MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (42) Semoga Selalu Bahagia


__ADS_3

Pernahkah kau jatuh cinta sampai kau lupakan akal sehatmu?


Pernahkah kau dimabuk asmara hingga kewarasanmu hilang entah kemana?


Inilah yang sedang aku rasakan.


Padahal Ayah dan Ibu telah memberiku masukan serta nasehat tentang keberanianku yang tidak pada tempatnya, aku tetap tak bergeming.


Cintaku kokoh dan teguh pada Siti Alifah, JANDAKU yang dahulu adalah MUSUH BEBUYUTANKU.


Malam ini malam jum'at pukul sembilan, Alifah menchatku. Katanya dia sedang berada di halte Harmoni. Menungguku datang dan mengajak kencan meskipun hanya sekedar ngobrol di warung kopi dan keliling pusat Ibukota dengan sepeda motorku. Tapi rasanya seperti pertemuan luar biasa yang bisa memacu adrenalin untuk kembali fight berjuang melawan takdir Tuhan agar kita terus bersama.


Ditengah tempaan cobaan demi cobaan kehidupan, kami seperti dua anak nakal yang sembunyi-sembunyi kabur dari kelas dimasa remaja yang indah.


Curi-curi waktu untuk bercumbu, padahal situasi dan kondisi mengikat kami yang seharusnya sadar diri.


Tapi begitulah cinta.


Kata orang, ta*i ayam pun seperti coki-coki. Kotoran kambing pun bagaikan butiran coklat


ChaCha. Sungguh membagongkan, bukan?


"Mau kemana Nak, malam-malam begini kamu keluar? Besok kamu khan kerja?"


"Mau ketemuan sama Lipah, Bu!"


"Tot!"


"Bu, Gatot pergi! Ntar Gatot beliin martabak telor kesukaan Ayah! Assalamualaikum!"


"Gatot! Gatot!!! Ish, anak ini! Waalaikumsalam!"


Ini pertama kalinya aku cuekin perkataan Ibu.

__ADS_1


Seburuk apapun tingkah lakuku, seperti jarang sholat, suka dugem, minum minuman beralkohol, aku nyaris tak pernah tak pedulikan nasehat Ibu.


Sedari kecil, aku tak berani melawan perkataan beliau. Jika Ibu bilang jangan, aku pasti akan menurut walaupun dengan bibir cemberut.


Ibu faham watakku yang keras.


Kata Ibu aku seperti Ayah. Keras diluar tapi lembut didalam.


Tapi tidak untuk kali ini.


Aku merasa usiaku sudah dewasa dan sudah bisa menentukan pilihanku sendiri tanpa campur tangan orangtua.


Maaf, Ibu! Maafin Gatot, Bu!


Pukul sembilan malam, keliling wilayah pusat ibukota dengan mencari hiburan yang murah meriah tapi bisa buat hati bahagia.


Sebenarnya bagiku bisa bersama di sisi Alifah saja sudah membuatku sangat bahagia.


Menatap wajahnya. Melihat senyumannya.


Kami mengunjungi Pekan Raya Jakarta. Melihat-lihat stand produk buatan lokal anak bangsa. Mulai dari yang produksi rumahan sampai pabrik punya, kami ubek-ubek demi menghabiskan waktu bersama.



Aura JANDAKU benar-benar sangat berbeda. Semakin membuatku yakin, bisa membahagiakannya.


Senyuman kami sangat lebar dan tawa kami senantiasa membahana walaupun hanya sekedar lihat-lihat tanpa membelinya.


Beneran ya, bersama kekasih itu indah dunia terlihat. Disana-sini penuh nuansa warna-warni bagaikan taman surgawi di nirwana (Aih, ck! Sotoy lo, Tot! Emangnya lo pernah mampir ke taman surgawi di nirwana? Ah... Susah emang ngomong sama orang yang lagi gila cinta!)


Aku bangga sekali jalan bersama Alifah. Walaupun hanya mampu mengajaknya makan di kafe murah dan menu alakadarnya, namun Alifah tidak pernah merasa kecewa.


Justru kami semakin erat, dekat dan romantis.

__ADS_1



Aku betul-betul sayang Alifah.


Sangat-sangat sayang.


Dan aku yakin Tuhan Maha Melihat dan Maha Mendengar doa hati kecilku setiap saat.


Aku ingin bahagia dan hidup selamanya bersama Alifah.


Taman PRJ tutup di pukul sepuluh malam. Jadi kesempatan kami hanyalah setengah jam saja berada di dalam arena Pekan Raya Jakarta. Otomatis kami mencari hiburan lain untuk kembali menikmati suasana berdua layaknya orang pacaran.


Karena ini bukan malam minggu dan hari libur, pukul sebelas suasana mulai sepi dan syahdu. Kami akhirnya memilih duduk dipojokan warung kopi Mang Acong tempat bersejarah bagi kami.


Ini beneran kalo gue jodoh sampe nikah sama si Belut, anaknya Mang Acong bakalan gue undang ke pesta pernikahan gue. Dan tempatnya bakalan gue booking buat acara ulang tahun pernikahan gue setiap tahun. Coz ini tempat bersejarah banget buat gue sama Alifah!


Ck ck ck... Menghalulah terus kau, Tot, sampai Bonge menua dan lelah nongki si Sudirman jadi icon Citayam Fashion Week! Hadeuh...


"Papa udah pulang ke rumah, gue udah selesai sidang dan skripsi gue juga udah masuk dosen prodi pembimbing! Aah...senangnya!"


Cup.


Aku mencium kening Alifah, senang dan bangga.


Gadis itu tersipu melihat wajahku yang memerah karena berhasil mengecupnya mulus tanpa hambatan.


Itu baru kening, tapi jantung kayak mau loncat dari tempatnya! Apalagi cium yang laen? Hiks.


"Tinggal nunggu hasil sidang skripsi ya?" tanyaku lembut.


Alifah mengangguk.


Ia merebahkan kepalanya dibahuku. Makin terlihat kemanjaannya, dan aku suka.

__ADS_1


Tuhan! Semoga kami selalu bahagia.Semoga selalu ada jalan untuk kami bersama. Walau saat ini curi-curi waktu dari orang-orang dan bertemu seperti maling yang sedang kucing-kucingan, tapi kami bahagia. Kami menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Tolong satukan kami ya Tuhan!


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2