MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (3) Malam Penuh Ujian


__ADS_3

Suara lantunan adzan terdengar sangat jelas sekali. Rupanya di samping cottage kami ada masjid kecil yang para penduduk setempat menyebutnya surau.


Hujan diluar semakin deras dan suara gemericik airnya yang jatuh tepat di atap cottage terdengar berisik sekali.


Aku menyibakkan gorden jendela.


Seketika terkejut karena suasana gelap yang menyeramkan diliputi kabut putih nan tebal, membuatku kembali merapatkan tirai gorden.


Alifah yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat begitu segar sekali.


"Mandi sana!" suruhnya membuatku kembali teringat pada tujuh tahun silam.


"Iya, bentaran!"


Mataku tak lelah dan berhenti menatap wajah manis cantiknya Alifah.


Sedikit tebal muka, karena gadis yang kini berdiri tak jauh dari ranjangku itu bukan lagi istriku. Namun rasa masih memiliki dihati ini menjadikanku pribadi yang egois. Merasa Alifah masih istriku, sama seperti tujuh tahun lalu.


Gadis itu menyisir rambut panjangnya yang basah.


Aku menoleh pada isi kopernya yang terbuka begitu saja. Berharap ada alat pengering rambut tergeletak. Sehingga aku bisa beralasan ingin membantu mengeringkan rambutnya ala-ala drama Korea.


"Kenapa?" tanyanya ketika melihatku celingak-celinguk.


"Ada hairdryer?"


"Ga ada!" jawabnya singkat.


Hm! Lagi-lagi alam tak berpihak padaku! Amsyong sudah! Gagal maning, gagal maning!


Mataku kembali menatap wajah Alifah.


Semakin cantik karena sinaran lampu kamar yang temaram. Bohlam lampu lima watt itu bukan LED. Dan cahayanya redup sekali, sehingga ruang kamar kami terlihat semakin gelap karena warna cat temboknya yang coklat mengikuti warna dasar kusen pintunya yang coklat tua.

__ADS_1


"Untungnya kita mengambil tindakan sekamar berdua!" celetuk Alifah. Tentu saja membuat otak ngeresku berkelana mencari arti dari makna ucapannya.


Aih? Apakah si Belut ini merasa bahagia karena bisa tidur sekamar lagi sama gue? Apa..., dia masih cinta sama gue?


Semburat merah jambu seketika, mewarnai pipiku.


"Jangan fiktor deh! Maksud gue, aura kamar cottage ini nyeremin! Iya gak sih, Tot? Mana lampu bohlamnya jadul banget! Temaram menyeramkan gini! Gue rasa, elo yang cowok pun kalo tidur sendirian di kamar ini berasa horor banget. Iya ga sih?" tegas Alifah.


Kini matanya mengedar ke sekeliling ruangan. Sontak aku ingin sekali tertawa ngakak. Tapi...,


Hm! Ini kesempatan gue khan? Siapa tau calon bidan Siti Alifah ini beneran lagi takut sama suasana kamar yang memang agak-agak nyentrik juga dekorasi arsitekturnya.


"Duarrr!"


"Gatot!!!"


Seketika Alifah melompat ke ranjang tidurku. Terlihat dadanya turun naik karena kaget dan takut mendengar suara mengejutkan dari mulutku.


"Hahaha...!"


"Maaf! Maaf, aku kebablasan!"


Rasa bersalahnya membuat Alifah bangkit dari ranjang tempat tidurku dan bergegas ke arah kopernya. Mengambil satu buah handsaplas bermotif lucu kemudian menempelkannya di atas kulitku yang terkelupas dan sedikit mengeluarkan darah.


"Dih, cuma lecet sedikit!" ujarku menenangkannya.


Walau agak perih, tapi jujur aku bahagia. Pertemuan kami ini meninggalkan bekas luka yang akan selalu kuingat nanti.


Kuusap handsaplas yang menghiasi pergelangan tanganku.


Sentuhan lembut jemarinya masih begitu terasa di kulit ini.


"Aku mandi dulu deh!" kataku setelah tersadar dan mencium aroma tubuhku bau keringat setelah seharian dalam biskota yang membawaku dari Ibukota.

__ADS_1


Alifah tersenyum mengangguk.


"Eh, hati-hati ya?! Jangan bengong sendirian. Bahaya!" godaku membuat dua bola matanya yang indah mendelik.


"Gatot! Jangan rese' deh! Lo sengaja khan nakutin gue!"


"Ih, siapa juga yang nakutin! Emang beneran koq!"


"Gatot! Iiih! Gatot!!! Mandinya GPL, Ga Pake Lama!" teriaknya dengan wajah memucat ketakutan.


"Ada ya, bidan penakut! Ck! Gagal ini mah jadi bidan!"


Alifah hanya bisa melotot sebal padaku yang tertawa lepas masih terus menggodanya sampai masuk kamar mandi.


Isengin, seru kali ya!?!


Aku sengaja bersenandung agak-agak nembang. Dan benar saja, si Alifah langsung ketuk-ketuk pintu kamar mandi.


"Tot, Gatot! Mandinya cepetan! Ish, jangan keramas malem-malem! Tar masuk angin! Gatot! Buka pintu, Tot! Gue merinding ini denger suara aneh! Gatot!"


"Baaa!"


Aku sengaja membuka pintu kamar mandi dengan muka separuh kututup handuk warna putih.


"Aaah...!" teriaknya histeris dan langsung menyergap tubuhku. Sampai..., sampai....


Sampai handuk penutup tubuh bagian bawahku melorot dan terlihat polos perabotan lenongku.


"Ya Tuhaaan!!!"


Seketika aku dan dia belingsatan. Dan wajah-wajah pucat merah, kuning, hijau menghias diri ini dan dirinya.


Yassalam...

__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2