
Entah bagaimana ceritanya. Pertemuanku dengan si Lilis justru malah membuatku lupa menjemput Utami Habibah.
Rupanya Eliza juga kembali ke Ibukota setelah tamat kuliah. Sama seperti aku, yang kembali menjejakkan kaki ke Jakarta karena tawaran pekerjaan setelah pemindahan tali toga.
Dan kami kini terlibat dalam obrolan seru tentang masa lalu, di sebuah warung kopi yang tak jauh dari titik tempat kami bertemu.
"Bisa-bisanya kita ketemu lagi di kota ini ya, hahaha..." kata Eliza dengan suara tawanya yang renyah.
"Di Jakarta justru kita gak pernah ketemu ya, Lis! Betewe gue kira lo jadi kepala ketua anak punk, Lis! Hehehe... Asli berubah banget ya, sekarang!?"
"Hahaha...! Lo ga tau khan lo, ngapa gue dulu tingkahnya aneh gitu?"
"Aih? Ada rahasia terpendam rupanya?!"
"Gue tinggal di wilayah rawan. Sendirian pula. Bokap nyokap jarang pulang. Jadi itu sengaja gue buat jaga diri! Cowok-cowok sekitar bakalan illfeel jauh-jauh dari gue. Termasuk para cowok di lingkungan perumahan gue, Tot!"
Ooh ngono toh!?!Ternyata... Don't judge a book by the cover! Hm.
"Lo belom respon What'sApp gue, Lis!" kataku mencoba mengingatkannya perihatan chatku tadi pagi.
"Hah? Yang bener? Oh, nomor gue yang official ya, Tot? Itu hape kerjaan. Lagi gue silent kalo gue lagi libur gini. Hehehe, sori ya?"
"Ga papa. Gue dapat kartu nama lo dari Harlan. Dia cerita soal bisnis lo di bidang ekspedisi!"
"Iya. Jajal usaha, Tot! Tapi ternyata kerasnya persaingan di bidang itu ya? Ditambah gue ga punya pengalaman dan rekan bisnis yang berkompeten. Jadi... Jalannya terseok-seok gitu lah!"
"Gue kira lo ngikutin bonyok lo, kerja di perusahaan tambang timah yang bonafid itu!"
"Bonyok gue dah meninggal dunia dua tahun lalu, Tot!"
__ADS_1
"Hah?"
"Mereka termasuk dalam korban kecelakaan jatuhnya pesawat terbang di kepulauan Natuna."
Tentu saja aku terbengong-bengong.
Jarang nonton tivi sama baca berita. Alhasil begini nih! Jadi orang bego yang ga tau perkembangan kabar berita! Hadeuh!
"Maaf, Lis! Gue ga tau. Ga pernah dengar berita dari teman-teman!"
"Ga papa, Tot! Hehehe..., sekarang gue udah fight koq! Ini, buktinya sekarang dah kembali ke kota ini. Buka usaha di sini! Ternyata ibukota udah depak gue, ga mau nerima gue lagi meski gue lahir dan besar di sana! Hahaha..."
"Hahaha..."
Entahlah. Kenapa hati ini merasa begitu hangat mendapati Lilis, teman masa kuliah yang satu server. Padahal dulu, secuilpun aku tak ada keinginan dekat dan berkawan dengannya. Itu karena penampilannya yang luarrr binasa. Hiks.
Aku dan Eliza tertawa dengan kisah nasib yang kurang lebih sama.
Anak tunggal, pindahan dari Ibukota Negara Tercinta, lalu bercita-cita pulang ke kampung halaman tanah kelahiran, namun kembali didepak karena tak lagi bisa jadi bagian urat nadi kehidupan di sana.
Alih-alih bangga karena berasal dari ibukota, bahkan aku yang jumawa dan tak terlalu suka bergaul dengan teman-teman asli kampung sini yang kurang kuanggap awalnya.
Ternyata justru pertemanan dan persahabatan di kampung lah yang jauh lebih erat tali persaudaraannya. Seperti Harlan yang selalu siap membantu.
Hhh... Pelajaran hidup nomor satu.
Yassalam!!! Gue lupa!!! Jemput Utami!!!
"Lis, sori... Gue lupa sama tujuan awal! Next time kita ketemuan lagi!" kataku dengan terburu-buru.
Bahaya nih, kalo sampe telat jemput calon bini! Mana pake motornya calon mertua pula! Hadeuh! Bisa-bisanya gue lupa gegara asyik ngobrol sama si Eliza! Hiks.
__ADS_1
Aku memacu sepeda motor trail milik Bapaknya Utami Habibah.
Meluncur dengan kecepatan lumayan tinggi karena jalan rayanya tak sepadat jalanan ibukota.
Tiba di perempatan, jalan yang Pak Abu Bakar tunjukkan, aku mulai mencoba mencari nomor kontak Utami yang tadi bapaknya beri.
Baru saja hendak kuhubungi, tiba-tiba mataku menangkap sesosok yang kini sedang kucari.
Utami. Ada di sebuah gang yang lumayan tersembunyi dan sepertinya dia juga hendak jalan mengarah ke luar gang.
Tapi...,
La koq, digandeng anak laki-laki? Eh?... Mereka saling rangkulan dan... (wait? Ci-ciuman?) kilat sih, tapi gue liat jelas dengan mata kepala gue sendiri!
Mereka... Romantis sekali.
Waduh??!
Sengaja aku mundurkan sepeda motor bapaknya. Memperhatikan mereka dalam diam. Mengamati dan mengikutinya pelan-pelan. Agar tak terlihat Utami Habibah dengan pacarnya itu.
Ternyata..., Utami tak sependiam yang kubayangkan.
Gadis imut itu rupanya pacaran dengan teman sekolahnya diam-diam. Hhh...
Neng Tami cantik! Kenapa ga bilang bokap lo, Neng? Kalo lo tuh udah punya pacar? Kenapa ga mau jujur sama orangtua sendiri? Daripada kesusahan backstreet, ambil jalan belakang dan main rahasiaan. Duh, Neng! Bahaya itu! Ck ck ck...
"Tami!"
Pucat pusi seketika wajah gadis imut itu menatap wajahku.
__ADS_1
"A abang Gatot?"
...❤BERSAMBUNG❤...