
Aku terpaku.
Alifah turun dari motorku dengan cepat setelah melihat si selebgram tengil itu sedang menatap tajam ke arah kami di area parkir rumah sakit.
Tiba-tiba, kang pargoy itu langsung melesat menerjang perutku dengan tinjunya.
Bug.
Uhuk! Bangk*! Beraninya sok jagoan di depan perempuan!
"Kubiarkan tapi tingkah lo makin kepedean!" katanya dengan nada sengit.
Aku yang tidak siap dengan pukulannya yang sebenarnya B aja, sedikit terhuyung mundur dua langkah. Tapi masih tetap tegak berdiri sementara Alifah hanya memekik ketakutan.
"Sudah, Bry, sudah!" lerainya menarik tangan tunangannya agar segera meninggalkanku untuk melihat kondisi Papanya yang sedang berada di ruang ICCU.
Tapi pria angkuh itu tak bergeming. Sepertinya merasa ada di atas angin karena berhasil menghantam perutku. Senyumnya menyeringai.
"Sampai kapan pun, lo bukan tandingan gue! Ingat itu!" gumamnya jumawa.
"Hehehe..., keren! Kepercayaan diri itu penting, maz bro! Tapi terlalu kepedean juga sebaiknya jangan! Bahaya bagi ******** lo yang bablas angine!"
"Ck! Masih sombong rupanya!... Dengar! Gue bisa aja habisin lo sekali sikat! Tapi mikir-mikir dulu, karena berimbas sama nama baik gue!"
"Ahhay...! Nama baik yang mana tuh?" sindirku dengan tawa lebar.
Bryan mencebik.
Aku menoleh kanan dan kiri. Rupanya Alifah telah meninggalkan kami berdua.
Bagus Alifah! Papamu jauh lebih penting dibandingkan keributan kami yang bagaikan dua bocah cilik berebut mainan. Ck!
Aku pergi meninggalkan Bryan dengan kearogansiannya yang super duper tinggi.
Kaki ini kulangkahkan ke arah ruang informasi. Mencari nama Papanya Alifah di ruang Unit Instalasi Gawat Darurat.
"Pak Mukti ya, ada di ruang B3. Sedang ditangani dokter ahli, Mas di unit IGD! Dari sini lurus, belok kanan lalu belok kanan lagi. Di sana ada papan nama Unit IGD!"
"Terima kasih, Suster!"
Aku setengah berlari menuju ruang yang Suster tadi arahkan.
Lemas lututku, terdengar suara isak tangis. Seperti suara-suara dari orang yang kukenal.
Tubuhku membatu, bibirku membisu dan lidahku kelu.
Alifah terlihat sedang menangis dalam pelukan seorang perempuan sebaya Ibu. Mamanya Bryan!
Dipojokan terlihat Arif sedang berjongkok dengan wajah tertelungkup di atas lututnya. Masih dengan tampilan ciri khas santri pada umumnya. Kopiah hitam dan sarungan.
"Arif!"
"Bang Gatot!"
"Papa kenapa?"
Arif menghampiriku sambil menangis. Umurnya yang sudah tujuh belas tahun tak membuat Arif lebih cool dihadapanku. Karena kami telah saling kenal sejak delapan tahun lalu. Disaat usianya masih sembilan tahun.
"Papa jatuh di kamar mandi. Kondisinya masih gak sadarkan diri, Bang!"
__ADS_1
"Bangs*t! Malah makin berani lo nantangin gue!!!"
Bryan muncul dan menarik kerah hoody-ku.
Sontak Mamanya juga Alifah memekik kaget.
"Bryan! Ini aula rumah sakit!" teriak wanita paruh baya itu sembari melotot ke arah putranya.
Lo pikir gue takut, Bryan? Sori! Gue bukan pecundang kayak lo!!!
"Ma! Dia ini mantan suaminya Alifah! Dan mereka ini habis ketemuan dibelakang Bryan, Ma!!!"
Seketika wanita itu menatapku lalu beralih menatap Alifah.
"Lifah?"
Alifah hanya bisa menunduk, tak berani menatap wajah Mamanya Bryan apalagi menjawab panggilannya.
"Jujur! Bilang yang sebenarnya sama Mamaku!"
"Hei Anak Muda! Sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang juga! Atau..., kamu sanggup membayari semua biaya pengobatan Papa dan juga kuliahnya Alifah? Hm?"
Luluh lantah hatiku. Hancur berkeping-keping.
Harga diriku seketika porak-poranda.
Bagaikan badai topan dan angin ribut yang datang tiba-tiba secara bersamaan mengenai bilik rumahku yang rapuh.
Makjleb!!!
Ingin aku berubah jadi hokage. Lalu tertawa keras sampai bahuku bergerak ke atas dan ke bawah. Kemudian melemparkan kepingan emas murni serta tumpukan uang dollar dihadapan Mamanya si Bryan yang kesombongannya bukan kaleng-kaleng.
Pantesan, keturunannya tengil padahal ketenarannya baru se-upil! Ternyata, ada kekuatan dajjal dibalik kesombongan si Bryan sejak dulu kala! Ck, biangnya lebih tengil rupanya!
Hampir aku menerjangnya kalau saja tak segera sadar, siapa diriku ini.
"Dan kamu, Alifah... Jangan pernah ketemuan lagi sama cowok itu juga cowok lainnya!" kata Nyonya Besar itu sembari menunjuk ke arah Alifah.
Gadis itu hanya mendekat dan merapat tubuh adiknya yang juga tak bisa berbuat apa-apa. Kedua kakak beradik itu hanya bisa menatap wajahku dengan pandangan penuh kesedihan.
Ingin rasanya aku punya ilmu menghilang saat itu karena rasa malu yang tak tertahankan.
Tuhan! Janjimu, doa orang yang teraniaya kekuatannya luar biasa. Saat ini aku merasa sebagai orang yang teraniaya parah. Orang yang terhina sampai hilang harga diri dihadapan Bryan dan Mamanya. Hiks... Tolong ijabah doaku, Tuhan! Tolong Alifah dan juga Aku! Bebaskanlah semua beban dipundak JANDAKU yang sangat berat itu! Please, Tuhanku Yang Maha Segalanya!
Aku berjalan perlahan, tapi tatapanku nanar dan tajam pada Bryan serta Mamanya.
"Ingat, suatu saat nanti... Kalian akan mendapatkan penghinaan lebih kejam lagi di banding penghinaan kalian padaku saat ini! Dan kau Bryan, urusan kita belum selesai! Kau mau tanding? Ayo cari ring! One by one, aku siap menerima tantangan!"
"Hei, sudah miskin...belagu pula kamu ya?!?"
Andai saja dia bukan perempuan, sudah kutampar mulutnya yang super pedas melebihi abon cabe level sebelas. Ck!...
Sedih hatiku. Sangatlah sedih...
Bahkan sampai tak bisa menitikkan air mata saking sakitnya dihina.
Tuhan! Tolong balaskan kesedihan hatiku ini, Tuhan! Hiks...
Lorong rumah sakit jadi saksi bisu, betapa hati ini terluka teramat parah.
__ADS_1
Alifah...! Maafkan aku! Maafkan ketidakmampuanku dalam melindungi kamu! Aku hanyalah pria pembual yang pandai bermain kata. Tapi tak mampu menjadi seperti yang kulontarkan terus dan terus padamu, kalau aku akan jadi pelindungmu. Selalu, untuk selamanya. Aku pembohong! Aku ini laki-laki yang tak bisa apa-apa! Maaf, Alifah...
Ho-o Aku
hanya ingin kau tahu,
Besarnya cintaku,
tingginya khayalku bersamamu
'Tuk lalui
waktu yang tersisa kini
disetiap hariku,
disisa akhir nafas hidupku
Oo ho oo ho
^^^Walaupun semua,^^^
^^^hanya ada dalam mimpiku,^^^
^^^hanya ada dalam anganku,^^^
^^^kulewati itu^^^
Yang seakan abadi,
sekali pun kau mengerti,
sekali pun kau fahami,
kupikir ku salah mengertimu
.............
Jalan yang kulewati seperti mengambang. Langkah yang kuayunkan bagaikan tak menatap.
Seperti terbang, jiwa dari raga.
Hanya gontai melenggang dengan perasaan serta hati yang hampa.
Aku pulang ke apartemen dengan mulut seperti digembok kunci sandi.
Bahkan ketika Ayah dan Ibu bergantian menanyakan keadaanku yang kusut masai, bibirku hanya menyunggingkan senyuman tipis mengandung kegetiran.
Maaf Ayah, Ibu! Maafkan anakmu yang lemah ini!
"Gatot tidur duluan ya, Yah, Bu? Ayah kalo mau beli makanan buat makan malam, di kantin sebelah kiri apartemen banyak pilihan. Maaf, Gatot sakit kepala! Gatot tidur dulu sebentar!"
"Minum obat parasetamolnya dulu, Nak! Itu di nakas meja ibu lihat ada beberapa tablet lagi!"
Aku menurut. Mengambil sebutir parasetamol dari bungkusnya yang masih tersegel. Meminumnya lalu masuk kamar tanpa banyak kata lagi.
Hiks...! Sakitnya hati ini, tak boleh ketauan orangtua gue. Cukup gue aja yang ngerasain! Jangan sampe dirasa juga oleh Ayah Ibu!
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1