MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (90) WAKTU YANG BERLALU


__ADS_3

Hari demi hari berlalu tanpa terasa.


Alhamdulillah usaha lancar jaya. Perusahaan properti milik Boss Ardi berkembang maju dan cukup pesat.


Arif sendiri kini telah naik jabatan dari bagian mandor ke level yang lebih tinggi lagi. Bahkan kini dia dipercaya boss Ardi untuk mengurus villa-villa di area Pantai Pasir Padi.


Aku sendiri mengurus perkantoran pusat proferti real estate PT Berlian Indah Greenland Residence.


Alhamdulillah, doa kedua orangtuaku perlahan tapi pasti berhasil mengantarkanku ke tangga kesuksesan dalam berkarier.



Rumah Ayah Ibu juga sudah kurenovasi. Kubongkar seluruh bangunannya. Bikin desain baru lagi dari awal. Dan kini berdiri kokoh menjadi kebanggaan tetangga sekitar. Ibu rajin mengadakan pengajian di rumah kami. Kata Ibu, supaya malaikat sering berkunjung mengantarkan keberkahan dari Sang Maha Pencipta.


Tanah samping rumah pun alhamdulillah kini sudah jadi milik Ayah. Rumah seberang jalan juga telah dibeli oleh Arif karena ingin sekali tinggal berdekatan dengan kami.


Arif ingin persaudaraan ini benar-benar untuk selamanya. Itu harapannya.


Aku sendiri mengamini ucapan pemuda berumur 21 tahun itu dengan senyuman saja. Kuharap kita memang benar-benar jadi saudara, bukan hanya sekedar saudara. Yang kata pepatah, 'Jauh Bau Bunga, Dekat Bau Ta*hi'.


Aku ingin diantara kami tidak ada keganjalan yang ditutup-tutupi. Apapun itu, suka atau tidak suka ungkapkan dengan keterbukaan dan saling menerima kekurangan masing-masing.


Namanya saudara, ibarat piring di raknya. Setiap hari pasti selalu ada benturan dan gesekan. Suara berisik saling bertabrakan. Tapi tetap ada dalam satu rak yang sama.


Begitu juga dalam hubungan persaudaraan. Masalah sedikit jangan dibesarkan. Masalah besar usahakan diperkecil. Saling caci maki, debat kusir hal yang wajar. Tetap sampai kapanpun pertalian persaudaraan tak akan pernah putus dan jangan sampai putus. Itu prinsip hidupku.


Kalau tak mau ada pergolakan, jangan mengaku saudara. Hehehe... Badass!



Seperti halnya Arif. Terkadang jiwa mudanya pun ada kalanya bergelora.


Sesekali aku juga mengingatkan dirinya yang mulai bergaul dengan banyak pemuda.


Awalnya aku senang, Arif kini kembali humble dan supel hingga banyak teman bahkan melebihi circle lingkungan pertemananku.

__ADS_1


Tetapi semakin kesini, aku mulai khawatir Arif akan dimanfaatkan teman-teman barunya. Dia pernah bilang, berteman itu jangan pandang bulu. Aku setuju.


Namun akhir-akhir ini aku melihat ada beberapa orang teman barunya yang sedikit berbeda dan agak kurang kusuka.


Gelagat mereka mencurigakan. Bahkan ketiga teman barunya itu sering datang dan menginap di rumah Arif. Kadang mereka juga turut serta membawa lawan jenis dikala Arif keluar kerja shift malam.


Beberapa kali aku melihat sendiri karena rumah kami yang bersebrangan.


Arif pernah kutegur supaya membatasi pergaulannya dengan mereka. Tapi kata anak itu, ketiga temannya itulah yang justru bisa dia andalkan untuk menjaga rumahnya saat Arif harus kerja malam mengontrol daerah kawasannya di Pantai Pasir Padi seminggu dua kali.


Aku pernah memberinya opsi, supaya mencari orang sebagai tenaga keamanan menjaga rumah ketika dia harus kerja malam.


Tapi katanya dia kasihan melihat teman-temannya yang sedang belajar mengaji padanya luntang-lantung tak karuan karena memiliki masalah keluarga. Konon mereka adalah anak broken home yang memang suka pergi dari rumah jika ada masalah baik dengan Ayahnya maupun dengan Ibu mereka.


Hhh...


Aku tak bisa terlalu mendikte Arif. Sejatinya anak itu anak yang baik dan mudah berempati pada kesusahan orang lain.


Tetapi dunia ini kejam.


Usiaku sebentar lagi 28 tahun. Lebih tua tujuh tahun darinya. Otomatis asam maupun garam kehidupan sedikit lebih banyak kurasakan ketimbang dia.


Namun terkadang seseorang baru akan bisa mengerti jika mengalami sendiri daripada hanya mendengar cerita dan hanya katanya saja.


Serah lo lah, Rif! Yang penting gue udah ngebilangin. Seengga'nya gue udah ngasih pendapat juga saran. Kalo mempercayai orang itu ada batasan. Tapi lo malah bilang, jangan over negatif thinking. Ga baik, apalagi curigaan sama orang yang punya niat baik mau merubah diri. Ya udah, terserah lo ajalah sekarang!


Seperti malam ini. Aku melihat seorang perempuan berjilbab berdiri di depan pintu rumah Arif. Tapi perempuan itu hanya sendiri. Dan ini sudah pukul delapan malam.


Aku yang hendak buang sampah ke luar pagar rumah sengaja menyebrang ingin menanyakan keperluannya.


"Maaf, Mbak! Arifnya sedang kerja malam. Ada perlu apa ya? Sebaiknya besok siang saja kembali lagi!" ucapku membuat perempuan itu membalikkan tubuhnya menghadapku.


"Gatot!"


__ADS_1


Mataku terbelalak.


"Alifah!!!"


Seperti mimpi melihat wajah rembulan yang terang benderang. Menawan hati meluluh lantahkan jiwa.


Aku dan dia... saling berpandangan.


Matanya berkaca-kaca. Bibirnya menyunggingkan senyuman termahalnya di seluruh jagat raya.


Ya Tuhan...! Jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini! Jika perlu, biarkan waktu berhenti berputar demi memberiku kesempatan untuk berduaan dengan gadis pujaanku ini! Hiks...


"Apa kabar Tot?"


Suara lembutnya yang kurindukan seperti nyata. Dan aku tak mau berkedip walau sedetik pun karena takut terbangun dari mimpi.


"Tot? Hei! Gatot Imut!"


Masya Allah tabarakallah! Hahaha... Aku tertawa. Bahkan dalam mimpipun dia masih mengingat panggilan mesranya padaku! Hiks Gustiii!!!


"Ish!"


Aku terperanjat. Cubitan kukunya bagai menancap di kulit lenganku. Sakit!


"Eh? Ini beneran? Koq dimimpi sakit ya?"


"Gatot, ish! Ini beneran gue, tauuu..."


"Hah?!? Lip? Lo... Udah balik dari Arab? Eh? Bukannya bulan depan ya?"


"Hehehe... Harusnya sih! Tapi dapet keringanan waktu dari pihak hospital buat pulang dan minta izin perpanjang kontrak!"


"Hah?!?"


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2