
Aku tak berani beradu pandangan dengan Ayah dan Ibu.
Beginilah akibatnya jika melawan perkataan kedua orang tua. Hasil yang didapat pun semua buruk dan menyakitkan.
Handphoneku retak dan rusak tak bisa dipergunakan kembali. Sehingga sulit untuk menghubungi Alifah.
Entah bagaimana keadaannya kini. Terlebih aku ternyata sudah lima hari terbaring di rumah sakit dalam keadaan menyedihkan.
Teman-teman kerja termasuk Boss Edan-ku juga sudah beberapa kali menjenguk. Begitu pula teman se-almamaterku sekolah menengah atas. Sudah banyak yang menengok.
Tapi Alifah tak kunjung datang melihat keadaanku yang butuh penghiburannya.
Apa Alifah juga dapat perlakuan buruk dari si banci Bryan? Lalu,... Bagaimana kini keadaannya?
Hatiku resah, jiwaku gundah.
Fikiran ini selalu pada Siti Alifah.
Apa yang Bryan lakukan padanya sampai tak ada kabar berita sama sekali. Ck! Sungguh aku sangat mengkhawatirkan kekasih hatiku itu.
"Bu...,"
"Ya, Nak?"
"Boleh pinjem hape Ibu gak?" tanyaku pelan.
Aku tahu, Ibuku menatapku penuh curiga.
"Gatot minta tolong, sangat!"
Suara lemahku yang lirih akhirnya membuat Ibu luluh.
"Ini!"
"Tolong diganti kartu SIM Card nya sama yang punya Gatot! Maaf, Bu... Tolongin!" ibaku pada Ibu yang berdecak sebal.
Aku tak bisa melakukannya sendiri. Tangan kananku nyeri, dadaku sakit dan kakiku juga patah. Lengkap sudah penderitaan.
Ibu menuruti permintaanku walau dengan sikap ogah-ogahan.
"Ini!"
Aku dengan susah payah mencoba menggunakan ponsel Ibu untuk menghubungi My Belutku Tersayang. Mumpung Ayah sedang keluar. Karena jika ada Ayah di sini, aku tak berani melakukannya.
Rupanya nomor Siti Alifah juga tak aktif. Terlihat notice terakhir dihubungi adalah tanggal lima hari yang lalu. Pas peristiwa kejadian. Ck!
Aku kesal. Aku cemas juga rindu. Aku ingin tahu kabar tentang kekasihku tercinta, Siti Alifah.
Kucoba telusuri media sosialnya seperti IG dan FB Alifah.
__ADS_1
Seketika jantungku seperti berhenti berdetak dalam beberapa saat.
Foto Alifah duduk bersanding dengan Bryan Anggara. Lengkap dengan pakaian adat khas Jawa, dimana mereka tampak menggunakan dodot Jawa.
Lelaki tulang lunak yang hobi main perempuan itu rupanya yang men-tag nama pacarku. Lalu tertulis chaption "HARI H".
Lemas terasa seluruh persendianku. Semakin lemah hingga tanpa sadar aku meraung menangis.
Ibu yang terkejut dengan sikapku langsung mengambil ponselnya. Dan... beliau segera merangkul bahuku dan menenggelamkannya di dada.
Tuhan! Inikah jawabanmu, Tuhan? Pada akhirnya cintaku benar-benar kandas, terhempas dan hancur berkeping-keping. Bahkan kini hilang tersapu angin badai yang memporakporandakan perasaanku. Hiks huaaa...
Aku menangis dalam pelukan Ibu.
Sakitnya, sakiiit sekali.
Nyerinya, sangaaat nyeri.
Bahkan jauh berkali-kali lipat dari luka tusuk di dada, luka kaki yang patah dan luka tubuh karena hantaman serta pukulan benda tumpul yang Bryan cs layangkan.
Aku menangis seperti bocah. Meraung terisak, tak pedulikan kamar opname-ku yang berada di kelas tiga. Dimana ada tujuh ranjang besi pasien lain. Yang ikut mendengar dan melirik ke arahku juga Ibu.
"Ibuuu... Huhuhu...! Ibuuu, maafin Gatot Buuu!" isakku penuh penyesalan.
Kejamnya cinta! Sangat kejam sampai aku benar-benar ingin mati dan tenggelam saja di dasar lautannya yang dalam!
"A-ada apa?" tanyanya gugup. Beliau khawatir dengan kondisiku dan takut pada vonis dokter tentang kesehatanku.
Ibu menyodorkan ponselnya tanpa bicara.
Dan kulihat Ayah juga hanya bisa terduduk lemas tanpa suara.
Seketika aku sangat malu. Sangat merasa bersalah dan menyesal sekali karena sempat tak pedulikan nasehat mereka.
Ayah hanya memegang bahuku. Mengusap airmataku dengan kepala menggeleng.
"Tegakkan kepalamu, Gatot! Kau adalah anakku yang paling kubanggakan! Kau benar-benar anak lelaki yang hebat! Aku kagum, kau berjuang sampai akhir. Tapi inilah takdir Tuhan! Artinya kau harus bisa menerima kenyataannya sekarang! Dan mulai lembaran hidup yang baru!"
Aku sedih sekali mendengar perkataan Ayah. Rasanya sakit seperti belati yang menghujam dadaku.
Tapi ucapan Ayah mengandung kebenaran. Membuatku sesegukan dengan tangan kiri meraih pinggangnya dan tenggelam dalam tangis kepiluan.
Aku, Gatot Subroto. Usia 25 tahun. Putus cinta untuk yang pertama kali.
Rasa yang sakit sekali. Lebih sakit rasanya dari ketika aku menjatuhkan talak pada istriku di masa muda lalu. Hiks.
JANDAKU,... kuharap kau hidup bahagia, selamanya! Kini kau telah jadi milik lelaki itu. Dan hubungan kita yang terjalin sebulan ini, terputus dengan sendirinya.
Terima kasih, telah memberiku kebahagiaan walau hanya sebentar saja. Terima kasih, pernah jadi milikku meski hanya sesaat saja. Aku bahagia, melihatmu tersenyum bahagia duduk bersanding dengan lelaki itu, pada akhirnya. Kini, aku lepas dirimu...untuk bahagia! Berbahagialah!
__ADS_1
.............
Putus cinta dan keadaan tubuh yang seperti sekarang ini membuatku menjadi pribadi yang makin tertutup.
Aku kini lebih pendiam. Lebih banyak merenung ketimbang berbicara panjang lebar.
Walaupun banyak teman datang silih berganti menjengukku di rumah sakit, tapi tak mampu menghilangkan kesedihanku. Ayah dan Ibuku melihat penderitaanku yang membuat mereka juga turut terluka.
Sepuluh hari diopname di rumah sakit Melania, akhirnya dokter memperbolehkanku pulang ke apartemen.
Di depan pintu, aku berpapasan dengan Mbak Mirina. Mata kami tanpa sengaja saling bertatapan.

Gue rasa elo udah tau khan, Mbak? Hm... Lo ternyata ikut berperan serta dalam kesuksesan suami lo dalam ngancurin gue! Pasti khan lo?
"Gatot, aku turut prihatin sama keadaanmu! Aku... Mohon maaf, kalau ada salah sama kamu!"
Banyak, Mbak! Salah lo tuh banyak!
Aku hanya diam tapi merespon uluran tangannya.
Begitu juga Ayah Ibu, yang tak tahu menahu pokok permasalahannya.
"Hari ini aku pindah, Tot! Bryan membelikanku rumah di daerah Cikini Raya!" katanya lagi dengan wajah menunduk.
Hm... Ternyata sudah dapat apa yang diinginkan. Aplouse for you, Mbak Seksi!
Baik aku, Ayah maupun Ibu tak merespon Mirina. Kami hanya mengangguk pelan lalu masuk ke dalam apartemen.
"Gatot! Alifah dan Bryan sudah," selanya sebelum aku menutup pintu.
Ya! Gue udah tau, Mbak! Ga perlu lo perjelas!
Bruk.
Pintu kututup dengan cepat.
Ibu menghela nafas dan Ayah menatapku lega.
Kini keduanya telah melihat keadaanku yang kembali pada sikap cueknya dalam merespon Mirina.
Sebenernya dari awal pun gue emang gak ngerespon bininya si Bryan! Tapi cuma sekedar menghormati! Sekedar menghargai seorang perempuan yang adalah tetangga pula. Itu saja, gak lebih!
Mau dia sekarang dimadu si Bryan, atau dia jadi istri tua pun aku tak terlalu peduli. Aku hanya perjuangkan cintaku pada Alifah. Itu saja. Meski pada akhirnya hanyalah CINTA YANG SIA-SIA. Tapi aku tidak menyesal telah berjuang sampai akhir. Walaupun akhirnya adalah kekejaman cinta yang kudapatkan.
Ck! Nasib, nasib!
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1