MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (26) Sakit Tapi Tak Berdarah


__ADS_3

Hhh...


Rekam jangan, rekam jangan. Rekam deh. Siapa tahu bisa jadi barang bukti buat kedepannya.


Ck! Asli, gue berasa jadi paparazzi ini! Mamarazzi mana? Nah si razzi-nya lebih ga tau lagi ada dimana?! Keder!!!


Aku kembali menyelam. Setelah memasukkan kembali ponsel kedalam saku handuk kimono-ku yang tergeletak di kursi santai tak jauh dari tempatku berenang.


Oiya, ruangan ini aman. Steril dan tak terlalu ramai orang kecuali semuanya penghuni apartemen. Sehingga bebas menaruh barang mahalpun tanpa ada pengutil. Mungkin. Sepertinya sih! Masa orang kaya ngutil!? Hehehe... Itu difikiran gue; padahal banyak orang kaya memiliki penyakit kleptomania! Hiks...


Blubub blubub


Renang kecipak-kecipuk ke sana kemari. Coba sedikit mendekat. Tetapi amsyong! Mereka malah berlalu pergi, angkat kaki dari kolam renang ini.


Hm...! Ada yang gak beres ini!


Tapi,... Si Gatot pe'a! Mirina wanita karier, Bryan selebgram. Bisa aja mereka sedang ada kerja bareng. Project bersama urusan bisnis. Ngapa pikiran gue jadi buruk sangka begini sih? Namanya juga orang hidup. Berteman dan berkawan adalah hal yang biasa dalam circle pergaulan. Cowok-cewek. Kenapa gue jadi insecure sama pergaulan orang?


Tapi..., cipika-cipikinya itu yang aku lihat janggal.


Terus, pegangan tangan lama sambil haha-hihi. Ceweknya senyum-senyum manja, cowoknya kerling mata genit menggoda. Itu artinya apa?


Yey, Gatot Beg*! Bisa aja emang mereka akrab. Sahabatan. Atau mungkin... TTM an kayak lo sama Alifah!!! (Itu yang gue harap)


Dadaku berdesir.


Harapanku menguat. Semoga mereka berdua ada hubungan. Itu doa yang kuucapkan untuk mendapatkan kembali Siti Alifah. Jandaku yang paling kucinta.


...........


Satu jam bersama Gatot di kolam renang. (Apa si? Kaga jelas bet!)


Aku kembali pulang ke kamar apartemenku di lantai 10.


Hhh...


Pusing otak ini. Kukira tinggal di apartemen tak akan mendengar suara-suara aneh dan keributan dari tetangga sebelah.


Ternyata ada juga suara. Terlebih jika aku membuka pintu balkon lebar, demi untuk menghirup udara segar sambil ngopi santui memandang bulan dan bintang.


Aneh! Padahal pasti pihak pengembang memakai peredam atau busa kedap suara disetiap dinding bagian apartemen. Tapi koq, suara-suara orang mendes*h, merint*h, bisa masuk lewat pintu balkonku!?


Seperti dugaanku. Tetangga sebelah sedang bercinta. Ck ck ck.


Gue rasa mereka pasangan pengantin baru deh! Bantingan sama smack down-nya bikin telinga gatal-gatal dan merinding disko.


Aha! Gue ada akal!


Aku menyalakan musik dengan sound system yang kupunya keras-keras. Supaya aku tidak terganggu dengan lenguhan pergulatan mereka yang memancing syahwatku juga.


Sebagai pria dewasa, normal, wajar saja jika kegiatan olahraga malam mereka bisa berimbas dari rasa keingintahuanku untuk bermain juga. Masa iya, gue kudu jadi penonton mulu! Tanpa bayaran pula! Hiks... Mengsad parah, ah!


Sengaja aku memutar lagi beat yang hentakkannya lumayan menggugah jiwa berjingkrak-jingkrak dan ikutan teriak.


Sebuah lagu lama dari grup band Indonesia, yang aku sendiri tidak tahu tahun berapa itu meledaknya. Tapi aku suka dengan musik serta liriknya yang nakal dan binal.


Putri, gadis belia yang baru melek


Jadi liar karena ingin keren


Dan dibilang trendi


Putri, harusnya kamu ada di rumah


Isi PR atau les fisika

__ADS_1


Bukan di diskotik


^^^Sgala macam kau coba asal bau USA^^^


^^^Dari Red Label hingga tanpa BH^^^


^^^Tingkah laku berubah serasa hidup di LA^^^


^^^Dan kau pun bangga^^^


Putri, sayang tubuhmu koq digratisin


Hanya untuk kejar satu kata


Biar dibilang, seksi


^^^Segala macam kau suka asal bau USA^^^


^^^Bercinta di DRIVE In sambil Week End^^^


^^^Semua teman pria mu mirip Junkis di LA^^^


^^^Dan kau pun tertawa^^^


Asik banget ni lagu! Yihaaa!!!


Tapi tiba-tiba...


"Woy bangs*t! Suara musik lo ganggu! Kecilin woy!!!"


Seseorang berteriak dari balkon sebelah.


Anjrit! Dia yang bikin resah, kenapa gue yang ditegurnya?!?


Tentu saja aku balas teriak memakinya.


Enak aja! Gue tinggal disini juga bayar, Coy! Lo kira lo doang yang bisa berkuasa dimari. Bikin gue naik darah!


Sabar Tot, sabar!


"Lain kali makanya tutup rapat semua pintu sama jendela! Bercinta di kamar secara normal! Jangan bikin resah tetangga! Kalo hidup lo ga mau bikin heboh!!!" celotehku lagi benar-benar ingin puas.


Setidaknya otaknya bisa berfikir, kenapa gue stel musik sekeras ini karena kelakuan mereka juga.


"Maaf ya, Mas! Maaf!"


Terdengar suara keras perempuan.


Pasti tu bininya! Hehehe... Ribut, ribut dah lo sama berdua. Goncang rumah tangga, hahaha...! Lagian, pake marahin gue karena suara musik keras. Sengaja juga gue arahin ke balkon.


Dalam bertetangga itu khan harus ada adab juga. Harus ada saling mengerti apalagi kita satu atap begini. Setidaknya tidak saling ganggu dan berusaha menjaga kenyamanan hidup sesama penghuni, itu lebih baik.


Ngeselin parah!


Treeet... Treeet... Treeet


Mas Oji calling


Hiks! Aku kira Alifah, ternyata bukan.


"Hallo, Mas Oji?"


...[Tot! Anter gue yok?]...


"Kemana?"

__ADS_1


...[Nge-mall! Cari baju sama sepatu! Yuk? Suntuk gue kalo sendirian!]...


Boleh juga sih! Daripada gue darting dengerin pasutri tetangga sebelah ***-***, mending nongkrong bareng Mas Oji.


"Tapi ini udah jam sembilan lebih! Nge-mall juga nanggung, Mas! Bentaran lagi tutup!"


...[Ada mall baru yang tutupnya jam sebelas! Barang secondnya branded semua! Kuy lah!]...


"Assyiap! Berangkaaat!"


............


Aku menemani Mas Oji berburu baju dan sepatu.


Tapi ternyata aku kalap juga, karena harga dan kualitas barang yang tersedia lumayan menggoda.


Seminggu lagi si Marwan nikahan. Aku dan Alifah jadi pendamping pengantin. Kupikir walaupun memakai seragam SMA putih abu, tapi tak ada salahnya membawa pakaian ganti. Buat jalan bareng si Belut setelah acara selesai.


Seengga'nya si Belut ga malu jalan sama gue, si Gatot Imut. Penampilan gue kudu maksimal di mata Alifah.



"Katanya lo ga minat belanja! Tapi barang belanjaan lo malah lebih banyak dari gua!" ledek Mas Oji membuatku mengakak.


"Lupa Mas, gue minggu depan ada acara! Butuh baju bagus! Hehehe..."


"Gaya lo, acara apaan Tot?"


"Temen married! Penampilan kudu keren dong disamping gebetan! Hehehe..."


"Harus itu! Hehehe..."


Eh? Mataku menatap sesosok tubuh ramping, semampai. Indah dipandang mata.


Alifah!!!



Si Belut ada disini? Belanja juga dia? La tadi tunangan tengilnya lagi ketemuan cewek lain, apa dia ga tau ya?


"Lifah!!!"


Aku bergegas menghampirinya yang terhenyak kaget menatapku.


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya juga menghampiri gadisku itu sambil menggandeng tangannya.


"Ini bagus, Sayang! Ini coba deh!"


Wanita yang anggun dan elegan. Sepertinya seusia Ibu tapi penampilannya sangat berkelas dan masuk kategori sosialita.


"Pak Mukti!"


"I-Iya, Bu!"


Oh, Papanya Alifah juga!


"Coba dulu di kamar pass!" kata sang wanita pada Papa Alifah.


Wajah Alifah terlihat sedikit pias menatapku.


Ia seperti mengkode-ku agar tidak mendekat. Aku pun mengerti dan hanya tersenyum tipis, lalu berlalu dari hadapannya.


Ah Lipah! Kenapa hati ini terasa sakit? Sakiiit sekali. Gue tau lo lagi jalan sama camer lo. Calon mertua. Tapi jangan gitu juga sikap lo ke gue! Nyakitin banget, tau!!! Hiks...


...❤BERSAMBUNG❤...

__ADS_1


__ADS_2