
Aku membawa pulang Utami ke rumahnya, setelah kami berbicara empat mata selepas pacarnya yang bernama Rudi izin pamit padaku.
Mereka sudah berhubungan sejak kelas dua MAN. Ternyata mereka telah mengikrarkan cinta dan janji untuk setia bersama dalam suka juga duka.
Terus... Kenapa ni bocah kaga bilang sama bokapnya kalo dia dah punya calon pendamping pilihan terbaik dihati? Dasar...
"Bapak ga mau Tami pacaran sama yang seumuran. Selain masih jauh pemikiran buat rumah tangga, Bapak ngerasa ga sreg kalo Tami pacaran. Bapak kepingin Tami cepat nikah, Bang!" jawabnya lesu dengan kepala tertunduk ke bawah ketika kutanya alasannya berpacaran diam-diam dengan Rudi, teman sekolahnya dulu.
Weleh weleh! Duh ni bocah! Pemikirannya beneran cetek banget dah!
"Oke! Abang ngerti perasaan kamu. Tapi kamu harus jujur sama Bapak dan Ibu kamu! Karena mereka itu serius menjodohkan kamu sama aku lewat Ayah Ibuku, Tam! Faham dong maksudku?"
Tami mengangguk. Tapi kepalanya masih menunduk. Membuatku gereget lalu mengangkat dagunya sejajar dengan wajahku.
"Dengar! Kamu mau emangnya nikah sama Aku? Kamu rela harus putus dan pisah sama Rudi? Kalo kalian saling cinta, berjuang dong untuk cinta suci kalian. Bukan berhubungan diam-diam dibelakang kayak gini! Ga baik buat kamu, juga aku lah tentunya! Bilang sama pacarmu itu, kalo dia beneran cinta kamu, datangi rumahmu! Minta izin dan restunya buat kalian bisa saling berhubungan! Jadilah lelaki gentle yang berani berbuat berani bertanggung jawab! Jangan sampai kalian melakukan hal-hal yang tidak baik diluaran sana tanpa sepengetahuan orangtua kalian! Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu? Bagaimana kalo kalian sampe kemasukan setan? Ngerti ga maksud gue?"
Jujur aku makin nge-gas memarahi bocah ingusan itu.
Karena aku juga hampir tertipu dengan kepolosan wajahnya yang ayu dan lugu.
Bagaimana bisa, mereka bermain di belakangku. Sedangkan kedua orangtua kami sedang berdiskusi serius untuk menikahkan aku dan dia.
Tentu saja ini bukan sesuatu yang baik.
Ternyata feelingku tak salah.
Aku juga tak mau pernikahan kami jadi seperti mainan nanti. Dan tak ingin kisah suramku terjadi lagi, dengan perempuan yang lain. Cukup Alifah yang pernah menjadi JANDAKU. Tak mau ada Alifah-Alifah lainnya.
"Rudi itu..., adiknya Bang Harlan, Bang!"
"Hah???"
Wadidau... Hiks! Kudu gimana gue???
Hanya bisa menepuk dahi, pusing tujuh keliling.
"Ya udah, sekarang kita pulang dulu! Urusan Rudi, biar nanti Abang obrolin sama Harlan kakaknya. Tapi kamu harus bilang sama Bapakmu, kalau sebaiknya segera tangguhkan niatnya untuk menikahkan kamu sama Aku. Faham?"
"Iya, Bang!"
Hhh...
Satu masalah benang kusut kini sudah mulai bisa kutelusuri simpulnya.
Setidaknya, jangan sampai Ayah dan Ibu terlambat mengetahui bahkan sampai menyesal di kemudian hari.
Aku sendiri memang kurang rasa dengan bocah imut yang cantik jelita ini. Entah, sejak awal jumpa sudah terasa ada yang berbeda. Dan ada sesuatu yang membuat hati serta perasaanku ragu. Ternyata ini jawabannya.
Setelah sampai di rumah Utami, aku langsung pamit dan memberikan kunci motor milik Pak Abu Bakar.
Ternyata pemiliknya masih berada di kebun dan belum pulang. Sepertinya masih bekerja di sana, sama seperti Ayahku juga. Meskipun Ibunya Utami memaksaku untuk membawa kembali sepeda motor suaminya, aku menolaknya dengan halus. Aku tentu saja lebih memilih naik angkutan umum ketimbang membawa kendaraan orang.
__ADS_1
Utami hanya bisa memperhatikanku dalam diam.
............
Malam ini, aku mendapat teman chat baru. Eliza Maura, yang lebih sering kupanggil Lilis.
Rasanya, sudah lama sekali aku tak sesenang ini. Sungguh seperti mimpi. Bisa bertemu lagi dengan teman yang se-server dan sepemikiran.
Tot, eh, beneran lo ya, gabung sama gue!
^^^Tar gue ajuin surat lamaran ke perusahaan lo, Lis!^^^
Gue bilang khan kita kerja sama, ga perlu surat lamaran, Dodol!
^^^Ya iya. Siapa bilang surat lamaran dodol?! Ish... Secara gue ini mau kerja di perusahaan ekspedisi lo, bukan mau kerja di pabrik dodol!^^^
Jah (emoji melet)
^^^Ya Nyah???^^^
Hahaha... Ini Gatot apa Ijah?
^^^Bisa dikondisikan sesuai permintaan^^^
Lah???
^^^Wkwkwkakaka^^^
Aku tertawa keras sampai terpingkal-pingkal. Sampai Ayah dan Ibu menghampiriku sambil berkata.
"Chattan sama Utami ya? Seneng banget kedengerannya!" ledek Ibu dengan senyum manisnya.
"Bukan, Bu! Temen Gatot waktu kuliah dulu. Seangkatan!"
"Oh... Dikira chattan sama Tami. Cengar-cengir cengengesan, terus ketawa gulang-guling. Ibu kira lagi chattan sama perempuan! Pasti sama Tami, gitu tebak Ibu!"
"Memang sama perempuan, Bu!"
"Hah?"
Lagi-lagi wajah Ayah Ibu spontan berubah merah jambu lalu menjadi ungu.
"Perempuan mana lagi? Yang kurang waras di Bukit Intan itu?" pekik Ibuku dengan kekhawatiran tingkat tinggi.
"Yaelah Bu! Iyam. Dia udah sembuh. Dia udah balik sama suaminya. Sekarang tinggal di rumah mertuanya. Nih, nih... Gatot dapat kiriman fotonya dari Cak Subekti!"
"Oalaaa... Alhamdulillah! Cantik ya anak ini!?" kata Ibu dengan nada lega.
Tentu saja aku langsung meledek beliau karena selalu memiliki fikiran buruk pada Iyam yang hanya kuanggap adik selama ini.
"Ibu hanya khawatir sama perasaanmu yang sedang menggalau, Tot! Takutnya, kamu kepincut sama istri orang yang sedang hamil tujuh bulan! Wajar toh, Ibu cemas! Apalagi dilihat kondisinya dan cara dia duduk sambil memegang tangan kamu erat. Ayah Ibu jadi punya fikiran buruk. Iya khan, Yah?" celoteh Ibuku.
__ADS_1
"Itu pertanda kami sangat menyayangimu dan khawatir terjadi sesuatu sama kamu!"
Aku tertawa. Tumben-tumbenan Ayah membela Ibu spontanitas dan langsung menyerangku seketika.
"Kenapa ketawa?" tanya Ayah.
"Lucu aja, Gatot liat Ayah Ibu. Andai Gatot berumah tangga nanti, Gatot kepingin kayak Ayah sama Ibu! Kompak, manis dan menggemaskan!"
"Dasar anak semprul!"
"Hahaha...! Gatot anak Ayah Ibu, bukan anak si semprul!"
"Hahaha... Iya Yah? Hahaha... Ampun deh punya anak sebiji, tapi serasa punya anak sepuluh! Hadeuh!" timpal Ibu yang langsung diacungi dua jempol oleh Ayah.
"Semoga kamu dan Utami bisa langgeng berumah tangga sampai kakek nenek, sampai akhir hayat. Aamiin!"
"Bukan sama Tami, Bu!" tolakku.
"Aih? Koq? Kalian ini sudah kami jodohkan. Sedang cari hari dan tanggal baik untuk mengucap ijab kabul."
"Ayah liat aja nanti! Biar pak Abu Bakar yang ngomong sendiri sama Ayah! Gatot ga bisa cerita sekarang sama Ayah Ibu. Maaf!... Takutnya, kalo Gatot yang cerita, kalian gak percaya. Terus malah bilang kalo ini akal-akapannya Gatot!"
Ayah dan Ibuku saling berpandangan.
"Terus, siapa perempuan yang saat ini sedang chattan sama kamu?" tanya Ibu menyelidik.
"Hei! Bukan istri orang khan?" tanya Ayah dengan suara lantang.
Sontak aku langsung menepuk jidat.
"Eliza Maura. Masih gadis belom pernah nikah. Nih, Ayah mau liat fotonya? Nih!"
"Cantik! Dari senyumnya kayaknya anak yang baik. Ini beneran temen kuliah kamu dulu?" tanya Ibu membuatku tersipu.
"Izin boleh Gatot pepet ga nih, Yah Bu?" godaku membuat Ibu memukul bahuku, lumayan keras.
"Tunggu dulu kabar dari Pak Abu! Jangan bikin malu Ayah Ibu! Ngerti?"
"Siap Komandan! Hehehe...! Tapi kalo seandainya masalah Ayah sama Pak Abu sudah clear soal perjodohan aku sama Utami. Aku boleh deketin cewek ini ya, Yah, Bu?"
"Asal bukan milik orang. Dan dianya mau sama kamu, Ayah Ibu setuju!" kata Ibu yang langsung mendapat anggukan persetujuan Ayahku tercinta.
"Yess!!! Woke-lah kalo begitu! Hehehe..."
Malam ini, hatiku besar. Sebesar gunung. Jiwaku ringan, seringan kapas yang terbang tertiup angin lembut.
Lega rasanya. Juga bangga. Memiliki orangtua sekeren mereka.
I love you full, Ayah, Ibu!
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1