MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (84) Penerawangan?


__ADS_3

Malam ini, udara terasa lebih dingin dari malam sebelumnya. Padahal cuaca sudah memasuki musim kemarau.


Teringat kata Ayah, konon kabarnya tahun ini keadaan musim kemarau akan lebih panjang dari tahun sebelumnya. Musim paceklik, susah air dan agak krisis pangan akibat banyak panen para petani yang gagal dituai sesuai pendapatan.


Hhh...


Seperti biasa, setelah menjalankan ibadah Isya aku terbiasa menyalakan musik lewat speaker aktif dari aplikasi play music-ku di ponsel.


Aku adalah penyuka seni. Penikmat musik dan penyanyi kamar mandi yang lumayan faham nada-nada indah. Sempat juga ikutan trend bikin Grup Band dimasa remaja. Tapi bubar jalan terkendala biaya sewa studio dan alat musik serta aktivitas para membernya yang tak bisa disinkronkan.


Lagu Anjie Drive yang judulnya Menunggu Kamu, mengalun lembut menggetarkan hati Kembali teringat wajah manis JANDAKU yang kini jauh di negeri orang. Siti Alifah tersayang.


Lihat aku, Sayang


Yang sudah berjuang


Menunggumu datang


Menjemputmu pulang


Ingat slalu, Sayang


Hatiku kau genggam


Aku tak kan pergi


Menunggu kamu di sini


Tetap di sini


Ceklik.


Kuganti lagunya dengan lagu selanjutnya , mulai bosan dengan musik melow yang membuat down mentalku dengar lagu cinta.


Duhai engkau sang belahan jiwa


Namamu terukir dalam pusara


Di setiap langkah kuselalu berdoa


Semoga kita bersama


Duhai engkau tambatan hatiku


Labuhkanlah cintamu dihidupku


Kuingin kau tahu betapa merindu


Dan aku pasti setia


^^^Dengarkanlah^^^


^^^Di sepanjang malam aku berdoa^^^


^^^Bersujud dan lalu aku meminta^^^


^^^Semoga kita bersama^^^


Haish... Ni lagu!!! Bikin bete' gue aje! Hiks, lagu bucin ini mah! Huaaa...


Ceklik.


Kuganti lagi, lagu berikutnya.


Aku tak ingin


Kau menangis bersedih


Sudahi airmata darimu


Yang aku ingin

__ADS_1


Arti hadir diriku


'Kan menghapus dukamu


Sayang


^^^Karena bagiku^^^


^^^Kau kehormatanku^^^


^^^Dengarkan... Dengarkan Aku^^^


Shiiit...shiiit! Ini lagu favorit gue ngapa isinya lagu percintaan semuaaa!!! Haish!


Aku menepuk dahiku. Mengkesal. Ternyata lagu juga bisa dinikmati dalam kondisi tertentu, dalam feel tertentu.


Dulu aku sangat menyukai lagu-lagu percintaan yang melankolis mendayu-dayu dan liriknya begitu mendamba cinta.


Tapi kini, disaat hati ini sedang menutup rapat yang namanya CINTA, mendengar lagu-lagu tadi membuatku muak dan langsung mematikannya demi kewarasan jiwa.


Hingga aku yang muak dengan kalimah percintaan mendengar suara klotrak-klotrek dari kamar sebelah. Kamar Arif!


Tok tok tok


Kuketuk pintu kamarnya pelan.


"Rif! Arif..."


Ceklek.


Wajahnya tersembul dari balik pintu.


"Boleh Abang masuk?"



"Masuk aja, Bang!"


"Uhuk, uhuk!"


Aku terbatuk-batuk.


"Maaf, Bang! Aku baru bakar bukhur, Bang!"


"Kemenyan?"


"Bukhur Maghribi!"


"Untuk apa? Fungsinya?"


Aku mencecar dia, dengan pertanyaan pendek tapi berat maknanya.


"Bukhur, Bang! Cuma wewangian khas negeri Timur Tengah. Di pesantren kami biasa melakukannya sebagai sarana ketenangan supaya tercipta kekhusu'an dalam mendalami kitab!" jawabnya, diplomatis sekali.


Aku menatap lekat dua bola matanya yang bening.


"Kamu lagi ngapain?"


"Lagi baca buku kitab, Bang!"


Aku tahu, dia anak santri. Otomatis masalah ibadah dan kajian tentang Agama pasti sudah jadi lalapan sehari-harinya. Tetapi menilik sikap serta sifatnya yang begitu tertutup dan misterius tak ayal membuatku penasaran juga.


Kuambil buku kitab kuning yang tergeletak di atas nakasnya.


Untung menghilangkan ketegangan dan mencairkan suasana yang dingin, aku tersenyum lebar.


"Eh, Rif,... Di pesantren enak ga sih?" tanyaku sok akrab sembari duduk di atas ranjang kamar tamu yang kini jadi kamarnya Arif.


Dia tersenyum tipis.


"Awal-awal sih, ya gitu deh! Ga betah. Tapi setelah dua bulanan, aku akhirnya betah juga. Hehehe..."

__ADS_1


Aku senang, Arif tertarik menjawab pertanyaanku dengan santai. Bahkan tertawa kecil seolah mengingat masa awal dia tinggal di pesantren.


"Kamu pernah ada niatan kabur ga? Secara, biasa kita tinggal di rumah. Deket sama orangtua, sodara. Sekarang tinggal jauh dari keluarga. Belajar jauh dari lingkungan yang biasa kita tempati. Tinggal sama orang-orang baru yang belum kita kenal. Iya khan?" tanyaku lagi. Masih berusaha sok asyik.


"Nyaris, Bang! Hehehe... Tapi, kabur juga mau kabur kemana? Alhasil terima nasib aja, jadinya. Lama-lama krasan juga koq!" jawabnya santai.


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.


Terkejut melihat ada dua buah kertas yang menempel di dinding. Bertuliskan kaligrafi huruf Arab. Tapi... Mataku menatap serius. Menerka-nerka tulisannya.


"Rif... Itu apa?" tanyaku ingin tahu.


"Yang pasti bukan bacaan jampe-jampe harupat geura gede geura lumpat. Hehehe... Itu cuma kaligrafi khat diwani, Bang! Cuma kalimat indah dari kalam Illahi!"


Aku ikut tertawa. Tapi justru semakin penasaran ingin tahu.


"Rif...! Apa... Di pesantren kamu ada ilmu goibnya?"


"Hah? Allah itu menurut Abang gimana?"


Hiks, ontohod dasar! Malah tanya balik. Udah tau ilmu agama gua minim banget. Pake ditanya pula! Dah kayak lagi ulangan susulan yang takut di remed lagi nih! Hiks.


"Allah itu Maha Goib! Dan Allah-lah Goib tertinggi diantara makhluk ciptaan-Nya yang goib-goib."


"Kamu... Sedang mempelajari ilmu lain selain menghafal Al-Qur'an ya?" tuduhku langsung, karena malas berbelit-belit.


Arif kini membalas tatapan mataku.


"Di pesantren, kami di beri kebebasan memilih ilmu apa yang mau kami pelajari!..."


Aku termangu, mendengar penjelasannya yang mengambang. Masih berusaha mengsabar menunggu lanjutan ceritanya.


"Kamu... Pasti mengalami banyak kesulitan ya?" tebakku pelan. Setelah mengkesal karena lama sekali dia lanjutkan obrolan.


Dia tersenyum tipis. Lagi-lagi senyuman itu menutupi kemisteriusannya.


"Bang!... Abang kena kiriman dari orang!"


Deg... Deg... Deg... Deg...


Maksudnya apa? Koq,... Ngomongnya si Arif malah bikin gue nyesek?


Aku mendecak sekali. Tersenyum lebar, menyeringai.


"Aku tau, Abang ga akan percaya omonganku!"


"Maksud kamu apa, Rif?"


Arif menatapku. Aku pun tak mau kalah. Secara dia masih bocah. Baru 20 tahun usianya. Berbeda tujuh tahun denganku. Bahkan kemungkinan ketika dia lahir, aku sudah pandai membaca dan berhitung. Karena aku sudah berseragam putih merah waktu dia baru pertama kali melihat dunia.


"Maaf...!"


"Kamu pesantren berapa tahun?"


"Tiga tahunan, Bang!"


"Baru seumur jagung. Paling jago kamu tuh baru khatam Al-Qur'an dan hafalan 30 juz. Tapi jangan sok-sokan meramal karena hafiz Qur'an itu bukan dukun peramal. Tapi penghafal Qur'an!"


Terang saja aku nge-gas. Dia membuatku tersinggung. Menerawang kehidupanku sampai berani berkoar kalau aku kena kiriman seseorang.


"Betewe aku dapet kiriman apa? Uang? Paket online dari Lazada apa Akulaku?" tanyaku dengan candaan setelah tersadar kalau responku terlalu cepat.


Hadeuh... Lupa gue! Ngapa harus ngambek duluan sih, gue nih? Masa sama omongan adek sendiri kudu marah pake esmoci jiwa!? Kekanakan banget sih, Tot!


Aku mencoba menenangkan diri. Mencoba kembali ke niat awal, agar bisa lebih akrab dan lebih dekat dengan Arif.


Bukannya justru ngajak ribut cuma karena celotehannya yang menurutku tak masuk akal itu.


Tapi... Kiriman? Ini... Ini parah ini!


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2