MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (71) Masih Menggalau


__ADS_3

"Gimana?" tanya Ibu penuh rasa ingin tahu.


"Aman, Bu! Hehehe..."


"Alhamdulillah! Ibu sampe puasa lho kemaren. Takutnya, Anak Gantengnya Ibu kalah bersaing sama cowok lain yang pastinya lebih mapan dari kamu!"


"Hadeh, Ibu! Kalo jadi orang jangan kelewat jujur. Hiks! Betewe makasih banyak supportnya Ibu! Langsung kilat, Allah ijabah. Hehehe... Eliza terima Gatot lagi, Bu!"


"Hehehe... Alhamdulillah!"


Aku lega, Ibu senang.


Hubunganku dengan Eliza juga kini baik-baik saja. Dengan emas murni berkadar 24 gram sebesar sepuluh gram, Aku bisa memikat kembali hati Nona Lilis.


Sebenarnya bukan karena emas murni, Eliza menerimamu lagi. Secara harta Eliza jauh lebih berlimpah daripada aku. Tapi karena kesungguhanku sampai terbang ke Ibukota menyusul dirinya.


Aku curhat kalau hubungan kami baru bisa dihalalkan setelah kakak sepupu Eliza menikah. Mau tak mau Ayah Ibu harus menunggu saat itu tiba.


Ibu tersenyum. Beliau mengelus bahuku pelan.


"Usiamu baru 25 tahun, Nak! Masih muda untuk ukuran laki-laki!"


"Tapi temen-temen Gatot udah pada nikah semua. Malah ada yang udah anak dua."


"Terus yang duda janda? Apa kabar juga? Hehehe... Umur itu cuma angka. Kedewasaan seseorang gak hanya sebatas tengok umur, Tot! Setidaknya, Ibu Ayah lega, kamu bisa memilih dan memilah mana yang paling prioritas dihidupmu sekarang!"


"Hehehe... Iya, Bu! Gatot kepengen bahagiain Ayah Ibu!"


"Kamu jadi anak baik, ga nyusahin Ayah Ibu sedari kecil, itu udah jadi kebahagiaan Ayah Ibu. Santai aja, Tot! Jangan terlalu banyak fikiran. Ntar kamu sakit. Itu yang Ayah Ibu takutin. Akhir-akhir ini kamu sering sakit deh! Beneran bikin kuatir kami!"


"Maaf, Bu! Janji, Gatot bakalan jaga kesehatan deh! Hehehe..."


"Iya, dong! Anak Ibu cuma kamu seorang. Kalo ada apa-apa,..."


Aku segera menghalau fikiran Ibu yang terlanjur berat dan semrawut. Berusaha meringankan beban di otak, agar kembali terjaga kewarasannya.


"Ish, Ibu! Jangan mikirin yang aneh-aneh ah! Hehehe... Oiya, Eliza kirim salam sama Ibu Ayah!"


"Waalaikumsalam. Hehehe...! Kapan Eliz main lagi kesini?"


"Jangan dulu sering-sering, Bu! Soalnya belum boleh nikah buru-buru!"


"Oh iya juga ya?! Hehehe... Bahaya kalo orang nanya-nanya, kapan nikah?!" seloroh Ibu.


Aku dan Ibu tertawa. Sore yang indah semakin ceria ketika Ayah pulang ke rumah.


Rumah adalah tempat ternyaman ketika penghuninya sama-sama memiliki keyakinan bahwa rumah adalah tujuan kebahagiaan.


.............


Hari-hariku kembali cerah.


Kerja dan kerja. Membangun masa depan, mencari cuan.

__ADS_1


Apalagi kini bekerja sama bersama orang tercinta. Rasa lelah pun seketika menguap sirna. Penat hilang berganti kebahagiaan.


Kata orang cinta itu gila. Emang iya.


Kata orang cinta itu kadang ngeselin. Ho'oh.


Begitulah. Kita sering dibuat hilang waras, akal sehat dan kesadaran karena terserang penyakit CINTA.


"Pulang gih!?" perintah Eliza dengan suara manjanya.


Ini malam minggu ke-lima kami. Setelah puas keliling kulineran sampai perut seperti mau meledak karena kekenyangan, aku mengantar Eliza pulang.


"Boleh...nginep ga?" bisikku nakal.


Hiks. Ada yang berdiri tegak, tapi bukan tiang. Naon eta?!? Hadeuh skip lah!


Eliza mendorong tubuhku dengan penuh canda. Sampai Bi Karti pun ikutan tertawa melihat kami yang bertingkah macam bocah.


"Jangan dulu nginep, bahaya!" kata Eliza justru membuatku semakin meningkat level kebandelannya.


"Ada bahaya apa? Justru bisa aku tangani, Yang!"


"Ish! Bahaya ke-gep hansip bisa digerebeg nikah kita!"


Merah, kuning, hijau wajahku. Teringat masa lalu menikah dengan si Belut karena ter-gep warga pada saat itu. Hiks. Memori buruk ini beneran ga akan pernah hilang dari ingatan.


Aku hampir tersedak. Ketika ada seseorang mengucapkan salam di depan pintu rumah Eliza.


"Pak Zulfikar? Ada apa, Pak?"


Hiks. Lemes dengkul gue! Hhh... Masa' sih gue kudu nikahan digerebeg lagi?! Hadeuh, please deh thor! Gabut amat si lo, bikin novelnya! Ck!


Aku juga pulang, setelah pak Zulfikar pamit.


Diperjalanan menuju rumah, ingatanku kembali pada Alifah. Entah mengapa, aku khawatir dengannya. Dengan kedekatannya juga pada si Ubaid yang mantan tunangan Eliza.


Tadi sempat ingin sekali menanyakan perihal Cak Ubaid pada Eliza, tapi... Khawatir pacarku yang ambekan itu marah dan merembet emosinya ke hal lain seperti kemarin.


Alhasil, keputusanku adalah menyelidikinya sendiri diam-diam.


Dulu aku kenal lumayan akrab dengan Cak Ubaid, secara dia adalah katingku angkatan pertama. Ditambah aku yang pindahan dari Ibukota, butuh teman yang lebih tinggi tingkatan kelasnya. Dan Ubaid serta kak Shafira adalah anggota BEM kampus yang aktif kala itu. Otomatis mengobrol dengannya menjadi nilai tambah untukku bergaul di kota yang baru kujejaki ini.


Tapi banyak kejanggalan, kenapa Eliza bisa pacaran bahkan sampai tunangan dengan Ubaid.


Eliza tak mengenal Ubaid di kampus karena setahun kemudian mantan tunangannya itu pindah kampus dan berganti fakultas serta jurusan walau masih intens LDR-an dengan kekasihnya yang sampai lulus wisuda bergelar Sarjana Manajemen.


Cak Ubaid menikah dan hidup bahagia bersama kak Shafira almarhumah setelah itu. Lalu, istrinya hamil dan melahirkan. Tetapi, umurnya tak lama setelah itu dipanggil pulang oleh Si Empunya Kehidupan.


Hm... Berarti waktu tunangan sama Eliz, cak Ubaid statusnya duda. Atau... Mereka berhubungan saat kak Shafira masih ada? Atau...? (Wait, wait! Jangan su'udzon terlalu jauh, Markonah!)


Tapi aku harus protektif juga. Mengingat kini Alifah sudah kutitipkan pada Cak Ubaid. Membuatku agak-agak gimana gitu. Hhh...


Pukul sembilan malam lebih, hanya kasur empuk kamarku-lah yang paling mengerti.

__ADS_1


Tring


...Apa kabar lo, Tot?...


Alifah nge-chat gue! (Entah kontak batin, entah chamistry kami yang sudah begitu kuat... Tiba-tiba chatnya masuk)


Baik, (emoji nyengir) kabar lo gmn?


^^^Alhamdulillah. Eh, Tem... Gue udah kerja di Puskesmas Bukit Intan.^^^


Iyakah. Syukur deh


^^^Lah? Gitu doang responnya?^^^


Ni gue balas chat sampe jijingkrakan


^^^Wkwkwk^^^


Aku tersenyum. Kembali mengenang betapa berbalas pesan adalah jalan ninjaku dengannya ketika kita masih berstatus pacaran. Hhh...


^^^Tot, gimana kabar Eliza? Hubungan lo sama dia, gimana?^^^


Baik, Lut! Sekarang kita pacaran lagi


^^^Uhhuy. Sa'ik bener! Eh elo dapet salam dari Kak Iyam anaknya Bu Janah!^^^


Wah?!? Salam balik, Lif (emoji dengan dua mata lope-lope)


^^^Hiks, kenapa sih elo itu dipuji-puji cewek cantik mulu y? Untung gue sekarang cuma sodaraan sama elo. Kalo engga'...^^^


Hahaha Njirrr


^^^Weiy, toxic lo (emoji tangan mengepal tinju)^^^


Maaf, Sayang


^^^Lah? Gue ss kirimin chat lo ini ke Eliz ya? Lo berani panggil gue 'sayang'^^^


Sejak kapan lo punya nomornya Nona Lilis?


^^^Duh Nona Lilis. Gue dulu di panggil Buntelan Kentut. Hiks. Hhh^^^


Hehehe peace Belut


^^^(Emoji muka merah penuh amarah)^^^



Aku tertawa. Menggelinding ke pinggir ranjang. Malam mingguan aku chattingan sama si Belut sampai larut malam.


Ini... Ini salah. Ini perbuatan yang tak bener ini.


Hiks. Kenapa gue kudu kek gini sih? Apa emang kaum berjakun dan berbatang itu ditakdirkan bisa menyerong kanan-kiri? Tapi gue aslinya setia koq! (setia-p tikungan ada!)

__ADS_1



...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2