MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (20) Perjuangan Di Tempat Baru


__ADS_3

"Permisi, dengan Mas Gatot?"


"O ya betul, dengan saya sendiri! Ada apa ya, Mbak?"


"Ini, tolong ditandatangani surat kuasa dari PT Anugerah Sentosa. Menitipkan satu kontainer barang yang siap dikirim dengan kapal ferry Buana Jaya pukul dua siang nanti!"


"Oke, sebentar ya, Mbak! Oiya, silakan duduk dulu di kantor! Nanti saya akan kesana. Disini berbahaya!"


"Baik, saya tunggu di ruang kantor ya Mas?"


Aku segera mencocokkan surat kuasa yang diserahkan karyawan wanita kiriman PT Anugerah Sentosa dengan bukti-bukti tertulis di layar komputerku.


Dibutuhkan konsentrasi tinggi dalam mencocokkan data. Salah salah, justru malah jadi masalah dan batu sandungan dalam pekerjaanku. Apalagi aku adalah penanggung jawab gudang ini sepenuhnya. Bila terjadi sesuatu, maka akulah jaminannya. Hiks.


"Maaf ya, Mbak! Ini keterangan surat jalannya. Terima kasih karena telah memberi kepercayaan pada perusahaan kami."


"Sama-sama, Mas! Permisi, mari!"


"Mari, mari Mbak! Terimakasih!"


Kerjaanku semakin banyak. Dan ternyata, memegang gudang besar di pelabuhan banyak diincar para preman. Mulai dari yang kelas teri sampai kelas kakap.


Dan siang tadi, hampir saja aku kena libas.


Tiga orang preman mendatangi gudangku. Berjalan kesana kemari dengan mencoba menakutiku. Satu diantaranya bahkan sengaja menempelkan goloknya ke pintu rolling door gudang yang terbuat dari seng dan aluminium. Sehingga gesekannya terdengar jelas memekakkan telinga.


Aku segera menelpon Boss. Memberitahunya sebelum kejadian na'as dan berharap jika terjadi sesuatu nanti, bukan aku yang harus bertanggung jawab sepenuhnya.


"Ada apa ya, Bang?" tanyaku sopan.


"Deuh, orang baru lo ya?"


Aku mengangguk.


"Minta duit setoran!" ujarnya lantang. Seseorang dari mereka bahkan menorehkan ujung golok ke arah atas bibirnya. Seolah sedang mengerok jenggot dengan golok.Ck, banyak gaya lo, Preman!


"Maaf, Bang! Kata atasan saya, perusahaan ini sudah bayar uang keamanan rutin setiap bulan. Jadi, mohon maaf sekali lagi. Saya ga bisa kasih apa-apa! Maaf, bang!"


"Songong amat lo?! Cari mati ya ama gua?"


"Ga lah, Bang! Saya ga cari mati. Tapi cari duit dimari, Bang! Saya cuma kuli, Bang! Ga berani sembarangan ambil keputusan. Maaf, Bang!"


Tiba-tiba Mbak-Mbak yang tadi dari PT Anugerah Sentosa datang kembali. Membuatku ketar-ketir juga jadinya akan keselamatannya. Karena ketiga preman tengil itu seperti melihat barang bagus dan langsung mendelik tak berkedip.


"Mas! Ada kesalahan teknik ini!"


"Ada apa ya, Mbak? Sebaiknya lewat telepon aja kalo ada komplain, Mbak!" jawabku berusaha memberi kode agar perempuan itu segera pergi dari gudang.

__ADS_1


"Ini makanya saya kemari, Mas! Tolong perbaiki dulu!"


Dia sepertinya tak mengerti kode dariku.


Hadeuh, ni perempuan! Bahaya banget nih gue kudu jagain anak orang juga nih jadinya! Ck..., dikira gue kedip-kedip karena cacingan, apa! Malah ga direspon kode gue!


"Ya udah, ayo Mbak... Kita urus di dalam!"


"Woi!!!" bentak sang kepala preman.


"Sebentar, Bang! Ada customer dulu ya?! Hehehe..."


Aku sengaja mengajak perempuan itu masuk.


"Ini nih, salah tulis nama. Nama saya Mirina, kenapa ditulis Merana? Tolong dibenerin, Mas!"


"Hah? Merana? Aduh? Maaf..., ga sengaja salah tulis, Mbak! Hehehe..., maaf!"


"Emang Mas mau adain selametan ganti nama saya, Mirina jadi Merana! Hehehe..."


"Hehehe..., sori menyori, Mbak Mirina! Yang merana itu saya! Hehehe...!"


Aku dan Mbak Mirina tertawa lepas. Tapi langsung kuhentikan karena tiga orang jagoan neon tiba-tiba masuk ke dalam ruang kantor gudangku dengan gayanya yang petantang-petenteng.



"Mas, mohon maaf! Saya sedang ada tamu kantor!"


"Tamu kantor, cewek cantik, sendiri pula. Lalu berduaan di kantor gudang! Kalo engga' ada kita-kita orang, bisa laen cerita nantinya!"


Aku hanya bisa menghela nafas.


Urat kepalaku serasa ditarik sakit, ternyata salah seorang dari mereka menjambak rambutku dari belakang.


"Aduduh, Mas!!!"


Kepalaku sampai mendongak ke atas dan langkahku mundur kebelakang.


Anjrot emang ni preman! Cari masalah juga khan, khan!?


Aku menarik pergelangan tangannya. Mengunci dan memelintirnya sampai dia berteriak kesakitan.


Salah seorang temannya berusaha membantu. Dia menghampiriku dan melayangkan satu kaki kanannya berniat menendang. Untung aku sudah punya feeling kalau orang ini akan menendangku sehingga dengan sigap,


Pak, (dapat juga kakinya kuraih)


Kutarik sebelah kakinya yang ada dalam cekalanku dan,

__ADS_1


Bug!


Nyaris dia mental karena kurang konsentrasi pada serangan balasan yang kulayangkan.


Sini maju satu lawan satu! Kalo sportif, gue yakin bisa ngalahin mereka bertiga dengan tangan kosong! Begini-begini gue pemegang sabuk coklat bela diri karate.


Baru tahu khan kalau aku ini setamat SMA ikut kegiatan aktif karate di Kota PP? Bahkan sampai lulus kuliah, aku masih aktif dan baru benar-benar vakum setelah pindah kembali ke Jakarta karena bekerja.


"Mas, sebaiknya konfirmasi dulu sama atasannya! Karena kata boss saya, saya dilarang keluarkan lagi uang keamanan karena sudah bayar perbulan dengan keamanan setempat yang resmi!" kataku pada ketiga preman itu.


Mereka mengangguk dan menunduk malu. Lalu satu persatu pergi dengan langkah kaki berlari kencang.


Semoga para preman itu tidak lagi berani menggangguku. Kalau sampai mereka datang bergerombol, dan mengeroyokku. Habislah riwayatku.


"Wah, keren!"


Mbak Mirina bertepuk tangan. Sepertinya ia terpukau oleh penampilanku bertarung seru tadi dengan para preman setempat.


Aku hanya tersenyum malu. Dipuji wanita cantik, siapa yang tak merona wajahnya. Tapi hatiku hanya senang saja. Tidak tergugah apalagi sampai jatuh cinta walau secantik apapun wanita itu.


"Mas namanya siapa? Name tagnya kebalik. Jadi saya gak bisa baca namanya!"


Aku langsung melihat pada kalung name tagku yang ternyata memang posisi depannya ada dibelakang.


"Oh, nama saya Gatot Subroto, Mbak! Hehehe... Baru sehari ini kerja di sini!"


"Iyakah?"


"Iya. Makanya tadi saya telepon dulu atasan saya pas ada preman-preman itu datang minta uang keamanan!"


"Kamu berani banget, Gat! Mereka khan yang punya kawasan!"


Duh, panggilnya tanggung amat! Gat. Hiks.


"Hehehe, bukan berani Mbak, tapi kepepet. Soalnya Boss saya bilang jangan dikasih lagi. Entar kebiasaan. Lagipula budgetnya juga ga ada. Kalo saya ngasih, alamat bakalan nombok. Rugi saya, Mbak!"


"Panggil nama aja, lebih santai. Kayaknya umur kita juga ga jauh-jauh amat deh! Kalo terlalu jauh, geser dikit suruh deketan. Hehehe..."


"Hahaha...! Mbak lucu juga!"


"Mbak lagi! Panggil Rina aja!"


"Hehehe...iya, Rin!"


"Nah gitu dong! Lebih akrab kita! Hehehe..."


Alifah, walau ada banyak wanita cantik yang datang menggoda. Hanya kau satu-satunya, yang paling kucinta.

__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2