
"Bu! Gatot mau cerai!"
"Hah?!?"
Tentu saja wajah Ibuku pucat seketika. Bibirnya menganga lebar dan mata mengarah tajam padaku.
"Kenapa ambil keputusan secepat itu? Jangan segegabah itu, Tot! Rumah tanggamu baru empat hari! Bahkan masih lebih lama umur kupu-kupu!"
Ibu memarahiku, seperti biasanya. Aku berkata satu kalimat, beliau menjawab berbelas-belas kalimat. Hhh...
Berangkat sekolah pun aku jadi tak semangat.
Bahkan aku malas kembali ke rumah Alifah untuk mengambil sepeda motorku yang ada di parkiran rumahnya.
"Kenapa lagi anak itu?"
Samar-samar kedengar suara tanya Ayah pada Ibu. Aku berangkat sekolah dengan lesu. Karena masih memikirkan keadaan Alifah yang membuatku malu.
Haruskah aku menceritakan pada Alifah tentang niat cerai ini? Apa tidak terlalu gegabah seperti yang Ibuku kata? Bagaimana dengan pendapat si belut soal cerai? Apa dia menyetujuinya, atau akan marah dan mengatakan kalau aku mempermainkan pernikahan? Tapi apakah ini pernikahan yang benar dan harus kuperjuangkan? Sedangkan pernikahan ini didasari oleh kejadian luar biasa yang membuatku selalu resah dan gelisah jika memikirkannya.
"Tot!"
Topan keluar dari gang dengan mengendarai motor gigi kepunyaan Bapaknya.
"Ga bawa motor, lo?"
Aku menggeleng lesu. Segera kakiku melangkah nebeng motornya Topan.
__ADS_1
Tetapi menangkap sesosok tubuh mungil di halte seberang jalan bersama beberapa anak sekolah lainnya.
Alifah! Lagi nunggu angkot!
Jujur aku serba salah. Rasanya kejam jika aku melihat dia naik angkot sementara aku duduk manis di bonceng Topan.
"Sori, Pan! Gue naek angkot aja!"
"Hahaha, cupu lo! Kesiman sama bini lo ya?" ledek Topan berbisik kepadaku.
"Anj*iir! Ini pertama kalinya gue liat dia dan papasan, toples sagon!"
"Hahaha...! Kemana aja lo baru nyadar? Kemaren-kemaren si Alifah naek angkot terus."
"Berisik! Cao sana lo jauh-jauh!"
Alifah terlihat menunduk. Aku tahu, ia pura-pura tak melihatku.
Tapi kukumpulkan semua keberanian untuk menyapanya santai.
"Hei, belut! Gimana tangan lo? Ga papa khan?" tanyaku sembari melirik ke arah pergelangan tangannya.
Alifah memakai sweater tangan panjang warna peach. Sepertinya ia tak ingin orang lain melihat pergelangan tangannya yang tercetak bekas ikatan tali rafia.
Gadis itu hanya mengangkat bahu. Seperti malas menjawab pertanyaanku, membuat down mental seketika itu juga.
ibarat hape, batereinya langsung anjlok turun dua puluh persen.
__ADS_1
Hhh... Suwe! Tau gini gue tadi ikut sama Topan! Ini anak bener-bener ngeselin parah. Bikin gue shock kena mental sama sikap juteknya!
Angkot datang. Aku lebih dulu masuk dan Alifah terlihat mengekorku.
Ufffh! Satu angkot, apa gak akan jadi masalah ya? Secara..! Ah, bomat ah! Bodo amat sama mulut para netizen yang laknat!
Aku duduk sengaja paling pojok. Mencari celah sehingga duduk agak jauh dari gadis bernama Alifah.
Tapi ternyata penumpang yang banyak mengharuskan kami saling berhimpitan merapatkan duduk agar muat masuk banyak.
Dan Alifah duduk mepet disebelahku yang sampai mentok kaca belakang.
Aku malas komentar. Padahal hati ini geremet kesal.
Kalau aku komen nanti disangka Alifah selalu cari masalah. Padahal ya memang kenyataannya angkot penuh sangat padat.
Gujlag gujlag
Bangk*e nih angkot! Lewat polisi tidur bukannya alon-alon malah tancap gas makin puas! Pahaku semakin terpepet paha Alifah hingga kepojokan!
Kutahan mulut untuk tak bersuara.
Kalau bersuara, cari mati namanya.
Alifah juga terlihat tak nyaman karena tubuhnya makin menyedak ke arahku. Tapi ia juga diam. Sepertinya gengsi untuk mengakui kalau dirinya terus mendorong tubuhku sampai ke pojok.
Beginilah suka dukanya naik angkot.
__ADS_1
...❤BERSAMBUNG❤...