
Kukira part terhoror dalam hidupku telah berakhir setelah Aku dan Arif akhirnya menyewa sebuah kamar superior hotel bintang 4 dengan 2 kasur single di bilangan Slipi bagian Barat Ibukota.
Selain ada pertemuan dengan klien di Peninsula sana pada pukul delapan malam, kami pun sekalian menginap di hotel itu untuk semalam saja. Dan besok siangnya kembali otewe ke kota Pangkal Pinang.
Sebenarnya ada beberapa teman kantorku dulu yang mengajak ketemuan. Tapi kubatalkan karena kerjaan lebih utama, dan aku juga tak bisa lama-lama di Jakarta karena banyak kerjaan yang menumpuk di Kota PP.
Pukul sepuluh malam, Aku dan Arif langsung masuk kamar. Benar-benar ingin istirahat karena tubuh yang terasa penat. Bahkan badanku sakit semua, seperti orang yang seharian kerja berat mengangkat barang.
"Rif! Aku tidur duluan ya?" ujarku pada Arif. Benar-benar ingin tidur mengistirahatkan tubuh yang lelah ini.
Arif hanya mengangguk. Dia tak dapat menutupi raut wajahnya yang terlihat cemas menatapku.
Beberapa kali ia menyarankan agar aku minum obat antibiotik dan suplemen vitamin sebagai penjaga keseimbangan imunku yang menurun. Tapi kutolak dengan alasan memang sedang mengurangi konsumsi obat-obatan kimia untuk kesehatan tubuh.
Aku cukup pergi tidur, istirahat yang cukup, yakin esok pagi kesehatanku akan kembali pulih dan bugar kembali. Begitu prediksiku.
Hingga tiba-tiba...
Punggungku terasa sangat berat dan sakit.
Bahkan...jalanku seperti semakin tertatih membungkuk doyong ke depan karena menahan beban berat yang ada di tubuh bagian belakangku.
"Ugh ugh ugh..."
Nafas ini makin tersengal. Seolah beban yang di punggung semakin bertambah, tetapi seseorang seperti tengah memecutku agar tetap berjalan dan tak boleh berhenti.
Peluhku membasahi sekujur tubuh. Bahkan sampai terasa basah menempel di celana bagian dalamku.
"Ugh ugh ugh!"
Cetarrr...
Aku tak bisa menoleh. Leherku sakit dan lututku bergetar.
Terus dan terus melangkah walau setengah dipaksa.
Cetarrr...
Suara cambukan cemeti terdengar menggema, begitu menakutkan.
"Ugh ugh ugh... Agh!"
Nafasku kian terengah. Dadaku sakit dan sesak, sulit bernafas.
Samar-samar suara seseorang memanggilku. Perlahan suaranya makin jelas dan...
Bledarrr...
Seperti suara pecahan batu yang meledak dari arah punggungku.
"Aaaaaa..."
Aku berteriak sekencang-kencangnya. Bahkan seolah nyaris putus urat pita suaraku.
"Abang, istighfar Bang! Bang Gatot! Bang!!!"
"Hah hah hah..."
Aku terbelalak.
"Bang, Bang... Astaghfirullaaah... Laa ilaaha illallah... Ayo Bang, eling! Muji, istighfar Bang!"
Astaghfirullahal'adziim... Astaghfirullahal'adziim...
__ADS_1
Aku tercekat. Tiba-tiba sesosok bayangan dengan wajah suram menatapku berdiri di belakang Arif. Seperti... Sedang menyodorkan sesuatu padaku. Celdam gueee!!!
"Huaaa...!!!"
Lagi-lagi aku menjerit.
Arif langsung merengkuh tubuhku yang banjir keringat.
Entah punya kekuatan dari mana, dia bisa-bisanya membekap wajahku hingga tubuh ini langsung terjatuh kembali rebahan di atas kasur.
Aku merasakan suhu panas tubuh Arif yang menindihku.
Astaghfirullahal'adziim... Astaghfirullahal'adziim...
Arif turun dari tubuhku. Dia mengambil sebotol air mineral yang ada di nakas samping ranjangnya.
"Minum, Bang! Jangan lupa basmalah!"
Aku sedikit merasa tenang. Arif membantu memegangi botol plastik karena tanganku yang gemetar hebat.
"Bismillah...hirrohman...nirrohim!"
Aku minum seperti orang yang kehausan.
Tapi setelah itu, kejiwaanku berangsur-angsur membaik. Dan dada ini perlahan kembali lega, sehingga pernafasanku mulai normal lagi.
"Bang!?"
"Iya, Rif..."
Arif menghela nafas. Tersirat kelegaan dari helaannya.
"Udah selesai, Bang! Kita kembalikan semua yang hak pada yang berhak! Hehehe..."
"Rif!"
"Hehehe..."
Aku tertegun menatap dirinya yang tertawa kecil.
"Anjiiirrr!!! Itu apaan tadi, Rif?"
"Hahaha..."
"Gue..., digelendotin setan ya Rif? Rif... Huaaa...!!!"
"Itu nafsu dari almarhumah yang masih besar dan tertinggal di dunia, Bang! Tapi dicuri setan yang emang kerjaannya godain manusia kayak kita ini! Hehehe..."
"Rif...! Rif koq lo bisa tau, sih Rif!?"
Aku...saking takut dan gugupnya sampai berbicara seolah Arif adalah sohibku.
"Hehehe...!"
"Rif, lo bisa jadi guru spiritual nih!? Beneran deh, makasih banyak ya? Makasih udah tolongin Abang!"
"Hehehe..., sama-sama, Bang! Arif cuma perantara aja, Bang! Itu pun atas izin Allah Ta'ala. Eh, janji... Jangan bilang siapa-siapa soal ini ya? Terutama, sama kak Lifah. Arif ga mau kena semprot kakak gegara masih suka dawamin doa-doa ilmu kebatinan!"
"Iya."
Aku berakting seolah sedang menarik resleting bibirku kemudian mengacungkan ibu jari kepadanya. Pertanda memegang janji dengan teguh.
Alhamdulillah ya Allah! Terima kasih, Kau kirimkan aku seorang adik laki-laki yang telah membantuku. Aku bersyukur sekali. Berkah bagiku mendapati adik sebaik Muhammad Arif adik Siti Alifah binti Bapak Mukti.
__ADS_1
............
Keesokan harinya, sebelum kembali pulang ke kota sebrang, kami terlebih dahulu ziarah kubur ke makam Papa dan Mama Arif.
Ternyata keduanya dimakamkan dalam satu liang lahat. Itu adalah kesepakatan Alifah dan Arif, karena sulitnya mencari lahan pemakaman di area Ibukota.
"Pa, Ma...! Ade' sekarang tinggal sama keluarganya Bang Gatot! Kalian ga perlu kuatirkan kami! Kakak Alifah juga akan pulang sepuluh bulan lagi. Kami akan cari rumah di kota Pangkal Pinang agar bisa tinggal bersama, tak lagi berjauhan. Kami bahagia, kami bersyukur Allah jadikan kami sebagai putra-putri Papa dan Mama."
Aku terpekur, mendengar gumaman Arif seperti sedang berbincang dengan kedua orang tuanya.
Terenyuh sedih, tapi ada kebanggaan tersimpan di dada. Betapa beruntungnya kedua orang tua yang memiliki anak soleh soleha. Yang akan selalu mendapatkan doa dari anak-anaknya meskipun sudah berada di alam berbeda.
Moga gue nanti juga memiliki keturunan soleh soleha. Jadi orangtua yang bangga dan bahagia karena berhasil mendidiknya hingga ujung usia. Aamiin...
Udara di bulan Oktober kadang lembab kadang hangat. Musim kemarau telah berlalu, kini musim pancaroba berganti menyambut musim hujan yang tak dapat diprediksi.
Kami pulang ke kota PP disambut guyuran hujan gerimis. Kebasahan, tapi hati kami kini jauh lebih tenang.
.............
Aku dan Arif semakin erat dalam hubungan persaudaraan.
Pekerjaan kami juga semakin lancar. Syukurku tak putus-putus pada Tuhan.
Banyak orang menyangka kami ini adalah kakak adik saudara sedarah karena sepintas ada kemiripan. Mungkin dari sifat, sikap juga karakter kami yang cool. Cool-kas!
Cewek-cewek juga silih berganti mengirimi kusalam untuk Arif, begitu pun sebaliknya.
Kami ini bromance yang menjaga privasi satu sama lain. Bahkan dalam urusan cewek sekalipun. Kadang Arif yang jor-joran memberiku masukan semangat untuk memulai suatu hubungan baru dengan lawan jenis. Dan selalu mengingatkan usiaku yang mau 28 tahun.
Jujur, aku menunggu kakaknya pulang. Dan dia pun sepertinya tahu isi hatiku walau tak pernah kuceritakan.
Aku juga tak terlalu memikirkan soal jodoh, karena Ayah Ibu tak pernah lagi membahasnya.
Apalagi kini Ibu sibuk mengurus dua anak bujangnya yang seringkali minta dimanja dan dilayani dalam urusan makan.
Ibu sering menggerutu, tapi aku tahu... Ibu senang.
Di hari tua mereka, hal yang paling ditakutkan adalah ditinggal anak-anak yang sibuk dengan dunianya sendiri. Apalagi kalau si anak sudah menikah dan ikut pasangannya.
Lagi-lagi gue inget Cak Subekti sama Ning Imah! Alhamdulillah sebulan dua kali, gue sama Arif masih suka mengunjungi kediaman mereka di Bukit Intan.
"Kalian ini, kapan sih dewasanya! Selalu kepingin dilayani kayak tuan raja!" komentar Ibu ketika makan malam dan Aku serta Arif berebut perhatian ingin disendoki sayurnya.
"Ish, entar kalo kita udah nikah. Pasti minta disendokinnya sama istri lah, Bu! Jadi, mumpung Gatot sama Arif masih bujang... Puas-puasin deh gerecokin Ibu!"
"Hehehe... Iya betul, Bang!" timpal Arif.
Ibu gemas menjembel pipiku dan Arif. Membuat Ayah hanya geleng-geleng kepala.
"Ibu makin tua, makin nganggap kalian bocah cilik!" tutur Ayah membuat kami semua tertawa.
Rasanya keluarga ini semakin hangat. Ayah, Ibu, Aku dan Arif semakin mirip keluarga Cemara, yang selalu ramai bercengkerama dengan celotehan dua anak lelaki yang sering bertingkah layaknya bocah kalau sedang di rumah.
Keluarga yang menjadi kebanggaanku karena ke-solid-annya.
...❤BERSAMBUNG❤...
__ADS_1