MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (37) Pertemuan Yang Menjedorrkan


__ADS_3

Aku sudah menelpon Ibuku. Mengabarkan dan meminta beliau beserta Ayah untuk berkemas turun gunung menjengukku di Ibukota.


Ayah dan Ibu terdengar sangat senang. Mereka akan ke Jakarta minggu depan, karena minggu ini masih sibuk panen lada yang Ayah tanam di kebun kecil milik beliau.


Sayang kata beliau kalau ditinggal. Karena buah yang masak sudah tinggal separuh lagi.


Aku juga tenang, karena untuk kali ini bisa mengajak mereka menginap di apart setelah sekian lama kerja dan tinggal di jakarta.


Saking bahagianya, aku sampai berkeinginan mempertemukan Ibu dengan Alifah. Pasti bakalan penuh kehebohan jika mereka dipersatukan.


Aku tersenyum membayangkan betapa dramanya nanti jika bertemu muka. Pasti Ibu bakalan nangis bombay dan Alifah juga tak ragu mengalirkan air mata. Hehehe...


Disaat itulah gue bakalan jadi superhero buat Alifah. Merangkul bahunya erat. Puk-puk bahunya pelan sambil bisikkan kata, "Semangat, Sayang! Kami ada bersamamu!"


Yiha!!! Keren ini mah, pasti! Dijamin hati Alifah bakalan mencair dan lumer karena kehangatan cinta gue yang superindo!


Ngayal dulu boleh ya?


.............


Tapi kenyataannya justru sangat jauh dari khayalan yang ada.


Rupanya Ibuku juga kedatangan tamu yakni Mbak Mirina ketika aku sedang menjemput Alifah di halte Harmoni.


Mirina, tetangga sebelah yang juga istrinya si Bryan terdiam kaku melihatku dan Alifah berdiri di mereka yang sedang bersenda gurau.



"Alifaaah!"


Ibuku langsung memeluk erat tubuh mungil Alifah.


Keduanya tersenyum lebar. Seperti dugaanku, mata keduanya mulai berkaca-kaca. Perlahan tumpah dan mengalir deras namun tanpa drama.



Mbak Mirina sendiri seperti mengalah memberi kami ruang dan privasi.


"Saya pamit permisi, Bu!" sela Mirina sambil mengambil tasnya.


Tetapi Alifah justru menahannya.


"Sebaiknya Mbak tetap di sini!" katanya agak sedikit datar dan dingin. Setitik air mata di pipinya, dihapus dengan cepat.


Mirina yang kikuk kini menatap wajah innocent JANDAKU.


Waduh?!? Perang dunia ketiga gak nih? Aduh! Jangan, please jangan! Ada bokap nyokap gue! Please klean jangan jambak-jambakan dimari!


Ibuku seperti melihat busur panah yang tajam menakutkan dari kedua mata Mirina dan Alifah.


Tentu saja dimata beliau kedua perempuan ini sedang bertarung memperebutkan aku. Padahal mah, bukan!!! Hiks...huaa...


"Oh..em..eh, oiya kalian belum saling kenal ya?! Ini Mirina, tetangga sebelahnya Gatot, Lif! Dan ini Alifah, sahabat masa kecilnya Gatot!"

__ADS_1


Kini Mirina dan Alifah berbarengan menatap Ibuku. Membuat merinding bulu romaku.


Ayahku yang sedari tadi hanya menatap layar televisi di atas ranjang seperti merasakan aura menegangkan dari perkataan Ibuku yang sedikit tergagap. Beliau langsung sigap dan menengahi para perempuan yang dikhawatirkan akan segera pecah ketuban. Ribut maksudnya! Ck...


"Alifah, bagaimana kabar Papa?" tanya Ayah. Good job, Ayah! Aku menghela nafas lega.


"Baik, Ayah! Papa titip salam buat Ayah Ibu. Sebenarnya beliau juga kepengen ketemuan. Tapi, hari ini ada banyak kerjaan! Hehehe..." jawab Alifah. Akhirnya fokusnya kini berbincang dengan Ayah.


Aku, Ibu dan Mirina kini duduk bersama dengan raut muka bingung.


Aku bingung, menerka-nerka isi hati Alifah dan juga Mirina.


Kayaknya mereka saling tau, deh! Apalagi...pas Mirina pamit pergi, Alifah malah dengan tegas melarangnya pergi. Pasti ini ada apa-apanya, deh! Asli gue kagak ngerti sama semua ini!


"Maaf, Gatot! Aku harus pergi, suamiku menelponku!" ujar Mirina. Sontak air wajah Ibu pun berubah. Mirina melambaikan tangan pada Ayah dan Ibu dengan tersenyum serta mengangguk sopan.


"Moga masih ada kesempatan bertemu Ibu lagi!" katanya membuat Ibu mengusap bahu Mirina pelan dan mengangguk mengiyakan.


Aku hanya mengangguk sambil menelan saliva. Dilema juga, apalagi perempuan seksi ini mengatakan alasan yang pastinya bakal membuat sakit hati Alifah jika mengetahui kalau suami dari Mirina adalah tunangannya.


Ibarat judul novel atau sinetron ini pasti bakalan panjang seperti ini, 'TETANGGA SEKSIKU ADALAH ISTRI TUNANGAN JANDA TERCINTAKU'. Heleh!!! Kaga jelas bet!


Raut wajah Alifah tertangkap basah mengsedih beberapa detik oleh netraku.


Fix ini mah! Pasti si BELUT tau siapa itu si Mirina. Dan si Mirina memang udah tau si Alifah dari lakinya!


Alifah kembali mengobrol seru dengan Ayah Ibu.


Kami terlibat perbincangan masa lalu yang penuh senyuman nostalgia.


Tetapi hatiku justru semakin was-was dan cemas. Obrolan Ibu mulai melebar ke hal-hal yang sensitif.


Beliau mulai kepo, tanya-tanya kehidupan Alifah yang sekarang.


"Bu! Gatot harus antar Alifah segera ke kampusnya. Alifah sekarang lagi susun skripsi, jadi gak bisa lama mainnya! Yuk, Lif!?"


"Lha? Ini khan hari minggu? Kampus juga lembur kuliah macam kerja?" tanya Ibu mulai aneh-aneh.


"Hehehe...! Perpustakaannya aja, Bu yang buka. Cari bahan bacaan buat susunan skripsi!"


"Oh, ke perpustakaannya ya? Ibu kira, belajar seperti ruang kelas sekolah!"


"Hari libur, kampus juga libur, Bu! Hehehe..."


Alifah membantuku mencari alibi agar aku bisa menarik Alifah menjauh dan memulangkannya segera.


"Lifah pamit, Yah, Bu!"


"Iya. Hati-hati di jalan ya? Salam sama Papa!" jawab Ayah pada Alifah.


Jujur aku tak berani menatap netra kedua orangtuaku kalau sedang berbohong atau mendustai mereka. Tapi..., demi untuk kestabilan negara, apa boleh buat.


Kestabilan negara apaan?!? Negara percintaan elo sama Alifah yang membagongkan? Ck... Orang tua lo kena tipu akal bulus lo, Tot, Tot! Hiks... Maaf, Ayah, maaf Ibu!

__ADS_1


...........


Alifah memeluk erat pinggangku.


Aku tak habis fikir. Padahal ini juga wilayah kekuasaan si Bryan Anggara. Bahkan bisa jadi Mbak Mirina kini sedang memata-matainya. Bisa untuk dijadikan bahan laporan hasil investigasi untuk cari muka sama suami tengilnya itu.


Bodo amatlah! Bagus dong kalo gitu! Semoga Alifah gagal nikah sama si Bryan! Aamiin...


Kupacu kuda motorku dengan kecepatan sedang. Keluar dari basement dan meluncur melewati bangunan-bangunan apartemen sekitarnya.


"Lif..."


"Hm?"


"Kita main dulu yuk? Cari tempat kemana gitu!"


"Ayo!" jawabnya dengan suara lemas. Terkesan pasrah. Membuat fikiranku makin bertanya-tanya.


"Lo udah mulai bikin foto prewed ya sama si Bryan?" tanyaku setelah cukup lama memikirkan kalimat yang sangat ingin kutanyakan pada Alifah.


"Hah?"


Jawaban yang membagongkan! Hiks...


"Ish! Gue tanya serius!"


"Ga kedengeran, Tot! Suara lo tertiup angin! Kuping gue juga kehalangan helm!" kata Alifah dengan suara agak keras.


Aku memilih diam.


Percuma bicara kalau suaraku memang hanya tersampaikan separuh saja karena terbawa angin perjalanan.


Taman Pluit jadi pilihanku dan Alifah karena kondisinya yang sejuk, nyaman serta tak terlalu ramai.


Alifah senang melihat gerobak tukang jajanan harumanis. Dia membeli satu setelah menanyakanku apakah mau juga, dan kujawab tidak.


"Ketoprak aja, yuk? Pasti lo belum makan!" tebakku dan dia tertawa lepas membuatku makin terpesona akan kecantikan alami yang Tuhan berikan padanya.


"Tapi aku mau makan dengan disuapin kamu ya, Tot?!"


Aku tercekat. Perkataan Alifah membuatku tak percaya pada pendengaran ini. Khawatir aku salah dengar dan terlanjur ge'er sampai terbang tinggi ke udara saking bahagianya.


"Beneran?"


"Iya. Hehehe...! Ga mau nyuapin?"


"Mau, mau! Yuk, ke sana!"


Ah Alifah! Kenapa sih elo itu seperti burung dara? Yang sesuai dengan pepatahnya, Jinak Jinak Merpati. Gue sungguh ga bisa kelain hati kalo lo terus-terusan bergaya seperti ini! Hiks, Lipah BELUTKU!



...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2