
Mungkin jika diibaratkan wajahku ini sudah sangat mirip kepiting rebus. Merah matang karena malu.
Alifah sepertinya sebelas dua belas tingkahnya mirip aku.
Dia melengos dengan wajah merah menahan tawa. Sementara aku segera mengambil handuk yang tergeletak tak tahu diri dilantai kamar. Segera bergegas mencari tas carrier-ku dipojokan dan mengambil semp*k serta celana panjang training warna hitam.
Hiks! Bomatlah! Toh dia itu adalah JANDAKU. Mantan istriku tujuh tahun lalu. Ya ga perlu terlalu malu juga. Aku juga pernah liat gunung kembarnya yang kala itu polos ketika sarungnya copot!
Otakku menerawang jauh. Dengan bibir mengulum senyum. Rasanya semua ini seperti de javu. Kisah lama yang terulang kembali.
Tapi, kemajuan jaman kini tak lagi mengedepankan sopan santun, adab tata krama dan ketabuan yang dahulu diagung-agungkan masyaratnya. Sekarang, gumpalan-gumpalan tubuh spesial manusia yang seharusnya berharga dengan mudahnya dapat kita lihat dimana saja. Lewat internet, majalah, buku bacaan, semua bisa didapat tanpa rasa malu yang berlebih seperti jaman aku remaja dahulu. Hhh...
Alifah kembali ke ranjang tidurnya. Mengambil jaket parasut dan memakainya karena udara malam di desa ini ternyata amat dingin sekali.
Apa mungkin karena gue habis mandi, ya?
Aku juga naik ke atas ranjangku sendiri. Tetapi mata ini sesekali mencuri pandang ke arah gadis yang makin cantik itu dibawah sinar lampu bohlam yang redup terawang.
"Lif!"
"Hm?"
"Kabar teman-teman gimana tuh, pas gue pindah sekolah dulu?"
"Kabar teman-teman apa kabar Ratni?"
Pertanyaan balik yang Alifah lontarkan sontak membuatku kembali terbahak.
Rupanya si belut masih cemburu. Ya Tuhan! Manisnya tingkah imutnya itu! Pingin rasanya aku pindah duduk ke ranjangnya dan memeluknya erat sambil bilang, "Hanya kamu gadis yang selalu ada dibenakku, bahkan sampai kini!" Hiks! Apakah gue bisa ngungkapin perasaan ini, seperti yang ada di kisah-kisah novel online yang sering gue baca?
"Semua sohib lo sedihlah! Mereka marah, nomor kontak lo ga aktif. Lo itu seperti hilang ditelan bumi!" ujar Alifah lagi.
Aku menunduk malu. Mengingat masa laluku. Masa pahit kisah kita yang tidak bisa kita kategorikan sebagai kisah cinta.
"Gue..., gue ngerasa bersalah banget karena dah ngehancurin hidup lo, Lif! Maaf, ya? Sekali lagi gue minta maaf! Gara-gara kelakuan gue, hidup lo susah dan masa remaja lo jadi bernoda!"
"Apaan sih, bernoda!?! Ish, bahasa lo mirip kang rayu di buku-buku puisi roman picisan deh!"
Aku tertawa kecil.
__ADS_1
Aku tahu, sebenarnya Alifah ingin menutup buku masa lalunya bersamaku. Pasti. Karena bila mengingat itu, hatiku pun merasa sangat sakit. Sakit sekali.
Apalagi jika mengingat kelakuan brutalku yang suka membully dia. Membalas setiap ledekan kasarnya. Hingga akhirnya Tuhan menjodohkan kita berdua dalam pernikahan yang tergesa-gesa karena kecerobohanku dalam membencinya.
Teringat kata Firman dulu, "Janganlah terlalu benci. Karena benci bisa berubah jadi cinta!"
Sebenarnya aku memang cinta Alifah. Dan kebencianku itu sengaja kutebar untuk mencari perhatiannya saja.
Itulah sifat laki-laki. Tidak bisa dimengerti para kaum Hawa. Yang justru menilai kalau laki-laki itu menyebalkan tingkahnya.
Ada dua kategori sifat laki-laki. Yang pandai bercinta dengan yang kikuk bercinta.
Laki-laki yang pandai bercinta itu, pandai mengolah kata. Mudah melontarkan rayuan. Dan semua ucapan semu guna menarik simpati lawan jenis yang sedang diincarnya.
Sementara laki-laki yang kikuk bercinta itu ya seperti Aku. Pura-pura benci padahal sudah tertancap panah asmara dihati. Sengaja cari ribut dan suka rusuh dengan hal-hal tak guna, padahal hati kecilnya merana memikirkan kenapa dirinya seperti manusia jahat yang suka sekali menjajah gadis incarannya.
Aku sengaja menandai Alifah. Mengajaknya ribut. Itu adalah untuk terus membuat hubungan kami jadi berlanjut. Dan berharap cowok-cowok lain mundur perlahan karena enggan memisahkan kekompakan kami dalam bermusuhan. Begitu maksudku.
Tetapi aku terlalu malu untuk terbuka. Mengatakan dengan mudah dan gamblangnya kalau AKU CINTA DIA. Untuk sekedar bilang SUKA saja rasanya bibir ini berat berkata. Entah karena GENGSI yang teramat tinggi, atau memang kepribadianku yang seperti ini. Entah.
Ck! Yang pasti selama tujuh tahun ke belakang hidupku dihantui rasa penyesalan yang dalam. Rasa yang selalu menyalahi diri sendiri karena tidak pandai bertindak.
Mengapa aku tidak bisa mengambil hati Alifah. Bahkan selalu menyusahkannya sehingga yang timbul justru kesalahfahaman yang makin membuatnya benci padaku.
"Pertanyaan bodoh dan aneh! Itu pertanyaan apa sih? Ish... Dahlah, jangan dibahas yang udah lalu!"
"Hehehe...! Aku cuma ngerasa ga enak aja, Lif! Dari dulu, aku ini selalu bully kamu ya? Sedari awal kita ketemu! Aku..., sengaja memancing keributan denganmu sebenarnya!"
Alifah terdiam. Seperti mencoba menela'ah perkataanku barusan.
Ufffh... kenapa mata dan bibirnya itu begitu menggoda hati? Apa..., apa aku boleh... Ish!
Aku menurunkan kedua kakiku dari atas ranjang. Lalu...
Bolehkah aku mendekat padanya, Tuhan? Boleh ya? Please kumohon perbolehkan ya?
Aku tekadkan bulat. Berdiri lalu berjalan pelan beberapa langkah untuk mendekati ranjangnya.
"Alifah!... Boleh aku duduk disampingmu?"
__ADS_1
Jantungku dag dig dug, kencang sekali. Bahkan jika saja tubuhku ini transparan, pasti akan terlihat dengan jelas pompa jantungku yang benar-benar keras.
Alifah menoleh dan tersenyum lembut.
Tuhanku Yang Maha Agung! Please jodohkanlah lagi aku dan Siti Alifah! Please..., please, please!
"Kalau dipikir-pikir, kisah kita dulu itu aneh, lucu bin ajaib ya Tot?!"
Aku tertawa miris.
Dia masih ingin mengenangnya, walau benci pada kenangan itu.
"Kamu udah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba. Tentu saja kujawab dengan semangat 'BELUM'. Karena sampai detik ini, hidupku hanya selalu mengingat dirinya dan dirinya saja.
Berharap aku tumbuh dewasa, lalu menjadi pria sukses dimasa depan. Baru aku akan datang menemuinya. Membawa buket bunga dan uang yang besar. Sambil berkata, "Siti Alifah binti Bapak Mukti, maukah kamu menikah denganku sekali lagi?"
Aamiin!!!
"Aku sudah bertunangan!"
Jederrr
....
....
....
Seketika otakku nge-blank. Seperti part Spongebob yang kebingungan kehilangan jati diri dan identitas setelah dicuci otaknya oleh si Squidward.
Siapa aku? Dimana aku? Mengapa aku disini?
Untung aku belum bermanuver terlalu jauh. Sh*iiit!
"Hehehe..., iya pastilah! Gadis secantik kamu, gak mungkin gak punya kekasih! Dan beruntungnya laki-laki yang telah berhasil mendapatkan hati kamu!"
Mampus lo, Tot! Ck ck ck...malu hati khan lho! Rasain looo! Emang enak, lo jomblo seumur hidup karena terlalu mikirin dia sementara dia bisa jalanin hidup dengan enjoynya. Bahkan kini sudah bertunangan. Sadar, Gatot gobl*k! Sadar woi, sadar!
__ADS_1
Aaarrrggghhh...
...❤BERSAMBUNG❤...