
Ayah Ibu dan Alifah telah pulang dari ibadah umrohnya.
Tetapi yang kini lebih terasa sakit dihati adalah kepergian Alifah kembali ke tanah zazirah Arabia. Kini keberangkatannya adalah murni untuk bekerja disana. Bukan sebagai wisatawati atau sedang liburan berkunjung ke tanah suci.
"Lip!..."
"Titip Arif ya, Tot!?! Aku... Ga punya sodara lain yang bisa kumintai tolong selain kamu, Ayah juga Ibu!"
Entah mengapa... Perkataan Alifah yang terakhir membuatku gelap mata. Kupeluk tubuhnya, padahal pakaian syar'i kini menutupi seluruh bagian auratnya.
"Maaf..."
Hanya satu kata itu yang bisa kuucap.
Hanya 'maaf' saja.
Tapi kuharap Alifah mengerti kesedihan hatiku ini. Kuharap ia mendengar teriakan batinku yang merana melihat kepergiannya.
"Jaga diri baik-baik di negri orang!"
"Iya!"
"Jaga kesehatan. Jangan telat makan, jangan lupa cas hape cabut kalo malam. Jangan lupa kabari Ibu kalo butuh sesuatu. Jangan,"
"Jangan bawel! Gue pasti akan selalu repotin Ibu, bukan elu! Hehehe..."
"Hadeuh!"
"Makasih ya, Tot!"
"Buat apa?"
"Buat semuanya. Buat semuanya... Hik hik hiks! Moga Allah berikan kita umur panjang dan kesehatan! Kita bisa ketemu lagi dilain kesempatan! Hik hik hiks..."
Anjriiiit! Ucapan si Belut dah mirip MC acara sunatan massal! Bikin air mata gue langsung meluncur turun tanpa diminta lagi.
Kuusap pucuk jilbabnya pelan.
Satu jari menghapus cepat butiran yang terjatuh diujung mata kiri.
"Tetap semangat dan kuat ya, Lip!?" bisikku pelan dan lirih.
"Kamu juga ya Tot!? Moga Allah berikan kita semua keberkahan serta kebaikan-Nya!"
"Aamiin..."
Ngeh* ni JANDA! Ngemengnya makin terlihat betapa hidup yang keras ini telah mendewasakan diri serta karakter dan sifatnya. Hiks! Nha gue, masih gini-gini aja!
Hhh...
Alifah memasuki pintu boarding pass. Waktu keberangkatan pesawat yang akan membawanya pergi telah siap diposisi.
Lip! Koq gue... Sedih banget ya?
Lip!... Koq hati gue..., kayak kepotong silet ya? Perih, pedih...
Lip...! Cepat pulang. Cepat kembali. Gue... Antara ga nerima kepergian lo tapi harus rela melepas lo demi pilihan hidup dan masa depan lo!
Lip, Siti Alifah binti almarhum Bapak Mukti. Pergilah! Jemputlah kebahagiaanmu disana! Walau jauh di negeri orang, tapi hatimu dan hatiku akan tetap terpaut satu sama lain.
Indah...
Terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki
^^^Namun bila^^^
^^^Itu semua dapat terwujud^^^
^^^Dalam satu ikatan cinta^^^
__ADS_1
^^^Tak semudah seperti yang terbayang^^^
^^^Menyatukan perasaan^^^
Tetaplah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita
Berdua
Berdua...
Hiks...
Lagu Fadli Padi benar-benar membuat perasaanku hancur berkeping-keping.
Ayah Ibu pulang ke rumah dengan mobil sewaan. Sementara aku, mengendarai motor pribadiku yang kini telah kubayar lunas cicilannya.
Kupacu Aerox-ku lebih cepat lagi. Meluncur menuju pesisir pantai yang sudah terpantau titiknya.
Deburan ombaknya yang keras, seolah menggambarkan perasaanku yang sedang terhempas.
Terhempas oleh rumitnya kehidupan. Terhempas oleh lika-likunya percintaan.
Entah, apakah ada yang saat ini sedang sama perasaannya denganku? Perasaan kosong, hampa, juga pengap yang bikin sesak. Seperti berada di ketinggian melewati tujuh lapisan atmosfer.
Aku oleng.
Mematikan mesin motor di bibir pantai yang dipenuhi batu karang tinggi dan terjal.
"Aaarrrggghhh!!!"
Teriakan ini sedikit melegakan dada.
"Aaarrrggghhhh!!!"
Kuhempaskan tubuhku ke pasir putih di siang panas matahari yang menyengat.
Bego! Bego! Begooo!!!
"GATOT BEGOOO!!!" teriakku lagi.
Aku tergu-guk dengan wajah menengadah matahari, tetapi mata terpejam banjir air mata.
Entah mengapa, rasanya ditinggal Alifah jauh lebih sakit dari ketika Eliza memutuskan hubungan percintaanku dengannya.
Alifah membuatku lemas, tak berdaya. Berteriak-teriak seperti orang gila. Yang kusyukuri pada saat itu tempat pelampiasanku itu adalah daerah yang cukup sepi.
Ini kesekian kalinya Alifah menjatuhkan mentalku terpuruk seperti nol lagi.
"Alifaaah!!! Siti Alifaaah!!! Hik hik hiks... Cepat pulaaang, Wahai Jandakuuu!!!"
Gobl*k dipiara! Kambing lo piara, beranak pinak! Kembali terngiang-ngiange ucapanku yang sok cool padanya ketika Alifah masuk rumah sakit, nyaris get out dari dunia karena minum 6 tablet obat keras yang dibelinya di warung.
Ini rupanya yang lo rasain waktu itu, Lif ? Ternyata ini? Begini rasanya, Lif? Sakit, Lif! Sakit!!!
Sesek dada gue, Lif! Beneran sesek susah nafas!
"Hik hik hiks...! Lip, maapin gue, Lip! Maaf...! Maaf, gue bukan cowok gentlemen yang bisa buat lo bahagia. Bahkan dari awal sampai akhir! Lo... Pada akhirnya selalu gue kecewain! Alifah..."
Berbicara pada pasir putih, buih ombak dan deburannya. Adalah yang kulakukan saat ini.
Baju dan celana jeans-ku basah, terkena air laut yang sesekali menyapu tubuh rapuh yang tergeletak ini.
Hingga tiba-tiba ponselku yang ada di tas ransel yang kutaruh di bawah pohon waru berbunyi.
Treeet... Treeet... Treeet
Kuabaikan, karena sedang tak ingin diganggu.
Treeet... Treeet... Treeet
__ADS_1
Sekali lagi kutoleh kearahnya.
Treeet... Treeet... Treeet...
Akhirnya, kuangkat juga.
"Hallo?"
...[Gatooot!!! Lu gimana sih? Lu dimana? Ini banyak yang demo telepon gueee!!! Tukang-tukang gajinya belom caiiir!!! Woooiii!]...
Astaghfirullahal'adziiim... Mati gua!
Putus cinta, boleh!
Patah hati, silakan!
Tapi itu tetesan keringat orang, coy! Duh, Gusti!!!
Seketika aku terkesiap.
Ini... Tanggal dua? Ya ampuuun...! Gue lupa input gajian para tukang ke rekening masing-masing!!!
Aku berlari menuju kantor. Dengan pakaian setengah basah kuyup dan dipandangi beberapa orang yang lalu lalang, aku membuka laptop.
Membuka sandi-sandi dan juga mengetik angka dan huruf, langsung cuss... Terkirim.
"Bang Fino!"
"Mas Gatot? Kenapa bajunya basah semua begini?"
"Bang Fino, ikut aku ke ATM ya?"
"O oke! Kenapa, Mas?"
"Aku lupa input gajian para tukang! Tapi udah ku kirim laporan ke bank via online. Ini dah siang menjelang sore, gaji baru ditransfer besok siang kayaknya. Tolong, sampein permohonan maafku sama mereka. Dan aku titip uang seorang seratus ribu. Please, tolong sampaikan permohonan maafku. Gaji turun besok siang, ya!?"
Bang Fino termangu menatapku. Ia akhirnya mengangguk, lalu mengekor mengikutiku ke ATM terdekat untuk mencairkan uang.
Uang tabunganku lima juta rupiah, tak mengapa keluar untuk membayar keteledoranku. Karena terbayang keluarga para pekerja yang menunggu di rumah. Mereka pasti sedang menunggu bapaknya pulang bawa uang gajihan hari ini, tapi ternyata tidak. Hiks.
"Mas! Kamu ini orang yang sangat amanah ya?" gumam Bang Fino padaku.
"Apanya yang amanah?! Justru karena keteledoranku, gaji para karyawan jadi molor satu hari, Bang! Hhh..."
"Asal kamu tau,... Padahal banyak kontraktor, pemborong, mandor diluaran sana yang justru sampe berhari-hari gantungin gaji karyawannya yang sebenarnya udah turun dari atasan tapi nyangkut di mereka! Itu rata-rata seperti itu, Mas!"
"Ya Allah, janganlah! Tenaga orang disepelekan seperti itu. Padahal kita juga khan sama-sama butuh! Aku ga mau, Bang! Gantungin gajihan orang apalagi makan gaji orang. Ga berkah, Bang!"
Aku tersenyum tenang.
Uangku sudah diterima bang Fino, orang kepercayaanku di perusahaan Boss Ardi ini.
"Terus uang ini gimana? Apa besok diganti atau..."
"Eh, bukan gitu maksudku, Bang! Ini cuma sedikit uang permohonan maafku aja untuk mereka. Bukan pinjaman dan harus diganti pula! Ini untuk mereka hari ini, setidaknya ga sampe bikin kecewa keluarga yang nunggu gaji mereka turun hari ini. Gitu!"
"Mas..."
"Tolong ya Bang? Hehehe... Aku mau langsung pulang! Basah nih badan, ga enak! Takut masuk angin juga!"
"Makasih ya Mas Gatot! Semoga Allah mempermudah semua urusanmu, Mas! Memberimu rezeki berlipat-lipat lagi!"
"Aamiin... Hehehe...! Aku pulang ya Bang!?"
Hhh...
Senja menyambutku dengan warna jingganya yang keemasan. Membuatku kembali kuat dan tegar terlebih ketika melihat beberapa pedagang koran yang berlarian menjajakan dagangan mereka kepada pengendara yang berhenti di perempatan lampu merah.
Hhh... Lo harus banyak bersyukur, Gatot! Diluaran sana, banyak orang lebih susah hidupnya dari elo! Masa' cuman karena belom dapat cinta, lo jadi kayak orang gila! Hadeh, cemen banget lo, Tot! Umur lo juga baru 25 tahun lebih. Masih muda. Slowly aja! Muka lo juga ga jelek-jelek amat! Kulit lo ga gosong-gosong banget! Cukup perawatan dikit, skin care-an, sama... Pikiran yang happy dan banyak money. Yakin dah, lo bakalan glowing in the dark. Dan ciwi-ciwi bakalan berjejer ngantri buat dapetin hati Gatot Subroto yang ganteng tea. Wkwkwk... (tepok jidat dulu ah!)
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1
Please... Mampir juga tengok Tito Yulistyo🙏🙏🙏sepuluh bab dulu deh, sekiranya jelek, bisa hujat. Tapi andai bagus, komen lanjut😁Please🙏🙏🙏