MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (16) Tembakan Cinta


__ADS_3

"Udah malem, Tot! Pulang yuk? Ga enak sama sodara lo!" gumam Alifah menyadarkanku.


"Oke, yok deh!"


Treeet... Treeet... Treeet...


Lagi-lagi handphone Alifah kembali berdering.


"Angkat aja, tapi load speaker ya? Gue pengen denger bacotnya mau ngemeng apa!" pintaku pada Alifah.


Thanks God! Lagi-lagi si Belut nurut!


...[*Hei, lont*! Pulang sekarang! Denger ya!? Aku sekarang ada di RS, lagi visum! Setelah tau siapa cowok yang bawa kamu kabur, siap-siap ditahan atas tuduhan penganiayaan*!]...


"Jangan! Jangan lapor Polisi! Aku pulang sekarang!!!"


Klik.


Alifah mematikan ponselnya. Airmatanya menetes satu persatu.


"Ayo, anter gue pulang! Yo, Tot!" isaknya dengan suara lirih mengiba. Kedua tangannya menarik pangkal tanganku agar segera bergerak.


Tapi aku hanya diam tak bergeming menatap wajah Alifah yang sendu berurai airmata.


Lif! Boleh gak gue gebukin tunangan lo itu? Boleh ga, gue jadi pembunuh karena ga tahan denger congornya yang udah kelewatan ngatain lo 'lont*'! Hiks...


Aku akhirnya mengalah.


Linangan air matanya membuatku hanya pasrah dan berserah.


"Kenapa lo diem aja, ketika bajingan itu ngatain lo sarkas toxic begitu? Kenapa, Lipah? Gue ga habis fikir!..."


Alifah tak merespon ucapan kekesalanku.


Tok tok tok (Kuketuk pintu kamar Hamidah, sepupuku)


"Midah! Gue pamit ya? Kunci lagi pintunya!"


"Hm! Iya! Titi DJ, tiati di jalan!"


Jawaban Hamidah dari dalam kamar membuatku lega.


Pasti tu bocah lagi nguping dari tadi! Bomatlah!


"Salam ya sama Wak Gimin! Kami pamit!"


"Terima kasih banyak, Kak! Maaf, jadi ngerepotin!" tambah Alifah setelah melihat wajah Hamidah muncul membuka pintu kamarnya.


Aku menuntun motor keluar teras rumah Uwak-ku, Kakak dari Ayahku.


Perlahan menyalakan mesin motor setelah mengambilkan helm untuk Alifah, lalu memasang helm di kepalaku.


Biarpun slenge'an, gue tau tata krama dan sopan santun berkendara. Selain males berurusan sama pihak kepolisian, ga mau juga kalo sampe kena tilang karena melanggar aturan.


Alifah duduk diam di jok belakang dengan kedua tangan agak gemetar meraih pinggangku setelah memasang sendiri helm-nya.


"Lif! Gue suka kasar sama lo! Sejak awal kita ketemu. Gue suka bully elo! Tapi gue menghargai lo! Sangat menghargai lo apalagi jenis kelamin lo sama, sama orang yang udah lahirin gue! Gue sangat menghargai wanita! Tapi dia kaga, Lifah! Dimana harga diri lo?!?" teriakku kesal, karena yang diajak bicara hanya diam tak menjawab.


Pletak.

__ADS_1


Tangan tiba-tiba menjitak helm-ku.


"Berisik! Ngoceh mulu kerjaan lo!"


Aku tersedak air ludahku sendiri.


Baru sedetik Alifah memakiku, tapi dia langsung memeluk erat tubuhku. Kepalanya merebah dibahu belakangku. Seolah ingin ia tumpahkan semua kegundahan hatinya pada tubuh belakangku ini.


Hiks,... Ada yang nemplok dua dibelakang!


Ya Tuhan! Aku harus berkata apa!? Harus berbuat bagaimana?


Kubiarkan Alifah menggelendot.


Sengaja laju motor kupelankan. Agar semakin lama sampai.


Suasana lalu lintas kota Jakarta di pukul satu lewat tampak lengang. Hanya beberapa mobil dan motor yang melintas karena sebagian pemakai jalan lainnya sudah beristirahat ditempatnya masing-masing.


Andai waktu bisa diputar ulang kembali. Andaikan semua bisa disetting lagi. Aku mau kembali ke masa remajaku dulu ketika menikahi Alifah! Tuhan... Please... Tolonglah Aku dan Dia, Tuhan! Aku akan menjaganya selalu. Akan membahagiakan dirinya dengan caraku!


"Jalannya lama banget, kayak keong, tau ga?!" gerutu Alifah membuatku ngakak tertawa keras.


"Protes mulu lo kayak anggota DPR!"


"Ah, sotoy lo! Kayak tau aja apa kerjanya anggota DPR!" timpal Alifah keras.


"Hah? Kerja anggota DPR? Ya tau lah, tugasnya menyusun dan membahas Undang-Undang. Terus, sebagai pelaksana pengawasan terhadap pemerintah. Satu lagi, mengawasi anggaran. Itu pelajaran PPKN, Bu Darmiyati. Ish, nilai PPKN lo berapa, Lif sama bu Darmi? Hehehe..."


"Masih inget aja! Hahaha... Bu Darmi yang cempreng itu ya?"


"Gue suka denger suaranya yang mirip petasan sunat! Hahaha...! Anak-anak, hei, anak-anak! Tugasnya mana anak-anak, hei anak-anak!"


Kami tertawa sampai lupa masalah. Rendevous masa SMA, masa yang paling indah dan mengesankan. Sekaligus masa-masa yang menyedihkan serta pahit bagi Aku juga Alifah.


"Lif! Andai gue bertahan jadi laki lo! Kisah kita mungkin akan lain ya?" gumamku.


"Hah? Ngomong apaan sih? Ga kedengeran!"


Aku tersenyum tipis.


Ada rasa penyesalan kembali menyeruak dihati ini.


Andai aku menurut kata Ibuku dahulu. Bahwa kami lebih baik menahan diri dan fokus pada masa depan menjelang ujian, mungkin saja Alifah tak akan bertunangan dengan selebgram gila itu.


Mungkin saja, anak kami sudah empat kini. Seperti di mimpi.


Yassalam! Otak mesum! Malah mikirin anak! Pikirin caranya lo buat bebasin Alifah dari masalahnya sama di Bryan Pe'a itu! Bukan mikirin diri dan khayalan mimpi lo dimasa lalu! Hadeeuh!


Sori, sori...! Otak agak miring dikit!


"Lif! Lif!"


"Hm?"


"Gue sayang elo! Gue cinta elo dari dulu! Tapi gue kaga berani ngungkapinnya! Takut lo ngakak, ngetawain gue sampe guling-guling di trotoar! Gue takut ditolak! Sampe sekarang, gue masih cinta sama elo, Alifah!"


Du dududu! Tembakan gue ga asik banget nih! Kaga ada romantis-romantisnya!


"Gue juga...sayang sama elo, Tot!"

__ADS_1


Hiks! Gue udah tau perasaan lo dari buku diary lo yang tebal dan banyak curahan coretannya! Maaf, gue ga mau cerita, gue udah nyuri buku diary lo!


"Beneran, Lif? Ah bohong lo! Cuma buat bikin hati gue ga ziper doang khan lo?"


"Serah lo, lah! Mau percaya sukur, ga percaya juga terserah!"


Aku menarik tangan kanan Alifah ke dalam pinggangku.


"Gue udah punya tunangan, Gatot!"


"Hiks, baru tunangan. Belom jadi suami! Bahkan andaipun dia suami lo, gue bakalan rampas lo dari tangannya karena perbuatannya yang kasar sama lo! Gue ga bisa terima!! Orang yang gue sayang, gue cinta... tapi dilakukan semena-mena!"


"Bullsh*it! Jangan berlebihan! Lo bisa masuk penjara, Gatot Imut! Cukup doain kebahagiaan buat gue, kalo lo beneran sayang sama gue!"


"Gue ga takut masuk penjara! Soal doain lo, itu udah pasti, Belut! Dimanapun dan sampai kapanpun, nama lo selalu gue ucapin di setiap habis tahiyat akhir sholat gue!"


"Sholatnya tiap hari ga? Lima waktu ga?"


"Kadang-kadang! Kadang seminggu sekali, kadang tiap hari tapi belum sampe lima waktu,"


Pletak


Lagi-lagi helm di kepalaku kena jitak dia.


Lipah! Kepala gue tiap tahun bayar zakat fitrah, Lipah!


"Jangan geplak kepala gue, Marpu'ah!" semprotku padanya.


"Maaf, Zainudin! Marpu'ah khilaf! Mohon dimaafkan!"


"Hahaha... Dasar sengklek!"


"Hahaha...!"


Ah, benar-benar edan! Aku dan Alifah pasangan gokil. Kadang ribut, debat, berantem hebat, tetapi tak lama kemudian tertawa terbahak-bahak.


Tuhan! Apakah kami ini jodoh? Please, tolong satukan kami dalam naungan kehalalan-Mu, Tuhan!


Mengapa cinta ini terlarang


Saat kuyakini kaulah milikku


Mengapa cinta kita tak dapat bersatu


Saat kuyakin tak ada cinta selain dirimu


^^^Tuhan, berikan aku hidup satu kali lagi^^^


^^^Hanya untuk bersamanya^^^


^^^Kumencintainya, sungguh mencintainya^^^


^^^Rasa ini sungguh tak wajar^^^


^^^Namun kuingin tetap bersama dia^^^


^^^Untuk selamanya^^^


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2