MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S

MISTERI CINTA THE CARTWRIGHT’S
BAB IV


__ADS_3

“Yaaah”, disinilah aku sekarang. Merenungi nasib sebagai seorang pengangguran.


Tepat satu bulan semenjak presentasi brengsek itu. Aku dirumahkan, ah tidak,


lebih tepatnya lagi semua karyawan ‘Dico hotel and travelling’, di pecat dengan


hormat dan diberikan kompensasi sesuai dengan masa kerja masing-masing.


Sedikit menyesal, tentu saja. Karena aku tak mampu memenuhi


keinginan pak Yono, untuk membawa bonus yang banyak di saat beliau memasuki


purna tugasnya. Dalam acara perpisahan perusahaan aku mengucapkan beribu


permintaan maaf.


Dengan bijaksananya pak Yono menasehatiku, “Lebih baik begini,


Suti, daripada kamu menggadaikan harga dirimu demi tender yang tidak seberapa


itu”.


“Maksud, bapak bagaimana? Itu tender besar loh pak. Harapan bos


besar satu-satunya untuk menyelamatkan perusahaan dari kehancuran”.


“Maksudku kamu mungkin bisa memenangkan tender itu, tapi dengan


menjual tubuhmu ke Mr. J. Memangnya kamu mau hal itu terjadi. Kamu ingin


mengikuti jejak si Selly?”


“Idiiih, amit-amit deh pak. Mending aku jualan krupuk dan nasi


saja di alun-alun kota seperti saat kuliah dulu. Hati tentram karena hasil dari


pekerjaan halal”.


“Nah, itu Suti tau”.


“Yaah, tapi saya sedikit kecewa, karena tidak bisa memenuhi


harapan pak Yono”.


“Mengenai apa? Yang mau kujadikan mantu itu kah?”


“Iiih, bapak ada-ada saja ya. Memangnya masih punya stok anak


laki-laki?”


“Gak ada, anaku ya hanya Dewi, itu pun sudah sold out”.


Aku tergelak, “memangnya mbak Dewi penyuka sesama jenis ya pak?”


“Hus…ngawur kamu”, di acaknya rambutku dengan sedikit kasar.


“Mbak mu Dewi itu, perempuan tulen Suti. Ngak neko-neko anaknya.


Sudah ah, ngomong sama kamu, tambah ngawur saja. Cepat pergi bergabung dengan


temanmu yang lain sana! Sapa tau ada info lowongan pekerjaan di tempat lain”,


usirnya.


“Siap pak, doain ya, segera dapat pekerjaan lagi. Nanti kalau


dapat bapak saya tarik deh, jadi manager bagian marketing sama seperti dulu”.


Beliaunya tergelak, “ngak usah, aku mau menikmati masa pensiunku


dengan tenang. Serta momong cucu saja. Coba bayangkan setiap hari ditemani Dewi


sama anaknya jalan-jalan pagi ke alun-alun kota sambil ngasih makan burung yang


ada di sana. Menghirup udara pagi, merasakan hembusan angin dari pohon taman


kota. Oooh segernya, nikmat kehidupan yang siap kujalani”.


Kulihat pancaran mata atasanku yang berbinar ceria dan pipi


tembemnya menggembung seolah angin itu nyata dihadapannya.


“Oalah, pak. Enak benar yang sudah memasuki usia non-produktif”,


pikirku.


Anganku melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu. Banyak


rekan-rekan kerjaku yang menangis terutama Dona, si cerewet itu. Dia menangis


bukan karena tidak bekerja lagi. Tapi karena tidak akan bertemu denganku lagi.


Susah payah aku membujuknya, tak dihiraukan, seolah lupa kalau


kami masih satu kos an. Hanya terpisah oleh pintu ruang yang berbeda. Padahal


setiap hari dia ribut membangunkanku jika molor. Pun sebaliknya.


“Suti, gimana donk, hubungan kita nantinya?”


“Maksudmu apa Don?”


“Dona suti Dona, bukan Don. Kamu kira aku Doni atau Don yuan


gitu?”


“Iya, Dona cerewet nan centil”.

__ADS_1


“Nah, gitu donk. Manggil jangan setengah-setengah. Bisa


menimbulkan persepsi yang salah. Apalagi yang dengar orang yang tak dikenal.


Bisa-bisa aku dikiranya transgender nanti”.


“Memangnya kamu perempuan tulen?” tanyaku lagi sambil


mengedip-ngedipkan mata.


“Ouuh brengsek lu. Apa perlu kubuktikan nih, genderku”, tukasnya


sambil mengangkat rok sepannya.


“Aduh…duh gak usah Donald. Nanti dilihat ibu kos pas lewat, malu.


Dikira kita mau mesum lagi!”


“Ya sekalian saja. Biar tambah hot gossip yang menyebar di tempat


kos ini”.


“Gila lu ya. Sudah-sudah topik kita apaan tadi?” tanyaku sedikit


bloon.


“Haaish…ini belum tua sudah pikun duluan”, ditoyornya kepalaku


pelan.


“Tentang kita, Suti. Nanti aku kangen kalau tidak bertemu denganmu


setiap hari”.


“Kita kan masih satu kos an, Donald. Cuma terhalang tembok ruang


saja. Masa iya, tidak bisa bertemu. Kamu aneh deh”.


“Aku mungkin pulang kampung. Si mbok sudah kangen pingin kumpul


sama anak-anaknya. Jadi aku mau pamit sama bu kos. Mulai besok aku sudah tidak


tinggal disini lagi”.


“Yaaah, tega kamu, Dona. Masa aku ditinggal disini sendiri sih. Kalau


ada yang nyulik bagaimana?”, kataku memelas.


“Biarin saja. Apalagi kalau yang nyulik elu orangnya ganteng dan


tajir, macam si Jay itu”.


“Bffuuuh, semburku keras ke mukanya”.


“Lu belum tau aja siapa yang membuat kita jadi pengangguran”,


batinku.


“Eh ni anak kesambet kali ya?, tadi nangis-nangis karena mau


berpisah. Sekarang tertawa-tawa kayak kerasukan setan. Amit-amit”, aku


geleng-geleng kepala.


Setelah kejadian itu.


“Pulang kampung? Gengsi donk. Jadi disinilah aku sekarang,


terjepit diantara para pelanggan setiaku. Yaah…para mahasiswa yang kelaparan


serta para manusia pencari keringat untuk kesehatan”.


Alun-alun kota adalah tempat strategis untuku berjualan nasi pecel


dan menu urap-urap serta lauk ayam goreng juga telur balinya. Aku senang


tatkala para pencari kuliner pagi itu memborong beberapa bungkus untuk


dinikmati sebagai menu pembuka kegiatan yang padat. Wajah-wajah puas


kekenyangan merupakan pertanda bagiku untuk meraup lebih banyak rupiah.


Tepat jam delapan pagi, aku sudah menghitung penghasilanku hari


ini. Dibawah pohon cemara rambut yang tumbuh rindang sepanjang tepian tempatku


berjualan.


“Lima ratus ribu! Wow! Perolehan yang luar biasa. Hanya dengan


modal dua ratus ribu rupiah, aku bisa menghasilkan sebanyak ini. Sebentar lagi


aku bisa jadi owner restoran, nih”, batinku.


Sembari menikmati nasi empok jualan mbok Misnah, pikiranku kembali


melayang ke kejadian satu tahun ini. Betapa sulitnya aku mencari pekerjaan


baru, sudah kucoba melayangkan lamaran kesana kemari sesuai dengan ijasahku.


Dari yang melalui e-mail pun yang langsung kudatangi


perusahaannya, tapi tak satupun diantaranya yang mau menerimaku.


“Aku heran, padahal standar kualifikasi kerja yang mereka minta


sudah terpenuhi semua. Bahkan aku punya pengalaman yang lebih dari cukup. Apa

__ADS_1


yang membuat mereka menolak ku?” kugelengkan kepala berkali-kali, tak mengerti.


“Pagi, nona Suti!” aku terhenyak. Sapaan itu menarik kesadaranku


ke alam nyata.


“Pa….pagi”


“Masih ingat saya?”


Kucoba melacak memoriku lagi terhadap sosok lelaki tampan gagah


nan rapi di depanku ini.


“Emmm, sepertinya kita pernah bertemu, tapi dimana ya?”


“Anda betul-betul tidak mengingat saya nona?”


“Eh iya maaf, anda siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Oh my God, betul rumor yang saya dengar. Anda orangnya pelupa.


Padahal yang saya tahu, nona adalah pekerja yang berprestasi di perusahaan dan


banyak membawa kemajuan serta keuntungan, dulu”.


“Aah, anda bisa saja tuan….ehmm, tuan siapa namanya?” tegasku


kembali.


Dia tertawa keras sebelum menjawab pertanyaan, melihat ekspresiku.


“Perkenalkan lagi, nama saya Andrew, nona. Andrew santoso, saya


asisten pribadinya Mr. Jay”.


“Aha, saya ingat sekarang. Yeaah, kita pernah bertemu di acara


presentasi perusahaan Dico hotel and travelling, sesaat sebelum pemutusan


kontrak kerja masal”.


“Bisakah nona ikuti saya? Ada yang ingin bertemu dengan anda”.


“Siapa?” tanyaku keheranan.


“Nona lihat disana. Orang yang ada di dalam mobil Bentley hitam


itu, ingin berbicara dengan anda”.


“Bos anda?” tanyaku meyakinkan lagi.


“Ya, Mr. Jay. Silahkan nona ikuti saya!” perintahnya lagi.


Aku membetulkan topi yang kukenakan sambil netraku melirik ke arah


mobil seharga tiga koma enam milyar itu. Tampak disebelah pintu penumpang, ada


dua bodyguard yang berjaga.


“Mau apa dia?” pikirku.


“Banyak banget musuhnya, musti pakai pengawal segala hanya


bertandang ke tempat aman nan sejuk ini?”


Dengan langkah ragu ku ikuti Andrew mendekatinya. Sesaat kemudian


salah satu pengawal yang berbadan besar itu, membukakan pintu untuk ku. Aku


hanya diam termangu memandangi celana kerja berbahan mahal yang membaluti kaki


panjangnya.


Aku terpesona dengan sepatu kulit berwarna coklat terang, yang


berkilau menyilaukan mataku. Sedetik….dua detik hingga tak terasa hampir dua


menit aku hanya terpekur di tempat yang sama.


“Masuk, sampai kapan kamu berdiri di situ!” bentaknya kasar.


Aku terhenyak, “eh…tidak nanti mobil Mr. Jay kotor”, jawabku


gugup.


“Ray!” gelegarnya lagi.


“Ya bos”.


“Paksa wanita itu ke dalam mobilku. Kalau perlu gendong dia!”


“Bos yakin?”


“Sejak kapan kau menjadi tidak yakin dengan perintahku, Ray?”


Aku semakin terkejut, “tidak! Aku tidak mau dipermalukan dengan


hal tersebut. Apalagi disini masih banyak pelanggan dan teman-teman pedagang


seperjuanganku”.


“Bahkan disudut sana mbok Misnah memperhatikanku dari tadi. Kang


Tono yang jualan cendol pun melihatku secara intens. Kuatir hal buruk akan


menimpaku. Ya, persaudaran antar pencari nafkah disekitaran alun-alun kota ini

__ADS_1


memang sangat kental”.


Sedetik kemudian ku ikuti kemauannya tanpa bantahan.


__ADS_2