
Kucoba telusuri media sosialnya yang Eliza cantumkan pula di kartu namanya.
Ternyata, dia bukan orang yang suka pamer aktivitas juga. Di IG hanya beberapa saja foto dirinya. Itupun sepertinya si Lilis ini pelit kata. Soalnya selalu gambar saja, no caption.
Ga sangka banget, gue! Ternyata si Lilis bisa berubah feminim gini! Waktu bener-bener bisa merubah seseorang. Tapi tidak dengan gue. Hiks. Coz gue ngerasa hidup gue gini-gini aja. Flat alias datar-datar saja.
Gue hubungin aja apa ya? Hm... Tengsin ga sih? Secara, dulu gue paling anti sama ni cewek. Gayanya yang mirip anak punk bikin gue mual pengen muntah. Tapi sekarang..., jujur si Lilis bikin gue penasaran juga jadinya.
...Hallo, Eliza. Masih ngenalin gue ga?...
Chatku setelah berfikir, menulis kalimat, dihapus lagi, ketik lagi, mikir lagi, hapus, ketik ulang.
Duh bahasanya koq gitu y? Emang dia ga sakit hati apa sama penolakan gue tempo hari? Dan sekarang gue tiba-tiba chat seolah kita akrab di masa lalu. Hiks... Berasa jahat banget sih gue!?!
Ah bomat ah! Gue juga ga nyebut nama gue. Hehehe... Direspon syukur, ga direspon ya sudahlah ya! Hm.
Lama juga, menunggu balasannya.
Centang dua. Tapi belum dibaca.
Hhh... Berarti dia ga minat meskipun gue pasang foto profil gue yang lumayan dari sekian selfian yang berulang-ulang. Amsyong berarti!
Aku tak lagi terlalu berharap. Hari ini aku ingin sowan ke kebun Ayah. Menghampirinya yang bakalan terkaget-kaget karena aku sudah pulang dan sudah bisa berjalan normal tanpa tongkat bantuan lagi.
Seperti yang kuperkirakan. Respon Ayah kurang lebih sesuai dengan bayanganku. Beliau berteriak kegirangan. Dan mengajakku keliling kebunnya yang sudah empat tahun tak kusambangi.
Selama bekerja di Ibukota, walaupun ada pulang empat bulan sekali, tapi aku tak pernah mendatangi kebun ayah yang letaknya sekitar satu kilometer dari rumah.
Hm. Senangnya! Ini kali pertama gue liat Ayah begitu suka cita. Pancaran matanya, berbinar indah. Cerita-ceritanya tentang sejarah pohon-pohon lada dan buah yang ditanamnya seperti kisah kasih yang tulus abadi.
Seperti Malika, yang dibesarkan dan dirawat seperti anak sendiri. (FIX, KORBAN IKLAN BANGO!)
__ADS_1
Ayah sesekali memperkenalkanku juga pada beberapa rekan taninya.
Seketika Aku merasa seperti si Jamal, MC yang ada dalam novel online Noveltoon dengan judul Menjadi Petani Sukses (System Bertani) karya author keren Tompealla Kriwiell yang lagi on going menuju puncak TOP. Aamiin...
Cuma bedanya, si Jamal tinggal di dunia novel perhaluan dan punya kekuatan system. Sedangkan gue, cuma ngandelin diri sendiri serta kepercayaan diri yang tinggi lewat doa-doa kepada Allah Ta'ala saja. Hiks.
Ayah menelpon Pak Abu Bakar. Ternyata kebun beliau bersebelahan dengan kebun lada milik Ayah.
Waduh! Pantesan bokap gue ngebet pen jodohin anak bungsunya pak Abu. Ternyata, ada udang dibalik bakwan. Duh, Ayah!
Tak lama pak Abu datang dengan mengendarai motor trail.
Hm. Mantan pesulap rupanya. (Oiii, salah ketik tuh! Pembalap!!!) sori brother, efek ikutan crazy up wkwkwk otornya ikutan crazy ngap!
"Sudah sembuh, Tot?" sapa Pak Abu Bakar.
Aku mencium punggung tangannya. Tersenyum dan mengangguk.
"Alhamdulillah! Oiya. Minta tolong, boleh? Tolong jemput Tami di rumah temannya yang namanya Kiko, Tot! Di perapatan Alun-alun. Ini nomor teleponnya Tami. Di telepon aja kalo Gatot udah nyampe perapatan."
Duh? Ini mah PR banget dah! Jemput ke rumah temannya, gimana kalo ternyata ga ketemu? Terus gue di suruh pulang, dia ga mau ikut, bla bla bla sebagainya?
Hadeeeuh! Lo tuh cowok, pe'a! Ngapa banyak amat takutnya! Woles aja, woles! Santui aja hidup mah! Ga perlu terlalu takut melangkah!
"Baik, Pak!"
Sekalian pengen kenalan sama temen-temennya si Utami Habibah. Calon istri gua! Uhhuy...! Hehehe...
Aku bergegas menggunakan motor trail milik camer. Gokil keren juga sih, belom apa-apa udah dikasih kepercayaan menunggangi kendaraan kesayangannya. Motor trail pula, ini! Hm... Keknya bukan orang sembarangan juga.
Melamun adalah pekerjaan paling menyenangkan.
Apalagi melamunkan hal-hal yang menyenangkan. Seperti saat ini, mengkhayal punya istri cantik, muda belia, keturunan orang berpunya pula. Itu artinya aku bisa santai ongkang-ongkang kaki doang. Duduk manis setiap hari. Pagi sarapan roti dan susu, siang makan nasi menu istimewa, malam makanan super spesial buatan koki ternama. (hadeh! CEO juga ga gitu-gitu amat, Tot!)
__ADS_1
Kaga ada harga dirinya banget ya jadi lelaki?!? Kerjanya cuman disuapin keluarga istri. Hiks... Bukan gue banget deh itu mah! Belom lagi entar penghinaan yang gue dapet kalo kelakuan gue model gitu! Lelaki cuma model dengkul sama ******, cuih! Emoh ah!
Aku menghembuskan nafasku keras.
Aku ini lelaki yang lebih suka berjuang daripada terima jadi. Selain lebih ada kepuasan batin tersendiri, ogah juga kalau nanti ada omongan yang super pahit dikemudian hari.
Intinya, kalau ada perempuan yang mau padaku, berarti dia harus bisa menerimaku apa adanya. Bukan ada apanya. Dan dia mau kuajak berjuang bersama. Merintis semuanya dari nol. Itu saja. Tak banyak mauku.
Tapi dimana perempuan model begitu, Gatot Subroto?!? Duh... Lagak lo belagak sok ideal! Hari gini..., cewek itu pasti cari kenyamanan. Kenyamanan hidup pastinya! Kenyamanan dengan pria yang sudah mapan. Punya rumah, kerjaan, juga kendaraan. Nah elo punya apa, Tot? Rumah? Masih numpang orangtua. Motor lo yang dioper alih ke Boss Gokil? Dah ke laut Ancol, noh! Dibayar sepuluh juta buat lo pulang ke kampung! Tabungan lo? Tertulis jelas gak sampe dari dua puluh juta! Kerjaan? Lo saat ini tercatat sebagai pengangguran!
Hiks. Gembel dong gue!
Makanya, beruntung lo dijodohin bonyok lo sama cewek cantik, muda dan punya orangtua kaya raya. Syukuri itu!
Cekiiit...
Ya ampun! Hampir aja gue nyium bodi mobil honda jazz yang tiba-tiba berhenti karena ada mobil mogok di depannya.
Pengendara mobil itu turun. Kaget sepertinya dengan suara decitan rem tanganku. Ia memeriksa bagian belakang mobilnya.
Ternyata seorang cewek...
Duh, Mbak! Mobilnya ga kucium koq! Aman itu.
Tatkala ia menoleh ke arah wajahku, kami sama-sama terkejut.
"Gatot?"
"Lilis?"
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1