
Bulan bersinar penuh malam ini, dan tepat jam dua belas malam. Angin
begitu menggigit, seolah menusuk kulit para pekerja malam yang sedang
menjalankan tugas.
Dalam perkebunan apel yang luas, beberapa petani sedang menimbang
dan memasukan buah kedalam karung plastik.
Saat takarannya sesuai, mereka menjahit ujung karung serapih
mungkin. Setelah itu kuli angkut membawanya ke dekat pintu gudang, untuk
mempermudah pengangkutan ke esokan harinya.
Tak ada keringat mengucur deras dari tubuh pekerja. Bahkan mereka
mengenakan jaket tebal serta penutup kepala dan sarung tangan.
Cuacanya sangat ekstrim. Namun peristiwa alam ini tak menyurutkan semangat
para pencari nafkah di perkebunan.
Kesibukan dalam gudang tiba-tiba berhenti, kala semua orang
mendengar jeritan perempuan yang berasal dari tengah perkebunan.
Serentak para lelaki itu berhamburan keluar, menuju arah suara
dengan membawa sabit, gunting dan senter. Peralatan yang biasa digunakan saat
panen apel.
“Kemana arahnya?” mandor perkebunan berbisik pada anak buahnya.
“Sedikit lagi bos. Sepertinya di kilometer seratus dari sini”.
“Lokasi apel ‘harum wangi’?”
“Sepertinya disitu”.
“Ayoo…percepat langkah kalian!” perintahnya pada semua orang.
Mereka pun sedikit berlari dengan mengenggam erat senjatanya.
Tepat di tengah pepohonan apel “Harum wangi”, para pekerja melihat
seorang perempuan yang sedang menggendong bayinya, duduk bersimpuh ditanah.
Badannya bergetar serta berkali-kali dia condong ke depan, seolah
menahan sesuatu.
Kembali dia menjerit tepat dengan kedatangan mandor dan para
pekerja kebun.
Mereka pun mengelilingi sang ibu sambil melihat ke sekeliling,
pencari penyebabnya.
“Apa yang terjadi bu?” tanya sang mandor sambil berjalan mendekat.
“Jangan mendekat! Pergi Kalian!” usir perempuan itu.
Keheranan, tak menyurutkan sang mandor dia mendekat dan melihat
wajah si wanita dari depan.
“Astagfirulah hal adzhim…si-silumaaan!”
“Hah! Siluman mana…mana?” teriak semua orang.
__ADS_1
“Ini-ini, perempuan ini” tunjuk sang mandor dengan tangan
bergetar.
“Bunuh saja…ayo kita bunuh saja!” teriak seorang pekerja yang
paling berani.
Semua orang di perkebunan itu pun mulai mengangkat senjatanya.
Hendak di arahkan ke wanita itu.
Belum sampai terkena tubuh si wanita, tiba-tiba mereka terpental
ke belakang.
“Hei apa yang terjadi?”
“Jangan sentuh dia….sssssssh”.
Sosok manusia setengah ular laki-laki muncul dari balik pepohonan.
Menyeringai sadis ke arah mereka yang tengah mengacungkan senjatanya.
Sontak kelompok pekerja itu terbagi menjadi dua. Yang depan tetap
dalam posisi hendak menyerang sang wanita. Sedangkan sisanya membalikan badan
serta mengarahkan peralatan yang mereka genggam ke arah mahkluk yang
menyeringai marah.
Meskipun sedikit gentar, mereka tetap dalam posisi semula. Hingga
saat ekor ular hampir menghantam pekerja yang berada di posisi luar, terdengar
jeritan yang menyayat.
Kedua makhluk itu pun roboh ketanah. Tak mengerti apa yang
bayi dan membawanya menjauh.
Laki-laki tersebut menutupi tubuh si bayi dengan jaket yang ia
kenakan, saat anak manusia yang tak berdosa itu menangis terkejut. Ditimangnya
dalam gendongan sampai tertidur kembali.
Dengan perasaan yang masih berkecamuk, para pekerja kembali
mengacungkan senjatanya. Tiba-tiba terdengar suara yang berhembus dengan angin,
mencegah mereka agar tidak membantai kedua makhluk itu.
Mereka yang penuh emosi seolah kehilangan amarahnya. Tanpa terasa
senjatanya pun jatuh ke tanah.
“Jangan bunuh mahkluk itu. Mereka hanya mencoba bertahan hidup”.
Asap pun mengelilingi mereka. Berputar-putar dalam lingkaran
manusia yang ada disana. Dan berhenti tepat di depan si wanita yang tengah menahan
rasa sakit di tubuhnya. Sedangkan siluman laki-lakinya tampak berguling-guling
menahan rasa menyiksa yang sama.
“Parman bawa anak buahmu pergi dari sini”.
Terpesona dengan penampakan orang tua itu, sang mandor hanya
mengangguk mengiyakan. Mengangkat tangan memberikan instruksi kepada semua
__ADS_1
pekerja.
“Kembalikan bayi itu ke ibunya. Dia anak salah satu pekerja
perkebunan ini”.
“Apa bayi itu tidak apa-apa, ki?”
“Makhluk itu belum menyentuhnya, jangan kuatir. Pergilah kalian
semua agar tidak menjadi korban kedua iblis ini”.
“Baiik” sahut mereka serempak sebelum membubarkan diri.
Setelah kepergian para pekerja perkebunan. Lelaki itu mengangkat
tangannya ke atas. Mengarahkannya ke makhluk ular yang ada di dekat pepohonan.
“Bruaak” dia pun terlempar dekat wanita yang tengah bersimpuh.
“Am-ampun ki, lepaskan kami”.
“He…he…he. Apa kalian masih mengenaliku?”
Kedua siluman itu menggelengkan kepalanya.
“Aaah, aku mengerti. Kebebasan kalian selama berabad-abad dalam menikmati
surga dunia ini rupanya yang membuat kalian lupa. Hah!”
“Kamu Nogo Gini” tunjuknya pada yang wanita.
“Dan kamu Nogo Lelono” tunjuknya pada yang pria.
“Kalian berdua adalah bagian dariku, Nogo Sosro. Kalian ingat
sekarang?” bentaknya kasar.
“Am-ampun Ki. Kami tidak tahu” jawabnya bersamaan.
“Heem” lelaki tua itu mengusap janggutnya seolah mengerti.
“Baiklah aku akan membuka pikiran kalian. Tapi lebih baik kita
pergi dari sini menuju tempat asal kita”.
Pria itu pun mengibaskan tangan kanannya ke udara. Dalam sekejap
mereka lenyap dari perkebunan.
***
Gua Nogo, hutan gunung ringgit.
Tiga buah batu pertapaan berjajar, dengan masing-masing diduduki
oleh makhluk yang berbeda.
Ditengah tampak Nogo Sosro sedang mengarahkan telapak tangannya ke
arah kiri dan kanan, dimana perwujudan Suti dan Clark duduk bersimpuh.
Keduanya tampak menahan rasa sakit yang amat sangat. Mereka menjerit…berteriak,
tapi tak satu pun suara tersebut mencuat keluar.
Netra Nogo Sosro melirik keduanya. Terkekeh pelan, kemudian
melanjutkan merapal mantra. Hingga pagi menjelang, saat ayam hutan mulai
berkokok. Lelaki tua tersebut barulah menghentikan hukumannya.
Kedua perwujudan makhluk itu akhirnya ambruk di atas altar
__ADS_1
pertapaan. Sedangkan ki Nogo Sosro mulai memulihkan tenaganya dengan bersemedi
di tempat yang sama.