MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB XI


__ADS_3

Hari ketiga di mansion Cartwright.


Malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Rutinitas wajib dari


setiap penghuni rumah menjadi pemandangan yang akrab dalam keseharian. Tidur


tepat pukul 22.00 setelah menunaikan segala kewajiban. Seolah mampu mengusir


penat setelah seharian menjalankan aktifitas. Aku tak mengerti ketika tiba-tiba


suara seorang perempuan memanggilku.


“Suti kemarilah……kemarilah”.


Kutajamkan telinga sekali lagi mendengar suara asing itu.


“Kemarilah Suti….bangunlah menuju bunda ratu”.


Pintu kamar terbuka oleh hembusan angin, tanpa sadar aku berjalan


mengikuti bayangan seorang perempuan memakai mahkota kerajaan jaman menuju


ruangan di lantai satu. Seolah melayang karena kakiku tak merasakan anak tangga


yang berjejer seperti biasanya. Kewarasanku masih menolak tapi tubuhku tidak.


Ketika mencapai pintu kayu jati berukiran Jepara itu terdengar suara panggilan


yang lain,


“Hei apa yang akan kamu lakukan di ruangan itu. Bukankah aku sudah


melarangmu untuk memasuki museum keluarga”, teriak Jay dari anak tangga.


Tubuhku luruh ke lantai. Tak menjawab aku pingsan.


“Haish menyusahkan saja. Bangun Suti!”, ucap Jay sembari


menepuk-nepuk pipiku pelan.


Tak kunjung sadar ia menggendongku menuju sofa diruang tamu,


diletakan bantal dibawah kepala. Lantas ia menuju kotak P3K disudut ruang makan


tuk mengambil minyak kayu putih. Ketika olesan itu menyentuh indra penciuman,


aku mulai mengerjap-ngerjapkan mata.


“Apa yang terjadi, mengapa aku tidur disini?” tanyaku bingung.


“Kamu tidur sambil berjalan Suti”.


“Sungguh. Aah terjadi lagi”, kesalku.


“Sering seperti itu?”


“Heem”.


Di pagi yang cerah setelah tiga bulan pernikahan.


“Jay bisakah aku kembali bekerja?”, rayuku sambil memasang dasi di


lehernya.


Dia tampak mengetatkan rahangnya sebelum menjawab, “tidak”.


“Oh ayolah, aku mulai bosan dengan kegiatanku yang itu-itu saja”.


“Apa maksudmu dengan itu?”


“Hanya menyiapkan keperluanmu, ngobrol sama mama, keliling rumah,


tak menarik lagi bagiku Jay. Aku ingin seperti dulu beraktifitas di luar, berdagang


atau kerja di kantor mungkin?”


“Aku bilang sekali lagi tidak”, tegasnya.


“Mengapa?”, nadaku meninggi.


“Dengar kamu adalah istri dari Jodi Bimantara Cartwright, pebisnis


sukses dengan harta dimana-mana untuk apa kamu bekerja, memalukan. Mau apa pun


tinggal menjentikan jari. Lantas buat apa uang recehmu nanti”.


Mengerucutkan bibir, “tapi Jay itu semua kan uang mu bukan


punyaku. Aku mau punya tabungan yang banyak sebelum perjanjian kita berakhir.


Dan setidaknya nanti aku juga punya sandaran hidup”.


“Hei perempuan jangan mengajaku adu urat di pagi hari, bikin mood


ku hancur saja”, dia mulai melangkahkan kaki keluar kamar sebelum berbalik dan


menyambung kalimatnya.


“Masalah harta dan uang, aku akan memberikan kompensasi yang besar


untuk itu. Asal selama masa kontrak kita, kamu harus membuat mamaku senang”.


“Jadi aku hanya sebatas alat untuk menyenangkan mama mu Jay?”,


nelangsaku dalam hati. “Kemana dirimu yang ku puja dulu?”, kuhempaskan tubuh


ini ke kasur saat dia sudah menutup pintu dari luar dengan kuat.


“Blaammm”.


Kuhembuskan napas dengan kasar berbarengan dengan titik-titik air


mata yang mulai menganak sungai ke pipi. Bagaimana tidak?, menangis adalah


satu-satunya kegiatan yang menyenangkan selain rutinitas membosankan di rumah


ini. Bahuku naik turun seirama dengan sengukan tangisku yang semakin keras.


“Nyonya muda, apakah anda mau sarapan dikamar atau diruang


makan?”, terdengar panggilan Wati dari luar.


Ku usap air mataku dengan ujung bantal dan menjawab,


“Di ruang makan saja, nanti sesudah mandi”, jawabku sedikit parau.


Mudah-mudahan dia tidak merasakannya. Aku tak ingin semua orang di rumah ini

__ADS_1


melihat kesedihanku.


“Baiklah nyonya, saya permisi”.


“Heemm”.


Tepat jam 08.00 pagi.


Kutapaki anak tangga satu persatu. Berbelok ke kiri setelahnya.


Disana mama Laura sedang menikmati sarapan pagi favoritnya. Sandwich dengan


segelas jus lemon hangat. Saat netranya menoleh ke arahku dia tersenyum lebar


dan menghentikan kegiatan. Berdiri menyambut kedatanganku di ruang makan,


memeluk ku sembari berujar,


“Sayang kau sudah bangun?”


“Sudah ma, selamat pagi. Bagaimana dengan tidur mama semalam,


nyenyak?”


“Yah, tentu saja. Sini-sini duduk dekat mama”, mempersilahkan


sembari menarik kursi disebelahnya.


Kuturuti keinginannya.


“Mau sarapan apa biar Wati yang menyiapkan?”


“Nasi goreng sosis saja ma”.


“Wati siapkan sarapan nyonya muda mu, jangan lupa susu persiapan


ibu hamilnya”.


Aku terkesiap.


“Baik nyonya besar”, angguk Wati sopan sebelum melangkah ke dapur


mengambil menu yang aku minta.


Tak beberapa lama kemudian.


“Silahkan nyonya muda”


“Trima kasih”, sahutku ogah-ogahan.


“Kenapa sayang?”, tanya mami sambil menangkup wajahku. “Kamu habis


menangis?”, selidiknya.


“Emm tidak mam, mataku sedikit alergi terlalu lama membaca novel”,


elak ku.


“Jangan bohong sama mama. Kamu merasa bosan terkurung di istana


ini, hem?”


“Sa…saya tidak”, jawabku lekas.


“Hem baiklah karena kamu tidak mau jujur, bagaimana kalau hari ini


“Tidak usah mam”, gelengku lekas.


“Kamu takut pada Jay?”


“Eh…tidak sama sekali”, tukasku cepat.


“Oh ayolah Suti, tidak usah kuatir akan dia ada mama disini. Hari


ini kita harus bersenang-senang. Mari kita habiskan uang di kartu unlimitednya.


Masalah lainnya kita pikirkan nanti, okey”.


Tersenyum kecil dengan idenya, aku mengangguk antusias.


“Begitu dong, penuh semangat. Kamu harus bahagia agar bisa lekas


mengandung keturunan Cartwright, disini”, jawabnya lagi sambil mengelus


perutku.


“Tarnoo, siapkan mobil. Mama sama nyonya muda mau nge-mall”,


teriaknya ke arah pintu dapur.


Pak tarno yang lagi menyeruput kopinya tersedak sebelum menjawab, “baik


nyonya besar”.


“Ayo sweety, bersiaplah dan dandan yang cantik”.


“Baiklah mam”, gegas menuju kamar.


Di mall C & C, mall terbesar ditengah kota.


Laura mengajak menantunya belanja gila-gilaan, hal pertama yang dilakukan


adalah memasuki toko tas branded dan memilih berbagai macam produk di display.


“Ayo honey pilih yang kamu suka, tak usah dipikirkan harganya”,


katanya penuh semangat. “Aku sebelah sana ya”, tunjuknya ke arah rak clutch di


sebelah kiri kasir.


“Oke mam”, sahutku ceria.


Kalap mata dengan pilihan yang begitu banyak membuatku bingung


membeli yang mana hingga hatiku mantap dengan sebuat tas genggam wanita merk ‘Lana Marks Cleopatra Bag seharga $250,000’ yang terbuat dari kulit buaya perak


metalik dan gesper dengan 1.500 berlian hitam dan putih di 18-karat emas putih.


Desainnya sederhana dan elegan aku menyukainya. Meminta petugas toko


untuk mengambilnya dan gegas menuju kasir. Disana mama Laura pun tampak antri


menunggu giliran. Dia tersenyum lebar tatkala melihatku.


“Bagaimana sayang sudah menentukan pilihan?”, tanyanya sembari


mengeluarkan kartu unlimitednya.

__ADS_1


“Em sudah ma, itu dibawa kemari oleh petugasnya”.


“Baguslah, apa yang kamu pilih?”


“Mama lihat sendiri saja”, jawabku malu-malu.


“Woow, pilihan menarik sayang. Perfecto”, pujinya sesaat setelah


mengetahui tas tersebut.


Menyerahkan tas belanja ke salah satu bodyguardnya, mama Laura dan aku


melangkahkan kaki menuju butik wanita di lantai empat mall. Disini pun banyak


baju dan gaun yang kami beli. Bahkan mertuaku ikut-ikutan memilih serta


mengambilkan model yang sebenarnya tak perlu aku beli. Tapi beliau memaksakan


kehendaknya dengan dalih koleksi bajuku perlu di upgrade.


 Padahal di almari kamar masih banyak yang belum atau tidak pernah ku kenakan dikarenakan aktifitasku yang


terbatas, “ataukah memang dibatasi?”, pikirku.


Lelah menyusuri mall kami menuju resto di lantai lima. Kulirik ke papan


namanya ‘Cullinary restoran’, aku tersenyum. “Bukannya restoran memang untuk


kuliner ya”, monologku dalam benak.


Reservasi di dekat jendela aku bisa melihat pemandangan kesibukan kota


di bawah sana. Senang sekali rasanya dengan semua yang tampak didepan mataku


saat ini. Orang yang lalu lalang, mobil yang bergerak lambat karena memasuki


jam makan siang, bunyi klakson yang bersahutan menandakan ketidak sabaran si


empunya kendaraan,


“Oh amazing”, binarku bahagia.


Ketika makanan telah dibawa oleh pramusaji ke meja, kami melahapnya


tanpa banyak kata. Ya asupan energy sebagai pengganti yang hilang setelah


seharian berbelanja.


“Bagaimana sudah kenyang Suti, siap untuk melanjutkan perburuan kita?”


“Siap ma”, jawabku penuh semangat.


“Allright, kita akan berbelanja sepatu dan perhiasan sebentar lagi. Nanti


tepat jam tiga sore mama akan mengajakmu ke kantor Jay”.


“Untuk apa ma, dia pasti tidak akan mengijinkan ku kesana”.


“Oh tidak sayang kamu harus. Ingat besok beri kejutan padanya dengan


mengunjungi kantornya dengan membawa kue ulang tahun”.


“Besok Jay berulang tahun?”, tanyaku sedikit terkejut.


Lekas kulihat hari dan tanggal di handphone, “lho ulang tahunnya kan


masih dua hari lagi mam?”


“Itulah sayang, aku ingin kamu memberikan kejutan sebelum hari ulang


tahunnya tiba, kamu mengerti?”, jawabnya sambil mencubit pipiku gemas.


Rasa hangat menjalar menembus perasaanku dengan perlakuan mama Laura.


Seolah menemukan ibu yang lama kurindukan.


“Aah, apa kabar beliau sekarang. Dan bagaimana dengan Candra adik ku?”


membatin.


Sekitar pukul dua tiga puluh kami meninggalkan mall, kutoleh kebelakang


tampak Tito dan bambang, bodyguard mama kerepotan dengan barang belanjaan yang


begitu banyak.


Aku terkikik geli, “pasti susah”, pikirku. Mereka menuju tempat parkir


sedangkan aku dan mama menunggu di depan pintu masuk mall, ketika mobil yang


dikemudikan Tarno berhenti didepan serta membukakan pintu. Setelahnya mobil


melaju di jalan raya yang mulai lenggang menuju kantor Jay.


Resepsionis Cartwright building.


“Sore Santi”, sapa Laura pada resepsionis di depan pintu masuk kantor.


“Selamat sore nyonya Laura”, jawab Santi sopan sambil menangkup


tangannya didepan dada.


“Bos besar ada?”


“Maksud nyonya tuan Jay?”


“Iya itu dia, apakah dia ada?”


“Maaf nyonya tuan Jay sedang ada meeting internal perusahaan dengan anak


cabang yang ada di Jakarta”.


“Ouh, baiklah aku tidak akan menganggu. Tapi Santi lihat nyonya muda


yang bersamaku sekarang ini. Jika dia datang sendiri lain kali kesini


persilahkan dia menuju kantor Jay. Suruh si Kirman untuk mengantarnya”.


Tanpa banyak tanya Santi menjawab, ”baik nyonya”.


“Bagus, kami pergi dulu ya. Tak usah kasih tahu Jay kalau kita bermain


kesini”.


“Baik nyonya, selamat sore”.


“Ehmm”.

__ADS_1


__ADS_2