
Entah setelah beberapa hari mengenal Iyam, aku seperti bisa melihat isi hatinya yang galau.
Dia memang depresi. Tapi kadang Iyam bisa mengeluarkan unek-uneknya padaku layaknya teman. Bukan dengan keadaan jiwa yang sedang terguncang.
Aku memang sengaja mendekatinya secara persuasif. Dengan perkataan dan ucapan yang tenang. Berharap Iyam pulih fikirannya, lalu kembali pada kesadarannya.
Cinta memang tak membawa keberuntungan bagiku dan dia. Tapi kewarasan otak tetap perlu terjaga. Agar kita tidak semakin menjadi objek hinaan orang.
Seperti Iyam.
Siang itu aku habis menghardik seorang tukang es keliling yang biasa berjualan dengan mendorong gerobak.
Pria dewasa itu pikirannya terlalu cab*l. Membuat aku kesal dan emosi karena telah melecehkan Iyam.
Sepertinya bukan baru sekali ini ia berbuat demikian.
"Iyam, sini! Aku mau lihat foto suamimu! Aku sepertinya pernah ketemu dia!"
"Iyakah, Bang?"
Iyam merogoh bagian dadanya namun tiba-tiba pria cab*l itu ikut merogoh juga sambil berkata, "Sini, aku bantu ya?"
Aku yang melihatnya dari kejauhan sontak berjalan cepat kearah gerobak.
"Hei kunyuk! Ngapain lo pegang-pegang dadanya? Ck, belom pernah kena gebuk kruk besi ini ya?" kataku dengan nada pedas.
Bodo amat, dia mau marah itu lebih bagus! Bisa gue hajar badan kerempengnya yang kurang gizi tapi otak mesumnya meleber berceceran. Kunyuk emang! Ini nih, yang bikin ancur nama laki-laki. Kagak ngotak, berbuat asusila sama perempuan hamil yang lagi depresi! Bantai ajalah, cowok model begini!
"Bu bukan gitu, Bang! Maaf!"
"Bukan gitu, bukan gitu! Lo kira gue kaga liat tingkah mes*m lo! Sini! Gue kasih lo pelajaran sedikit biar otak lo ga gesrek!"
Kutenteng kerah kaos oblongnya yang belel.
Duh, sebenernya ogah gue ngeluarin otot kekerasan padahal jalan pun masih dibantu tongkat penyangga. Tapi, demi menjaga harkat dan martabat Iyam yang udah mirip sodara bagi gue, hiks... Ni orang emang wajib gue tatar!
Kutarik Iyam yang termangu tak tahu harus berbuat apa.
Beberapa orang termasuk Ibunya Iyam datang dan menceramahi tukang es tersebut.
"Yam! Ga boleh orang lain sembarang menyentuh tubuhmu! Apalagi laki-laki lain selain suamimu! Kamu harus marah! Jangan diam jika diperlakukan gak senonoh seperti itu. Itu sudah masuk tindakan pencab*lan, Yam! Kamu berhak marah! Ya?"
Iyam menangis pelan. Sepertinya amarahku tadi pada tukang es keliling itu mengguncang jiwanya yang labil.
Sesekali ia menatapku lalu menunduk lagi.
Airmatanya mengalir di kedua belah pipinya yang chubby.
Maaf, Yam! Kamu cantik. Tubuhmu bagus. Jujur aku tak rela pria busrak itu meraba-raba seenak deweknya hanya karena kamu sedang kurang sehat jiwanya. Sialan itu namanya! Kalau saja aku ini lelaki gagah seperti sebulan yang lalu, sudah habis itu si tukang es yang berbuat kurang ajar padamu!
__ADS_1
"Maaf, Bang! Hik hiks... Aku, aku juga gak tau, kenapa aku jadi begini! Hik hik hiks..."
"Iyam. Kamu masih muda. Masih panjang masa depan, mentalmu tak kuat menanggung beban cinta yang berat. Tapi, usahakan jangan sampai pria-pria hidung belang seenaknya menjamahmu. Ya? Jaga dirimu, Yam! Cinta bisa saja menghancurkan kita. Cinta kemungkinan membuat kita terluka parah, tenggelam dan mati secara harfiah. Tapi jangan jadikan diri kita hina dina! Kita harus berdiri tegak jika ada orang yang melecehkan kita seperti kain keset! Harus bangkit!"
Tangisan Iyam makin membuat hatiku ikut teriris.
Air mata ini ikut menitik beberapa tetes. Tetapi segera kuhapus jejaknya. Tak ingin dikatai lelaki yang cengeng.
Aku mengerti sekali perasaan Iyam. Sangat mengerti.
Dijadikan korban cinta yang tak bertanggung jawab tentu sangatlah menyakitkan. Apalagi ada janin yang bersemayam dan kian besar butuh pertanggung jawaban. Sudah pasti meruntuhkan kekuatan iman dan mental yang rapuh.
Orang hanya melihat dari luarnya saja. Hanya bisa bilang, "Cemen, frustasi gara-gara cinta!" Tapi tidak bisa masuk melihat kedalaman jiwa kita yang porak-poranda.
Betul. Cinta hilang, carilah ganti.
Benar. Cinta dapat berubah dan berpindah tempat.
Tapi tidak semua orang dapat mengganti cinta dan pindah kepada yang lain semudah itu.
Butuh proses pendewasaan diri yang tergantung dari karakter serta kepribadian orang itu sendiri.
Tah etaa...
Iyam menangis sesegukan. Wajahnya merah padam dan bibirnya bergetar menahan kesedihan dan isak tangis yang ia tahan untuk tidak makin membesar.
"Abang! Iyam pamit pulang dulu! Hik hiks..." katanya seraya menyusut sisa air mata di pipinya.
Iyam sudah seperti saudara bagiku, walau usia kami sepantaran. Tapi jiwa labilnya membuatku ingin merangkul dan menjadi kakak bagi Iyam.
............
Ini adalah pijatan dan baluran Cak Subekti yang kesekian kali.
Aku masih suka teriak ketika tangan kekarnya memencet tulang keringku dan melumurinya dengan ramuan dedauanan.
"Jalan!" titahnya tegas.
"Hah?"
"Jalan, Tot! Tanpa tongkat!"
Aku mendelik. Menelan saliva sebentar, lalu berdiri perlahan setelah mengucap bismillah.
Eh? Wah? I ini beneran ini?
"Caak!!!"
Aku girang setengah mati. Seperti mimpi, aku bisa berjalan pulih seperti sedia kala. Setelah berminggu-minggu meringis menahan tangis setiap kali hendak menggerakkan kaki. Kini aku bisa berjalan normal lagi.
__ADS_1
"Makasih banyak, Cak! Makasih!"
Aku peluk tubuh pria separuh baya yang sudah kuanggap seperti orangtuaku sendiri.
Cak dan Ning juga terlihat begitu haru pada responku. Ning malah sampai menitikkan air mata.
"Alhamdulillah!" katanya bahagia.
"Cak Subekti benar-benar top markotop!" pujiku dengan senyum sumringah.
"Aku senang kamu sudah sembuh, Tot! Tapi aku juga sedih, karena kami pasti akan kamu tinggal pergi!"
Hiks. Aku merinding mendengar ucapan sedih Cak Subekti. Kalimat yang diucapkannya membuatku langsung menubruknya lagi.
"Gatot akan sering main kemari, Cak!" ujarku membuat Ning menepuk-nepuk pelan sebelah pipiku.
"Kamu pasti kembali lagi ke Ibukota khan? Ayahmu khawatirkan dirimu kalau kamu berniat kembali kesana!"
"Sepertinya Gatot akan tinggal di sini, Cak! Dekat dengan Ayah Ibu. Juga gampang sambangi Cak dan Ning juga!"
Aku tersenyum. Kata-kata manisku bisa jadi penghiburan beliau yang sudah memasuki usia senja.
"Undang kami ke pernikahanmu, ya Tot?" kata Ning dengan mata bersinar.
"Hilih? Kapan itu? Sekarang pun masih jomblo akut, Ning!" gumamku dengan bibir mencucut. Sedih, malu dan sedikit kesal.
"Itu...daun muda yang kata Ayahmu itu? Kalian sedang masa penjajagan ya?"
"Hehehe...! Minta doanya Cak dan Ning aja, aku mah! Semoga ada gadis yang mau menerimaku apa adanya. Bukan ada apanya. Karena aku, gak punya apa-apa, Cak! Hiks huaaa..."
Kami tertawa bersama. Saling rangkul seperti orangtua dan anak.
Tuhan... Terima kasih. Telah kau kirimkan aku pasangan suami istri yang menyayangiku tulus seperti ini. Alhamdulillah!
Tok tok tok
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam..."
Iyam muncul dari balik pintu dengan senyuman indahnya, seperti biasa.
Tapi kali ini ada sepiring makanan yang Iyam bawa.
"Cak, Ning! Ini, Ibu buat nasi bungkus buat Cak, Ning juga Bang Gatot!"
Aku nyaris tersedak.
Ini pertama kalinya Iyam menyebut namaku dengan benar. Dan bola mata kami saling bertatapan walau hanya sebentar. Karena Iyam langsung menunduk malu.
__ADS_1
Thanks God! Iyam sudah kembali kesadarannya!
...❤BERSAMBUNG❤...