
Ibu masuk ke ruang rawat inapku dengan tergopoh-gopoh.
"Gatot! Kamu bilang apa sama Eliza?" tanyanya panik terdengar histeris.
Aku menunduk.
Ayah masuk kamar disusul Alifah.
"Kalian...putuskan hubungan?" tanya Ibu lagi.
Aku tak bisa menjawab. Lagi-lagi terdiam adalah tindakan yang paling aman.
Hhh...
Alifah menatapku tanpa berkedip.
Entah, aku tak bisa mengartikan tatapannya yang dalam. Yang pasti aku harus segera meluruskan masalah ini.
"Gatot! Apa...,"
"Sebaiknya kita bereskan nanti di rumah!"
Aku sangat setuju dengan ucapan Ayah. Lagi-lagi mataku seperti meminta bantuan Ayah lewat telepatinya.
Ayah! Kuyakin, kamu lebih tahu isi hatiku saat ini. Aku juga ingin jadi pria dewasa yang bijaksana seperti dirimu! Bantu aku lewat doamu, Ayah!
............
Aku tak wajib diopname. Hanya dehidrasi dan tekanan darah rendah saja serta kelelahan yang menyebabkanku pingsan. Alhamdulillah. Aku sudah diperbolehkan pulang.
Semalaman aku memikirkan cara yang terbaik untuk diriku serta Siti Alifah. Bahkan aku juga melakukan sholat sunnah minta petunjuk dari Allah Ta'ala.
Usiaku sudah 25 tahun ke atas. Sudah harus berfikir jernih dan lebih matang lagi dalam mengambil keputusan.
"Alifah... Bisakah kita bicara berdua?" tanyaku setelah selesai ibadah sholat Subuh.
"Apa kita mau ke pantai lagi?" tanyanya dengan wajah berbinar tapi segera kutampik.
"Bukan. Kita bicara di sini aja!"
Wajah Alifah tegang. Namun ia menurut dan duduk di sofa yang bersebrangan denganku.
"Maaf Alifah...! Hubungan kita ga bisa dilanjutkan!"
Aku tahu, kata-kataku ini akan membuat Siti Alifah kaget luar biasa. Ia tercengang tanpa mengeluarkan kata-kata.
__ADS_1
"Aku... Ga akan menikahimu!"
"Kenapa? Kenapa, Tot? Bukannya kamu sama Eliza udah putus? Kenapa kita ga bisa satukan cinta kita? Kenapa?"
"Karena kita memang ga ditakdirkan berjodoh!"
Aku, entah memiliki kekuatan dari mana untuk mengatakan kalimat yang begitu kuyakini di dasar hati.
"Apa... kita beneran ga ditakdirkan berjodoh, Tot? Aku, kamu, punya cinta yang besar satu sama lain!" katanya lagi.
"Betul. Andaikan kau belah dada ini pun, sampai saat ini namamu masih tersimpan di dalam sini!" tambahku sambil menunjuk dada dengan ketenangan jiwa dan suara yang tenang.
"Terus, apa yang membuatmu yakin sekali bilang kalo kita ga ditakdirkan berjodoh? Padahal langkah kita ini udah sangat dekat, Tot! Kita cuma tinggal menikah. Ijab kabul lalu sah jadi pasangan suami-istri. Semudah itu, Tot!"
Aku menggeleng tegas.
Kini hati ini begitu mantap. Tidak seperti yang lalu-lalu.
"Kenapa, Tot? Kenapa?"
"Karena kita hanya Tuhan takdirkan buat jadi sodara selamanya!"
"Hah? Atas dasar apaan lo ngomong gitu, Tot? Setelah apa yang udah kita lalui sebesar dan seberat itu, terus lo sekarang nyerah gitu aja? Tot! Pikirin lagi, Tot! Perjalanan cinta kita begitu indah. Tuhan uji dengan sedemikian kerasnya, sampe akhirnya kita sekarang dipertemukan lagi dalam keadaan masalah beres. Semua udah clear, Tot!"
"Tot!"
"Inget ga, apa yang sering orangtua kita bilang dulu? Dulu sekali, dari awal kita kenal?"
"Apa?"
"Kita selalu mereka bilang 'sodara'! Inget khan, Lip? Mama kamu, Ibu aku... Kita ini adalah saudara. Lalu... Sampai akhirnya aku talak kamu, dan ketemu lagi sama Papa di mall waktu Papa anter Bryan belanja. Papa juga ngenalin aku sama Bryan sebagai sepupumu."
"Itu cuma supaya Bryan ga berbuat yang kurang baik sama kamu, Tot!"
"Bahkan kamu sendiri... Dihadapan Mamanya Bryan juga ngenalin aku sebagai sepupumu. Kamu lupa, Lip?"
"Itu, itu maksudku untuk membuatmu aman dari,"
"Itulah Lip! Allah mengijabah ucapan kita. Allah menginginkan kita harus jadi SODARA. Ngerti ga maksud gue?"
"Tot!..."
"Gue udah sholat lima waktu, udah istikharah juga tahajud. Allah ternyata lebih ridho kita jadi sodara aja, Lifah! Hubungan kita akan jauh lebih baik dan akan terus terjalin sepanjang umur kita. Karena SODARA gak bakalan jadi MANTAN, Lif!"
Alifah menatapku sedih.
__ADS_1
"Tot! Gue sedih, bisa-bisanya lo ngomong gitu sama gue. Padahal Papa amanah sama gue, kalo lo itu bakalan bisa jaga gue seumur hidup lo. Karena lo ga akan ninggalin gue! Hik hik hiks..."
"Papa benar, Lip! Gue memang ga akan pernah ninggalin lo walaupun sedetik. Karena lo itu adalah SODARA gue. Gue sayang elo juga Arif! Perasaan tulus gue ga akan berubah sampai kapanpun. Walau kita ga berjodoh, tetel hati gue bilang, gue sayang elo. Dan gue akan selalu jaga elo juga Arif. Apalagi Papa sampe amanat ke gue seperti itu."
"Gatot!... Hik hik hiks...! Gue sayang elo. Gue cinta elo, Tot!"
"Gue juga sama, Lif!"
Alifah mendekat ia meraih wajahku tapi langsung kutepis halus.
"Jangan berbuat seperti ini lagi, Lifah! Jangan! Jangan jatuhin harga diri lo yang sangat gue junjung tinggi! Gue ga akan rela lelaki manapun merendahkan apalagi menghina lo! Tapi gue juga ga suka kalo demi buat dapetin hati gue, lo sengaja ngelakuin taktik murahan kayak gini. Please..., gue bilang gini karena gue emang murni sayang elo! Kalo gue cuma nafsu sama elo, sejak jaman kita sekolah dulu...gue bisa aja menggagahi lo, Lif!"
Alifah lagi-lagi menangis. Tapi kini tangisannya lebih terkontrol. Dan tak lagi merangkul tubuhku seperti yang lalu-lalu.
"Gue tau, lo pasti benci gue karena banyak hal. Hik hik hiks... Maafin gue, Tot! Maaf..."
"Gue ga nyalahin elo, Lif! Engga'! Gue dulu sering nyalahin diri gue sendiri. Kenapa gue selalu gagal buat dapetin elo. Tapi sekarang gue ngerti. Sekarang fikiran gue udah terbuka. Itu karena emang kita ga berjodoh. Makanya selalu ada aja masalah diantara kita! Gue bahkan sekarang ini makin yakin seratus persen. Kita memang ditakdirkan Tuhan cuma jadi sodaraan!"
"Hik hik hiks... Gue bisa mati tanpa lo, Tot!"
"Justru itu, lo akan tetep jadi sodara gue sampai kapanpun! Elo sayang dan cinta gue khan? Elo beneran peduli sama kebahagiaan gue khan? Please, dukung gue! Support gue kalo lo emang bener-bener sayang dan ingin gue bahagia. Sama kayak gue, yang selalu doain dan sebut nama lo semoga Allah berikan bahagia!"
"Hik hik hiks... Terus gue harus gimana? Gue ga tau, gue harus gimana!"
"Gue punya orangtua angkat di daerah Bukit Intan. Mereka pasutri baik hati yang tinggal berduaan doang. Gue mau kenalin lo sama mereka dan elo bisa ajuin lamaran kerja di puskesmas wilayah sana sebagai tenaga kesehatan masyarakat. Mau ga? Lo masih muda. Bisa dedikasikan ilmu serta kemampuan lo sebagai seorang bidan. Dan kita tetep deket karena kita ini sodaraan! Gimana pendapat lo?"
Alifah menatapku lekat.
Wajahnya banjir airmata, tapi kini ada pancaran kebahagiaan disana.
"Beneran, Tot?" tanyanya dengan suara lirih.
Aku mengangguk pasti.
"Makasih Gatot! Ternyata, ini rupanya jawaban Tuhan! Hik hik hiks...!"
"Lo mau khan terima saran sodara lo ini?" gumamku dengan suara pelan namun tegas di indera pendengarannya.
Pagi ini, kami berpelukan. Pelukan persaudaraan. Dan hatiku begitu hangat walaupun kenyataan tak menggembirakan.
Ayah dan Ibu baru keluar kamar. Mereka ikut memeluk kami bergantian. Sepertinya, telah cukup lama nguping dan jadi cepu buat ngepoin obrolan kami tadi.
Hehehe... Peace Yah, Bu!
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1