
"Bang Gatot?"
Aku kaget, seseorang langsung menarikku dari depan pintu rumah bapak Basuki Hidayat pamannya Eliza.
"Non Lilis?!?"
Mataku tak berkedip. Melihat kekasih hatiku begitu cantik dengan gamis dan hijabnya.
"Ngapain kesini?" tanyanya dengan suara berbisik.
"Gagalin acara lamaran kamu!" jawabku juga dengan suara sangat pelan tipis.
"Bukan aku yang lamaran! Lanjut, Om! Maaf, ini pacar saya, baru datang dari Babel. Dikiranya saya yang mau dilamar!"
"Oala... Hehehe, kaget Saya! Yo wess lanjut ya?"
Terang saja Aku celingukan kebingungan.
Ini... Emang bukannya lamaran Si Lilis ya? Waduh?!? Pucat pasi seketika wajahku. Terlebih setelah melihat wajah calon mempelai prianya pucat pias dan nyaris ngejotos muka gue yang plonga-plongo. Hiks.
"Non!"
"Ish, kamu!"
Aku ditarik Lilis masuk kedalam rumah pamannya.
"Bu-bukan kamu yang dilamar?" tanyaku dengan suara gagap karena gugup.
Eliza menatapku lekat.
"Bagaimana kalau itu aku?" tanyanya berbalik menyerang.
"Aku pasti akan menggagalkannya!"
Hm. Lo belom tau sifat gue, Non! Sekali gue mencinta, ke neraka pun lo kabur, 'kan terus gue kejar. (hiks, neraka! Hadeuh, berasa gue kayak sejenis jin iprit deh! Hhh...)
Eliza menunduk. Kalah juga pada akhirnya dia dengan tatapanku.
"Kita khan udah putus!" gumamnya sambil menatap jari jemarinya dengan sendu.
"Sambung lagi!"
Aku mengambil sesuatu dari balik kantong jaketku.
Taraaa...
Sebuah kotak kecil dengan lapisan kain beludru warna merah dan pita emas di pinggirnya.
Eliza menatapku lagi.
"Apaan ini?"
"Kalung emas, buat minta kamu bersedia jadi milikku!"
"Gatot? Serius?"
"Serius lah! Walaupun serius udah bubar. Tapi aku beneran mau minta kamu jadi istriku sama pak Basuki Hidayat."
__ADS_1
"Sekarang ini harinya Kak Farah dilamar Mas Husein! Kita kayaknya harus nunggu dulu, Tot!"
"Hm. Gitu ya? Ga papa nunggu, yang penting hati kamu hanya untuk aku! Aduh!"
Eliza mencubit pinggangku. Sakit tapi senang bukan kepalang.
Aku memasangkan kalung delapan gram dengan liontin dua gram di leher Eliza yang jenjang.
"Makasih, Bang!"
Ughhh... Melting gue, denger suara merdu Lilis manggil gue 'Abang'.
............
"Jadi, kamu ini pacarnya Eliza?"
Bapak Basuki Hidayat menanyaiku dengan suara baritonnya yang tegas. Agak membuatku ziper.
Mirip pak Tobi'in guru killer guru Fisika jaman SMA. Hehehe... Peace pak! Miss you!
"Kamu hampir gagalin nikahannya putriku lho, tadi! Kalo sampe Farah gagal nikah, mau ga mau kamu harus nikahin putriku lho itu!"
Aku tersenyum kecut. Candaan beliau bukannya lucu, tapi bikin bulu merinding.
Kaga apa, Om! Farah cantik juga. Beneran mirip artis Jihan Fahira, istrinya Primus Yustisio. Mayan banget kalo sampe terjadi. Rezeki nomplok itu namanya! Wkwkwk...
Pluk.
Eliza sepertinya bisa mendengar isi hatiku. Dia menepuk pundakku agak keras. Kaget sekaligus nyeri.
Hiks! Canda doang, Lis!
Ternyata Eliza masih bisa kuperjuangkan kembali cintanya. Setidaknya, pacarku itu kini semakin bertambah sayang dan cinta padaku.
Walau ada satu hal yang sedikit membuatku agak kecewa. Karena pernikahanku dengan Eliza terpaksa harus ditunda untuk waktu yang cukup lama. Minimal satu tahunan lamanya.
Menurut tradisi orang Jawa, pantang menikahi dua saudara dalam satu tahun. Kata buku primbon, nantinya akan ada salah satu pasangan yang tidak bahagia karena konon saling adanya persaingan gaib. Wallahu'! Kurang faham!
Karena Farah-sepupunya Eliza akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dua bulan lagi, Aku dan Eliza terpaksa harus mengalah. Hhh...
Gagal dong gue naik pelaminan tahun ini. Hiks. Doanya kurang manteb nih! Hadeuh...
"Sabar ya, kalian masih dua puluh lima tahun koq! Masih muda juga. Hehehe... Tunggu satu tahun lagi ya?" Tante Melinda istrinya Om Basuki menggoda Aku serta Eliza yang hanya manggut-manggut mengiyakan ucapan suaminya.
Hhh... Dikira jadi bujang itu enak apa? Padahal pacar punya, uang buat bikin buku nikah ada. Nafsu syahwat benar-benar ada. Haish! Nahannya itu... Kaga kuat! Duh!!! Beda yang udah nikah. Mau berbuat siang bolong tengah hari pun, babat! Mau mandi junub sebelum Subuhan pun, embat! Halalan toyibah. Kaga masyalah! Kalo nunggu lama kek gini? Hiks... Naudzubillah jangan sampe zinah!
....
....
Aku dan Eliza pulang esok pagi. Setelah semalaman menginap di rumah pamannya dan tidur bersama sepupunya di kamar cowok abege enam belas tahun.
Aku sempat tersentak ketika membolak-balik buku album foto keluarga mereka. Ada satu foto yang membuatku terhenyak.
Eliza koq sama Cak Ubaid???
__ADS_1
Aku kaget. Foto yang begitu mesra dan romantis bingit. Bahkan Lilis digendong Ubaid ala-ala bridal style.
"Ini..."
Spontan saja bocah tanggung itu langsung menarik album foto dan tertawa dengan wajah pucat.
"Hehehe... Itu foto masa lalu, Bang!" katanya, semakin membuatku penasaran *tingkat dewa.
Wanjiim!!! Bikin rasa kepo gua makin meronta-ronta! Koq bisa, Eliza sama Ubaid foto begitu? Apa... Mereka saling kenal? Lah? Ubaid itu dulu emang se-almamater sama kita. Tapi si Eliz dulu itu beda circle pergaulan khan sama gue*?
"Hen, itu siapanya Elis?" tanyaku dengan senyum merebak. Berusaha mengorek keterangan dari Hendra yang cuma mesem-mesem gugup.
"Mantan tunangannya kak Eliz, Bang! Dahlah, jangan bahas itu. Tar kak Eliz marah sama aku!"
Ooo... Itu mantan tunangannya! Yang kalo ga salah kata Eliza diawal ketemu gue, katanya gagal maried gegara tunangannya selingkuh!
Aku kembali menggalau.
Lah? Bukannya Cak Ubaid itu tahun lalu masih berstatus suaminya kak Shafira? Koq? Bisa ya mereka tunangan? Aneh??? Hhh...
.........
Siang hari, kami sudah menginjak kembali tanah Babel. Menghirup udaranya yang panas, tetapi tak sepanas hatiku tatkala mengingat kembali siapa mantan tunangannya Eliza.
Koq bisa ya, mereka tunangan padahal Cak Ubaid itu berstatus suami orang? Hhh...
Gatot! Ngapain sih lo ngepoin masa lalu Nona Lilis? Secara dia juga khan gagal nikah juga. Ditambah dari ceritanya Lilis tempo hari, kalo dia masih menjaga semuanya dan beruntung sekali ga ada kerugian baik finansial maupun fisik kecuali perasaan kesal. Ya gimana kaga kesal, pacaran, tunangan, sayang-sayangan tapi gagal nikah. Uyuhan kaga stres juga! Jadi ingat sama Iyam yang sempat depresi karena ditinggal suami. Hhh... Begitulah kejamnya cinta!
"Nona!"
"Hm?"
"Boleh tau, kamu gagal nikah karena apa?" tanyaku sembari mengulum senyum.
"Ish! Ngapain sih nanyain masa lalu? Itu udah kututup dalam-dalam, Bang! Ganti topik ah! Ga mau!"
"Maaf, Sayang! Bukan gitu... Aku cuman pengen tau aja, kenapa! Supaya aku bisa jadi bahan buat merubah sifat burukku yang ga kamu sukai itu apa, gitu! Hehehe..."
"Ya khan tiap orang itu beda-beda, Bang! Kayak aku sama Alifah! Pasti khan beda orang, beda sifat, beda karakter. Punya kelebihan dan kekurangan masing-masing! Ga bisa lah kita rubah-rubah orang sesuka dewek. Karena sejatinya cinta itu menerima segala kekurangan, bukannya merubah orang supaya jadi seperti yang kita mau!"
Deg.
Omongan Eliza seperti menyentil jantungku. Penuh kedewasaan membuatku terharu dan ingin sekali memeluknya, andaikan lupa diri kalau saat ini kami masih ada di kendaraan umum.
Hanya berani menjentik hidungnya pelan dengan telunjuk ini.
Hiks! Tuhaaan! Cepatlah putar waktu untukku. Agar kami bisa segera bersama membangun rumah tangga bahagia. Please, please, please...
Aku mencintai Eliza Maura.
Gadis yang dulu membuatku illfeel dengan tingkah serta gayanya.
Kini aku mendambanya agar segera menjadi istriku.
Ternyata hidup ini aneh bin ajaib.
Benar-benar membuat kita seperti dalam sebuah wahana permainan. Permainan dunia yang fana pastinya.
__ADS_1
Hhh...
...❤BERSAMBUNG❤...