MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)

MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH (Jandaku)
JANDAKU (30) Good Bye Alifah


__ADS_3

Aku pulang ke rumah. Berganti pakaian dengan kostum rumah yang ternyaman sedunia. Kaos putih oblong yang tepi jahitannya telah lepas obrasannya. Dipadu padan dengan celana pendek selutut yang telah pudar warnanya.


Nomor WA Alifah segera kuhapus dari kontak pribadiku.


Bukan benci atau tak mau mengenalnya lagi.


Aku tak ingin jadi manusia kufur yang dilaknat Tuhanku dengan selalu menstalking dan memandangi wajah calon istri orang.


Bahkan aku juga menghapus fotoku dengan Alifah yang barusan kuambil di pelaminan Marwan.


Sadar woy, berbahaya nyimpen foto jodoh orang!


Semua demi kenyamanan dan keamanan.


Aku harus move on. Seperti pesan Ibuku. Tak boleh terus-terusan memendam rasa yang kian memblunder dan mengakar di jiwa sanubari hati terdalam.


Biarlah semua hanyalah kenangan masa lalu. Seiring usiaku yang semakin tumbuh dewasa. Aku ingin menjadi diriku yang baru.


Benar kata Ibu. Aku harus ikhlas menerima semua keadaan ini. Pasrah dan selalu berdoa. Mungkin saja jodohku masih ditempat lain. Betul kata Ibu.


Ting tong


Ting tong


Bel apartemenku berbunyi.


Ini pertama kalinya aku kedatangan tamu di hari Minggu.


Mungkin Boss atau teman-temanku yang lain. Seperti janji mereka, yang ingin menginap dan merasakan tidur di apartemen.


Aku terkejut. Ternyata tamuku adalah Mbak Mirana. Tetangga sebelah yang sempat membuatku emosi jiwa.


"Mbak? Ada apa?"


"Hehehe...! Maaf, Gat! Ini..., masakan percobaan! Mau kasih kamu, rasa perkenalan! Diterima ya?" katanya dengan muka malu-malu menyodorkan sesuatu yang tersembunyi di balik nampan tertutup kertas nasi yang dibawanya.


"Waduh? Rasa percobaan? Ngeri-ngeri sedap nih nyobainnya!" ulasku berniat mencandainya.


Mirina tertawa renyah.


"Tenang, Gat! Aku bawa ponsel. Sekiranya kamu langsung kejang-kejang, segera aku hubungi 001 panggilan darurat hubungi ambulan! Hehehe..."


"Yassalam! Makin menegangkan kalo gini mah, Mbak!" balasku membuatnya kembali tertawa.


"Eh, aku dibiarkan diri depan pintu nih? Ga diajak masuk, Gat?"


"Sori, Mbak! Aku bujangan. Tinggal sendirian. Mbak wanita bersuami. Takut ada kesalahfahaman dan aku ngeri sama temperamennya suami Mbak Mirina! Hehehe..."


"Hehehe...! Aku ngerti, Gat! Ya udah, aku pamit ya? Oiya, kalo rasanya ga enak...buang segera. Jangan dimakan daripada jadi bahaya. Hehehe..."

__ADS_1


"Thanks, Mbak! Makasih banyak lho ini! Senangnya, punya tetangga ramah dan baik hati. Mau berbagi seperti ini. Sering-sering ya, Mbak bagi-bagi yang enak! Hehehe..."


"Hehehe... Dasar si Gatot! Kamu itu lucu dan menyenangkan ya, orangnya!?"


"Hahaha..., ga juga Mbak! Saya bisa lebih garang dari suaminya Mbak lho! Saya pamit masuk, ya? Mau cobain ini nih!" kataku.


"Gat, boleh minta nomor kontaknya gak?" tanya Mirina menahan pintu apartemenku ketika aku hendak menutupnya.


"Lha? Kita khan tetanggaan. Gini aja, kalo Mbak butuh bantuan. Saya siap bantu seandainya mampu. Hehehe..."


"Hm, iya juga sih! Tapi jangan bilang bosan ya, kalo aku bakalan sering bolak-balik minta tolong sesuatu. Ya semisal kran bocor, lampu LED mati, pintu kamar macet. Ya?"


"Aih? Dikira Mbak Saya nih kang servis? Kalo itu mah yang paling berwenang ya pengurus apartemen ini lah!"


"Hahaha..., serius amat mikirnya! Hahaha..."


Aku malu, tawa Mirina membahana sampai ke lorong B2 112 kamarku dan dia.


"Mbak, nampannya nanti Saya kembalikannya ya?"


"Oke! Aku masuk dulu deh. Nunggu misua pulang kerja. Hehehe..."


"Oke, sip!"


Syukur deh! Hiks... Lama-lama pandangin wajah cantik Mbak Mirina bikin otak gue travelling ga jelas arah tujuan. Pakaiannya sangat menggoda mata, ***! Dipandang dosa, gak dipandang...sayang juga. Mubazir kalo kata orang mah! Yassalam...


Memancing pria untuk membelainya dan berubah menjadi suami siaga. Suami siap buka paksa! (Hilih!? Sejak kapan itu singkatan berubah kata?)



Ck! Pantesan, cowok suka dicap mata keranjang. Ternyata... Seperti ini nih! Liat bodi semok smelehoy model begitu, tetiba otak amnesia. Lupa kekasih tercinta, lupa masa-masa indah bersama Alifah.


Ck ck ck Tot! Lo mah, jangan mukul rata semua cowok kelakuan minus kayak elo, Dodol! Masih ada koq cowok super setia. Yang selalu setia pada satu wanita. Tak pernah tergoda walaupun bidadari ada di depan mata. Cuman masalahnya, dimana tuh model cowok begituan berada? Kakakakakkk... Cari di negara Wakanda atau Konoha. Ada tuh, cowok tsundere 2D! Hadeuh!!!


Masakan Mbak Mirina lumayan juga.


Cukup membuat perutku kenyang dan senang dengan rasanya yang agak sedikit kemanisan.


Ini sayur asem apa kolak asem? Mungkin keblosokan gula atau emang lakinya suka manis, jadi dikasih gula seberuk. Hehehe... But thanks, Mbak Mirina yang cantik jelita! Nampannya gue anterin besok-besok aje ye, coz ini udah pukul delapan malam. Khawatir lakinya salah faham dan cemburu buta sama gue! No no no!!!


Aku kini menjadi pecandu obat tidur LELAP agar tidurku cepat terlelap.


Sebenarnya itu tidak diperbolehkan dan berbahaya bagi kesehatan.


Obat sejatinya diminum kala sedang sakit saja, tujuannya supaya hilang rasa sakit. Tapi jika dikonsumsi rutin dan jadi kebiasaan setiap hari tidak baik bagi organ-organ tubuh yang vital.


Sejak aku memutuskan menjauh dan melepas Alifah. Setiap malam aku mengkonsumsi pil herbal itu.


Tetapi walaupun terbuat dari herbal atau ramuan tumbuh-tumbuhan, tetap tidak boleh dikonsumsi terus menerus dan jangka panjang.

__ADS_1


Namun setidaknya, aku tidak terlalu memikirkan suara-suara aneh yang terdengar dari kamar apartemen sebelah karena tidur pulas.


Hhh...


Secara mereka baru lima bulan menikah. Masih dikategorikan pengantin baru.


Wajarlah jika nafsu dan percintaan keduanya masih sangat membara. Namanya juga pasangan muda. Kejar target punya momongan, dan sudah ditodong keluarga. Jadinya, ya gitu deh! Tempur gerilya setiap saat, setia waktu.


..............


Seperti biasa, rutinitasku adalah bekerja. Dari pagi hari hingga petang tiba.


Kini otakku hanya memikirkan cuan dan cuan saja.


Alifah pun seolah menghilang tanpa jejak.


Tak ada chat apalagi misscall dan sambungan telepon. Mungkin jalan pemikiran kami sama. Tak mau terlibat semakin jauh dalam mengikat hubungan yang kurang baik ini.


Aku bersyukur, beberapa hari ini kehidupanku lumayan tenang. Pekerjaanku lancar walaupun sedikit lemas dan membosankan.


Rutinitas kerja yang itu-itu saja, wajar membawa dampak boring yang melelahkan.


Tapi pemikiranku tidak lagi sedangkal dulu. Usia turut bersumbangsih membawa kedewasaan sikapku kini.


Thanks to Allah!


Hari ini aku pulang pukul enam kurang. Menguping sedikit kalau sepertinya tetangga sebelah terdengar sepi membuatku ingin mengembalikan nampan dan wadah milik Mbak Mirina.


Aku berencana memulangkannya sebelum suaminya pulang.


Selain masih tak enak hati pada kejadian tempo hari, aku juga tak mau berbasa-basi dengan suami Mbak Mirina yang emosian.


Takut terjadi hal-hal yang tak kuinginkan. Membuatku memilih jalur aman.


Ting tong


Ting tong


Sepi.


Ting tong


Ting tong


Hm... Sepertinya kosong. Mbak Mirina belum pulang kerja mungkin.


Aku pun berniat kembali masuk kamar. Tetapi tiba-tiba terlihat Mirina bersama suaminya baru muncul dari balik tikungan lorong kamar. Dan...


Seketika mataku terbelalak membesar.

__ADS_1


Su-suaminya Mbak Mirina...


...❤BERSAMBUNG❤...


__ADS_2