum aku mulai bercerita bolehkah aku bertanya satu hal
kepadamu?”
“Heem”.
“Kamu masih mencintaiku?”
“Eh…itu…itu” kebingungan hendak menjawab. Dia pun mengalihkannya.
“Apakah jawaban itu penting sekarang Hendri?”
“Ah tidak. He…..he…he. Aku mengerti posisiku sekarang. Kamu bagaikan
bidadari yang ada dikayangan sedangkan aku hanyalah seonggok sampah yang
terbuang” tawanya getir.
Suti terlarut dalam suasana sebentar sebelum mulai melanjutkan
rasa keingin tahuannya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi Hend?”
“Aku menghamili anak gadis orang. Dia wanita yang kau temui
dirumah ini pertama kali”.
“Bagaimana bisa? Sedang pada saat kita berdua dulu kamu selalu
menghormatiku dan tidak pernah bersentuhan melebihi batas”.
“Fiuuuh, itulah yang aku tidak mengerti. Waktu itu kami berdua
seolah terbius oleh sesuatu. Membuat kami melakukannya dengan suka rela. Begitu
sadar hanya rasa penyesalan yang kudapat, dia pun demikian”.
“Apakah kalian minum sesuatu sebelum kejadian itu”.
“Minum” dia tampak berpikir keras.
“Ah iya kami minum jus jambu dari warung sebelah kontrakan. Tapi minuman
itu biasa kami pesan saat makan malam berdua. Tak ada yang istimewa, karena itu
tempat makan langganan kami”.
“Kalian saling mencintai”.
“Dia iya aku tidak”.
“Bagaimana bisa Hend?”
“Karena aku masih mencintaimu Suti bahkan sampai sekarang rasa
cintaku terlalu besar untukmu. Kalau waktu itu aku marah padamu karena rasa
cemburuku pada Jodi yang berusaha meraihmu kembali pada pelukannya” gusarnya.
Terkesiap.
“Ja…jadi karena Jodi. Tapi mengapa kau menghamili perempuan itu?”
“Heeems, dia sering datang ke kontrakan ku, membawakan makanan,
memperhatikan semua keperluanku. Dia datang disaat hubungan kita yang
merenggang. Aku yang tak kuasa menolak perhatiannya terjebak hubungan terlarang
saat kami berdua tidak sadar akan rasa yang ingin dituntaskan”.
“Apa mungkin kalian diberi obat perangsang?”
“O…obat!” seolah menyadari sesuatu.
“Yaah, kau ingat sekarang?”
“Ah ya, waktu itu yang mengantarkan makanan kami adalah pelayan
baru di warung itu. Tapi aku tak menaruh curiga padanya. Dia tampak normal
seperti yang lainnya. Tapi siapa tahu”.
“Kau sudah menikah Suti” lanjutnya lagi.
“Sudah”.
“Dengan Jodi”.
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Beberapa tahun yang lalu sebelum aku memutuskan menikahi istriku
ada seseorang yang datang dengan memakai seragam hitam seperti laki-laki yang
bersamamu sekarang” sambil menunjuk dengan dagu ke arah Bondan yang berdiri
agak jauh dari mereka.
“Maksudmu para bodyguard?”
Dia mengangguk.
“Dua orang, mereka memberiku pilihan antara menikahi dia atau
meneruskan cintaku padamu”.
“Lantas?”
“Tentu saja aku memilihmu Suti. Apapun yang terjadi. Tapi jawaban
ku salah sehingga peristiwa itu terjadi. Dan disinilah kami sekarang”.
“Bagaimana dengan bayi hasil hubungan kalian?”
“Dia mati karena lahir prematur. Kami tak punya uang untuk
membiayai perawatannya. Dan istriku divonis mandul pasca peristiwa itu. Hiks…hiks”.
“Bagaimana bisa Hend?”
“Dia melahirkan disini Suti. Di gubug ini. Pendarahan yang terjadi
serta keterlambatan dalam penanganan, membuat rahimnya diangkat agar tidak
semakin parah. Hiks…..hiks”.
Suti ikut meneteskan air mata.
“Maafkan aku Hend”.
“Sudah lah tak ada yang perlu dimaafkan”.
“Apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantumu?”
“Emmm tidak! Jalanilah hidupmu seperti biasanya, berbahagialah
Suti. Aku ingin kamu selalu bahagia. Maafkan aku yang sempat menyakitimu dulu. Maafkan
kecuranganku. Pergilah hari sudah malam, jangan biarkan suamimu menunggu!”
“Ta…tapi”.
“Pulanglah Suti. Raihlah kebahagianmu. Aku hanya bisa mendoakanmu”
usirnya lagi.
Suti pun beranjak dari tempat itu dengan masih menyisakan beribu
__ADS_1
pertanyaan di benaknya.