MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB L


__ADS_3

Mansion Clark.


Pagi hari kedua makhluk ular itu pun berubah wujud menjadi Clark


dan Suti. Mereka saat ini berada di ruang rahasia.


Suti yang tersadar terlebih dahulu, tampak kebingungan dengan


dekorasi ruangan yang berbeda, dimana dia biasa tinggal. Gua yang pengap dan


sedikit gelap ditengah hutan gunung Ringgit.


“Sceek, dimana ini?”


Netranya memindai seisi ruang, kemudian berhenti pada sosok


laki-laki bule yang tertidur dilantai.


“Cih, siapa dia?”


Menapakkan kaki telanjangnya ke ubin yang dingin, dia pun


menghampiri pria tersebut. Kemudian mengoyang-goyangkan badannya.


“Hei bangun! Siapa kamu? Dimana ini?”


Clark mengerjapkan mata sebentar, lantas memandang penuh keheranan


ke arah Suti.


“Di-dimana? Apa nyai tidak sadar dengan kejadian kemarin malam?”


“Nyaaai…nyai gundulmu itu! Aku ini Suti, wanita modern dan biasa


dipanggil nyonya muda….ingat ya nyonya muda. Tahu tidak? Dan kamu itu siapa,


bagaimana bisa aku berada disini denganmu?”


“Apa nyai tidak mengenaliku?”


Membeliakan matanya sebentar. Menatap intens ke arah Clark sedetik


kemudian mengeluarkan gerutuan panjang lebar.


“Haaish, sudah lah. Bisa memberitahuku cara keluar dari sini?”


“Kamu mau meninggalkanku?”


“Tentu saja. Ini bukan rumahku. Dan aku tidak ingin membahayakan


hidupmu”.


“Ouh, apa yang kamu maksudkan pada saat kamu berubah menjadi iblis


itu?”


“Ba-bagaimana kamu tahu?”


“Haeems, tidak usah kuatir. Karena aku pun sama sepertimu”.


“Aapaaa! Kamu juga sama, siluman ular sepertiku?”


“Yaa…bedanya aku menerima takdirku sedangkan kamu tidak”.


Merasa tertarik dengan penjelasannya, Suti pun mengurungkan niat


untuk mencari jalan keluar. Kembali dia duduk di lantai mendekati pria itu.


“Baiklah ceritakan padaku”.


“Bagian yang mana, makhluknya apa menerima nasib?” sahutnya


ogah-ogahan.


“Semuanya” katanya antusias.


“Duduk sini” perintah Clark menunjuk pada sofa disudut ruang dekat

__ADS_1


jendela.


“Okee”.


Dia mulai menceritakan kehidupannya, yang menjadi anugrah serta


nasib buruknya pada saat bersamaan. Kisah cinta tragisnya pada wanita pribumi,


sampai wanita itu terbunuh oleh saingan cintanya.


Bahkan dia juga menyesali nasib bayi dalam kandungan wanita


terkasih yang ikut mati bersama sang ibu. Tangisan penuh penyesalan akan


kehilangan orang-orang yang dicintainya, terdengar nyaring di ruangan.


Sebentar kemudian alur yang dia kisahkan menjadi tawa


berkepanjangan. Saat dia menyebut Anne Van Den Berg, sebagai wanita ******


penghancur kehidupannya.


Dan Clark telah menghancurkan mereka hingga ke akar-akarnya. Hal itu


sudah terjadi selama berpuluh-puluh tahun. Hingga saat ini masih menyisakan


satu keturunan yang menjadi targetnya.


“Jadi usiamu sekarang…?”


“Ya Suti, umurku sekarang lima ratus tahun. Tapi makhluk yang ada


di tubuhku usianya lebih tua lagi. Menurut Sukirno, dia warisan dari kakek


buyutnya punggawa pribadi Raden Hayam Wuruk”.


“Bagaimana bisa kamu mewarisinya. Ilmu itu biasanya diturunkan ke


anak cucunya. Dan seharusnya itu pribumi”.


“Aku tak memintanya! Yang aku tahu, Sukirno ingin aku sembuh dari


secara wajar. Karena aku merasa kesepian, Suti. Hiks…hiks…hiks. Apa yang harus


kulakukan?”


Merasa tersentuh dengan cerita Clark, Suti menepuk-nepuk bahunya.


“Aku akan menemanimu. Jika kamu sama denganku berarti aku tidak


kuatir, kau kujadikan tumbal iblis itu”.


“Sungguh!” binar bahagia terpancar dari raut wajahnya.


“Heem”.


“Terima kasih…terima kasih. Tapii…”


“Tak usah kuatir, asal kamu tidak menyakiti Jodi dan mama Laura,


aku akan tetap disampingmu”.


“Bagaimana jika aku menyakiti mereka?”


“Maka kamu akan berhadapan denganku” mengepalkan tangannya ke arah


Clark.


“Kamu yakin?”


“Tentu saja. Mereka adalah orang-orang yang sangat kucintai dalam


hidupku”.


“Apakah kamu tidak punya orang tua?”


“Hanya ibu asuh. Bukan ibu kandungku. Kata lek Parjo kedua orang

__ADS_1


tua ku meninggal saat usiaku enam bulan, kematiannya tidak wajar. Dan perempuan


yang mengasuhku itu adalah adiknya”.


“Bagaimana mereka meninggal, apa kecelakaan?”


“Lek Parjo bilang keduanya digigit ular, pendarahan parah. Sampai kehabisan


darah”.


“Heem” jawab Clark seolah mengerti sesuatu.


“Apa maksud ekpresi wajahmu itu?”


“Ah…tidak ada”.


“Ayolah kamu tahu sesuatu dari ceritaku, kan?”


“Em…mungkin. Apa kamu menerima iblis itu?” mencoba mengalihkan


pembicaraan.


“Tidak dan aku tidak pernah tahu dia ada sampai satu tahun yang


lalu, aku mencoba membunuh Jodi”.


“Heem jadi dia muncul bersamaan dengan kedatanganku di Negara ini,


rupanya”.


“Maksudmu mereka berpasangan?”


“Itu betul”.


“Lalu apakah kamu tahu cara menghilangkannya atau menjinakan


mungkin?”


“Hanya Sukirno yang bisa menjawab hal itu. Sedangkan dia sudah


mati”.


“Huh, brengsek!”


“Hei anak gadis dilarang mengumpat”.


“Apa aku harus tertawa akan hal ini. Dia selalu mencari korban. Bayi-bayi


yang lahir di jumat kliwon adalah makanannya. Aku…aku tidak mau melakukannya. Tapi


selalu kalah dengan iblis ini”.


“Kalau itu permasalahannya, aku akan membantumu”.


“Kamu bisa mengendalikan makhluk itu?”


“Bisa tapi membutuhkan waktu bertahun-tahun”.


“Tak adakah yang instan?”


“Apakah kamu punya leluhur yang sedarah?”


“Hanya lek Parjo”.


“Bagaimana kalau kita kesana?”


“Baiklah, sekarang?”


“Tidak secepat itu. Kita akan mengunjunginya beberapa hari lagi.


Masih ada banyak hal yang harus kulakukan”.


“Oke aku akan menunggu. Kamu tidak akan mengekang aktifitasku kan?”


“Kamu bebas”.


“Yipiiii…terima kasih tuan Clark yang baik” menekuk telunjuk dan

__ADS_1


ibu jarinya membentuk tanda ‘sarangeo’.


Clark hanya menggelengkan kepala melihat tingkah absurd Suti.


__ADS_2