
Teriakanku ketika kaki ini dipijat Pamannya Harlan rupanya mampu membuat sedikit lega perasaan yang sesak ini.
Tapi baru kusadari, ternyata bukan hanya lega. Tapi juga membuat para tetangga beliau penasaran kepingin tahu siapa yang berteriak kencang ini. Hiks. Itu aku! Suwe' bener jadi tontonan banyak orang!
Sebenarnya para tetangga sudah terbiasa mendengar jeritan para pasien Cak Subekti. Tapi baru pertama kali mendengar teriakan bar-bar yang seperti tarzan di hutan.
Pijatannya membuat hilang rasa malu gue! Yang ada rasa pengen mengeluarkan semua rasa di jiwa! Hadeuh...
Sampai ada satu cewek yang mengintip diam-diam. Matanya membulat menatap fokus pada wajahku.
"Bang Fahri? Bang Fahri!!!"
Hampir aku terjatuh ditomplok seorang perempuan cantik yang ternyata sedang hamil sedang.
"Abang! Lupa ya, sama aku? Abang kenapa ga pulang-pulang? Nama abang bukan bang Toyib, Bang!"
Lah? Memang bukan, Neng!
Cak Subekti segera menuntun perempuan itu yang masih menempel erat didadaku.
Beneran kalo aja ini dada sama kaki gue ga lagi sakit begini, pasti rasanya bakalan empuk sekali. Coz dadanya yang lumayan extra large menempel penuh di dadaku. (Hadeuh! Mulai fiktor, kumat maning!)
"Iyam, ini bukan Bang Fahrinya Iyam! Ini abang Gatot dari kecamatan Pangkal Pinang! Pasiennya Cak Subekti, Yam!"
Aku hanya bisa menelan saliva. Masih dengan satu tangan memegangi kakiku yang nyeri nyut-nyutan karena diduduki Iyam.
"Tapi, Cak... Ini suamiku, Cak!" katanya kekeuh dengan mata merebak seperti hendak menangis.
"Bukan, Yam! Bangun, Cah Ayu! Kasian, kakinya sakit, sedang Cak obati!"
"Kamu, suamiku Bang Fahri khan?" tanyanya padaku. Membuatku tergagap kikuk lalu segera menggelengkan kepala dengan cepat.
Perempuan ini kayak...(maaf, ada gangguan kejiwaan sepertinya)
"Bukan? Bukan Bang Fahri? Kamu temannya bang Fahri? Ini, ini tengok fotonya dulu! Ini bang Fahri... Apa abang pernah tengok suamiku di kota?"
Aku menelan saliva.
Perempuan itu mengeluarkan sesuatu dari balik branya. Sebuah foto!
__ADS_1
Pria yang tampan. Hhh... Kasian! Kayaknya Mbak ini sutris gegara suaminya ga pulang-pulang! Mirisnya!
"Saya tidak pernah lihat suami Mbak Iyam! Maaf..."
Hanya kalimat itu yang bisa kulontarkan dari mulutku yang kelu.
Hhh... Kejamnya cinta! Ternyata bisa berimbas sangat kuat pada guncangan jiwa. Mungkin Mbak Iyam depresi karena sang suami sampai kini belum kembali. Padahal perutnya semakin besar dan sepertinya tinggal beberapa bulan lagi melahirkan! Hhh..., hiks tetiba gue jadi ingat Alifah! Jandaku yang kini jadi istri mudanya si Bryan Anggara. Apa kabarmu wahai Belutku tersayang? Sungguh aku merindukanmu!
Dengan cepat kugelengkan kepala. Berusaha mengeluarkan Alifah dari isi otak ini.
Tak mau dan takut nanti bablas jadi seperti Mbak Iyam. Jadi sakit jiwa. Hiks.
"Nanti kalo Abang tengok suamiku, bilang ke aku ya Bang?! Bilang juga ke dia, aku rindu nak jumpa!"
Aku mengangguk.
Lagi-lagi menelan saliva setelah melihat ia memasukan kembali foto suaminya ke dalam bra warna merah muda yang sempat menyembul isinya menyilaukan kedua bola mata ini.
Alamak jaaang!!! Rezeki nomplok tapi harem orang! Kamu berdosa sekali, Gatot!
Mbak Iyam akhirnya keluar juga dari ruang tamu Cak Subekti. Membuatku menghela nafas lega.
Yassalam, kenapa begono? Padahal bininya cantik! Bodinya bak gitar Spanyol yang aduhai dengan ukuran dada di atas normal perempuan Indonesia. Pasti Mbak Iyam ini waktu gadis banyak yang naksir!
"Kenapa gak disusul aja suaminya ke Jakarta, Cak?" tanyaku bingung.
"Suaminya tak memberi alamat jelas. Bahkan nomor handphonenya juga non aktif sekarang! Kayaknya, suami mode on nipu!" jawab Cak dengan suara setengah berbisik.
Oala...! Lelaki jaman sekarang! Gue kira cuma ada di kota-kota besar doang yang tipe-tipe ngeh* model gitu! Rupanya di kota kecil yang jauh dari Ibukota pun ada sebagian turunan buaya darat yang beranak pinak. Ck ck ck...
"Sayang ya, Cak! Padahal Mbak Iyam itu cantik lho! Kalo dia ikutan Miss Universe, Gatot rasa bisa masuk kontestan terfavorit. Bodinya itu, lho!"
Wanjiiim!!! Gue keceplosan ngungkapin pendapat!
Cak Subekti tertawa melihat wajahku seketika pias setelah mengeluarkan kalimat yang meresahkan perihal tampilan Mbak Iyam. Uhuk, dasar si otak mesum! (tuk tuk tuk; ketuk jidat)
............
Malam ini aku tidur di kamar depan Cak Subekti, Pamannya Harlan.
__ADS_1
Beliau tinggal berdua saja dengan istrinya, Ning Imah. Ketiga anaknya sudah berkeluarga dan tinggal berjauhan dengan mereka.
Usia Cak Subekti lebih tua sepuluh tahun dari Ayah. Sementara sang istri dua tahun lebih muda dari beliau.
Aku senang, diterima dengan baik oleh pasangan suami istri yang hangat dan romantis itu. Mereka bahkan memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan cenderung dimanjakan.
Bayangkan, datang pukul sebelas siang, tapi sudah disuguhi makan dua kali dan kopi susu plus camilan dua kali pula.
Kini disaat malam menjelang pun, Ning Imah membuatkanku minuman hangat bandrek enak ditambah goreng sukun yang masih panas.
"Aduh, Ning! Gatot jadi tak enak hati menerima perlakuan Cak dan Ning yang sangat istimewa ini!" kataku malu-malu.
"Jangan sungkan, Tot! Cak dan Ning senang, ada yang mau menginap disini setelah sekian lama rumah kami sepi!"
"Memangnya Mas-Mas dan Mbak Yu jarang pulang kah?"
"Mereka pulang setiap hari raya. Baik itu Idul Fitri maupun Idul Adha. Tapi bulan-bulan biasa jarang datang! Cuma telepon dan kirim wesel saja! Hehehe... Maklum, semuanya pada kerja, Tot!"
"Oh, gitu Cak!"
"Beginilah, Tot! Kami sudah siap menerima takdir ini. Ya mau gimana lagi, semua anak menantu sibuk. Cucu-cucu juga harus sekolah. Jadi,... Tinggal nenek-nenek dan kakek-kakek inilah yang hidup di rumah ini!"
"Sama ayam-ayam, ditambah tikus sama kucing! Hehehe..." tambah Ning membuatku ikut tertawa.
Sedih juga ya?! Dimasa menjelang tua, hidup jauh terpisah dari anak-anak tercinta. Masih sangat bersyukur, ada pasangan yang setia mendampingi.
Walaupun tubuh mulai rapuh dan papa' tapi ada tempat berbagi, curahan hati dan tempat bercanda serta teman berantem yang itu-itu aja.
Hiks... Terus, kalo gue ga ketemu jodoh sampe tua nanti, gimana jadinya? Hidup sendiri tanpa pasangan? Huaaa... Tuhaaan! Please kirimkan jodoh yang baik dan mengerti akan diriku serta kekuranganku, Tuhaaan! (DOA PAKET KILAT)
Tok tok tok
Krieeet... (suara pintu rumah Cak Subekti)
"Niiing! Suamiku masih di sini kah?"
Sesosok tubuh sintal dengan perut terlihat besar tersenyum setelah netranya melihat wajahku.
"Bang Fahriii!"
Iyam kembali menubrukku.
__ADS_1
Yassalam! Rezeki bukan sih, nih? Rezeki bukan? Hiks...
...❤BERSAMBUNG❤...