MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (75) Tatapan Itu...


__ADS_3

Jika aku bukan jalanmu


kuberhenti mengharapkanmu


Jika aku memang tercipta untukmu


Ku 'kan memilikimu


Jodoh pasti bertemu


Hari-hari selanjutnya, Aku dan Eliza masih mempertahankan ego sendiri-sendiri.


Aku yang merasa sedih sekaligus kecewa, pacarku masih terus-terusan melakukan intimidasi lewat sikap dinginnya. Membuatku tak bisa berkutik dan melakukan apa-apa, selain berdoa, moga Allah melunakkan hatinya.


Aku juga tetap melakukan tugasku sebagai karyawan Eliza. Tetap hadir setiap hari, walaupun harus dimasami wajah Sang Nona yang masih mode on mengkesal padaku.


Sesuai janjiku dalam hati, aku juga membisukan notice aplikasi WA-ku setiap malam. Aku tak mau merespon japrian Alifah untuk sementara waktu. Mengingat amarah Eliza yang membuatku gila karena kecemburuannya.


Ini hari Rabu, nanti malam adalah malam Kamis. Alifah sempat menchat kalau kehadiranku sangat ditunggu Cak Subekti dan Ning Imah malam ini diacara syukuran mereka.


Aku hanya menjawab singkat 'Ya' saja. Dan kurasa, Alifah seperti menyadari kalau keadaanku sedang TIDAK BAIK-BAIK SAJA. Dan dia tak menchatku lagi.


Hhh... Sori, Belut! Gue saat ini harus bisa ngertiin perasaan pacar yang lagi cemburu tingkat tinggi.


"Jadi tar malam ke Bukit Intan?"


Aku terkejut. Menoleh ke arah Eliza yang berdiri tegak disampingku.


Aku menatap netranya lekat. Ingin sekali berenang diriak bola matanya yang bening. Ingin menyelami kedalaman hatinya yang sulit kutebak. Karena binaran indah itu kadang tenang, kadang bergelora seperti kemarin.


Aku mengangguk sekali.


Masih agak waswas dan takut. Hatiku berusaha meraba-raba. Berharap kedewasaan pribadi Eliza bisa disesuaikan seperti umur kami yang sudah 25 tahun.


"Mau bawa kue?" tanyanya singkat. Tapi kali ini nada bicaranya jauh lebih tenang dan terdengar lembut.


Aku bingung. Hanya menunduk dengan fikiran menerawang.


"Aku beli brownies aja deh ya, empat dus?"


Aku terkesiap. Kembali menatap wajahnya yang terlihat tenang.


"Bawa... Kesana?"


"Iya! Empat kurang ga ya, Bang?"


"Hm... Nti aku mau beli jeruk mandarin sepuluh kilo ya? Boleh ga?" tanyaku gugup.


Senyuman Eliza yang kurindukan akhirnya mengembang juga.

__ADS_1


"Maaf ya, kemarin aku..."


Grep.


Kupeluk tubuhnya erat.


Lega sekali rasanya. Ginikah rasanya baikan sama pacar? Hiks.


"Maafin aku, Yang!" bisikku pelan di telinganya.


Terdengar tawa lirih dari bibirnya yang basah oleh lipgloss warna merah jambu.


"Aku yang harusnya minta maaf! Aku kekanak-kanakkan banget ya? Aku takut, sangat takut kamu selingkuh! Aku ga mau diselingkuhin kedua kali!"


Aku menggelengkan kepala. Menatapnya dengan pandangan sendu, tanpa berkata apa-apa. Hanyalah janji dalam hati yang tak ingin kuingkari sampai kapanpun. Karena aku telah memilih gadis yang berada sangat dekat dihadapanku ini. Bukan memilih Alifah.


............


Makan siang bersama orang yang disayang. Dengan feeling senang dan kondisi percintaan yang tenang. Rasanya... Seperti kau menjadi super man.


Kami kembali akur. Setelah nyaris lima hari sibuk dengan kegundahan hati serta egois tinggi masing-masing. Ternyata semudah ini jika kita membuka hati, legowo dan melupakan semua masalah yang pernah ada.


Bahkan kini kami bisa tertawa terbahak-bahak seperti sekarang ini. Mentertawai kegoblokan kami yang hakiki. Dan berkelakuan layaknya bocil. Hadeuh!


Tangan kami kini saling menggenggam lebih erat. Berharap hubungan ini akan terus terjalin seperti saat ini, terus dan terus selamanya.


Saling mengerti satu sama lain. Saling memahami perasaan masing-masing. Saling mencoba meminimalisir kesalahfahaman yang pernah terjadi diantara kita. Itulah niat hubungan kita. Hingga nanti tiba waktunya. Tuhan menyatukan kami pada kehalalan yang menjadikan hubungan ini sakinah, mawaddah warrohmah.


Inginnya secepatnya, malah.


Tapi ternyata, Tuhan masih ingin menguji kami lebih dalam lagi sepertinya.


Setidaknya, kami semakin lebih baik lagi ke depannya dalam membina hubungan. Saling tahu isi hati serta perasaan masing-masing. Saling kenal sifat masing-masing pula sampai pada hal yang terburuk sekalipun.


.............


Pukul enam lewat ba'da maghrib, Aku dan Eliza meluncur ke Bukit Intan.


Dengan Aerox-ku, hanya butuh waktu beberapa belas menit saja.


Ibu dan Ayah sudah kukabari kalau aku pulang telat karena menghadiri acara selametan walimatussafar Cak Sub dan Ning Imah.


Beliau berdua menitip salam pada kedua orangtua angkatku dan Alifah itu. Ingin ikut, tapi tak bisa. Aku lupa memberitahu Ayah Ibu jauh-jauh hari karena stres ribut dengan Eliza.


"Assalamualaikum!"


"Gatooot! Duuuh, orang sibuk baru datang nih!"


Aku tersipu. Cak dan Ning merangkulku begitu erat. Bahkan putra-putri mereka yang telah hadir sedari tadi hanya bisa termangu melihat kedekatan kami.

__ADS_1


"Cak, Ning! Senangnya Gatot dengar Cak dan Ning akan ibadah umroh!" ujarku dengan mata berbinar.


"Anak-anak yang biayai kami. Hehehe... Alhamdulillah!" kata Ning sembari menepuk-nepuk pipiku pelan. Itu adalah kebiasaan Ning Imah yang selalu kurindu jika mengingat kebaikan beliau.


"Bawa siapa ini? Waah, cantik!"


"Ini pacar Gatot, Cak! Eliza Maura namanya! Cantik khan?" kataku malu-malu dengan suara pelan. Kedua pasangan yang kuidolakan setelah Ayah Ibu itu tertawa kompak.


"Ho'oh! Ayo, cepat lamar!" goda Cak Sub.


"Maunya sih, gitu! Tapi tunggu kakak sepupunya nikah dulu, baru kita. Hehehe..."


"Semoga disegerakan ya, Tot!"


"Aamiin..."


Eliza tersipu malu mendapati support dan dukungan doa dari banyak orang. Matanya sesekali melirikku dengan mengulum senyum. Entah apa yang ada difikirannya. Semoga itu bukan fikiran yang tak baik.


Alifah yang sibuk di dapur terlihat keluar dengan membawa dua piring kue camilan.


"Gatot! Eliza! Akhirnya kalian datang!"


Alifah dan Eliza kini saling berhadapan dengan uluran tangan serta senyuman manis dibibir keduanya. Terlihat agak canggung memang. Dan aku pun harus bisa bersikap dewasa dihadapan Eliza, dengan selalu mendampinginya.




Keduanya sama-sama cantik dengan style hijab yang dikenakan. Membuat beberapa pemuda sekitar yang baru datang diacara selametan Cak dan Ning seperti melihat bidadari turun dari langit. Dan tak mau berkedip walau hanya sedetik. Ck! Ini nih, pantes buat gue cemburuin!!! Gatot mode on waspada.


"Cak, Ning! Ini... Eliza bawa kue, Gatot bawa jeruk. Buat tambahan sedekahan. Maaf, cuma bisa bawa ini! Hehehe..."


"Apa sih, Tot! Ini banyak banget! Makasih ya, Nak Eliza! Makasih Gatot! Ayo, ayo duduknya di dalam saja. Sebentar lagi pak ustad datang, jadi Gatot sama Eliza bisa duduk barengan anak mantu Cak! Ayo!"


Aku mengangguk. Menuntun Eliza yang berjalan mengekorku. Hingga tiba-tiba terdengar lagi suara salam tamu yang baru datang.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam! Waah, pak mantri! Alhamdulillah, bisa hadir juga rupanya!"


Cak Ubaid Salman Khan?



Dan seketika mataku tak bisa menahan rasa cemburu karena jelas sekali netra Eliza bertatapan langsung dengan Ubaid.


Hufh!!!


__ADS_1


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2