
Aku dan Eliza, memulai hubungan kerja bersama. Dengan kedewasaan dan profesionalitas yang tak ingin dicampur adukkan dengan urusan pribadi.
Kami sepakat membangun usaha bersama walau kenyataan semua modal usaha seluruhnya milik Si Lilis. Gue cuma modal ide sama tenaga doang! Hiks.
Setelah mengurus SIUP, kami baru serius mensortir urusan lainnya yang tak kalah penting. Seperti masalah packaging juga tak bisa diabaikan demi kepuasan customer. Yang diharapkan jadi pelanggan tetap.
Aku pernah bekerja di perusahaan peti kemas. Secara tidak langsung, ada pelajaran dan ilmu-ilmu yang nyangkut dan bisa dipresentasikan pada usaha ekspedisi Eliza Maura.
Walau menurut Lilis, usaha ini hanya usaha rumahan dan kecil-kecilan. Tapi bagiku semua usaha jikalau kita menjalaninya dengan keseriusan serta doa keberhasilan juga kesuksesan dimasa depan, bisa koq...seperti yang kita impikan. Balik lagi, atas izin Tuhan pastinya.
Aku dan Dia, mencoba mengembangkan usaha kurier ekspress. Menjadi perantara penjual jasa. Dengan niatan keberkahan untuk usaha ini sampai berlanjut dan terus berkembang.
Aku, memulai kembali mengkredit sebuah sepeda motor untuk memudahkan langkahku bekerja dengan Eliza.
Modal buat deketin si Boss nona cantik, siap antar dia kemana saja! Uhhuy...
Harlan dan beberapa teman kuliahku datang di acara pembukaan usaha kami. Mereka juga mensupport usaha joint kami bahkan mendoakan hubungan sampai lanjut ke jenjang pernikahan.
Sontak wajahku dan wajah Eliza memerah. Hanya bisa nyengir kuda karena malu yang cukup besar digoda para senior yang sudah lebih dulu memasang layar pernikahan.
"Iya nih! Kalian khan jomblowan dan jomblowati. Kenapa tak memulai untuk coba berkomitmen juga dalam urusan hati. Apalagi dulu Eliza pernah jadi fans fanatik Gatot khan?!" celetuk Zakir yang sudah jadi bapak dua anak.
"Itu dulu, Zaq! Sekarang Si Lilis dah beauty begini, otomatis seleranya juga bukan aku lagi! Hehehe..." balasku dengan kerendahan hati. Juga kerendahan diri. Hiks. Karena minder, bro! Dia khan boss gue, sekarang!
"Apaan, sih Tot!? Hahaha engga'lah! Aku masih sama seperti Lilis-mu yang dulu!"
"Hahaha... Mantaf jiwaaa!"
"Ayo, Tot! Be a gentle man! Lamar Tot, lamar! Hehehe..."
Sungguh suasana yang menyenangkan. Semua mendukungku untuk menembak Eliza Maura.
"Dulu, aku songong dan menolak Eliza. Kalau aku sekarang gantian nembak dia, dibalas tolak balik ga ya?" ucapku membuat semua tertawa termasuk Eliza.
Sebenernya ini murni dari hati gue yang paling terdalam! Hiks... Lilis, bisakah gue dapetin hati lo yang baik itu?
"Tuh, Liz... Gimana? Bakalan ditolak ga, si Gatot!" pancing Riana, istrinya Kardi yang juga teman seangkatan tapi beda jurusan. Riana anak akuntansi.
"Ga lah! Gatot itu adalah rollmodel aku. Dan sampai sekarang pun, tetap jadi tolok ukur lelaki idamanku!"
__ADS_1
Eh? Sumpe lo???
Mataku membulat menatap Eliza.
"Eliza Maura! Maukah kamu jadi soulmateku? Menjadi pasangan hidupku, membagi separuh nafasmu untukku dan menemani aku sepanjang umurmu?" ujarku langsung tembak dia. Mumpung momennya pas, ada dukungan dan juga kesempatan. Jedoorrr!!!
"Huaaa... Gatooot! Hahaha... Ternyata langsung keluarkan senjata!"
Semua berteriak senang melihat ekspresiku yang tiba-tiba mengajak Eliza berhubungan dihadapan teman-teman kuliahku dulu.
"Terima! Terima! Terima!"
"Ayo, Liz! Terima Gatot! Jangan bikin Gatot sedih karena ditolak cintanya! Hahaha..."
"Apa jawabanmu, Lis?" tanyaku dengan suara penuh harap sambil tertawa malu dan wajah menunduk ke bawah.
"Aku mau, Gatot Subroto!"
"Waaa... Waaah beneran nih? Hahaha!"
"Hahaha... Aku kira Eliza bakalan balas dendam sama si Gatot dan bilang 'gak mau'! Hahaha... Alhamdulillah!"
Huaaa... Terima kasih ya Allah!!! Terima kasiiih...!!! Jujur, beneran pengen nangis ini!!! Ini pertama kalinya gue nembak cewek lain selain si Alifah.
"Beneran, Lis?" tanyaku, nyaris tak percaya.
Si Lilis tersenyum, lalu mengangguk. Membuatku segera meraih jemarinya, dan mengecupnya pelan.
"Hahaha... Si Gatot mau berangkat sekolah, cium tangan Eliza dulu! Hahaha..."
"Asem klean ya?! Suka sekali klean ledek-ledek kami!!! Huh!" ujarku pura-pura marah pada teman-teman yang baik hati.
"Cepatlah ajukan berkas ke Kantor Urusan Agama! Itu doa kami semua!"
Aku dan Eliza tersipu malu. Tapi hati seperti mau meledak, karena bahagia.
Yah, Bu! Bentar lagi Gatot bakalan ngenalin calon mantu sama Ayah dan Ibu! Tunggu, Bu! Tunggu kami minta doa restu!
Kabar gembira lainnya, ternyata niatan tunangan Rudi dan Utami Habibah terlaksana dengan lancar.
__ADS_1
Hubungan keduanya kini diketahui kedua belah pihak keluarga masing-masing. Tinggal menunggu waktu untuk melangsungkan pernikahan.
Otomatis aku kini terbebas dari perasaan bersalah pada Ibu serta Ayah. Dan bisa segera membawa Eliza 'Lilis' Maura ke rumah.
"Tot!"
"Hm?"
"Kira-kira, Ayah Ibu bakalan nerima aku ga ya nanti?"
Aku terkikik. Rupanya si Lilis ini sedang ketakutan pada sikap kedua orangtuaku nanti.
Enak juga nih kalo si Lilis gue kerjain, dikit! Hihihi...
"Denger, Non! Ayahku, orang yang tegas. Mukanya datar dan suaranya menggelegar. Ibuku, wanita cantik yang perfeksionis. Hatinya baik, tapi suka banyak tanya dan kepoan orangnya. Jadi, kamu harus hati-hati bersikap nanti dihadapan mereka!"
"Aduh! Tar bantuin aku lho, ya?" gumamnya pucat.
"Bantuin apaan? Itu mah sebisanya kamu buat cari cara deketin hati mereka!"
"Ih Gatot! Jahara ah!"
Sebagai keterangan, setelah Aku dan Dia memutuskan untuk melangkah ke jenjang serius. Panggilan kami yang elo-gue alhasil jadi di permanis dengan aku-kamu.
Uhuk! Biar ada gereges-geregesnya, gimana gitu! Khan seru tuh aku kamu! Yiha!
"Yang, tapi anterin aku berdoa dulu ya di masjid Jami'! Mau minta tolong sama Allah, moga langkahku masuk rumah kamu dipermudah!"
Bola mataku langsung bersinar indah.
Tuhanku Yang Maha Besar, terima kasih...kau kirimkan aku cewek manis cantik seperti bidadari ini! Aku... Aku akan mempertahankannya sampai kapanpun! Eliza Maura, memang yang terbaik!
Tentu saja, permintaannya Aku turuti.
Gadis manis itu tersipu malu. Tatkala aku mengamini doanya, agar kami dipermudahkan jalannya menuju ridho Allah Ta'ala.
Lilis, gue juga kepengen buru-buru nikahin elo! Setelah ngenalin lo sama Ayah Ibu, gue mau berangkat ke rumah paman lo dari pihak Papa di Jakarta. Minta tolong untuk bersedia jadi wali nikah kami berdua. Dan kita bisa melangkah bersama sebagai pasangan suami istri yang saling mengasihi. Aamiin!!!
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1